"Senja, kamu masih mau nungguin dia? Ini uda malem loh, aku anter pulang aja yuk Senja," ucap Langit.
"Aku yakin kak, Alfa pasti dateng kok, dia uda janji soalnya mau jemput aku," tukas Senja.
"Kamu yakin?" Langit mengerutkan dahi, ia yakin Alfa pasti akan mengecewakan gadis ini lagi, pikirnya.
"Iya, kak Langit pulang aja duluan, aku nggak apa-apa kok,"
"Aku disini aja sama kamu, boleh?" tanya Langit.
"Nggak usah kak, kakak kan tau, Alfa itu cemburuan, aku nggak mau nanti kalian ribut cuma gara-gara aku, aku capek kak berantem terus sama dia. Maaf ya kak, bukan maksud aku," sambungnya dan langsung di potong oleh Langit.
"Dia selalu cemburu lihat kita kan? Padahal dia tau kita sahabat dari kecil, sementara dia? Dia terus-terusan Rere, mantan nya itu, dengan berbagai alasan!" sarkas Langit.
"Kak Rere sakit kak, Alfa cuma bantu dia, Alfa nolong dia cuma karena rasa iba kak, kakak tau sendiri kan, kak Rere nggak punya siapa-siapa lagi. Cuma Alfa orang terdekat nya, dan aku percaya sama Alfa kak, dia nggak mungkin tega nyakitin aku!" sambungnya lagi.
"Benarkah? Tapi yang aku lihat beda Senja, itu bukan rasa iba. Rere jelas-jelas masih cinta sama Alfa, sedangkan Alfa? Sekarang aja dia masih bersama Rere kan? Dia nggak perduli sama kamu. Kamu dimana, sama siapa, uda makan atau belum, yang dia perduli'in cuma Rere. Rere harus istirahat yang cukup, Rere harus makan ini, Rere harus minum itu, kapan jadwal kontrol ke RS. Cuma itu yang ada di kepala dia, ra!" cerca Langit panjang lebar.
"Uda kak, stop. Please kak, kakak ngertiin aku." Tanpa Senja sadari, airmata nya lolos begitu saja.
Semua yang dikatakan Langit benar! Jika bersamanya pun Alfa selalu menceritakan tentang Rere, apa yang gadis itu sukai, yang tidak ia sukai, inilah itulah semuanya pasti tentang Rere. Namun, ia masih ingin berjuang, untuk mendapatkan seluruh hati pria itu, hanya untuknya.
Langit menghembuskan nafasnya, berdiri dari posisinya sekarang, sedikit menjambak rambutnya kasar karena frustasi.
"Coba kamu telpon lagi dia Sen, tanya ada dimana dia sekarang! Sebentar lagi kayanya bakal turun hujan, apa kita harus hujan-hujanan malam ini?" perintah Langit kesal, namun ia tetap merendahkan nada suaranya.
"Ii-iya kak,"
Senja langsung menghubungi nomor telpon Alfa, senyum manis terukir di sudut bibir gadis itu.
"Ya Senja, ada apa?" jawab dari sebrang sana.
"Al, kamu dimana? aku sudah menunggumu dari tadi. Apa kau terjebak macet?" tanya Senja.
"Ya ampun Senja, aku lupa mengabari mu, aku nggak bisa jemput kamu deh, Rere drop lagi dan aku harus jagain dia malam ini. Kamu nggak apa-apa kan, nggak marah kan ja? Maaf ya sayang, aku janji besok kita akan pergi, ok?"
Langit berdecak kesal mendengarnya, ia sudah menduga hal ini pasti terjadi, bukan baru kali ini, Alfa sering melakukannya dengan dalih Rere drop, Rere sakit, Rere harus ini dan harus itu, ia mual mendengarnya.
"Tapi Al, aku sudah menunggumu sejak tadi, dan ini sudah terlalu malam untuk aku pulang sendirian, dan juga ini bakal turun hujan, kamu tau kan aku nggak bisa kena air hujan, Al." sambungnya lagi.
"Nggak usah kaya anak kecil deh Senjaa, kalau hujan ya kamu cari tempat untuk neduh lah, toh rumah kamu nggak jauh dari tempat itu, ayo dong ja, ngerti'in aku ya, sekali ini aja, besok kita pasti jalan. Kamu pengen beli novel kan? besok pasti aku anter, aku janji!" ucapnya tanpa merasa berdosa.
"Nggak usah Al, kalau kak Rere sakit, kamu jaga dia aja Al, kasian dia sendirian, kita perginya nanti aja kalau kak Rere Uda sembuh," ujarnya, sambil sesekali mengusap air matanya yang menetes di wajah cantiknya.
"Makasih ya sayang, uda ngerti'in aku, bye sayang!" tanpa menunggu jawaban Senja, Alfa langsung memutuskan sambungan telponnya.
"Gimana Senja, nggak jadi dateng? Rere sakit, Rere drop, atau Rere minta di temenin tidur? terus besok apa lagi? huuftt, laki-laki seperti dia yang terus kamu perjuangkan, Senja?"
"Kak ... please!"
Wajah cantik itu terlihat sendu, iris mata yang berwarna hitam tampak mengandung banyak kesedihan, ada buliran-buliran kristal bening yang sedang berusaha ia tahan. Mencoba kuat, mencoba tegar, agar terlihat tidak bersedih di hadapan orang lain.
"Ayo Senja, aku anter pulang sekarang!"
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Senja ~ "Al, kamu jadi kesini nggak?"
Alfa ~ "Aku nggak bisa ra, lagi ada urusan."
Senja ~ "Oh ya uda, jangan telat makan ya."
Senja kembali meletakkan hp nya di atas nakas, tak lama terdengar lagi notifikasi dari sana, sebuah pesan chat group dari teman-temannya.
Kimmy ~ "Gaeesss, ngumpul dirumah ku yuk, uda lama nggak nggak ketemu, kangeeen!”
Bella ~ "Boleh deh, kuy ... "
Senja ~ "Aku dirumah aja deh, kalian aja, hehehe,"
Bella ~ "Senja kebiasaan deh, ayo lah gabung, uda lama banget loh kita nggak ngumpul."
Kimmy ~ "Iya ni, Senja ih ... Oee @Langit elo jemput Senja ya, nggak mau tau pokoknya Senja harus ikut, titik!"
Langit ~ "Ok!!!"
Senja ~ "Pemaksaan!"
Kimmy ~ "Kamu mah kalau nggak dipaksa nggak bakalan mau, hahaha."
Langit ~ "Sepuluh menit lagi aku jemput ya @
Senja"
itulah isi chat mereka, yang isinya hanya 4 orang, yang merupakan sahabat sejak kecil.
Makan-makan adalah poin utama saat mereka berempat berkumpul seperti ini, namun kali ini Langit mengundang beberapa teman kampus nya, dan suasana pun semakin ramai.
"Ken, ayo main kan gitar nya, aku pengen nyanyi ni, uda lama nggak ngeluarin bakat aku yang tersembunyi ini," ucap Kimmy kepada Ken.
"Bakat apaan, suara kaya kaleng rombeng begitu," sahut Bella.
"Sirik aja lu," balas Kimmy.
Ken pun memainkan gitarnya, dan Kimmy benar-benar menyanyikan sebuah lagu, tidak bagus memang, tapi cukup menghibur bagi Senja.
Gadis itu hanya terdiam, sesekali ia tersenyum, namun jarang ia menimpali obrolan-obrolan sahabat kocak nya tersebut.
Langit terus memperhatikan nya, gadis itu tampak gelisah saat ini.
"Kamu kenapa Senja? apa ada yang mengganggu pikiran mu?
"Enggak kok kak, hehehe," sahut Senja.
Tak lama, hp Senja berdering, sontak senyum pun terlukis di wajahnya. Ia langsung menggeser tombol hijau.
"Halo Al ... "
"Kok berisik, kamu dimana?" tanya Alfa menyelidik.
"Lagi dirumah Kimmy Al, ngumpul sama temen-temen," jawab Senja.
"Kok nggak bilang dulu sama aku?"
"Itu siapa yang main gitar? berarti kamu ngumpul sama cowok-cowok kan?"
"Iya, temen nya kak Langit," jawabnya.
"Pulang!" titahnya kemudian.
"Tapi Al ...,"
"Pulang, aku jemput sekarang!"
"Iya, aku pulang.!
"Tunggu aku tunggu didepan rumah Kimmy."
"Ya uda, iya."
Tut tut tut ....
Lagi-lagi secara sepihak Alfa memutuskan sambungan telpon nya, Senja terus memandangi benda pipih tersebut, sedikit menundukkan kepalanya.
"Kenapa lagi? Ribut, hmm?" tanya Langit tepat sasaran.
"Aku harus pulang, kak. Kimmy, Bella, dan semuanya, aku pamit pulang ya, kalian lanjutin aja," pamit nya kemudian.
"Aku anter," ucap Langit.
"Nggak usah kak, Alfa mau jemput kok. Dia uda nunggu didepan," tukasnya lagi.
Sepuluh, dua puluh, dan tiga puluh menit kemudian, batang hidung Alfa belum juga kelihatan, Senja meraih hp di dalam tas nya, mencoba menelpon Alfa sekali lagi. Namun sama seperti sebelumnya, panggilan nya tak kunjung di angkat, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim chat wa ke Alfa.
Senja ~ "Al, masih lama? aku dari tadi nungguin, dingin banget loh Al, kalau masih lama aku masuk kedalam lagi ya?"
"Bentar yank, ini bentar lagi kelar kok!"
Senja ~ "Memangnya kamu ngapain?"
Alfa ~ "Ini lagi bantuin temen, kamu sambil jalan aja pelan-pelan, biar nggak bosen yank."
Dengan sabar Senja tetap meng'iya'kan perkataannya, kerikil-kerikil kecil menjadi sasarannya saat ini, sembari berjalan perlahan, menunggu kekasih yang tidak tau entah sedang dimana sekarang.
Rintik hujan mulai turun, Senja mendongakkan kepalanya, ia mulai kebingungan sekarang. Pasalnya jalan yang ia lewati sedikit jauh dari perumahan, untuk kembali kerumah Kimmy pun tidak mungkin, karena hujan keburu turun dengan derasnya. Dengan sedikit berlari, Senja memaksa menerobos hujan malam itu.
Senja mulai menggigil, tubuhnya tidak kuat melawan hujan, bibirnya mulai membiru, napasnya juga tidak beraturan, pandangan matanya juga mulai mengabur.
Namun dari kejauhan, terlihat lampu sepeda motor berjalan mendekat, Senja tersenyum, ia pikir itu adalah Alfa kekasihnya, tapi ia salah. Itu Langit, bukan Alfa.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Alfa ~ "Senja...
Sayang...
Kamu marah, yank?
Maaf yank, kemarin hujan,
Nggak mungkin aku hujan-hujanan,
untuk jemput kamu.
Senja, jawab dong..."
Pesan WhatsApp dari Alfa, namun bukan Senja yang membukanya, tapi Langit. Ia menggertakkan giginya, pertanda tengah menahan amarahnya pada lelaki tak berperasaan seperti Alfa.
Ya ..., saat ini Senja terbaring lemah dirumahnya, Langit sudah berusaha membujuk Senja untuk kerumah sakit, tali Senja terus menolak.
Perlahan, Senja membuka mata, dilihatnya seseorang yang berada disampingnya saat ini, bukan Alfa kekasihnya, tetapi Langit sahabatnya.
"Senja, apa kau lapar? biar aku buatkan bubur ya, sebentar ..." ucap Langit, seraya berdiri dan ingin melangkah kedapur tapi Senja meraih tangannya.
"Tidak kak, tidak usah repot-repot seperti ini, aku selalu saja merepotkan mu sejak dulu, terima kasih banyak untuk semuanya, kak Langit." ucap Senja lemah, bibir mungil yang terlihat pucat itu tersenyum. Menggetarkan hati Langit saat ini.
"Cantik," pujinya dalam hati.
"Apanya yang repot, enggak kok, aku senang melakukannya, jadi kah tenang saja ya," tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Senja.
Bubur telah siap di atas nampan, segelas susu hangat juga tak lupa ia sediakan, gadis cantik yang menjadi prioritas nya selama ini harus sembuh, pikirnya.
Tak perlu waktu lama, semua telah habis di santap Senja, dengan sedikit paksaan tentunya.
Kembali terdengar notif dari hp Senja, ia pun meraihnya, Langit memperhatikan ekspresi wajah Senja yang mulai berubah.
Ia mengusap lembut bahu gadis itu, seperti memberi dukungan, kekuatan atau apapun itu, ia berharap bisa sedikit mengurangi beban yang dirasakan Senja.
Senja ~ "Ya, Al...
Aku baik-baik aja, kok...
Nggak marah juga,
Aku ngerti, bukankah selama ini,
juga begitu?
Aku selalu ngerti'in kamu kan?
Balas senja kemudian, ia tersenyum getir, ia memejamkan mata nya, sebulir kristal bening itu lolos begitu saja dari sana.
Alfa ~ "Syukur deh, kalo kamu baik-baik aja.
Nanti aku kesana ya, aku kangen...
Kita jadi keluar kan, beli novel...
Tunggu aku ya... muuach...
Senja ~ "Nggak perlu, Al...
Nggak usah repot-repot...
Aku bisa pergi sendiri, seperti biasa..
Lagian aku capek nunggu kamu terus.
Memang nya Rere Uda sehat?
Kenapa mau ditinggal? entar dia sakit
lagi kalau kamu tinggal, Al.
Kamu jaga aja dia, dia butuh kamu...
Ia akan mengambil keputusan sekarang. Melepaskan Alfa, mencoba meng'ikhlas'kan pria itu, untuk gadis bernama Rere. Ia tidak mau mengganggu hubungan yang belum selesai antar Alfa dan Rere.
Alfa ~ "Apaan sih, yank?
Kamu kenapa, nggak kangen aku?
Aku kesana sekarang, ya...
Tunggu aku,
Senja ~ "Al, kita udahan aja ya, aku nggak
kuat lagi, Al...
LUPAKAN AKU...
KEMBALI PADANYA...
AKU BUKAN SIAPA-SIAPA UNTUK
MU
Alfa ~ "Nggak lucu ah yank...
Jangan bercanda deh...
Kamu pacar aku!!!
Senja ~ "KU CINTAII MU...
TAK BERARTI BAHWA...
KU HARUS MILIKI MU SELAMANYA...
Alfa ~ "Senja, nggak usah kaya anak kecil gini.
Dia cuma mantan, pacar aku ya kamu.
Aku kesana sekarang, kita harus bicara.
Senja ~ "Kita putus ya ganteng,
cukup sampai sini aja ya...
Jujur aku capek, harus terus
berjuang sendirian dalam hubungan
ini, aku ikhlas kamu sama Rere kok.
Semoga kamu dan Rere bahagia...
Senja meletakkan handphone nya, setelah memblokir semua kontak dengan Alfa, ia merasa lega sekarang, semua beban yang ia rasakan terasa terangkat dari hatinya.
Sedih? Sudah pasti! Tapi ini adalah keputusan yang terbaik untuknya. Untuk apa menjalin hubungan, jika hanya dirinya saja yang berjuang.
Langit menatap mata indah itu yang sedang menangis sesenggukan, ia meraih jemari lentik itu, menggenggamnya erat, sejenak mata mereka beradu. Ada getaran dihati Senja melihat tatapan Langit seperti ini, entah apa maksud dari tatapan itu.
Melihat Senja yang terus menatapnya, Langit membuka suara.
"Senja, kamu hebat Senja. Kamu gadis yang kuat, kamu bisa melewati semuanya sendirian, aku salut."
"Tapi sekarang aku benar-benar sendirian, kak." ucapnya di sela isak tangis itu.
"Kata siapa? Aku selalu ada untukmu, aku disini dan tidak akan kemana-mana," jawab Langit.
"Suatu saat kamu juga akan pergi, ketika kakak punya seseorang dalam hati kakak, kakak pasti akan memprioritaskan dia, dan akan melupakan ku," sambung Senja..
"Apa kamu mau, aku selalu ada disini bersama mu?" tanya Langit seketika.
Bangun dari posisinya saat ini, memilih duduk berlutut didepan sang gadis, meraih jemari lentik Senja.
Senja hanya mengangguk polos, sembari mengusap air mata dengan sebelah tangannya.
"Jadilah kekasihku, Senja. Aku akan selalu ada disisimu, menjagamu, merawatmu jika kau sakit seperti ini, aku akan selalu ada disamping mu selamanya, tidak akan menyia-nyiakan mu seperti laki-laki bodoh seperti Alfa, aku janji. Percayalah!" ungkapnya panjang lebar, terus menggenggam jemari lentik milik gadis mungil di hadapannya.
Senja terbelalak, tidak menyangka, yang ia dengar saat ini adalah tawaran atau sebuah pernyataan cinta?
"Ba-ba-bagaimana mungkin kak, bagiku hubungan bukan untuk main-main!"
"Aku serius cantik, aku telah lama memendam perasaan ini. Jika kau belum siap, aku akan menunggumu, aku tidak akan memaksa, tenang saja." ujarnya lagi.
Senja terharu, Langit yang selama ini selalu bersamanya dari kecil, selalu ada disaat suka maupun duka, ternyata menyimpan perasaan sebesar ini. Andai saja ia tau dari dulu, mungkin ia akan menerimanya, lebih awal. Tidak akan menyia-nyiakan orang baik seperti Langit.
Saling tatap beberapa saat, terlukis senyum di bibir keduanya. Langit mendekat, meraih gadis kecil itu, merengkuhnya dalam dekapannya.
Langit benar-benar bertekad untuk menjaga, melindungi, mencintai Senja, sampai kapan pun. Langit akan ada untuk Senja.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️