Dibalik pegunungan luas yang membentang, berdiri sebuah kerajaan yang sudah cukup lama. Kerajaan yang dikenal cukup makmur dan memiliki kawasan pemerintahan yang luas, kini memiliki satu permasalahan yang terdapat di dalamnya. Kerajaan tersebut saat ini sedang membutuhkan sang penerus kekuasaan. Singgasana tengah kosong saat ini, lantaran raja sebelumnya sudah wafat sebelum memberi wasiat siapakah yang akan meneruskan kerajaannya tersebut.
Sang raja memiliki dua orang anak angkat. Satu bernama Sagadata dan satu lagi Magarata. Keduanya dipanggil dengan sebutan Saga dan Maga. Dua anak dari sang raja itu kini harus berebut tahta untuk menjadi raja berikutnya.
Para dewan di kerajaan tersebut, menyarankan bahwa anak pertamalah yang seharusnya menjadi penguasa berikutnya. Akan tetapi Maga yang mendengar saran dari dewan tersebut tidak menyetujuinya. Sebab ia tidak ingin anak sulung selalu di istimewakan sebagai penerus kekuasaan.
Maga berjalan mendekati Saga yang sedang berdiri di tengah ruang rapat bersama para dewan.
"Bagaimana untuk mendapatkan tahta penerus ini, kita melakukan sebuah pertarungan saja?"
Seru Maga berlagak menantang.
Saga hanya diam dan memperhatikan saudaranya itu.
Lalu Saga pun berbicara.
"Kamu sangat menginginkan kekuasaan itu ya."
"Benar. Aku tidak ingin anak sulung selalu di istimewakan. Jadi aku ingin kita berdua membuktikan siapa yang layak menjadi penerus dari posisi sang ayah." Maga mendekatkan wajahnya ke arah Saga.
Saga bertanya kepada para dewan mengenai permintaan dari Maga. Awalnya mereka menolaknya. Akan tetapi pada akhirnya mereka semua menyetujuinya. Setelah Saga coba menenangkan Maga dan berdiskusi sejenak dengan para dewan.
"Baiklah. Kita akan bertarung sesuai permintaanmu." kata Saga pada Maga.
"Ya. Kita akan bertarung lusa nanti."
Maga pun bergegas pergi meninggalkan ruangan.
Para dewan mengkhawatirkan Saga, sebab Maga dikenal sebagai petarung handal di barisan militer. Keraguan itu di jawab tenang oleh Saga.
"Tenang saja. Aku akan melalukan hal yang seharusnya aku lakukan. Sampai jumpa."
Saga pun melangkah pergi sambil melambaikan tangan.
Lusa, sesuai perjanjian antara Saga dan Maga.
Di sebuah arena tarung, Saga dan Maga berhadapan dengan senjata pedang dan perisai yang ada di tangan. Hingga baju dan helm besi telah terpasang di badan serta kepala mereka.
Saga berjalan perlahan seraya mendekat. Begitu pula dengan yang dilakukan oleh Maga. Keduanya kini berhadapan demi satu tujuan. Yaitu menjadi raja.
Saga dan Maga sudah bersiap. Dan pertarungan pun dimulai. Maga bergerak lebih dahulu, disusul Saga setelahnya. Dengan cepat, Maga mengayunkan pedang ke arah saudaranya itu sekuat tenaga. Saga pun tak gentar bergerak maju sembari memegang kuat senjatanya.
Serangan pedang dari Maga berhasil ditahan dengan perisai milik Saga. Maga tak tinggal diam, dirinya mulai bergerak dan kembali menyerang secepat dan sekuat mungkin. Saga memilih bertahan selagi saudaranya itu menyerang secara bertubi-tubi.
Setelah pertempuran yang cukup menegangkan. Akhirnya Maga mulai kelelahan dan menyisakan stamina yang tidak banyak. Sementara Saga juga cukup kawalahan menahan serangan dari Maga tadi. Hingga perisainya sudah mengalami kerusakan.
"Kamu sangat kuat ya." puji Saga.
"Demikian denganmu yang mampu menahan seranganku sedari tadi." balas Maga.
Maga mengambil nafas dan bersiap menyerang lagi. Saga menyiapkan kuda-kudanya untuk melawan Saga.
Dan pertarungan kembali terjadi. Penonton tampak memperhatikan dengan perasaan tegang, antusias, dan lain-lain. Sebab pertarungan ini merupakan penentu dari pemimpin kerajaan berikutnya.
Maga bergerak dengan langkah kaki cepat dan memposisikan pedangnya selaras dengan pandangan matanya. Saga mengambil ancang berani dengan perisai berada di depan.
Hingga salah satu pedang pun mengenai salah seorang di antara mereka.
"Aku mengenainya."
Terlihat darah sudah keluar dan berjejak di tanah.
Pemenang pun sudah didapatkan. Kini dewan pun bersiap-siap untuk melakukan penobatan raja yang baru.
Menghampiri saudaranya yang sedang tersungkur bersimbah darah, Maga memegang tubuh dari Saga yang sudah mulai lemas.
"Saga! Maafkan aku."
"Untuk apa kamu meminta maaf? Bukankah ini permintaanmu?"
"Tapi aku tidak berniat untuk membunuhmu!" tegas Maga sambil meneteskan air mata.
"Benar. Aku tahu itu dari caramu mengarahkan pedang di akhir tadi. Namun, hal ini sengaja aku lakukan " ucap Saga dengan nada rendah.
"Sengaja?" Maga terkejut seraya tak menyangka.
"Saat kamu mulai menggerakkan pedangmu itu, aku sengaja membuat perisai milikku itu berada di bagian depan, yang mana aku memposisikannya tepat ke arah rusakan perisai tersebut. Jadi kamu dapat menembusnya dan mengenai diriku." ungkap Saga.
"Tapi bagaimana bisa tembus ke tubuhmu? padahal..."
"Baju besiku tidak sekuat punyamu. Saat kamu menyerang, aku membiarkan bagian pedangmu mengenai baju besiku hingga rusak di bagian tertentu. Dan kamu bisa lihat bagaimana senjatamu menembus baju besiku ini. Aku sengaja melakukan semua itu agar kamu bisa menang dan pertarungan menjadi lebih menantang."
"Tapi kenapa kamu..."
"Aku melakukan ini karena ayah juga." ujar Saga.
"Ayah? Ada apa dengannya?"
"Aku mewujudkan keinginannya."
Maga penasaran seperti apa keinginan dari sang ayah. Lalu ia menanyakannya. Saga pun memberitahunya, bahwa Maga sudah di tunjuk oleh ayahnya jauh hari sebelum ia wafat. Akan tetapi, dilain sisi sang ayah menginginkan Saga segera mati.
Tentu rasa penasaran ada di dalam diri Maga. Saga lanjut berkata dengan kondisi yang sudah sekarat.
"Aku tahu kamu merasa penasaran dengan maksud ayah yang menginginkan diriku mati kan? Aku kasih tahu saja dengan bisikan."
Setelah mendengar bisikan dari Saga, seketika itu pula saudara sulungnya menghembuskan nafas terakhir dan wafat di pangkuannya.
Maga hanya diam dan tak bergerak sedikitpun.
---
Penobatan raja yang baru sudah dilakukan. Kini Maga resmi menjadi raja yang baru. Dan disambut oleh para rakyatnya. Maga melempar senyum pada mereka semua dan melambaikan tangan seraya menyapa.
---
Dibalik kerajaan megah itu terdapat kisah tersembunyi didalamnya. Yang mana dahulunya, Saga sempat membunuh seorang perempuan yang merupakan anak kandung dari sang raja (ayah angkatnya) secara diam-diam di masa lampau saat Maga masih kecil. Kemudian dia lanjut menghabisi sang ayah kala kejahatannya sudah diketahui beberapa saat setelahnya.
Kisah kelam itu ditutup rapat-rapat oleh Maga dan berharap kerajaannya akan terus berkembang dan hidup dalam damai. Baik di dalam maupun di luar istana.
-----SELESAI-----