“Bukan memandang seberapa tinggi pangkat jabatanmu, bukan memandang seberapa besar penghasilanmu. Selama itu halal dan baik asal mulanya tak perlu takut untuk maju. Hanya orang yang tidak mengerti arti kehidupan jika ia memandang seseorang dari sesuatu yang tidak harus dilihat. Selain kerja keras, usaha, dan hasil.”
Abiyyu Faizal Ramadhan, nama yang bapak dan ibu berikan ketika melihat dunia pertamaku.
Ayah pernah bilang, “kesuksesan hanya ada di tangan masing-masing setiap orang, Ayah dan ibu hanya bisa berdoa sebaik mungkin untuk kamu yang terbaik. Ingat awali semua dengan sesuatu yang baik, maka akan berujung baik pula.”
Ayah dan ibu mengajarkan banyak hal kepadaku. Mulai dari kerja keras, bertanggung jawab, sampai hidup bersyukur, dan tidak melupakan kewajiban kepada sang maha kuasa.
Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, namun harmonis. Nyaman untuk tempat keluh kesah hingga berbagi cerita.
Ayah bekerja sebagai kuli, dengan penghasilannya yang tidak tetap. Ibu hanya sebagai ibu rumah tangga.
Pernah ibu bersih keras meminta bekerja, untuk menambah biaya kehidupan kami. Tapi ayah melarang.
Dengan kondisi yang tidak memungkinakan membuat kami khawatir ketika ibu bekerja.
Ibu menderita penyakit gagal ginjal. Penyakit yang ibu derita sejak lama. Terkadang sedih melihat kondisi ibu.
Harus bolak balik ke rumah sakit untuk kontrol ke dokter. Yang membutuhkan biaya cukup mahal setiap bulannya.
Di sisi lain, aku ingin mencapai impian terbesarku, yaitu kuliah.
Namun dengan kondisi keuangan kami tak memungkinkan aku untuk meminta biaya kuliah kepada ayah dan ibu.
Hingga aku memutuskan untuk kuliah secera diam-diam. Di selang waktu kuliah aku bisa bekerja untuk menambah sedikit beban kedua orang tuaku.
Aku memilih jurusan kedokteran, terinspirasi dari ibu yang sekarang sedang sakit-sakitan