Aku adalah kamu, kamu adalah aku--akan sejauh apa kau berlari, akan sejauh itu pula aku mengejar; tak ada tempat untuk sembunyi, entah di balik rerimbunan awan, entah di bawah Palung laut, jadi, jangan coba-coba untuk sembunyi.
Pilihanmu hanya satu dan cuma satu: bertarung!
Aku tak menerima belas kasihmu, mengalah, tidak ada dalam kamus ku, aku tak kamu, aku tidak sudi menerimanya.
Aku dan kamu harus saling mengalahkan, saling menaklukkan, kita ada bukan untuk menjadi teman, meski kamu adalah aku, aku adalah kamu; kesatuan kita adalah ketidak bersatuan kita.
Bertarunglah agar salah satu dari kita mati, pupus, entah terkenang atau dikenang; lalu salah satu yang lain menjadi besar, tumbuh, dan berkembang.
Jika kamu lelaki ambilah posisi ini!
***
Bagaimana bisa? Bukankah kita? Aku... Atau tidak ada cara yang lebih baik dari sekedar saling menghabisi? Bukankah siapa pun yang mati akan menghadirkan kematian bagi yang lain, karena aku adalah kamu, dan, kamu adalah aku! Jadi, bagaimana mungkin kematian yang satu bisa menghadirkan kehidupan bagi yang lain; Jika benar kamu adalah aku, aku adalah kamu, seharusnya-lah kita bersatu, tidak ada satu kesatuan yang tidak bersatu--atau sesungguhnya kita bukanlah kita? Kamu adalah kamu, aku adalah kamu; Akan tetapi kenapa kamu ada di dalam ku?
***
Cara yang lebih baik.
Kau bertanya, cara yang lebih baik dari sekedar saling menghabisi? Ya, Tuhan, kemana saja kau? O, iya, aku hampir lupa, bukankah saat dimana aku menjadi lemah, dimana aku sebegitu tak berdayanya, tidakkah kau menjadi kuat dengan kelemahan ku, menjadi berdaya dengan ketidak berdayaan ku. Begitu juga sebaliknya, ketika aku menjadi kuat, menjadi lebih berdaya, kau menjadi lemah, menjadi sedemikian tidak berdaya.
Dan, hari ini adalah hari yang aneh. Hari dimana kau begitu kuat, begitu berdaya, begitu juga aku, sama kuatnya dan sama berdayanya dengan kau!
Sesuatu yang sama-sama kuat ketika saling bersentuhan, akan menciptakan benturan di sana-sini. Kita tak mungkin seiring sejalan, selain kita menginginkan hal yang sama, punya ambisi yang sama, sayangnya, kita punya tujuan yang berbeda.
***
Iya, tujuan yang berbeda. Bukankah itu sesuatu yang aneh, padahal, aku adalah kamu, kamu adalah aku. Lalu, bagaimana ceritanya, kenapa kita bisa punya tujuan yang berbeda?
***
Jawabannya gampang, keinginan. Keinginanlah yang membuat tujuan kita menjadi berbeda. Keinginan yang sama-sama kuat--oleh karena itu kita harus bertarung dan salah satu dari kita harus kalah agar salah satu dari kita bisa menjadi pemenang dan bisa mencapai keinginannya. Karena dari sanalah kita sejatinya berasal, dan dari sana pulalah sejatinya kita akan berakhir.
Maka dari itu kita harus bertarung...!
Bersiaplah dengan kuda-kudamu, jangan harap aku akan mengalah, dan jangan pula kau yang menarik diri.
***
Siapa dari kehidupan ini yang tidak mempunyai keinginan? Bukankah keinginan yang membuat kehidupan itu menjadi lebih berdaya, menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat, menjadi lebih hebat. Kitalah yang menamakannya dengan Ambisi.
Ambisi. Adakah sesuatu itu yang telah membuat kita menjadi berlawanan, tidak lagi seiring sejalan, menjadi musuh dalam selimut? Jika benar adakah cara untuk menghilangkannya, setidaknya dari diriku; aku tidak mau melukai, aku tidak suka melukai; Beritahu aku satu cara!
***
Kau benar, tapi tidak secara keseluruhan. Tidak mungkin aku menamai diriku, kaulah yang menamakan, kaulah penciptaku; aku hidup dari nafasmu, menjadi bagian dirimu, besar dan bertumbuh seiring dengan pertumbuhanmu. Iya, akulah ambisi itu. Kaulah yang menamakan aku dengan nama itu-- Ambisi...!
Dan hari ini kita harus bertarung, bertarung, dan bertarung. Sebab, entah aku atau kau, sudah terlalu besar untuk dunia ini, dunia ini jadi terlihat lebih kecil, bahkan sepertinya, ia sudah tidak kuat lagi untuk kita jadikan pijakan.
Bertarunglah, bertarunglah demi kehormatanmu!
***