Pagi sekali. Bahkan mentari pun belum menampakan keindahan dirinya di balik tirai langit ufuk timur seperti biasanya. Selepas menunaikan ibadah sholat Subuh di awal waktu, beberapa ibu berusia sekitar kepala empat hingga setengah abadan telah siap dan gagah dengan kendaraan sepeda onthel cokelatnya masing-masing. Di boncengan sepeda mereka terdapat gulungan tali yang dililitkan pada sebilah bambu sepanjang lima puluh centimeter.
Topi caping berbentuk kerucut yang dibuat dari anyaman kulit bambu yang disayat tipis menutupi kerudung lusuh yang mereka kenakan. Tak lupa botol aqua besar berisi teh yang telah mereka persiapkan sebelum Subuh tadi juga menemani perjalanan mereka.
Musim tanam padi menjadi keberkahan tersendiri bagi ibu-ibu penanam padi. Mereka banyak menerima pesenan proyek pekerjaan, bahkan hingga desa tetangga seperti pagi itu. Tak banyak orang yang memiliki keahlian seperti mereka. Selain mampu bergerak mundur dengan cepat, keluwesan tangan dan kekompakan adalah hal mutlak yang dibutuhkan demi tercapainya tujuan yang diinginkan.
Dalam sehari mereka mampu menyelesaikan jatah tiga sampai empat proyek tanam dengan besar honor sesuai kesepakatan pemilik tanah. Petak sawah berukuran lima kali tiga puluh meter bisa mereka selesaikan dalam kurun tidak lebih dari tiga jam dengan jumlah personel enam orang.
Tidak hanya soal tanam, kebanyakan ibu-ibu itu juga berkeahlian memanen. Kelapangan rezeki Tuhan tebarkan kepada mereka berperantakan tanah. Peran penting mereka dalam penyediaan pangan mereka niatkan khidmat untuk sekalian alam, meskipun kelelahan nampak jelas membebani badan. Kerja nyata mereka tak disertai adanya tunjangan di hari tua. Kebahagiaan dan senyum cerah keluarga sudah cukup membuat mereka bahagia.
***
“Tumben mborong banyak pagi-pagi, di” kata Mbok Isah pada Dul Hadi, ayah Sufi, sambil mengemasi beberapa makanan yang dipesan Dul Hadi.
Tidak biasanya memang ayah Sufi menyisakan makanan untuk dibungkus atau membawa makanan keluar dari warung yang terletak di pinggir sawah itu, apalagi hari masih sangat pagi. Warung itu secara tidak resmi telah menjadi markas besar para petani. Selain sebagai tempat untuk menunaikan kebutuhan lapar dan dahaga, warung itu juga menjadi tempat diskusi tentang segala hal yang berkaitan dengan persawahan maupun berita perpolitikan yang sedang viral ditayangkan.
“Untuk orang yang sedang tandur” jawab Dul Hadi diikuti gerakan tangannya menyeruput teh hangatnya yang terakhir, lalu bergegas pergi setelah membayar. Ia memang memutuskan untuk membeli makanan dan minuman di warung, apalagi setelah tadi pagi baru tahu kalau persediaan beras sudah habis. Jajanan itu akan diberikannya pada ibu-ibu dari desa sebelah yang dimintanya menanam padi di sawah garapannya. Ibu-ibu tetangganya di musim tanam seperti ini sudah tidak lagi memiliki agenda kosong sehingga mau tidak mau ia mesti menyewa jasa penanam padi di sebelah desa.
Membelikan makan untuk tukang tandur juga lebih efisien. Selain karena tidak harus bersusah payah mempersiapkan hidangan dan membawanya dari rumah, biaya gaji yang dikeluarkan untuk para pekerja pun sedikit lebih murah dari pada menyerahkan semua urusan makan pada pekerja itu sendiri. Berlaku ketetapan yang demikian dalam dunia pertanian.
***
“Dimakan sajaaa,,, Insya Allah nanti siang kita makan ayam. Sekarang sudah jam setengah tujuh lebih!” bujuk Maryam kesekian kalinya kepada Sufi, anaknya sambil menyodorkan singkong rebus hangat yang berbalutkan gula merah yang telah dicairkan sebagai menu sarapan pagi itu.
Perkataan Maryam bukan tanpa alasan. Ia menjanjikan makanan enak pada Sufi karena suaminya, Dul Hadi telah mendapatkan undangan walimahan pernikahan bakda Duhur nanti. Dul Hadi memang bukan orang yang ditokohkan di kampungnya, tapi cengkok suaranya yang cukup merdu membuatnya sering didaulat untuk membacakan rowi kitab Barzanjy tatkala walimahan. Alhasil, berkat walimah pun akan tetap dikirimkan ke rumah meskipun Dul Hadi berhalangan hadir.
Sudah tiga hari ini Maryam terpaksa berhutang beras ke tetangga sebelah dan pagi itu ia mendapati bak tempat penyimpanan berasnya tidak lagi terisi beras sebutir pun, sehingga mau tak mau ia hanya merebus singkong yang dipanennya sore kemarin di lahan kosong di sebelah saluran irigasi di selatan rumah.
Sufi pun terpaksa menikmati hidangan maknya itu dengan murung. Pemberitaan maknya tentang bahayanya tidak sarapan dan khasiat gizi singkong cukup memotivasi Sufi untuk menghabiskan kelezatan singkong pagi buatan tangan maknya. Ia pun segera berangkat sekolah setelah berpamitan dan mencium tangan maknya itu.
Pagi itu ia berpapasan dengan Lathif yang dikenal sering telat berangkat ke sekolah dan bahkan warga kampung sudah hafal dengan hobinya tidak naik kelas. Perbincangan guru-guru ketika musyawarah kenaikan kelas tak pernah lepas dari menyoroti namanya. Pak Sodirin bahkan sudah cukup pasrah menghadapinya. Ada saja tingkah aneh yang dilakukan Lathif waktu di sekolah.
“Tumben Sufi bareng Lathif” sindir Pak Jhon begitu berpapasan dengan keduanya di perjalanan.
Sufi yang baru menginjak kelas dua SD dan tampak dua pertiga tinggi Lathif itu terlihat canggung mendengar ucapan Pak Jhon. Sementara Lathif hanya cengengesan menanggapinya.
“Aku mungkin yang terlalu gasik berangkatnya.” Kata Lathif sambil terus berlalu.
Keduanya berjalan sejajar menuju ke barat memasuki kebun dan melewati Pak Jhon mulai berjalan ke arah berlawanan mulai menapaki pematangan sawah.
Untuk menuju ke sekolah, jalan setapak kebun warga yang bersebelahan dengan sawah memang menjadi prioritas utama karena dapat mempersingkat waktu selain juga lebih rindang dengan rerimbunan pohon pisang yang menemani setiap detik perjalanan ke sekolah itu. Namun jalanan kebun itu akan benar-benar tidak berfungsi manakala musim penghujan datang.
Jalur yang mengiringi irigasi selebar satu meter setengah itu juga kerap kali menelan korban. Jika tidak mampu menjaga keseimbangan, maka resikonya adalah terjebur ke dalamnya dan seluruh seragam serta buku-buku harus basah kuyup.
Menghadapi kenyataan seperti ini, sebagian murid sekolah yang sedusun dengan Sufi dan Lathif, terutama yang perempuan akan lebih memilih jalanan desa dengan konsekwensi harus lebih pagi lagi berangkatnya agar tidak terlambat. Sebagian murid yang nekat akan tetap memilih jalan kebun itu dengan melepas sepatu.
Hari itu Sufi berangkat ke sekolah dengan saku setengah dari nominal hari biasanya. Maknya berjanji memasukkan sebagian sakunya untuk ditabung demi membeli sepeda. Sufi memang sudah cukup terbiasa dengan keprihatinan hidup.
Janji ayahnya untuk memberinya sepeda sebagai hadiah peringkat tiga besar di kelas yang tak kunjung direalisasikan tak membuatnya kecewa terhadap kedua orang tuanya. Pemahamannya terhadap keadaan keluarganya sudah cukup baik dibandingkan anak-anak para pengusaha yang sering kali manja dan cenderung tidak mau mandiri serta selalu mengandalkan orang tua.
***
“Mau beli nggak pak” tawar Pak Harjito pada ayah Sufi.
Beberapa kantong garam dan botol obat-obatan made in Jepang menghiasi sepeda motornya. Sudah tiga tahun terakhir ini Pak Harjito menggeluti bisnis berjualan segala macam pupuk dan obat tanaman yang dipercaya merupakan buatan asli negeri macan asia. Fandy, anak pertamanya yang lulusan SMK terbaik di kota dan sekarang masih menjalani kontraknya yang tersisa dua tahun di salah satu perusahaan Jepanglah pemasoknya.
Khasiat dari obat itu telah diakui oleh banyak petani mampu mempercepat pertumbuhan dan menjaga kesuburan tanaman padi, namun harganya yang melangit membuat sebagian petani berfikir seribu kali untuk membelinya.
Ayah Sufi pun lebih memilih cairan bio lokal yang sudah memiliki stempel uji kelayakan dari BPOM yang selain bermanfaat bagi tubuh manusia, juga mampu menutrisi tanaman. Untuk meningkatkan kualitas hasil, ayah Sufi biasanya menggunakan media kotoran hewan ternak yang terlebih dahulu dikeringkan lalu ditetesi cairan bio secara merata dan kemudian menaburkannya ke daerah yang akan ditanami.
Namun cara-cara tersebut pun tidak selalu menghantarkan para petani ke pintu sukses mampu seratus persen panen bersih. Ada saja penghlangnya. Serangga dan hama wereng serta tikus-tikus lah, ataupun burung-burung yang memakani biji padi yang siap panen. Namun hal ini tidak menyurutkan para petani untuk menyambut benih-benih rezeki yang Tuhan limpah ruahkan.
Tidak mau menanggung resiko-resiko tersebut atau demi mencari alternatif lain, beberapa petani memanfaatkan lahannya sebagai pabrik pribadi pembuatan batu bata merah. Keuntungannya jauh lebih besar dibandingkan hanya bertanam padi dengan durasi waktu yang sama, namun meski selalu siaga di sawah dan mempunyai tenaga ekstra. Setiap kali proyeknya mencapai kesuksesan hasil yang dicapai bisa sampai puluhan juta meski tidak menutup kemungkinan minimnya pangsa pasar yang sekarang didominasi dengan batu kapur sebagai bahan dasar bangunan.
“Kalaupun bukan sekarang, mungkin besok dan besoknya lagi diberi kemudahan” kata Mbah Duli ketika ditanyai alasanya selalu giat bercocok tanam.
Usianya hampir tujuh puluh tahun namun semangatnya tidak kalah dengan mereka yang baru berumur tiga puluhan untuk selalu optimis merawat tanaman. Suaranya masih lantang. Keistiqamahannya adzan Subuh menjadikan suara adzannya sebagai patokan waktu shalat mushala-mushala lain.
Setiap setelah selesai melaksanakan shalat Subuh berjamah dengan wirid-wiridnya, ia langsung bergegas mengunjungi sawah garapanya yang berjarak dua kilo meter dari rumah dengan berjalan kaki. Di sawahnya yang seperdua puluh hektar itu, ia tidak hanya bercocok tanam padi, sebagiannya ia jadikan ladang untuk ditanami palawija. Hampir setiap hari hasil tanamnya dijual di pasar oleh putra-putranya. Dengan pekerjaan bertanam aneka biji-bijian dan umbi-umbian ini ia dapat turut menghidupi tiga orang pekerjanya, bahkan sudah mampu membangun rumah lagi untuk istri keduanya.
***
Subuh itu warga Pecangakan digegerkan dengan penemuan tak biasa. Areal sawah ramai manusia seperti pusat belanja. Desas-desus tentang fenomena keajaiban alam terngiang dari mulut ke mulut warga dan menjadi topik perbincangan saat itu.
Mitos kehadiran piring terbang atau makhluk aneh serta cerita khayal lainnya menjadi bahasan menarik dari ditemukannya tiga lingkaran besar sempurna yang terbentuk dari robohnya tanaman padi yang siap panen seminggu nanti seharusnya. Lingkaran-lingkaran itu tampak indah di antara tanaman padi seluas dua puluh hektar.
Matahari mulai naik. Semakin banyak warga yang ingin menyaksikan fenomena keanehan itu. Sufi berada di antara sekumpulan anak SD berseragam merah putih yang turut menyempatkan diri menyaksikan peristiwa langka itu. Beberapa wartawan dengan kameranya juga semakin menambah hebohnya keadaan saat itu.
Keberadaan media benar-benar telah mampu menarik perhatian dunia. Beberapa warga pun tampak berebut mendapatkan sorotan kamera, berharap wajahnya masuk televisi. Sementara beberapa oknum polisi telah memasang garis polisi di sekitar areal crop cyrcle itu.
“Ada kemungkinan kalau pelakunya adalah tikus-tikus yang dikirim secara gaib untuk menrusak tanaman” jawab Dul Hakim ketika diwawancarai media.
Nama Dul Hakim memang sering disebut-sebut sebagai ahli dalam dunia pergaiban, sementara Turahman mengaku melihat cahaya dari atas TKP itu sangat mirip sekali dengan yang di film-film dan dibenarkan oleh beberapa warga lain.
Identifikasi kepolisian menanggapi kejadian itu secara ilmiah dengan mengatakan bahwa efek robohnya tanaman-tanaman padi yang sudah dipenuhi biji adalah dikarenakan ulah angin puting beliung yang datang semalam. Angin itu berputar-putar di tengah areal sawah itu dan merobohkan tanaman itu hingga batangnya yang terbawah.
Lepas dari ketidak jelasan desas-desas tentang robohnya tanaman padi itu, Sutardi sebagai pemiliknya hanya mampu mengelus dada. Pasalnya, padi-padi itu andai tidak tenggelam akan mampu dipanen dan menghasilkan dua karung gabah yang senilai dengan uang sejuta rupiah. Namun ia cukup bergembira karena pemerintah setempat mau mengganti rugi padinya.
***
Siang itu Sufi terlihat bahagia sekali. Topi seragam sawah tampak lebar sekali dipakainya. Menutupi kepala hingga wajahnya. Ia sedang tidak di sawah, melainkan mondar-mandir di bawah terik matahari menciptakan garis horizontal pada tumpukan padi milik ayahnya yang dijemur di atas terpal. Ia tidak mempedulikan kakinya yang mulai gatal karena berjalanan cukup lama di atas gabah, memastikan agar semua gabah itu kering merata. Perintah maknya itu dilakukannya dengan penuh suka cita setelah sepulang sekolah tadi ia dikejutkan dengan adanya sepeda baru yang terparkir di beranda rumahnya.
Adiknya yang hanya bisa mengamatinya di bawah pohon pun hanya bisa nyinyir aneh melihat keanehan tingkah kakaknya. Rute jalan Sufi di atas terpal itu tidak lagi simetris dan malah nampak menghasilkan garis zig-zag tak beraturan karena banyaknya ayam yang mulai mengais dan mematuki padinya. Adik Sufi pun meneriakinya dan sontak membuat Sufi kelabakan mengusir ayam-ayam tersebut.
Musim panen kali itu menjadi moment terbaik ayah dan ibu Sufi. Perjuangannya berbuah kemanisan. Di saat para petani digemparkan dengan hasil panen yang tidak sesuai dengan perkiraan, hasil padi garapannya memenuhi kualitas memuaskan. Pupuk alami buatannya cukup mampu menjawab dengan bukti yang tidak mengecewakan, selain juga ia rajin untuk menyiangi tanaman padinya, merawat dan menjaganya dari gangguan hama dan hewan merugikan. Ia juga selalu memastikan asupan nutrisinya dengan setiap saat mengontrol aliran airnya dengan dibantu istrinya.
Alhasil, banyak tengkulak yang menawar gabah hasil garapannya dengan nilai yang cukup tinggi dan ayah Sufi pun melepaskan sebagian hasil panennya untuk dijual demi memenuhi kebutuhan dan membahagiakan hati keluarganya.
Profesionalitas sebagai petani sangat berpengaruh terhadap hasil padi yang dicapai. Demikian inilah takdir kehidupan. Setiap apapun jenis pekerjaannya, selagi seseorang memiliki kesungguhan maka ia akan memperoleh keberhasilan. Setinggi apapun gelar pendidikannya, bahkan insinyur pertanian pun, andai tidak mengetahui secara pasti cara bertani dan terjun langsung ke bidangnya, mereka tidak lebih pandai dari para petani pawang padi.