"Ayo, petak umpet bersamaku"
"H-hah? A-aku bukan orang yang seharusnya kemari. Aku, aku cuma disuruh menemaninya"
"Kalau aku menang, kamu harus ikut denganku. Satu... Dua..."
Tak ada pilihan lain, permainan dimulai. Rion berlari mencari tempat bersembunyi disalah satu ruang. Rion merasa dijebak untuk menggantikan Kuro memainkan permainan petak umpet bersama seorang gadis ditengah malam.
Peraturan yang Rion tahu hanya perlu bersembunyi sampai pukul 3 dini hari, jangan sampai tertangkap, dan jangan sampai saling bertatapan mata.
"Se..pu..luh, aku akan menemukanmu" kata gadis itu memulai langkah untuk mencari Rion.
Rion berjongkok dalam kegelapan sambil menutup mulut dan hidung untuk menyembunyikan deru nafasnya karena berlari.
"Tek tek tek, langkah larimu kemari..." Gadis itu memegang gagang pintu. Seketika Rion semakin mendekap mulutnya sambil memejamkan mata.
"Ketemu! Ai... Ko..song. Aku akan menemukanmu..." Gadis itu kembali melangkahkan kaki tanpa memasuki ruang yang ia buka karena tak ada satupun barang disana yang bisa digunakan untuk bersembunyi, benar-benar kosong.
"Aku harus berganti tempat" gumam Rion yang ternyata bersembunyi dibalik pintu yang telah dibuka.
Rion berjalan perlahan berlawanan arah dengan gadis itu. Saat dirinya benar-benar telah berjalan agak jauh, tiba-tiba tangannya ditarik menuju sebuah kamar.
'Siapa?!' pikir Rion takut dan spontan menutup matanya.
"Rion, Rion" bisik seseorang yang menariknya.
"Kuro?! Bagaimana kau..."
"Sstt... Dia ada dibelakang ruang kamar"
'Bagaimana bisa?! Tadi aku berjalan berlawanan arah dengannya!' pikir Rion terkejut
"Cepat masuk lemari" bisik Kuro menyadari gadis itu memandang kamar tempatnya bersembunyi.
Benar saja, gadis itu tiba-tiba sudah mengetuk pintu kamar dan gagang pintu pun bergerak. Pintu terbuka perlahan.
"Dibawah kasur..? Dibawah meja..? Ahh... Didalam le..ma..ri" ucap gadis itu.
"Kita akan ketahuan" bisik Rion panik.
"Sstt... Percaya padaku, kita akan aman" balas Kuro memegang tangan Rion.
Brak! Pintu lemari terbuka keras, Rion membelalakkan mata dan melihat gadis itu berdiri didepan lemari dengan senyum lebar. Ingin rasanya Rion berteriak, tapi sesegera mungkin Kuro mendekap dan menutup mata Rion untuk menahan rasa takut.
"Kosong... Kamar.. selanjutnya" Gadis itu menutup kembali pintu lemari. Kuro menghela nafas sembari melepas dekapannya, sedangkan Rion masih duduk memeluk kaki dengan mata yang berkaca-kaca.
Kuro menuruni rak lemari teratas tempatnya bersembunyi kemudian membantu Rion untuk menuruninya pula.
"Aku kira kita akan tertangkap, hiks" Rion sedikit mengusap mata.
"Dia tidak bisa mendongakkan kepalanya, itu sebabnya aku mengajakmu bersembunyi di rak teratas dalam lemari. Fiuhh... Untung aja muat"
"Yang benar untung kamu tau dia tidak bisa mendongak dan kita berhasil sembunyi! Bagaimana sekarang?!" Sangkal Rion dengan cemas.
"Sudah pukul 2 dini hari, dia bisa muncul dimana saja dan kemungkinan akan kembali kemari karena dia tadi tersenyum. Kita harus mencari ruang lain untuk bersembunyi"
"Pukul 2? Mustahil!"
"Hah? Kenapa?" Kuro sedikit memiringkan kepalanya.
"Aku baru bersembunyi selama satu jam sejak pertama dia memulai hitungan"
"Apa, satu jam kau bilang?! Aku sudah bersembunyi lebih dari itu, bahkan saat dia mulai berhitung aku pikir kau tidak akan datang, jadi aku berfikir telah memainkan permainan ini sendiri" kata Kuro membuat dahi Rion mengerut karena pemikiran mereka ternyata sama.
"Tapi setelah aku melihatmu, aku berfikir lagi kalau kau sudah bersembunyi duluan tanpa menunggu dia berhitung. Dan ternyata kau malah baru memulai permainan sedangkan dia kembali berhitung?! Jadi sekarang pukul berapa?! Jelas-jelas aku datang tepat tengah malam" kata Kuro melanjutkan.
"Tunggu... Kamu datang tepat tengah malam? Aku juga datang tepat tengah malam!"
Rion dan Kuro diam sejenak, sama-sama memegang dagu memikirkan keanehan yang mereka alami.
"Ahaha, konyol sekali" kekeh Kuro.
"Kita dijebak bahkan sebelum permainan dimulai? Aku setuju dengan kata konyol" Rion ikut terkekeh bersama Kuro meski kebenarannya mereka sangat pasrah.
"Ke..temu... Kalian ketemu" kata gadis itu tersenyum lebar membuat Rion dan Kuro tersentak.