Satu hari di sebuah gedung sekolah, Samantha yang merupakan siswa dari sekolah tersebut bertemu dengan seseorang di atas atap sekolah. Orang yang ada di depan Samantha adalah pelaku dari banyaknya jumlah kasus yang terjadi di sekolahnya. Gadis remaja itu berdiri dengan berani kala berhadapan dengan orang berjiwa dingin tersebut.
Dibawah langit mendung, Samantha berdiri sambil berbicara sejenak pada orang yang ada di depannya.
"Jadi kamu pelaku dibalik kasus yang ada di sekolah ini ya."
"Iya. Akhirnya aksiku ketahuan juga pada akhirnya." kata lawan bicara Samantha.
"Aku tidak tahu apa tujuan sebenarnya dibalik itu semua. Namun, kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi." Samantha mengepal tangan seiring pandangan tajam tertuju pada si pelaku.
"Kau takkan bisa menghentikanku wahai anak kecil." kata si pelaku dengan ledekan.
Samantha mendengar perkataan yang bernuansa meledek itu. Lalu ia pun merespon dengan sedikit tawa kecil diujung.
"Anak kecil ya? Baiklah. Aku harap tidak ada penyesalan nantinya." ujar sang pelaku.
Samantha mulai melangkahkan kakinya ke depan. Begitu pula demikian dengan si pelaku. Mereka berdua mulai mendekat. Jarak sudah semakin kecil hingga keduanya sudah saling mendekatkan wajah.
"Jangan coba hentikan aku, agar kau tidak menyesal. Ini peringatan terakhir."
"Aku tidak akan membatalkan niatku untuk mencegahmu. Jadi aku akan menghentikan pergerakanmu itu." balas Samantha dengan yakin.
Kemudian si pelaku pun mulai menghunuskan pisau dari balik jubahnya. Dan serangan itu dapat di hindari oleh Samantha. Gerakan cepat ditunjukkan oleh gadis remaja itu. Si pelaku sedikit memuji gerak reflek dari Samantha. Lalu tak berapa lama berselang pertarungan pun dilanjutkan.
Beberapa serangan di lancarkan oleh kedua belah pihak. Dan aksi berbalas serang itu berlangsung lama. Hingga suatu masa terjadilah titik akhir dari pertarungan antar keduanya.
Posisi Samantha kini sudah unggul dari sang lawan. Hal itu membuat pelaku terpojok dan tidak bisa melawan lagi.
Bersandar di area pembatas, Samantha menekan posisi dari si pelaku yang sudah membuat gaduh di sekolahnya tersebut.
"Kini siapa yang unggul, hah? Bisa-bisanya kau membuat gaduh di sekolahku selama beberapa waktu. Bahkan aku kehilangan salah seorang teman sekelasku karena aksimu itu." kata Samantha sambil mengunci posisi si pelaku.
"Kau pikir bisa menghabisiku?" tanya pelaku secara menantang.
"Tentu saja. Tapi aku tidak mau melakukannya secara langsung seperti yang kamu lakukan pada murid-murid di sekolah ini." Samantha menyeringai.
Samantha menarik badan dari si pelaku, lalu mendorongnya hingga membuatnya tersungkur. Tudung dari jubah itu terbuka, dan terlihatlah sosok asli dari si lelaku tersebut.
"Jadi ini wajah asli si pembuat onar itu? cukup cantik." menarik dagu pelaku.
"Jangan main-main denganku!"
Si pelaku mulai bergerak, lalu melancarkan serangan terhadap Samantha. Akan tetapi gadis remaja itu berhasil menahan satu serangan tersebut.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu. Sekarang kita mulai saja pertunjukannya."
Samantha mengembalikan keadaan dan mulai mewujudkan niatnya secara langsung.
"Aaarrrkkhh!"
Teriakan terdengar kencang dari atap sekolah. Lokasi dimana Samantha sedang berurusan dengan si pembuat masalah di sekolahnya.
"Bagaimana? Kamu suka kan? Aku akan menambahkannya lagi." tanya Samantha pada si pelaku.
"Tidak! Jangan lagi." meringis tak tahan dengan apa yang telah di dapatkannya.
"Aku belum selesai. Sabar ya." Samantha sibuk melakukan sesuatu.
Hari mulai gerimis, dan tetesan air sedikit demi sedikit membasahi permukaan.
"Bagaimana? Kamu sudah merasakannya kan?"
tanya Samantha dengan senyum setengah.
Sang pelaku hanya diam dan menundukkan kepala.
"Rasa sakit itu belum seberapa berbanding jumlah korban hasil dari tindakanmu itu. Saat ini aku hanya ingin kamu merasakan hal yang sama seperti tindakanmu sebelumnya."
Perempuan yang merupakan pelaku itu mulai mengangkat pandangannya.
"Dasar gadis sialan!" kesal si pelaku..
"Sekarang tinggal satu hal lagi yang harus aku lakukan. Apakah kamu butuh salam terakhir? Oh sepertinya tidak."
Samantha dengan sigap langsung menarik perempuan itu dan membuatnya menatap ke arah bawah.
"Itu tempat yang akan menjadi terakhirmu. Sampai jumpa."
"Ja..Ja...Jangan!"
Hujan turun dengan deras serta petir turut menyambar. Sebuah peristiwa berdarah baru saja terjadi di dalam lingkungan sekolah dan mengakhiri serangkaian kasus yang ada di tempat tersebut.
-----SELESAI-----