Si Belang. Begitulah kami menyebutnya. Tentu saja ia memiliki belang di sekujur tubuhnya. Mungkin itu tanda lahir yang sudah ditatokan kepadanya sejak azali.
Belangnya jadi tanda, bahwa kami tak bisa sembarangan kepadanya. Toh, dalam alam budaya kami, yang badannya bergambar itu menyeramkan. Harus dijauhi, kalau bisa dihormati keberadaannya. Biar tidak saling menganggu. Agar hidup kami harmonis, dan si Belang tersenyum manis.
Maka dari itu, moyang kami selalu turun temurun mematuhi kesepakatan tak tertulis itu. Kami tahu diri, mana yang boleh kami masuki dan tidak. Batas tanaman seperti apa yang bisa kami pakai dan dipakai oleh si Belang dan kawan-kawan.
Tapi tahukah kau, kehidupan kami yang damai-damai saja ini, tiba-tiba terusik oleh orang-orang yang aneh.
Mereka tiba dari jauh dan selalu membanggakan dari mana ia berasal. Mereka jijik melihat kami dan memandang rendah seluruh keluarga kami.
Mereka bilang kami belum beradab!
Dengan rayuan khasnya, "Ayo kalian pindahlah ke tempat yang kami sediakan. Untuk apa kalian memutari tempat ini. Ku sediakan baju yang menghangatkan tubuh dan melindungi kalian dari nyamuk hutan."
"Cuih!" Ludahku dari belakang kerumunan. Yang tentunya mereka tak tahu.
"Kalau kalian pindah dari sini. Kalian bisa dapatkan makanan dengan mudah. Tak perlu lah kalian berburu. Kami akan bekali kalian dengan uang," kata pria bersongkok itu.
"Maaf, bapak-ibu. Alam telah memberkati kami dengan makanan yang berlimpah ruah, karena kami telah bersama-sama merawatnya," ujar tetua kami.
"Ah, itu kan cuma prasangka bapak-ibu. Apakah kalian tidak takut, dimangsa oleh si Belang?" Ucap wanita bertudung sambil menunjukkan rasa kengerian.
"Ish, tahu apa mereka soal kawan kami si Belang!" Teriakku pada mereka.
"Ya! Betul! Si Belang saudara leluhur kami!" Teriak saudara-saudaraku lainnya.
"Baiklah, bila mau kalian seperti itu. Semoga lain kali kita berjumpa lagi." Tutup pria bersongkok sambil tersenyum licik.
Kami melanjutkan apa yang kami lakukan sebagaimana biasa. Kami tidak melulu mengelilingi hutan ini sebagaimana sangkaan orang-orang itu. Kami juga menetap dan bila masa berkabung dimulai, kami berjalan lagi sejauh mungkin, hingga kesedihan itu hilang.
Ketika kami menetap dan bersenda gurau dengan saudara-saudara kami. Rupanya ada orang berbadan besar mendatangi kami. Mereka membawa paksa tetua kami. Tentu saja kami tak membiarkan itu terjadi.
Tiba-tiba, pepohonan dan semak-semak di sekitar kami berisik. Seolah-olah alam melarang tetua kami dibawa pergi dari rumah kami.
"Groaaarrr!"
"Ghhrr… Rrrr!"
"Groaaarrr!"
"Ghhrr… Rrr!"
Ribut-ribut yang kami lakukan, serempak berhenti.
Kami menimbang-nimbang apa itu yang berdatangan.
"Groaaarrr!"
"Ghhrr… Rrrr!"
"Groaaarrr!"
"Ghhrr… Rrr!"
Semakin dekat suara itu, semakin kami mengenali.
"Groaaarrr!"
"Ghhrr… Rrrr!"
"Groaaarrr!"
"Ghhrr… Rrr!"
Ya, ya! Suara itu! Itu suara si Belang dan kawannya si Madu.
Mereka pelan-pelan mendekat ke arah kami.
Tiba-tiba entah dari mana. Terdengar letusan yang membuat si Madu menjerit kaget.
"Ghhrr… Rrrr! Ghhrr… Rrrr!"
Si Madu sembari berjalan pincang, ia tetap mengamuk. Ia segera mengenali siapa yang melukainya.
Namun sayangnya, muncul dua letusan lagi yang mengarah kepada si Madu.
Semakin marahlah ia dan hendak menghabisi 3 orang itu.
Terjadilah baku hantam di antara mereka. Antara senapan dan kekuatan si Madu.
Sementara si Belang terus mendekati orang-orang yang menarik tetua kami.
"Groaaarrr! Groaaarrr!"
Taring si Belang dipamerkannya. Orang itu hendak diterkamnya.
Sementara si Madu berhasil menghabisi mereka dan mengejar mereka yang bernyali ciut, lari terkencing-kencing.
Tentu, mereka berlari sambil menghujamkan peluru kepada si Madu.
Sementara si Belang, mencabik habis dua orang yang menyeret tetua kami.
Tambahlah korban yang berjatuhan itu.
Kami berterima kasih kepada si Belang, melalui simbol yang dilakukan tetua kami dengan mengusap-usap kepala si Belang.
Si Belang lalu kembali masuk ke hutan, dan percaya begitu saja bahwa kawannya si Madu akan kembali bersamanya ke habitat mereka di dalam hutan keramat.
Sayangnya, ketika mentari sudah menampakkan diri. Saudara-saudara kami yang mencari buah-buahan, tergopoh-gopoh memanggil saudara kami yang lainnya. Mereka mengatakan menemukan si Madu sudah tak bernyawa lagi.
Ya, si Madu yang semalam mengejar orang-orang aneh nan congkak itu, menghujankan peluru di sekujur tubuh si Madu.
Kami melakukan upacara sederhana untuk kepergiannya di tempat ia meregang nyawa, di dekat perbatasan permukiman itu.
Sayangnya, bersamaan dengan upacara itu. Sekelompok orang yang bersenjata menyergap kami.
Mereka melakukan hal yang sama seperti semalam. Mereka menyeret tetua kami. Tetua kami dituduh menghabisi kawan-kawan mereka.
Bukan hanya orang-orang bersenjata itu, sekelompok orang yang membawa kamera juga turut serta. Ku lihat ada cahaya yang menyala dari kamera itu.
"Sial!" Ini semua sudah direncanakan.
Mereka lalu merangsek ke kawasan permukiman kami semalam. Mereka hendak menemui kawan-kawan mereka yang terkapar tanpa nyawa.
Sebagian saudara kami mengikuti tetua yang dibawa orang-orang bersenjata itu.
Sebagian lagi digiring untuk menunjukkan lokasi di mana dua orang yang menyeret tetua kami semalam, yang mati dicabik-cabik si Belang.
Kami melihat di balik semak-semak itu, ada sepasang mata yang mengawasi kami.
Ya, itu si Belang yang menyelamatkan tetua kami semalam.
Sungguh, aku tak dapat membayangkan betapa hancurnya perasaan si Belang sekaligus betapa geramnya ia.
Kamera-kamera itu tetap menyorot sambil melaporkan apa yang terjadi. Mewawancarai orang-orang itu dan menyorot kami yang diam karena memang tidak tahu harus berkata seperti apa. Sebab kami didampingi orang-orang bersenjata pula di sekeliling kami.
"Kawasan ini sudah tidak aman untuk ditinggali keluarga besar ini. Mereka harus pindah dari sini. Semalam, orang luar yang bertamu saja dihabisi binatang buas itu. Berikutnya, saudara-saudara kita yang di belakang ini akan jadi korbannya," ah lagi-lagi pria bersongkok itu.
"DAS…!" Pinggangku ditowel dengan laras senjata agar aku tidak merangsek menuju pria bersongkok itu.
Lalu, mereka yang membawa kamera itu bertanya, "Apakah berarti orang-orang ini harus direlokasi ke tempat yang lebih aman dari ancaman binatang buas ini?"
"Ya tentu. Sebab mereka saudara kita," ujarnya.
"Kapan rencana itu dilakukan?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Hari ini. Selepas saya menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian, teman-teman media. Kalian juga bisa turut serta untuk menyiarkan apa yang akan kita lakukan untuk melindungi saudara-saudara kita ini." Perintahnya secara tersirat yang langsung dituruti pria-pria bersenjata di sekeliling kami menuju ke pondok kami untuk membawa barang-barang yang kami anggap berharga.
"Selanjutnya langkah apa yang akan bapak gunakan untuk meredam rasa kekhawatiran kita akan amukan binatang buas itu?" Kejar mereka.
"Kita di sini sudah membawa tim yang akan menangani satwa yang berbahaya tersebut. Tentu, ia akan kita bina, lindungi di tempat yang telah kita sediakan. Langsung saat ini saja, silakan tim untuk melakukan penelusuran tersebut." Perintahnya yang segera dijalankan.
Kami membawa apa yang kami anggap berharga dan diantarkan dengan mobil besar yang membawa kami ke sebuah bangunan tinggi dan bersekat-sekat. Di dalamnya bahkan ada televisi. Dan sementara kawasan itu dijaga ketat. Di setiap petak, untuk satu orang, ada satu yang berjaga.
Kami diperkenankan untuk menonton televisi, makan, atau tiduran selama berhari-hari.
Hingga suatu hari ku temukan tontonan, bahwa si Belang ditemukan dan ia sudah lemas karena disuntik oleh tim pemburu itu. Ia dibawa ke tempat yang akan menyelematkannya, begitulah kata siaran itu.
Kejelasan tetua kami juga tak kunjung didapatkan, tak jarang kami melihat tetua ada di televisi. Ia didukung oleh orang-orang yang terlihat lebih tulus saat mengatakan mereka melindungi kami. Kami hanya berharap dari jauh, semoga tetua dan rumah kami baik-baik saja.
Sementara itu, siaran lain kerap menyiarkan. Bahwa rumah kami akan jadi hutan baru. Hutan yang lebih bermanfaat bagi banyak orang, karena dibutuhkan oleh setiap penggorengan.
Si Belang juga kadang-kadang ditampilkan. Tapi ia menjadi lebih jinak, matanya sudah tak ceria lagi. Ia kehilangan harapan. Ia benar-benar hanya meninggalkan belangnya dalam raga yang penuh kemalangan.
[Pernah dijadikan kontribusi untuk tugas kuliah majalah kelompok yang tidak disebarkan kepada publik]