Wina: “Jas, kau sadar, nggak? Tadi sewaktu kau bilang si Shinta nggak bisa dipercaya, ada si Ranti di situ, loh?”
Jasmin: “Terus? Memang kenapa kalau ada dia?”
Wina: “Dia, kan, sepupunya Shinta!”
Jasmin: “Terus? Maksudmu dia akan beritahu Shinta pernyataanku itu?”
Wina: “Siapa tahu?”
Jasmin: “Hm..., tapi, apa yang harus kukhawatirkan? Aku, kan, menyatakan yang sebenarnya.”
(Ting ting tong tong ting tong tong - nada handphone milik Jasmin berdering).
Jasmin: “Dari Shinta!”
(Jasmin menerima dan mengeraskan suara handphonenya)
Jasmin: “Assalammualaikum! Halo, Shin?”
Shinta: "Waalaikumsalam! Aku langsung saja, ya, Jas! Apa maksudmu ngomong begitu?"
Jasmin: "Ranti ngomong apa, Shin?"
Shinta: "Nggak usah basa-basi! Kamu sadar nggak, kamu, tuh, sudah mencemarkan nama baik aku!"
Wina: "Aih, mak! Mencemarkan nama baik?" (dengan suara pelan)
Jasmin: "Aku nggak maksud begitu, Shin! Tapi, aku ngomongkan ada faktanya..."
Shinta: "Maksudmu apa faktanya? Apa yang menurutmu aku nggak bisa dipercaya? Kita juga nggak sering bertemu, ya, Jas!"
Jasmin: "Aku sedang menyetir, Shin! Kalau kita bertemu saja, bagaimana? Biar aku terangkan."
Shinta: "Boleh! Siapa takut? Aku tunggu kau segera, ya!"
Tut tut tut. Suara handphone ditutup.
Wina: "Gila, Jas! Sepertinya dia mau melabrak dirimu, tuh! Kau siap?"
Jasmin: "Yah, harus siaplah! Kita kesana sekarang!"
Wina: "Wah, ngeri-ngeri sedap ini!"
(Tak berapa lama mereka sampai di sebuah restoran, dan Shinta sudah menunggu di situ).
Jasmin: "Pesan makanan dulu, Shin?"
Shinta: "Nggak usah! Aku minum saja!"
Jasmin: "Nggak apa-apa! Aku yang traktir!"
Shinta: "Nggak perlu! Langsung saja, apa maksudmu mencemarkan namaku di depan teman-teman?"
Jasmin: "Aku nggak bermaksud mencemarkan namamu, Shin. Aku minta maaf, ya!"
Shinta: "Segampang itu kau minta maaf setelah memburuk-burukkan namaku di depan teman-teman, kau pikir mereka juga akan segera melupakan apa yang kau bilang?"
Jasmin: (Diam)
Shinta: "Makanya kalau mau ngomong dipikir dulu! Jangan asal nyablak saja!"
Wina: "Shin! Jangan teriak-teriak! Orang-orang melihat kita! Lagi pula Jasmin, kan, sudah minta ma'af, sudahlah! Kita selesaikan baik-baik!"
Shinta: "Sudah minta ma'af? Terus bagaimana cara dia menganulir kesan buruk tentang aku yang sudah disebarluaskannya?"
Wina: "Tidak sebar luas, loh, Shin... Kami tadi pagi rapat cuma berempat saja. Kau terlalu melebih-lebihkan..."
Shinta: "Empat orang pun, akan terus berlipat-ganda, dan berlipat-ganda lagi dari mulut ke mulut!"
Jasmin: "InshaAllah aku bisa mengklarifikasi dengan teman-teman rapat tadi, Shin!"
Shinta: "Ok! Aku pastikan berita itu sampai di telingaku!"
Jasmin: "Baiklah! Tapi, sebelumnya boleh, ya, terlebih dahulu aku minta kau melunasi hutang-hutangmu?"
Shinta: "Ha?"
Wina: "Ealah..."
Jasmin: "Rp. 50.000,- untuk hutang sisa cicilan lipstik yang kau ambil 2 tahun lalu, yang terakhir kutagih Lebaran tahun lalu. Rp. 50.000,- lagi untuk sisa cicilan maskara, yang juga kau ambil 2 tahun lalu. Setelah letih menagihnya karena cuma segitu, akhirnya kau abaikan, seolah-olah hutang tersebut telah kulupakan. Yang terakhir Rp. 150.000,- untuk kaos angkatan yang kau ambil dua minggu lalu, dan janji akan dicicil mulai minggu lalu, tapi sampai saat ini belum kau mulai."
Shinta: "Hm?"
Wina: "Waduh!"
Jasmin: "Kalau semuanya sudah kau lunaskan, inshaAllah kau menjadi salah satu orang yang dapat dipercaya untuk menjadi tim pencari sponsor acara kita, Shin! Tapi, kalau masih seperti dulu kau hanya berjanji dan berjanji, tapi tak ditepati, bagaimana aku harus percaya lagi?"
Shinta: (Diam)
Jasmin: "Bagaimana, Shin?"
Shinta: "Aku akan bayar Rp. 50.000,- dulu untuk kaos angkatan."
Jasmin: "Baiklah! Aku terima! Sisanya yang lain bagaimana? Karena biarpun telah lama, hutang tetaplah hutang! Wajib dibayar!"
Shinta: "Sisanya nanti! Soalnya aku buru-buru ini mau pergi lagi, ada keperluan."
Jasmin: "Shin! Kita makan dulu! Nggak apa-apa, aku yang traktir, sudah jam makan siang, nanti kau sakit perut. Setelah makan nanti kau lanjutlah ke acaramu."
Sinta: (Terdiam sesaat). "Hm..., benar? Kau mau traktir aku, Jas?"
Jasmin: "Benar! Kalau aku bilang aku traktir, yah, aku traktir! Tapi, hutang tetap dibayar, yah! Hehehe..."
Shinta: "Baiklah! Kalau begitu, aku yang minta maaf, ya, Jas..."
Jasmin: "Sama-sama. Kita saling minta maaf saja! Yang penting kita tetap berteman dan saling mengingatkan."
Wina: "Alhamdulillaah... Jadi, stay amanah, ya, Shin? Biar tetap happy ending. Hehehe..."
Mereka pun makan dengan suasana baru, karena saling memaafkan...