💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
﷽ ❀ CERPEN W❀❀KEY ❀ ﷽
☠ Jangan Lupa Basmalah 💖 10+ ☠
(★ Mohon Bijak Dalam Memilih Bacaan ★)
𝗞𝗜𝗦★𝗛 NY★T★ : ☆ “Demi Peran, Aku Menjadi Wanita untuk Menyabotase Selingkuhan “………���”” ☆
“………���” Menjadi seorang aktor terkenal sudah menjadi mimpiku sejak kecil. Namun di perjalanan untuk sampai ke sana ternyata aku haru melewati jalan yang cukup terjal.
Berbagai casting dengan ragam karakter berbeda sudah kujalani tapi masih butuh bertahun-tahun hingga akhirnya mereka 'memakai'ku untuk memerankan salah satu peran di sebuah film.
Ya meski peran itu tidak cukup penting tetapi setidaknya aku sudah membuktikan kalau aktingku layak untuk dipertimbangkan.
Peran kecil sudah cukup membuatku bahagia meski kenyataannya aku belum puas. Kupikir jika karakter itu kuperankan dengan baik, cepat atau lambat mereka pasti akan melirik kemampuanku.
Tetapi pada kenyataannya tidak semudah apa yang kubayangkan! Lima tahun aku masih di posisi yang sama, berusaha mengimprovisasi kemampuan aktingku tetapi mereka masih tidak memberi kesempatan untukku.
Pada tahun ketiga aku menikahi kekasihku, Stevie, ia satu-satunya yang tak mengolok ketika kuceritakan tentang mimpiku.
Pertama kali berkenalan ia mendukung semua yang kulakukan karena di sisi lain dia juga berambisi untuk menjadi arsitek.
Sejak itu kami sering bertukar cerita tentang pengalaman menggapai mimpi, apa yang sudah dilakukan dan bagaimana hasilnya.
Keseruan itu membuat aku tidak ingin mengakhiri setiap percakapan dengannya dan rasanya hasil perjuangan itu akan terasa sangat manis jika dirasakan bersama. Jadi tercetuslah keputusanku untuk menikahinya.
Setelah menikah aku masih merasakan keseruan itu ditambah dengan sejumput bumbu pernikahan yang membuat rasanya semakin istimewa.
Tiap kali aku kembali dengan wajah lesu, Stevie selalu sigap membuatkan aku makan malam hangat dan berusaha menghiburku.
“Mereka pasti akan melihat betapa hebat kemampuanmu…��� Kamu hanya perlu bersabar lebih lama lagi…���” Ucapnya.
“………���” Kata-kata itu sering kali membuat aku ingin berusaha lebih keras agar mereka lebih cepat terpukau dengan kemampuanku.
“Aku ingin membuat Stevie bangga padaku…���” Pikirku.
“………���” Dua tahun pernikahan, saat aku masih bergelut dengan peran yang itu-itu saja, Stevie malah meraih mimpinya lebih dulu. Ia diterima bekerja di sebuah perusahaan ternama dan mendapat projek yang luar biasa besar sebagai seorang arsitek.
Dan sejak itu, kalimat penyemangat yang terlontar dari mulutnya membuatku merasa sangat bosan. Cemburu? Pasti! Hidup sebagai seorang aktor yang selalu berjuang mendapatkan peran membuat aku menganggap kehidupan adalah kompetisi.
“………���” Aku mengabaikan ucapan dari Stevie dan berusaha semakin keras untuk meraih mimpiku.
“Aku tidak boleh kalah…��� Seharusnya aku yang berada di titik itu…���” Pikirku.
“………���” Semakin aku berusaha keras, semakin aku menunjukkan kebiasaan burukku dihadapan Stevie.
Ketika pulang ke rumah lewat tengah malam aku melempar sepatu, melepas pakaian dan kaos kaki di mana pun aku suka.
Aku selalu membuka semua lemari di dapur untuk mencari sesuatu yang bisa aku makan dan Stevie tidak pernah protes saat aku melakukannya karena ia sudah menjelajah jauh ke dalam mimpinya.
Hanya saja tiap kali terbangun aku selalu mendengar ocehan Stevie sambil membawa sepotong baju atau kaos kaki yang sudah berada di tempat tak terduga, termasuk di lemari pendingin.
“Paul…��� Kaos kakimu ada di dalam kulkas…��� Yang benar saja…���” Protesnya dan aku hanya terkekeh kemudian mengabaikannya.
“………���” Sejak saat itu kami selalu bertengkar, ia selalu menyalahkan aku karena bersikap buruk.
Sedangkan aku menyalahkannya karena Stevie tidak lagi menyediakan makanan hangat ketika aku pulang. Hari-hari yang semula menyenangkan, justru berubah menjadi ragam pertengkaran.
Ketika Stevie diliputi amarah, sering aku membuat humor dari kata-katanya. Beberapa kali cukup ampuh untuk membuatnya kembali tertawa dan suasana cair seperti biasa tapi hari itu sepertinya tidak.
“Kamu menyebalkan…��� Aku sudah tidak bisa lagi bertahan dengan lelucon ini…���” Ucapnya sambil membanting baju yang baru saja ia temukan di kolong kulkas.
“Apa kamu mulai berpikir kalau aku ini seorang pengecut…���” Tanyaku.
“Kamu tidak pernah mendengarkan aku, Paul…���” Jawabnya.
“Aku berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, apa semua ini karena aku tidak bekerja seperti kamu…���” Balasku.
“Aku tidak butuh uangmu…��� Aku butuh perhatianmu…��� Kamu benar-benar tidak mendengarkan aku…���” Sahutnya.
“Tunggu sebentar lagi…��� Mereka pasti akan memberikanku pemeran utama di projek ini…���” Balasku.
“Kamu juga tidak sempurna Stevie…��� Kamu mengorok dan selalu menjilat sisa makanan di piringmu…���” Tambahku.
“Oh Tuhaaaan…��� Kamu benar-benar tidak mengerti maksudku…��� Sudahlah aku tidak bisa bertahan lagi dengan semua ini…��� Aku pergi…���” Jawabnya.
“It is good with you…��� But it's even better without you…���” Sahutku.
“Tidak lucu Paul…��� Aku serius…���” Jawabnya kemudian meninggalkanku begitu saja.
“………���” Saat itu aku menganggap kalau ucapan Stevie hanya lelucon. Stevie tidak akan benar-benar pergi dari sisiku.
“Stevie mengatakannya hanya karena marahan…���” Pikirku.
“………���” Namun ternyata aku tidak lagi menemukan Stevie di mana pun keesokan harinya.
Stevie benar-benar pergi. Hariku mulai terasa hampa tanpa Stevie dan di saat yang bersamaan seorang sutradara menghubungiku.
📞 “Aku sudah melihat hasil casting-mu…��� Bisakah kita bertemu siang ini di tempat biasa…��� Aku ingin membicarakannya denganmu…���” Tanyanya dari seberang telepon.
“………���” Ia adalah Cloud, seorang teman sekaligus sutradara yang membantu mencari peran yang tepat untukku.
Kali ini dia menghubungiku dengan nada cukup serius, tidak seperti biasanya, aku hanya bisa berharap teleponnya bisa membuatku mendapatkan Stevie kembali.
“………���”
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Setelah menerima telepon dari Cloud, aku setuju untuk datang ke sebuah restoran tempat biasa kami bertemu.
Sesampainya di sana, aku hanya memesan segelas lemonade karena tak banyak uang yang tersisa di dompetku.
Selama ini Stevie yang banyak mengeluarkan uang untukku, sedangkan aku hanya membayar beberapa kebutuhan saja. Ketika Stevie pergi, baru kusadari kalau selama ini aku terlalu membebankannya.
Berselang satu jam akhirnya aku melihat batang hidung Cloud berjalan memasuki pintu restoran.
“Kemana saja kamu…��� Aku hampir mati kutu di sini…���” Protesku.
“Maaf…��� Maaf tapi ayo kita bicarakan masalah ini sekarang…���” Sahutnya.
“………���” Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya, seorang pelayan datang menghampiri meja kami dan Cloud pun memesan segelas minuman.
“Aku sudah melihat hasil casting-mu kemarin…���” Ucapnya saat si pelayan sudah pergi membawa daftar pesanan Cloud.
“Lalu…���” Tanyaku.
“Kamu tidak bisa mendapatkan peran itu jika permainan karaktermu hanya di situ-situ saja Paul…��� Kamu tidak menunjukkan adanya perkembangan…���” Jelasnya.
“………���” Ucapan Cloud membuat dengkulku terasa lemas, kukira ia akan menyampaikan satu hal yang mampu membuat hariku berubah tetapi ternyata justru memperburuk semuanya.
“Aku tidak bisa memberikanmu peran itu kalau kamu terus seperti ini…���” Tambah Cloud.
“Tolonglah Cloud…��� Aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan peran itu bahkan menjadi wanita pun aku sanggup…���” Ucapku sambil memelas.
“Itu ide bagus…��� Kamu sungguh bisa melakukannya…���” Tanya Cloud.
“………���” Sejujurnya aku bingung apa yang ia maksudkan tetapi aku tidak punya pilang lain selain menganggukkan kepala.
“Akan kulakukan apa saja untuk bisa mendapatkan peran itu…���” Pikirku.
“Kalau begitu di meja sana ada pria bernama John…��� Dia sangat terkenal sebagai pemburu wanita…��� Aku sendiri menyaksikannya…��� Ia mampu menggaet wanita berbeda setiap bulannya…��� Dan kudengar ia sedang mencari seorang pelayan untuk di rumahnya…���” Jelas Cloud.
“BOOM…��� Aku baru menyadari apa yang sudah kulakukan…��� Cloud menginginkan aku berperan sebagai wanita…��� Karena ucapan yang tidak kupikirkan terlebih dulu…���” Pikirku.
“Kamu akan kuberi waktu selama satu bulan…��� Untuk mendapatkannya…���” Tantang Cloud.
“Bagaimana…��� Aku tahu kalau aku sudah berhasil melakukannya…���” Tanyaku.
“Kalau dalam satu bulan dia menawarkan sebuah hubunga itu berarti kamu sudah berhasil menyelesaikan tantangan…���” Jelasnya.
“Baiklah…���” Sahutku pasrah.
“Sekarang kamu ikut aku…��� Kita akan pergi ke tempat makeup artist langgananku…��� Untuk mengubahmu…��� Menjadi seorang wanita…���” Ajak Cloud.
“………���” Akhirnya hari itu aku pun pergi ke tempat Belina, seorang makeup artist yang dimaksud oleh Cloud.
Butuh waktu cukup lama untuk Belina mengubahku menjadi seorang wanita. Belina mencukur hampir semua bulu di tubuhku dan mengajariku bagaimana cara merias wajah lalu memasang rambut palsu.
“Apa dia akan mendandaniku selama satu bulan…���” Tanyaku pada Cloud.
“Tentu saja tidak…��� Kamu harus mempelajari semuanya hari ini…��� Dan melakukan semuanya sendiri…���” Jawab Cloud.
“………���” Hari itu banyak sekali yang harus kupelajari termasuk memakai pakaian dalam dengan busa tebal di dadaku.
“Apa kamu sudah siap…��� Dua hari lagi kita akan bertemu dengan John…���” Ucap Cloud.
“Apa…��� Bagaimana caranya aku bisa melakukan semua ini dalam dua hari…���” Tanyaku.
“Kamu harus bisa melakukannya…��� Aku sudah kehabisan waktu…��� Film ini akan mulai syuting dua bulan lagi…���” Jawabnya.
“………���” Aku hanya bisa menekuk wajah sambil berusaha mengingat semua tahapan yang dilakukan oleh Belina.
“You are so beautiful, Paul…���” Ucap Cloud sangat terpana melihat perubahan drastis yang terjadi pada diriku.
“Semua itu berkat Belina…��� Ia sungguh memiliki tangan ajaib hingga mampu menyulapku…���” Sahutku.
“Gilaaaa…��� Paul kamu benar-benar terlihat seperti wanita…���” Seru Cloud.
“Tanganmu sungguh magis Belina, bravo…���” Tambah Cloud sambil memeluk wanita paruh baya itu.
“Tugasmu sekarang adalah mengulangi apa yang sudah Belina ajarkan padamu…��� Dan aku akan menjemputmu dua hari lagi…��� Tentunya untuk bertemu dengan John…���” Ucapnya.
“Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kulihat di cermin dan diam-diam merapal harap agar aku bisa melakukan semuanya sendiri…���” Batinku.
“………���” Sepulang dari rumah Belina, aku mampir ke sebuah mal untuk membeli banyak pakaian.
Sengaja aku datang memakai berpenampilan seperti wanita, hasil magis dari tangan Belina, karena jujur saja aku malu jika harus datang dengan wajah priaku.
Di semua toko yang kudatangi, mereka tidak mengenaliku sebagai pria dan justru sangat membantuku untuk mendapatkan ukuran yang sesuai.
Meski penampilanku sudah hampir seratus persen berubah, tetapi tidak bisa kututupi bahwa suaraku masih terdengar cukup berat untuk seorang wanita.
“………���” Setelah membeli banyak baju dan alat makeup, aku kembali ke rumah dengan sangat lesu.
“Aku harus mulai dari mana…���” Pikirku.
Aku hapus semua makeup yang Belina kenakan pada wajahku dan mulai mencari tutorial dari banyak sosial media.
Merias wajah itu sangat sulit! Aku harus berkali-kali meregangkan pergelangan tangan yang terasa sangat sakit.
Mungkin karena tanganku terlalu kaku untuk menyibakkan kuas di wajah, sambil belajar aku teringat oleh Stevie saat ia sedang bersiap untuk pergi bersamaku.
Aku selalu memarahinya bahkan tidak peduli ketika dia mengatakan kalau dia melakukannya untuk membuatku senang.
Sekarang aku merasa sangat bersalah dan perlahan mulai memantapkan diri untuk mengganti jiwaku dengan jiwa perempuan.
Aku berusaha untuk memasukkan jiwa lain ke dalam tubuhku, rasanya sangat sulit tetapi perlahan bayangan itu mulai menyatu dengan diriku.
Tanganku mulai luwes menepuk foundation, menyapukan kuas di kelopak mata, dan menggoreskan lipstick di bibir.
Aku sangat terpukau melihat hasilnya! Meski belum sempurna aku hanya perlu melatih diri untuk memasukkan jiwa lain ke dalam tubuhku.
Dua hari aku melakukannya sambil melatih jemari-jemariku memainkan kuas serta alat makeup lainnya. Hasilnya? Aku sungguh tidak percaya!
Aku bisa tampil layaknya wanita dengan makeup yang tidak sempurna tetapi cukup meyakinkan orang lain kalau aku adalah wanita.
Aku sungguh menyesal membuat Stevie merasa sedih saat usahanya mempercantik diri kuabaikan begitu saja.
Hari yang ditunggu pun tiba, Cloud menjemputku di depan rumah tepat jam makan siang.
“Woow, Paul…��� Kamu tidak menyewa Belina untuk hari ini kan…���” Tanya Cloud menyeringai sekaligus menggodaku.
“Tentu saja tidak…��� Uangku tidak cukup untuk menyewa tangan magis seperti miliknya…���” Jawabku.
“Lalu bagaimana kamu bisa melakukan semua ini…���” Tanyanya.
“Aku habiskan seluruh uangku untuk membeli semua barang wanita…��� Dan tidak tidur selama dua hari hanya untuk melatih tanganku ber-makeup, cara berjalan, dan berbicara…���” Sahutku kesal.
“Hahahaha…���” Cloud hanya tertawa girang mendengar jawabanku.
“Hei semua ini demi kariermu di film…��� Coba tunjukan sedikit rasa bangga pada dirimu…��� Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik, Paul…���” Hibur Cloud.
“………���” Aku hanya mengangguk dan berpura-pura bersemangat meskipun sebenarnya aku sangat mengantuk!
Kami segera meluncur ke restoran tempat John berada dan sesampainya di sana Cloud menggandengku bertemu dengan pria itu.
“Hai John apa kabar…���” Sapa Cloud.
“Oh hai Cloud! Baik…��� Bagaimana denganmu…��� Apa semuanya baik-baik saja…���” Tanyanya.
“Ah yaaa semua baik-baik saja…��� Aku dengar kamu sedang mencari seorang pelayan dan aku punya kandidat tepat buatmu…���” Jawab Cloud sambil menarik tanganku untuk mendekat.
“Oh bagus…��� Aku memang sedang mencari pelayan dan belum ada satu pun yang sesuai…��� Kalau boleh tau siapa nama wanita ini…���” Tanya John.
“………���” Aku cukup terkesan karena baru kali ini kulihat seorang pria yang mudah jatuh ke dalam perangkap wanita.
“Miranda…���” Jawabku dengan suara yang cukup aneh, setidaknya di telingaku, sambil mengulurkan tangan.
“………���” John menyambutnya dengan cepat, ia bahkan mencium tanganku.
“Ooh tanganmu sangat dingin…��� Apa kamu baik-baik saja…���” Tanya John.
“Yaaa hanya sedikit flu…��� Mungkin kalau kamu membelikan secangkir teh…��� Aku akan cepat sembuh…���” Jawabku sambil merayu.
“Ahh aku sampai lupa menawari kalian minum…���” Sahut John sambil memanggil seorang pelayan restoran.
“Cloud bilang kamu cukup berpengalaman dalam mengurus rumah…���” Ungkap John sambil melihatku dengan tatapan kagum.
“Hmm Cloud hanya berusaha untuk memujiku…���” Jawabku.
“Hahahaha…��� Baiklah…��� Tapi aku tidak bisa menemani kalian terlalu lama…��� Karena ada janji kencan dengan seorang wanita…���” Balasnya. John memiringkan kepalanya dan mengangkat sebelah tangannya seolah menunjukkan tanda keberadaan dirinya.
“Ini dia teman spesialku…���” Tambah John.
“………���” aku menoleh secara spontan dan terkejut ketika melihat Stevie sedang berjalan anggun menuju meja kami.
“Stevie perkenalkan ini Cloud seorang sutradara…��� Dan di sampingnya Miranda…��� Dia akan bekerja sebagai pelayanku mulai besok…���” Ucap John sambil melingkarkan sebelah tangan ke pinggang Stevie.
“………���” Dengan ramah Stevie mengulurkan tangan ke arah Cloud lalu ke arahku.
“It is good with you…��� But it's even better without you…���” Ucapku.
“………���” Seketika wajah Stevie terpaku dan melihat ke arahku.
“Apa yang kamu ucapkan…���” Tanya Stevie heran.
“Bukan apa-apa…���” Jawabku.
“Ada apa sayang…��� Apa dia mengganggumu…���” Tanya John pada Stevie.
“Tidak… tidak…��� Hanya saja dia mengucapkan kalimat yang biasa mantan suamiku ucapkan…���” Jawab Stevie.
“Mantan Suami…��� What the hell…��� She's saying for…���” Batinku menggerutu.
“Mungkin lebih baik kita pergi karena pesawatnya akan berangkat beberapa saat lagi…���” Sahut John.
“Besok kamu bisa langsung datang ke tempatku…��� Cloud akan memberi kamu alamatnya…���” Tambah John sambil merangkul Stevie untuk keluar dari restoran.
“………���” Ketika mereka pergi Cloud memicingkan mata ke arahku.
“Apa yang sedang kamu lakukan…���” Tanya Cloud.
“Stevie istriku Cloud…��� Aku tidak bisa melakukan ini…���” Jawabku.
“Lalu…��� Kamu sudah tidak butuh peran ini…���” Tanya Cloud kembali.
“………���” Sesaat aku terdiam memandangi wajah Cloud yang mulai bingung dengan tingkahku.
“Kalau kamu sudah tidak mau, masih ada waktu untuk mundur dan posisi ini akan kuberikan pada orang lain yang lebih berkompeten…���” Sahutnya dengan nada tegas.
“………���” Dengan cepat aku menarik tangan Cloud.
“Aku akan melakukannya…���” Jawabku.
“Meskipun itu artinya aku harus lebih sering melihat Stevie bermesraan dengan pria lain di depan mataku sendiri…���” Pikirku.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Sebenarnya aku cukup menyesali keputusanku menyetujui keinginan Cloud tapi di sisi lain semua ini aku lakukan agar bisa meraih mimpiku.
“Aku ingin membuktikan pada Stevie…��� Kalau aku tidak menjadi pecundang…��� Seperti apa yang ia pikirkan…���” Batinku.
“………���” Sepulang dari restoran hatiku terus merasa gelisah, memikirkan banyak kemungkinan pahit yang harus kusaksikan tentang Stevie dan pria lain di depan mataku.
Aku melewatkan makan malam dan justru menghabiskan waktu di kamar mandi. Di bawah pancuran air hangat agar setidaknya kegelisahan hatiku bisa luntur terbawa air.
Aku banyak melamun malam itu dan tidak sedikit pun bisa memejamkan mata, rasanya sangat sulit untuk menghadapi kenyataan.
Sendirian di rumah membuat aku selalu membayangkan apa yang akan terjadi jika Stevie masih bersamaku.
Wajahnya yang memerah saat kesal pasti akan selalu kutemukan saat aku terbangun setiap harinya..Ketika sedang memikirkan Stevie, terbersit di pikiranku untuk merebutnya kembali.
“Mungkin dengan begini aku bisa merebut Stevie dari pria rubah itu…���” Pikirku.
Lalu mulailah otakku bekerja mencari cara agar bisa mendapatkan dua tujuan dalam satu kali aksi. Semalam aku memikirkan banyak cara dan kemungkinan hingga akhirnya tertidur di sofa tanpa kusadari.
“………���” Aku baru bangun ketika Cloud meneleponku entah untuk yang ke berapa kalinya.
📞 “Halo…���” Jawabku lemah.
📞 “Biar kutebak kamu pasti belum siap" j“………���” Jawab Cloud.
📞 “Hmmm…���” Sahutku.
📞 “Satu jam lagi aku akan sampai di rumahmu, kuharap kamu tidak lupa dengan janji ke rumah John hari ini“………���” Balas Cloud.
📞 “………���” Rasanya kelopak mataku tertancap beling yang membuatnya tidak ingin terpejam lagi. Aku segera melihat jam yang berada menggantung tepat di depanku.
📞 “Aku siap-siap dulu" balasku lalu mematikan telepon itu.
📞 “………���”
“………���” Akh berlari ke kamar dan mandi secepat yang kubisa, lalu memilih baju yang pas kemudian berdandan. Bagian yang paling memakan waktu dari semuanya. Butuh konsentrasi yang tinggi saat aku melakukan semua itu dan sentuhan terakhir berada pada bibirku.
“Lipstick…���” Ketika aku baru selesai memasang rambut palsu.
“Ting… Tong…���” Suara bel di luar mulai ribut memenuhi seisi rumah.
“………���” Aku mengambil sepatu hak tinggiku dan mulai berjalan cepat ke arah pintu.
“Baju ini membuat aku sulit bergerak cepat…���” Ocehku dalam hati.
“………���” Ketika membuka pintu, aku sudah melihat Cloud bersandar di tembok dengan satu kaki yang terlipat.
“Kukira aku akan menunggumu berdandan layaknya seorang wanita…���” Ledek Cloud,
“Aku memang sedang menjadi wanita, Cloud" sahutku jengkel. Cloud pun mengantarku lalu bergegas pergi ketika aku sampai di depan mangsaku.
“Aku cukup mengantarmu hari ini…��� Selebihnya kamu bisa datang sendiri ke sini…���” Ucap Cloud.
“………���” Aku hanya menyatukan ibu jari dan telunjukku membentuk huruf O.
Aku masuk ke dalam rumah John dengan hati yang berdegup cukup kencang.
“Tidak biasanya aku gugup saat bertemu seorang pria…���” Pikirku, mungkin perasaan itu yang dirasakan oleh banyak wanita saat bertemu dengan orang asing.
Sesampainya di dalam, aku melihat banyak ornamen besar yang mengesankan rumah itu sangat mewah. Lima menit aku menunggu di ruang tamu, tiba-tiba John datang dengan mengenakan baju mandinya.
"Ayo masuk! Akan kuajak kamu berkeliling…���” Ajaknya, aku hanya bisa menelan ludah sambil merapal doa kalau John tidak akan macam-macam denganku.
Karena jujur saja, di mataku sebagai Miranda, John terlihat jauh lebih menyeramkan. Kami berkeliling rumah John dengan nuansa krem dan putih, di berbagai sudut jelas sekali terlihat ornamen besar mencolok yang menandakan kalau dirinya cukup berada.
“Ini dapurnya…��� Kamu bisa memulai dari sini…���” Ucapnya, .
"ohhh dapur yang cantik tapi sangat terlihat kalau kamu memang membutuhkan seorang wanita" jawabku,
"hmm mungkin sebentar lagi Stevie akan menjadi orang yang tepat" balas John.
"Hmm maaf jika mengganggu, tapi kupikir Stevie terlihat tidak cocok untukmu" sahutku.
“………���” Sambil mendekat John melihat ke arahku dengan tatapan bingung,
"apa yang membuatmu mengatakannya?" Tanyanya,
"dia mengorok dan bahkan akan menjilat piringnya setelah makan" jawabku.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui itu?" Tanya John semakin penasaran,
"haha semua orang seperti buku yang terbuka untukku" jawabku singkat,
"kalau begitu kita sama" balasnya sambil mengusap pundakku.
“………���” Menerima perlakuan itu membuatku semakin gugup.
"Itu sebabnya aku tidak berhenti mencari pelayan yang tepat untukku" tambahnya, John sudah menunjukkan semua tempat yang akan menjadi rutinitasku dan meninggalkanku begitu saja. Hampir malam aku melihat Stevie memasuki rumah itu "aku baru saja mengajak Miranda berkeliling" ucap John sambil memeluk Stevie, "oh aku hanya mampir sebentar karena baru pulang dari rumah tetanggaku" balas Stev. "It is good with you, but it's even better without you" ucapku sambil berjalan melewatinya. "Apa?" Tanya Stevie yang memutar tubuhnya untuk melihat ke arahku, "ada apa?" Tanya John, "dia selalu mengatakan kalimat yang diucapkan mantanku sebagai lelucon" jawab Stev, "kenapa dia sangat ceroboh saat memakai sepatu itu?" tambahnya.
Melihat gelagat Stevie yang mulai mencurigaiku, aku pun akhirnya pamit pulang pada John. Di perjalanan aku merasa sangat bahagia karena Stevie mulai memikirkanku meski semua masih menjadi sebuah teka-teki untuknya.
Tak ada perjanjian kalau aku harus datang ke rumah John setiap hari, jadi aku hanya menunggu dia menghubungiku. Dua hari kemudian, John meneleponku
"kapan kita akan bertemu lagi Cantik?" Tanyanya,
"bagaimana kalau malam ini? Aku akan menyiapkan makan malam romantis" Balasku bertanya,
"apa kamu yakin? Apa kita tidak bergerak terlalu cepat?" Tanyanya kembali,
"hmm aku hanya berpikir kalau aku akan membuatkanmu pie malam ini" sahutku,
"baiklah! Sampai jumpa nanti malam" balas John lalu menutup telepon itu.
Lagi-lagi aku harus menyesali keputusanku yang sangat ceroboh! Rumahku tidak terlihat seperti tempat untuk seseorang menggelar makan malam romantis.
"Kalau bukan karena ancaman Cloud, tidak mungkin aku melakukan semuanya secepat ini" pikirku.
Aku mulai merapihkan semua baju yang berserakan hampir di seluruh lantai, membuang sampah, membersihkan kaos kaki yang berada di tempat tak terduga!
"Pantas saja Stevie selalu marah padaku, bagaimana bisa satu kaos kakiku berada di lemari pendingin dan satunya berada di tempat pencucian piring?" Batinku.
Butuh waktu tiga jam untukku membersihkan seluruh rumah kemudian pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan.
Aku mengikuti petunjuk dari sosial media yang ternyata tal semudah itu kulakukan, berkali-kali aku harus membuang makanan yang hangus atau tidak layak untuk dimakan.
"Tak kusangka memasak akan memakan waktu selama ini, aku cukup jahat pada Stev karena selalu komplain setiap memakan masakannya" pikirku.
Dipercobaan ketujuh aku baru berhasil membuat pie dengan tampilan yang tidak terlalu buruk. Setelah itu aku bergegas merapihkan meja, memasang lilin, dan memutar musik romantis.
Meja dan makanan sudah siap, barulah aku mandi kemudian merias wajahku. Tak lama suara bel mulai memenuhi seisi rumah, aku bergegas turun membukakan pintu untuk John.
"Kamu terlihat sangat cantik malam ini" ucapnya, aku hanya bisa berakting tersipu saat mendengar ia memujiku.
Belum satu jam John berada di rumahku dan kami baru memulai percakapan, tiba-tiba suara bel mulai berbunyi kembali.
"Apa kamu mengundang orang lain?" Tanya John,
"Paul ini aku" teriak seseorang dari luar rumah.
Suaranya cukup familiar hingga aku menyadari sesuatu yang besar akan segera terjadi.
"Tidak, itu ibuku. Sebaiknya kamu pergi lewat pintu belakang" ucapku panik,
"aku ingin bertemu dengan ibumu" jawab John,
"tidak sekarang! Kami tidak sedang dalam kondisi yang baik untuk membicarakan ini" balasku.
Setelah memastikan John keluar dari pintu belakang, aku bergegas menghapus semua riasan di wajahku kemudian berganti pakaian. Aku membukakan pintu untuk Stevie setelah kupastikan tidak ada lagi riasan yang tersisa di wajahku,
"aku kemari untuk mengambil sisa barangku" ucapnya saat pintu rumah sudah terbuka.
“………���” Mata Stevie mulai melebar saat memandangi satu bagian dari tubuhku,
"kamu memakai anting?" Tanyanya sambil memegang telingaku.
"Ya, aku sedang memainkan peran baru" jawabku singkat, Stevie hanya menganggukkan kepala lalu masuk ke dalam rumah.
"Woow, kamu sedang menunggu seseorang?" Tanyanya saat melihat meja yang sudah kusiapkan untuk makan malam bersama John.
"Tidak, maukah kamu tinggal sebentar untuk makan malam denganku?" Tanyaku, Stevie hanya mengerutkan keningnya lalu meng-iya-kan ajakkanku.
"Kamu yang membuat semua makanan ini?" Tanyanya, sedangkan aku hanya terkekeh. Malam itu setelah sekian lama kami makan malam bersama,
"rumahmu terlihat sangat rapi dan pie ini sungguh enak" puji Stevie.
"Tidak serapi jika ada kamu di rumah ini" jawabku.
"Aku sudah berubah Stevie, apa kamu sudah bertemu pria lain?" Tanyaku, seketika wajahnya mulai berubah
"jangan bicarakan soal ini Paul, apa yang sudah berlalu biar berlalu" jawabnya.
“………���” Tak lama Stevie pun pamit pulang
"terima kasih untuk makan malamnya, aku sudah membawa semua barang yang kubutuhkan" ucapnya.
Malam itu berakhir dengan cukup baik meski jauh dari rencanaku dan aku harus kembali merapihkan semua barang yang sudah kupakai.
“………���”
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Keesokan harinya John menghubungiku untuk datang ke tempatnya. Ia memintaku untuk merapihkan dapur yang cukup berantakan sambil ditemani olehnya yang sedang menikmati secangkir kopi.
"Aku ingin membelikan Stevie hadiah" ucap John membuka percakapan, "ohh romantis sekali!" sahutku,
"maukah kamu ikut aku ke mal? Kamu wanita juga dan aku percaya dengan seleramu" tipal John, "aku juga suka hadiah" jawabku merajuk.
Sesaat ia menyesap kopinya
"kamu sudah melewatkan kesempatan itu saat kamu mengusirku dari rumah tapi baiklah aku akan memberikan kamu kesempatan satu kali lagi" sahutnya.
“………���”
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Hari itu aku harus menemani John pergi ke mal untuk membelikan Stevie sebuah hadiah. John masuk ke dalam toko perhiasan dan menunjuk sebuah kalung dengan berlian besar di tengahnya
"bukankah itu terlalu mahal untuk hubungan yang baru saja terjalin? Stevie akan menganggap kalau kamu ingin membelinya" ucapku. Lalu aku melihat sekeliling dan menemukan toko baju yang sering dikunjungi oleh Stevie, "aku menyarankanmu untuk membeli baju itu" saranku sambil menunjuk ke arah sebuah toko.
“………���” John dan aku keluar dari toko perhiasan lalu masuk ke dalam toko baju itu.
"Kamu coba, sepertinya kalian memiliki ukuran yang sama" ucap John.
“………���” Aku mengikuti keinginan John tetapi lupa kalau aku sedang memakai silikon. Silikon itu jatuh ke lantai dan membuatku nyaris berteriak dengan suara berat.
"Miranda apa kamu baik-baik saja? Jangan bercanda! Aku tidak punya banyak waktu" ucap John yang terdengar mulai kesal. Aku keluar dari ruang ganti sambil membawa baju yang belum kucoba
"aku menyerah, sebaiknya kamu jangan beli baju tanpa orangnya" jawabku.
"Apa kamu bercanda? Kita sudah seharian memutari mal ini dan tidak dapat apa-apa? Aku pikir kamu cemburu pada Stevie, Miranda. Aku tidak punya banyak waktu! Kalau nanti malam kamu tidak mendapatkan apa-apa untuk Stevie, kamu akan kupecat!" Bentak John.
Ia meninggalkan aku dengan sebuah kartu kredit. Saat berjalan memutari mal, aku melihat sebuah kursus merangkai bunga di salah satu papan iklan.
Aku ingat betul Stevie membeli banyak alat untuk merangkai bunga tetapi selalu gagal karena ia kesulitan memulainya.
“………���”
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Akhirnya kuputuskan untuk membeli satu tiket untuk Stevie dan memasukkannya ke dalam amplop.
Setelah selesai, aku kembali ke rumah John untuk memberikan amplop itu dan mengembalikan kartu kreditnya. Aku langsung pulang karena tidak mau melihat wajah bahagia Stevie saat mendapatkan hadiah impiannya bukan dari tanganku.
Malam itu aku tidak tidur dengan tenang, terbayang jelas bagaimana wajah bahagia Stevie saat membuka amplop itu.
"Ia pasti akan berjingkrak kegirangan dan memeluk John" pikirku.
“………���”
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Di saat yang bersamaan aku menyerah untuk merebut Stevie kembali.
"Ia sudah menemukan kebahagiaannya" pikirku,
Tiga hari kemudian John menghubungiku dan mengatakan kalau hubungannya dengan Stevie sudah berakhir.
Ucapan John adalah kabar terbaik yang pernah kudengar selama ini dan ia mengajakku untuk berkencan di minggu selanjutnya.
Setelah menutup telepon John, aku menghubungi Cloud untuk bertemu di hari yang sama dengan jadwal kencanku.
“………���”
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Hari yang ditunggu pun tiba, aku datang sudah sebagai Miranda lalu bertemu dengan Cloud sebelum John datang.
"Aku akan berkencan dengannya di meja sebelah sana, jadi tunggu di sini dan lihat" ucapku sambil menujuk ke arah meja yang sudah dipesan oleh John.
“………���” Cloud melihatku dengan tatapan bangga,
"Stevie sudah meninggalkan John dan sekarang ia mengajakmu berkencan! Aku sudah tidak sabar melihat bagaimana ini akan berakhir" sahut Cloud.
“………���” Satu jam kemudian, saat aku sedang duduk di meja yang John pesankan untukku, tiba-tiba Stevie datang menghampiriku
"halo Paul" sapanya.
“………���” Aku yang tercengang hanya bisa menjawab sapaannya dengan gugup,
"siapa Paul? Aku Miranda."
"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya dan terima kasih untuk kelas merangkai bunganya" sahut Stev.
"Maafkan aku, aku melakukan semua ini untukmu. Jika aku mendapatkan peran ini, aku akan belikan apa pun untukmu. Aku sudah berubah Stev, aku tahu bagaimana cara membahagiakanmu" jelasku.
"Kamu tidak pernah mendengarkanku, aku tidak butuh uangmu. Aku mencintai kamu apa adanya, tetaplah bersamaku. Aku butuh perhatian darimu" balas Stevie.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini Stevie? Kamu sudah melewatkan kesempatanmu dan sekarang kamu ingin berada di antara aku dan Miranda?" Tanya John yang sudah berada di dekat meja kami.
"Tentu, maaf jika itu mengganggumu tapi Miranda sekarang milikku" jawab Stevie.
“………���” Aku pun berdiri dan melepas rambut palsuku,
"maaf aku mencintai Stevie bukan kamu" ucapku,
"seorang pria? Apa kamu menipuku selama ini?" Tanya John dengan nada marah.
"Maaf John, dia adalah aktorku dan sedang dalam masa percobaan. Aku sendiri yang menempatkanmu sebagai target untuk ia goda sebagai wanita. Maaf aku tidak memberitahukannya padamu dan mari kita bicarakan tentang ini" ucap Cloud menengahi perdebatan kami.
“………���”
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽“DEMI PERAN”﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
“………���” Hari itu aku dan Stevie memutuskan untuk kembali ke rumah. Dua hari kemudian, Cloud menghubungiku
"jadi, kapan kamu akan siap untuk memerankan peran ini?" Sapanya.
"Bukankah aku gagal dalam tes itu?" Tanyaku.
"kamu gila? Aktingmu sangat natural Paul. Ya meskipun aku harus mengurus beberapa hal sulit di akhir tapi kamu sudah membuktikan kalau kamu layak mendapatkan peran ini" jelas Cloud.
“………���” Aku bersorak kegirangan dan berlari ke arah Stevie
“Aku mendapatkannya…���” Teriakku.
“………���” Hari itu aku menyadari kalau tujuanku menjadi Miranda tidak hanya untuk mendapatkan peran semata tetapi merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.
Tentu saja dengan sepenuh hati, begitu pula dengan berakting. Aku mampu memasukkan Miranda menjadi bagian dari jiwaku.
“………���”
﷽★ TAMAT DAN SELESAI ★﷽
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💖💖💖 ﷽★“THE END”★﷽ 💖💖💖
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖