Di lorong kelas usai jam sekolah berakhir, tampak dipenuhi oleh para siswa yang baru saja keluar dari kelasnya masing-masing. hentakan sepatu dan suara bercakap dari siswa itu memenuhi seluruh lorong tersebut. Ditengah keramaian tersebut, terdapat dua orang siswa sekolah yang merupakan satu kelas yang sama.
Roy dan Vania berjalan bersebelahan sambil memandang ke depan. Jam sepulang sekolah memang dipadati oleh siswa yang buru-buru keluar dari kelas secepat mungkin. Melepas segala penat usai belajar seharian, membuat para siswa ingin segera keluar dan beristirahat dari rutinitas kehidupan.
"Ramainya yang ingin keluar dari gedung sekolah ini." kata Vania.
"Benar. Orang-orang pada ingin cepat pulang sepertinya." balas Roy.
"Berdesakan seperti ini membuatku gerah."
"Kamu tidak buru-buru kan?" tanya Roy pada Vania.
"Tidak."
"Kita tunggu saja mereka keluar semua kalau begitu."
"Hmm baiklah." jawab Vania sekaligus mengikuti Roy berjalan ke belakang.
Mereka berdua memandang para siswa lain yang tengah berdesakan keluar dari pintu utama gedung sekolah.
Vania mengibas kerah bajunya karena merasa gerah.
"Jika disana terus, aku pasti akan berkeringat banyak." Vania menghela nafas sejenak.
"Gerah sekali ya?
"Ya. Terlalu padat hingga membuatku begini." ucap Vania memandang ke teman sekelasnya itu.
"Sepertinya akan lama. Sebab ini terlalu ramai." Roy menggelengkan kepala melihat situasi yang ada di depannya.
"Ya. Kau benar." balas Vania.
Kemudian Vania mulai membuat topik pembicaraan. Cukup random. Tetapi Roy tetap mendengar dan meresponnya.
"Ya begitulah adanya. Random banget ya pembicaraanku." Vania tertawa kecil.
"Tidak apa-apa. Justru karena random, pembicaraan ini jadi bervariasi. Dan tidak cepat habis masanya." tutur Roy sembari menatap perempuan di sebelahnya.
"Benar." balas Vania singkat.
Tak berapa lama kemudian, Roy memulai pertanyaan dengan topik baru.
"Bagaimana dengan hal berbau romantis?"
"Romantis? Maksudmu?" tanya perempuan itu tidak mengerti.
"Seperti pacar, kehidupan percintaan, atau hal berbau romantisme yang kamu suka dan semacamnya."
"Hmm aku belum mengalaminya."
"Belum mengalami apa?" tanya Roy.
"Pacaran. Aku belum sampai di titik itu. Jadi aku tidak bisa berbicara jauh untuk hal tersebut." balas Vania sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Roy melihat tundukkan kepala dari orang yang ada di sebelahnya. Dan ia berpikir bahwa ada sesuatu hal telah terjadi padanya. Lantas lelaki itu pun mulai bertanya perihal tersebut.
"Aku menyukai seseorang sebelumnya. Tetapi pada saat itu pula aku mengetahui bahwa dirinya sudah memiliki seorang kekasih. Padahal dia orang yang baik dan menarik perhatianku." ungkap Vania pada Roy.
"Jadi begitu ya. Padahal kamu sudah jatuh hati padanya kan."
"Benar."
Tampak para siswa sudah keluar dari pintu utama gedung secara keseluruan. Kini tinggal Roy dan Vania berada di lorong tersebut. Karena sudah tidak ramai lagi, Vania memutuskan untuk beranjak pulang.
"Sudah mulai sepi. Sebaiknya aku pulang dulu."
Akan tetapi...
"Tunggu." Roy menahan pergerakan dari teman sekelasnya itu.
"Ada apa?" tanya Vania pada Roy.
Mereka berdua berhadapan dengan jarak beberapa senti saja. Setelah menahannya, Roy pun mulai angkat bicara.
"Aku tahu siapa orang yang cocok untukmu."
"cocok?" Vania bingung.
"Iya. Tapi tidak tahu juga apakah dirinya bakal diterima olehmu atau malah sebaliknya." kata Roy pada Vania.
"Aku tidak tahu orang itu. Dan kamu bisa memberitahuku mengenai siapa dirinya." Vania menaruh rasa penasaran.
"Bagaimana denganku?" tanya Roy dengan percaya diri.
Mendengar kalimat tanya itu, membuat Vania terperangah.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu."
Vania memalingkan wajah dengan wajah sedikit memerah.
"Ini terlalu mendadak. Kenapa kamu bertanya seperti itu padaku."
"Karena orang tersebut ingin sebuah jawaban mengenai dirinya dari orang yang disukai." Roy memandangnya dengan tatapan santai namun dengan niat serius.
"Biarkan aku mencerna terlebih dahulu.' ucap Vania sedikit terbata-bata.
Sepulang sekolah, Roy pergi ke tempat dimana para teman-temannya berkumpul.
"Hey Roy, dari mana saja kamu pulang telat begini?" tanya salah seorang temannya.
"Maaf, tadi mengulur waktu saat pulang sekolah tadi." jawab Roy.
Kemudian Roy mulai berkata mengenai sesuatu.
"Teman-teman. Ada yang mau aku katakan pada kalian."
"Apakah tentang..." kata seorang teman Roy lainnya.
"Aku belum mengatakannya. Tunggu ya."
Lalu seseorang datang dan berdiri di sebelah Roy.
"Perkenalkan ini..."
Belum selesai bicara, omongan Roy dipotong oleh orang yang ada di sebelahnya.
"Aku Vania. Pacarnya Roy."
Mendengar penyataan itu, membuat teman-teman Roy terkejut dan memandang Roy dengan tatapan tajam.
"Sial! Dia malah pamer ke kita semua." ucap sang teman dengan sedikit geram.
Roy hanya tersenyum lebar sambil merangkul pacar barunya yaitu Vania.
-----SELESAI-----