Sekumpulan lulusan SMA berkerumun seperti sekumpulan lebah yang sedang menghadap ratunya. Suara berdesing memenuhi baik di dalam maupun di luar ruangan.
Inilah aku. Diriku. Begitu bersemangat mengisi formulir pendaftaran calon buruh pekerja di sebuah perusahaan elektronik di daerah Karawang. Tidak lupa disertai uang pendaftaran berjumlah lima ribu rupiah per pelamar.
Tulisan di surat lamaran isinya hampir sama semua. Copy dan paste. "Saya sangat berharap bisa diterima di perusahaan yang Bapak atau Ibu Pimpin. Dan saya akan bekerja dengan sebaik mungkin."
Gaji yang diminta sama semua "UMR" alias upah minimum regional. Jadilah kami lulusan sekolah yang tidak berkualitas yang mengharap kemurahan hati para pengendali roda perekonomian. Yang penting bisa untuk menopang hidup. Jadi tidak perlu embel-embel bahwa saya memiliki keahlian ini dan itu.
"Nur sudah mendaftar" tanya Lina penuh antusias.
"Sudah dong. Tes tertulisnya hari Minggu besok kan?" Nur menjawab dengan penuh semangat.
"Iya betul sekali."
Tak terasa hari yang dinanti telah tiba. Lembaran soal dibagikan ke seluruh pendaftar yang telah terdaftar. Semuanya berbaju sama, atasan hitam dan bawahan putih, tidak lupa dengan sepatu pantofel murahan yang dipinjam dari tetangga sebelah. Rambut semua dikuncir rapi, disertai dandanan norak yang asal menempel di pipi.
Semua soal dikerjakan dengan khusu', seolah-olah inilah bekal mereka untuk mengetuk pintu surga.
Tes tertulis sudah selesai, dilanjut dengan tes interview alias wawancara. Apa standar yang dipakai dari tes ini? Para peserta angkat bahu.
"Aku lulus tes." Teriak Nurul Astuti menggema. Diikuti dengan teriakan Lina, Lili, dan Putri.
Di beberapa bagian sudut tempat itu dipenuhi rasa syukur karena telah lulus tes tertulis, bagi yang belum diterima harus bersiap kembali mengisi barisan formulir pendaftaran kerja. Tinggal dipilih di dalam negeri atau di luar negeri.
Saatnya menuju tes wawancara.
Pertanyaan bla, bla, bla. Dan aku tidak perlu panjang lebar menjawab ataupun menjadi sok diplomatis. Yang aku harapkan hanya belas kasihan agar diterima bekerja, untuk mendapatkan sesuap nasi. Dan alhasil lulus interview, lulus tes kesehatan , dan saatnya melenggang ke dunia buruh yang sebenarnya. Lepas dari dunia khayal dan fatamorgana.