Pagi, siang, malam. Waktu berjalan begitu cepat. Tanggal serta hari berubah seiring masa berjalan.
Rara memandang keluar jendela sambil meminum segelas air. Ia menikmati suasana yang ada di sekitar lingkungan rumahnya. Cukup asri dan menenangkan jiwa. Itulah yang di rasakan oleh seorang Rara.
Membenarkan kacamatanya, lalu menaruh kembali gelas yang baru saja di gunakannya.
Saat berjalan beberapa langkah, seketika terdengar suara bel pintu. Rara yang mendengar bunyi tersebut, langsung bergegas menuju pintu depan.
Membuka pintu dan melihat siapa yang menekan bel pintu rumahnya tersebut. Ternyata seorang kurir tengah membawa sebuah paket untuk Rara. Gadis itu diminta oleh sang kurir untuk menandatangani hasil terima barang tersebut.
Rara senang paket pesanannya sudah tiba. Lalu ia pun menutup pintu setelah sang kurir pamit untuk pergi. Baru saja dirinya duduk di sofa untuk beberapa detik. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat. Ia langsung teringat akan sesuatu.
"Kurir itu..."
Rara berlari membuka pintu depan rumahnya. Dan melihat kurir paket tadi tengah berteduh di depan rumahnya.
"Dia masih belum pergi rupanya." gumam Rara dal hati.
Kemudian gadis itu mendekati sang kurir dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Awalnya si kurir menolak. Namun, karena ajakan yang diulang beberapa kali. Akhirnya si kurir pun menerima dan masuk ke dalam rumah dari Rara tersebut.
Kini mereka berdua duduk di satu ruangan yang sama dengan kursi yang berbeda. Si kurir hanya diam sembari menunggu hujan reda. Sementara Rara pergi ke dapur untuk menyiapkan sebuah teh hangat untuk tamunya itu.
"Ini silahkan di minum." ujar Rara pada kurir tersebut.
Lalu setelah minum teh bersama, Rara pun langsung mengajaknya mengobrol. Gadis itu bertanya perihal pekerjaan dari sang kurir tersebut. Dan semua pertanyaan yang diajukan pun dijawab oleh kurir tersebut. Ada beberapa jawaban yang menjadi pengetahuan baru baginya. Dan obrolan berlanjut ke pembahasan lainnya. Setelah banyak tanya yang dilemparkan oleh Rara, Kini si kurir coba untuk bertanya balik pada gadis itu.
Berawal dari soal pekerjaan, hingga memasuki topik yang mendalam. Hingga curhatan Rara pun tersampaikan.
"Jadi begitulah ceritanya. Maaf aku telah curhat pada anda."
"Tidak apa-apa. Saya juga mendengarkan kok curhatan tadi."
Lalu si kurir pun memberi masukan dan membuat Rara senang atas kebaikan kurir tersebut.
Hujan yang sedari awal lebat, sekarang sudah mulai mereda. Rara melihat ke arah jendela dan berkata bahwa hujan telah reda. Kurir itu langsung tegak dan berpamitan pada sang tuan rumah.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya berteduh disini." ucap kurir itu pada Rara.
"Sama-sama." balas Rara dengan senyum.
Kurir tersebur langsung menghampiri motornya. Dan mulai menyalakan mesin. Belum sempat tancap gas, Rara memanggil kurir tersebut.
"Ada apa ya?" tanya kurir.
"Aku ingin mengasih ini. Usia kita berdua tak jauh beda. Dan aku rasa ini sesuai denganmu."
"Emang isinya apa?"
"Cek saja sendiri pas sudah selesai bekerja." kata Rara.
Kemudian kurir itu pun pergi sambil membunyikan klakson tanda salam selamat tinggalnya.
Rara berterimakasih pada lelaki itu, lantaran sudah memberi masukan yang bagus menurutnya dan membuat diri ini menjadi lapang.
"Ternyata pekerjaan itu tidak bisa dipandang sebelah mata ya. Aku salut padanya."
Lalu gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah. Dan di akhiri dengan menutup pintu.
Beberapa jam setelah bekerja, kotak hadiah pemberian tadi dibuka oleh si penerima.
Sebuah baju ala anak muda itu cukup menarik perhatian dari penerima tersebut.
-----SELESAI-----