Aku berjalan menuju ruang kerjaku, sebentar lagi ada meeting dengan client dari German.
Setiap langkahku diiringi sapa dari para pegawai, aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Pak Bima, ada yang mau melamar kerja," kata Sisil, sekretarisku.
Aku melirik jam di tanganku, masih sekitar 2 jam lagi. "Suruh dia masuk ke ruangan saya!" perintahku pada Sisil.
"Siap pak," jawabnya.
Aku menunggu di ruanganku, 15 menit kemudian seorang pria memasuki ruangan. Aku sedikit kaget, ku lihat dia pun sama.
"Bi,, Bima?" katanya, terbata.
"Silahkan duduk," ucapku. Dia menurut.
"Jadi, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku, kemudian.
"Ini, aku,, ehh, maksudnya saya mau melamar kerja," jawabnya seraya menyerahkan sebuah amplop. Mungkin isinya surat lamaran.
"Saya rasa, saya sudah cukup tau tentang Anda," kataku tanpa membuka amplop darinya. Dia menunduk.
"Di perusahaan ini memang sedang ada lowongan kerja, tapi sebagai Office Boy."
Dia sedikit terkejut, "Bima,,"
"Mau terima?" potongku.
"Apa tidak ada lowongan lain?" tanyanya.
"Kenapa? Bukannya Anda sedang mencari pekerjaan?" tanyaku.
Dia menghembuskan nafas kasar.
"Baiklah, saya terima."
Aku tersenyum, kemudian mengulurkan tangan padanya.
"Selamat bergabung, pak Sakti Kurnia."
Dia membalas uluran tanganku, kemudian segera beranjak dari ruanganku.
Aku duduk di kursi kebesaranku, seketika memori 8 tahun lalu terngiang di fikiranku.
Waktu itu, aku berangkat ke sekolah menaiki sepeda tuaku. Jarak rumah dan sekolah cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai. Aku harus berangkat pagi sekali agar tak kesiangan.
"Eh, ada si cupu," seseorang menghentikan langkahku.
Sakti, itulah namanya. Anak kelas IX yang sering mengejekku setiap pagi.
"Eh cupu! Lu gak pernah mandi ya? Dekil banget, haha,," ledeknya disertai tawa teman-temannya.
Aku hanya menunduk, waktu itu aku masih kelas VIII. Tidak berani melawan Sakti, karena dia kakak kelasku.
"Heh! Kalo orang nanya tuh di jawab!" bentak Doni, salahsatu temannya.
"Ma,, maaf kak. Aku mau ke kelas," kataku terbata.
"Emang lu murid disini? Gue kira lu pemulung botol bekas, haha,," ejek Sakti, lagi.
Aku tetap diam, tak melawan.
Tiba-tiba, Doni mengambil paksa tas dari punggungku. Aku berusaha mengambilnya, tapi Doni dan Sakti terus saja melemparnya kesana kemari.
"Kembaliin kak," pintaku.
Ingin aku menangis, tapi malu. Semua murid kini menonton kami. Sebagian besar mereka menertawakanku.
Sakti menginjak-injak tasku, kemudian melemparkannya ke tempat sampah.
"Nah, tempatnya emang cocok disana," ucap Sakti sembari tertawa.
Dari banyaknya siswa, tidak ada yang membantuku. Aku sadar, aku memang anak orang tak punya. Aku pun tak punya teman di sekolah ini.
Aku segera mengambil tasku kemudian membawanya ke toilet untuk membersihkannya. Disanalah aku bisa menangis sepuasnya.
Setiap hari selalu saja seperti itu. Ingin rasanya aku berhenti sekolah, tapi Bapa melarangku. Dia bilang, aku harus sekolah. Aku harus bisa jadi orang sukses. Sebab itu aku bertahan, aku bertekad akan membuat Bapa bangga. Meski dulu kedengarannya sedikit mustahil.
Setelah selesai membersihkan tasku, aku segera keluar dari toilet saat tiba-tiba sebuah ember berisi air bekas pel mengguyur seluruh tubuhku. Aku bisa menebak, ini pasti ulah Sakti dan teman-temannya.
"Rasain lu,, emang enak!" kata Sakti, "makannya kalo mau sekolah tuh mandi! Hahaha"
Aku mengepalkan lenganku, bukan ingin melawan. Tapi berusaha menahan emosi. Jika aku bertengkar dan guru mengetahuinya, pasti aku akan diadukan pada Bapak. Maka sebisa mungkin aku menahan emosiku dan membiarkan mereka menertawaiku.
Hari-hari berikutnya aku lalui seperti biasanya, dengan ejekan dari Sakti dan teman-temannya. Terkadang, dia juga mengatai Bapakku yang hanya tukang dagang cilok keliling. Aku emosi, tapi akau tak bisa apa-apa. Sejak saat itu aku lebih rajin belajar, tak peduli seberapa banyak omongan pedas anak-anak lain yang mengatakan tidak mungkin aku sukses dan menjadi orang kaya. Aku tetap berusaha.
Saat menginjak kelas IX, aku sudah jarang mendapat bully-an. Sakti sudah lulus, entah kemana dia melanjutkan sekolahnya. Aku harap aku tak bertemu lagi dengannya.
Ejekan dari anak-anak lain masih sering aku dengar, tapi aku sudah tak memperdulikannya. Aku fokus pada tujuanku, aku ingin membuat Bapak bangga.
Saat aku menginjak kelas XII SMA, Bapak jatuh sakit. Dia tidak bisa lagi membiayaiku sekolah. Aku bingung, mau berhenti sudah terlanjur. Sebentar lagi ujian.
Maka aku pun menggantikan posisi Bapak berjualan cilok keliling.
Sepulang sekolah, aku menyuapi Bapak makan dan minum obat. Kemudian setelah itu, baru berjualan keliling.
Saat itu, 1 hari sebelum kelulusanku Bapak masuk rumah sakit. Dokter bilang Bapak harus di operasi, biayanya cukup besar. Tabunganku pun tak cukup.
Aku akhirnya mencoba mencari pinjaman kesana kemari, tapi tak ada yang mau membantu.
Aku sudah mencoba meminta bantuan teman-temanku, tapi tak ada yang mau membantu.
Tak sengaja aku bertemu Sakti di jalan. Aku ingat, dia anak seorang pengusaha kaya. Mungkin aku bisa minta bantuan padanya.
Awalnya dia bersikap ramah, aku fikir dia sudah berubah. Ternyata sama saja, dia mengataiku, mengejekku, dan mendo'akan Bapakku cepat tiada. Sakit luar biasa.
"Aku salah apa sama kamu? Kenapa kamu begitu membenciku?" tanyaku tak habis fikir. Dia tak menjawab dan langsung meninggalkanku.
Aku menangis, bingung harus bagaimana.
Akhirnya aku putuskan untuk mencoba meminta keringanan pada pihak rumah sakit.
Namun sayang, saat aku tiba di ruamh sakit dokter memberitahuku kalau Bapak sudah tiada.
Aku terlambat,,,
Bapak telah pergi.
Aku menangis sejadi-jadinya. Bapak yang selama ini berjuang untukku telah pergi meninggalkanku. Aku sendirian.. Ibu dan Bapak sudah tenang di alam sana.
Di hari kelulusanku, Bapak sudah tidak ada.
Aku akhirnya membiayai kuliahku dengan berjualan cilok di kampus. Aku tidak malu. Ini satu-satunya peninggalan Bapak. Dari berjualan cilok ini bapak bisa membiayaiku. Jadi, untuk apa aku malu.
Aku tidak peduli orang-orang menjauhiku, aku bertekad akan membuat Bapak bangga sejak dulu. Dan untuk mencapainya, aku membutuhkan sebuah keberanian.
Lulus kuliah, aku melamar kerja ke sebuah perusahaan. Awalnya aku ditempatkan sebagai staf biasa. Beberapa bulan kemudian aku diangkat menjadi Manager.
Setelah melalui banyak proses, akhirnya aku bisa mendirikan perusahanku sendiri. Aku rintis dari 0, sampai sekarang. Itu semua karena Bapak, karena bully dari Sakti dan teman-temannya juga. Harusnya aku bisa berterima kasih pada mereka, tapi mengingat mereka aku jadi sakit hati. Rasanya tak terima Bapakku di ejek dan dihina. Mereka tidak pernah tau seberapa banyak keringat yang membasahi tubuhnya sekedar untuk memberiku makan agar aku bisa bertahan hidup.
Tak terasa, air mataku jatuh mengingat itu semua. Seketika aku merindukan sosok Bapak dalam hidupku. Aku merindukannya.
'Tok,, tok,,, tok,,' seseorang mengetuk pintu ruanganku.
Aku segera menghapus air mata yang keluar dari pelupuk mataku, kemudian mempersilahkan orang diluar sana untuk masuk.
Ternyata Sisil.
"Maaf pak, meeting akan segera dimulai."
"Baik, saya segera kesana."
Sisil mengangguk, kemudian meninggalkan kembali ruanganku
'Bapak, aku harap bapak bangga melihat aku yang sekarang'
Tamat....