Author: Nocita Maria
Length: 1shoot.
Genre: Romance
Cast:
Kim Taehyung as Nathan
Kim Jennie as Nikita Zainisa Hermawan
Disclaimer: I own this story. Please do not copy.
Don't forget to leave your comment & press the button like, okay. 😊
Happy Reading.
.
.
.
"Ini nggak mungkin terjadi ..!! Mama pasti bohong, kan?? Mas Dimas nggak mungkin udah nikah dan ninggalin aku gitu aja kan, Ma?" Suara seorang wanita yang terdengar begitu shock saat ini.
"Maafin Mama, Sayang. Tapi sayangnya, apa yang Mama beritahukan ke kamu itu benar, Nak. Dimas, dia sudah menikah satu tahun yang lalu, Sayang." Respon mamanya Nikita yang bernama Lusi.
"Hiks ... aku nggak percaya sama Mama. Mas Dimas udah janji bakal nikahin aku, Ma! Kenapa dia malah nikah sama orang lain?!" ujar Nikita yang mulai terisak, sontak membuat ibunya langsung mendekap tubuhnya dengan erat.
"Mama, ini semua pasti bohong, kan? Mas Dimas selalu janji bakal ngabisin masa tuanya bersama aku. Kenapa dia sekarang justru nikah sama orang lain, Ma?" racau Nikita yang masih tak rela.
Tak bisa menjawab, Lusi akhirnya hanya bisa menepuk-nepuk punggung putrinya dengan lembut.
.
.
.
.
"Ternyata aku udah tidur selama itu, ya?! Pantas aja Mas Dimas sampe ninggalin aku!" gumam Nikita yang kini tengah sendirian di dalam kamarnya.
Telah dijelaskan semuanya oleh sang Ibu, Nikita akhirnya baru menyadari, bahwa ia baru saja terbangun dari tidur panjangnya setelah koma hampir dua tahun lamanya.
Satu tahun pertama, Dimas sebenarnya selalu berada di sisi Nikita. Tapi masuk pada tahun kedua, ketika kemungkinan dirinya yang akan bangun sangat kecil, perlahan semua orang mulai kehilangan harapan mereka. Termasuk Dimas, yang mulai didesak untuk menikah karena kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia.
"Ya Tuhan, kenapa ini semua harus terjadi padaku?" monolog Nikita yang merasa sedih.
Terlebih ketika kini ia pandangi kedua kakinya yang sekarang sudah tidak bisa ia gunakan lagi.
Karena menjadi korban tabrak mobil yang ia alami sekitar 2 tahun yang lalu, Nikita mengalami kerusakan saraf motorik yang menyebabkan kedua kakinya kini didiagnosis lumpuh.
"Hiks ... andai aja waktu itu aku nggak terlibat kecelakaan!" isak Nikita kemudian.
Tok Tok.
Suara pintu yang tiba-tiba diketuk dari luar. Dan kini diikuti dengan sosok seorang pria yang muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Ya Tuhan, syukurlah!! Ternyata benar kamu udah siuman," suara si pria yang sontak membuat Nikita mengangkat salah satu alis matanya karena bingung.
"Si-Siapa?" tanya Nikita dengan ekspresi yang sedikit was-was.
Mendekati ranjang Nikita, si pria yang ditanya tak langsung menjawab. Melainkan menilik terlebih dahulu kondisi Nikita di depannya.
"Hai Nikita, kenalin aku Nathan," suara si pria kemudian.
"Aku sangat bersyukur kamu akhirnya sadar. Dan maafkan aku, karena aku ... akulah orang yang menyebabkan kamu mengalami kecelakaan!!" kata Nathan melanjutkan, dengan raut wajah yang terlihat menyesal.
"Ka-Kamu ..!!" ujar Nikita dengan suara terbata.
.
.
.
.
"Nggak, aku nggak mau lihat muka dia. Usir dia dari sini, Ma. Aku benci sama dia!" pekik Nikita yang histeris, dan saat ini sedang dipeluk erat oleh ibunya karena ia yang tiba-tiba mengamuk beberapa saat yang lalu.
Sementara si empu yang menjadi sumber masalah, Nathan pria itu terlihat menundukkan kepalanya dengan raut wajah bersalah yang begitu kentara.
"Nikita, udah Sayang!! Kamu tenang, ya?!" Suara Lusi yang tengah membujuk putrinya.
"Aku nggak bakal bisa tenang kalo dia ada di sini. Please Ma, tolong usir dia!" sahut Nikita yang membalas. Mau tak mau membuat Lusi jadi memberikan kode pada Nathan agar meninggalkan mereka berdua walau wajahnya terlihat tak enak.
Tak protes, Nathan lantas segera keluar ruangan. Walau sempat melirik sekali lagi ke arah Nikita yang masih terisak dalam pelukan ibunya.
"Maafin aku ..!!" lirih Nathan yang nyaris tak terdengar.
Di ruangan dokter Aditya, dokter yang telah merawat Nikita selama ini, terlihat Nathan tengah berada di ruangan tersebut.
"Om, serius tolong bantuin aku! Pasti ada cara buat 'dia' supaya kakinya bisa digerakkan lagi, kan? Pasti ada, kan Om?" Suara Nathan yang saat ini tengah berbicara dengan dokter Aditya, yang tak lain adalah adik dari mamanya.
"Kalo dilihat dari saraf motoriknya yang rusak berat, kemungkinan itu kecil, Nathan," sahut yang di tanya, sontak membuat ponakannya itu langsung mendengus kecewa.
"Tapi ..!!" tiba-tiba dokter Aditya melanjutkan, sontak membuat Nathan kembali berfokus padanya.
"Tapi apa, Om?" tanya Nathan yang tak sabar.
"Jika lewat terapi, mungkin akan ada sedikit harapan ia akan bisa berjalan dengan normal lagi. Tapi ingat, jangan terlalu berharap!" ujar dokter Aditya, membuat senyuman yang sempat terkembang di bibir Nathan seketika lenyap begitu mendengar kalimat terakhir dari om-nya.
Sementara di ruangan Nikita. Kini gadis itu telah tenang kembali dan sekarang sedang tertidur membuat ibunya bisa sedikit bernafas dengan lega.
Tok tok tok.
Suara pintu yang tiba-tiba diketuk dari luar.
Berjalan menuju pintu masuk, Lusi kemudian dapat melihat bahwa Nathan-lah sang pelaku pengetukan dari daun pintu yang sedikit ia buka.
"Maaf Tante, kalo aku ganggu waktunya. Tapi kalo Tante nggak keberatan, aku mau ngomong sebentar, Tan!" pinta Nathan dengan raut wajah terlihat serius.
Tersenyum melihat ekspresi pemuda yang sudah dikenalinya selama hampir dua tahun ini, Lusi perlahan menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Nikita mulai menjalani proses terapinya. Walau di awal sempat menolak, karena peluang kesembuhannya yang kecil. Tapi setelah dibujuk dan diberikan petuah oleh ibunya, Nikita pada akhirnya memutuskan untuk mengalah dan mengikuti keinginan sang Mama.
"Bagaimana, apa terasa sakit?" tanya seorang ahli fisioterapis wanita pada Nikita yang saat ini kakinya sedang dipijat.
Mengerenyitkan dahinya, Nikita dapat merasakan sedikit rasa sakit saat kakinya ditekuk oleh si ahli fisioterapis.
"Sedikit!" sahut Nikita memberitahu, sontak membuat si ahli fisioterapis langsung tersenyum.
"Baguslah. Itu artinya anda masih ada peluang untuk sembuh!" ujar si ahli fisioterapis dengan riang.
"Be-Benarkah?" tanya Nikita yang matanya lamgsung berbinar penuh harap.
"Kita akan lihat ke depannya. Oleh karena itu anda harus semangat, oke?" balas si ahli fisioterapis.
Tersenyum senang, Nikita lantas menganggukkan kepalanya. Dalam hati, kini ia mulai berdoa semoga Tuhan masih memberikan kesembuhan padanya agar ia bisa kembali berjalan dengan normal.
"Syukurlah! Sepertinya berjalan dengan lancar," gumam Nathan yang melihat dari kejauhan.
.
.
.
.
Hari-hari terus berlanjut. Sementara itu Nikita selalu menjalankan proses terapinya dengan rajin.
Telah banyak kemajuan, kini ia bahkan sudah bisa berdiri di atas kedua kakinya, walau belum bisa digerakkan.
Hari ini, ia akan mencoba untuk latihan berjalan.
Sedang menunggu ahli fisioterapis, raut wajah Nikita langsung berubah begitu melihat ahli terapisnya datang ditemani oleh seorang pria yang ia benci.
"Pagi nona Nikita!" sapa si ahli fisioterapis dengan ramah.
"Pagi!" balas Nikita.
"Hai?" sapa Nathan di samping si ahli fisioterapis tadi, namun sayangnya diabaikan oleh Nikita.
Tersenyum sendu, Nathan kemudian memutuskan untuk duduk di bangku yang tersedia, sementara Nikita mulai menjalani proses terapinya.
"Ya, bagus sekali! Anda bahkan tidak butuh bantuan saya lagi untuk berdiri!" terdengar suara si ahli fisioterapis tak lama setelah ia dan Nikita baru saja memulai.
Tersenyum senang, Nathan yang melihat begitu sangat bahagia saat ini.
"Sekarang kita mulai langkahkan kaki dengan perlahan, okay!" instruksi si ahli fisioterapis kemudian.
Berpegangan pada kedua bahu ahli fisioterapis di depannya, perlahan Nikita mulai berusaha melangkahkan kakinya mengikuti arahan yang diberikan.
"Bagus. Sekarang, coba kaki satunya!" pinta si ahli fisioterapis lagi.
Menatap dari jauh, sebuah senyuman lebar sukses terkembang pada belah bibir Nathan yang tipis.
Asyik memperhatikan, mata Nathan kemudian tak sengaja bertemu pandang dengan mata Nikita. Tak berlangsung lama, karena keduanya kemudian langsung saling melihat ke arah lain setelahnya.
Deg!
Degup jantung seseorang, entah milik siapa.
.
.
.
.
"Buat apa kamu ke sini? Kan aku udah bilang buat nggak pernah nunjukin muka kamu ke hadapan aku lagi?" Suara Nikita yang saat ini terdengar kesal.
"Maaf. Aku tau kamu kesel lihat aku. Tapi aku pengen ngomong sama kamu, Nikita. Please, kasih aku kesempatan!" Mohon Nathan dengan raut memelas.
"Nggak. Aku nggak mau denger apapun. Asal kamu tau, karena kecerobohan kamu, aku tahun lalu harusnya udah nikah sama tunangan aku. Tapi gara-gara kamu ..!!" ujar Nikita terbata dan kini mulai menangis.
"Kamu udah hancurin mimpi aku, tau nggak? Karena aku kecelakaan terus koma. Aku ... aku akhirnya di tinggal pergi sama kak Dimas. Puas kamu, hah?" bentak Nikita kemudian.
Menatap sedih pada Nikita di depannya, Nathan tentu dapat mengerti apa yang dirasakan oleh gadis tersebut.
"Udah. Pokoknya sekarang kamu pergi. Aku nggak mau lihat muka kamu lagi!" usir Nikita lagi.
Mengalah, Nathan akhirnya beranjak pergi.
Setelah kepergian Nathan. Tak lama setelahnya, Lusi kini telah masuk ke dalam ruang rawat anaknya.
"Niki, kamu kenapa usir Nathan lagi? Kenapa nggak beri dia kesempatan untuk bicara, Nak?" ujar si wanita paruh baya, yang kini telah mendudukkan dirinya di sisi brankar yang Nikita tempati.
"Aku masih belum bisa maafin dia, Ma," sahut Nikita dengan suara serak.
"Sayang, mau dengar cerita tentang Nathan?" kata Lusi tiba-tiba, sontak membuat Nikita menatap padanya dengan tatapan bertanya.
.
.
.
.
Dua minggu telah berlalu. Sejak terakhir kali Nathan di usir pergi oleh Nikita dari ruangannya, kini pria itu tak pernah terlihat lagi.
Ia yang biasanya selalu rutin datang dan ikut menemani proses terapi Nikita walau tak pernah di ajak bicara, pria tersebut kini hilang bak di telan bumi.
Sementara Nikita yang terbiasa dengan kehadiran Nathan, kini ia mulai merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari kesehariannya.
Mengingat kembali tentang apa yang telah diceritakan ibunya waktu itu. Tak dipungkiri, Nikita sedikit merasa bersalah sekarang.
Terlebih, alasan kenapa Nathan sampai bisa kehilangan konsentrasi saat menyetir, ialah karena si pria mendapatkan berita begitu mendadak mengenai kedua orangtuanya yang mengalami kecelakaan saat pulang dari luar negeri.
Terlalu shock, ia sampai tidak sadar jika lampu hijau tanda untuk menyebrang telah menyala beberapa meter di depannya, bersamaan dengan sosok seorang gadis -Nikita- yang bermaksud akan menyebrang.
Tak terelakkan, kecelakaan akhirnya terjadi dan menyebabkan Nikita mengalami cidera yang cukup parah. Sementara Nathan, hanya mengalami luka-luka kecil dan cidera ringan saat itu.
Kembali ke masa sekarang, kini Nikita akan menjalani proses terapi untuk terakhir kalinya. Jika sebelum-belumnya ia sudah bisa berjalan masih dibantu oleh alat-alat bantu, hari ini si ahli fisioterapis berencana akan mencoba membiarkannya berjalan sendiri.
Duduk di atas kursi roda menunggu kedatangan si ahli fisioterapis-nya. Nikita terlihat tak bersemangat karena ini untuk kesekian kalinya ia tak melihat kehadiran Nathan. Biasanya pria itu akan selalu datang pagi-pagi sekali. Tapi kini, sudah dua minggu ia absen tanpa kabar.
"Apa dia tidak akan datang lagi hari ini?" gumam Nikita.
"Nona!!" sapa seseorang tiba-tiba, dan membuat Nikita tersentak kaget.
"Eoh, anda sudah datang rupanya! Selamat pagi," sapa Nikita dengan ramah.
"Selamat pagi," balas si ahli fisioterapis dengan ramah pula.
Berbasa-basi sebentar, kini keduanya telah siap memulai proses terapi mereka.
"Eum Nona, karena ini hari terakhir, ada tamu spesial yang akan membantu anda hari ini!" Info si ahli fisioterapis tiba-tiba, sontak membuat Nikita jadi bertanya-tanya.
"Si-Siapa?" tanya Nikita dengan suara terbata, bersamaan dengan munculnya sosok seorang pria yang sudah dua minggu ini Nikita rindukan kehadirannya.
"Na-Nathan ..!!" ujar Nikita terbata. Sementara Nathan telah berdiri menjulang tinggi di depannya.
"Hai Nikita!! Lama tidak bertemu. Maaf baru muncul lagi," sapa Nathan dengan bibir tersenyum.
"Nah, ayo kita mulai terapinya!" suara si ahli terapis, dengan Nathan kini memberi kode pada Nikita untuk berdiri.
Karena selama ini ia selalu memperhatikan proses terapi Nikita, kurang lebih ia mengerti apa yang harus di lakukannya.
Berdiri dengan perlahan, kedua tangan Nikita kini telah bertengger dengan apik di atas kedua bahu Nathan. Sementara kedua tangan Natah, si pria letakkan pada kedua lengan Nikita untuk membantunya berdiri.
"Okay, bagus! Sekarang mulai melangkah, ya!" Aba-aba dari si ahli terapis.
Sementara Nikita mulai melangkahkan kakinya untuk maju, dan Nathan ke arah berlawanan karena ia masih menjadi tumpuan si gadis di depannya.
Beberapa kali bolak-balik, kemudian si ahli fisioterapis meminta Nathan untuk mulai melepaskan pegangan Nikita darinya.
"Nikita, aku lepas, ya! Kamu bisa. Jangan takut. Okay?" Suara Nathan menenangkan si gadis yang tampak gugup.
Menganggukkan kepala, Nikita tak berontak ketika perlahan Nathan mulai melepaskan pegangannya.
"Okay. Sekarang, mari anda coba untuk mulai melangkahkan kaki anda, Nona!!" seru si ahli fisioterapis setelahnya.
Mulai menggerakkan kakinya, Nathan yang tadi menjauh tetap berada di belakang Nikita. Berjaga-jaga jika tiba-tiba saja si gadis oleng atau jatuh.
Selangkah dua langkah, Nikita terlihat tak mengalami masalah sama sekali. Perlahan, kini ia mulai mencoba melangkahkan kakinya dengan normal walau masih terkesan kaku.
Berhasil. Tentu saja hal itu membuat Nathan berseru dengan senang.
"Ya Tuhan, kau berhasil Nikita!!" ujar Nathan dengan riang.
Tertawa senang, Nikita lantas mulai sedikit mempercepat langkah kakinya.
"Ya Tuhan, kakiku sudah kembali normal sekarang!" seru Nikita tak lama kemudian. Hal itu tak luput dari perhatian Nathan yang ikut bahagia melihatnya.
"Selamat ... anda sudah sembuh Nona!" kata si ahli fisioterapis yang ikut senang.
Memeluk erat wanita yang selama ini telah membantunya. Nikita tak lupa untuk turut mengucapkan terimakasih pada si ahli fisioterapis karena telah begitu sabar membantu ia hingga akhirnya bisa berjalan dengan normal lagi.
Sementara Nathan yang masih berada di sana, si pemuda terlihat menyaksikan keduanya dengan bibir tersenyum lega.
.
.
.
.
Di sebuah gedung mewah dengan dekorasi bernuansa putih, terlihat para tamu undangan sedang menyaksikan proses ijab kabul seorang pria muda yang berhadapan dengan seorang penghulu.
"Saya terima nikahnya Nikita Zainisa Hermawan binti Bastian Hermawan dengan seperangkat alat sholat, mas 24 gram dan uang 6.720 dollars dibayar tunai!" Suara lantang Nathan yang dapat terdengar jelas oleh seluruh tamu undangan.
Disaksikan oleh kedua orang tua Nikita, Dimas dan keluarga kecilnya, para saksi dan tamu undangan yang ada, Nathan berhasil mengatakannya tanpa rasa gugup.
"Bagaimana para saksi?" tanya si petugas penghulu pada orang-orang di sekitarnya.
"SAHH PAK! SAHHH ..!!" sahut para tamu undangan dengan heboh.
"Alhamdulillah. Bismillahirohmanirohim ..." ucap si penghulu yang mulai membacakan doa.
Selesai, kini Nikita tampak mulai menyalami tangan Nathan yang sekarang telah resmi menjadi suaminya.
Dua bulan berlalu sejak Nikita resmi pulang dari rumah sakit. Hubungan antara Nikita dan Nathan jadi semakin akrab. Mulai tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Tak lama, Nathan pun segera melamar si gadis pujaannya. Terlebih, ia sudah cukup lama jatuh hati pada Nikita sejak gadis itu koma dan ia yang selalu rutin mengunjunginya.
Perasaan Nathan berbalas. Nathan dan Nikita, keduanya kemudian sepakat untuk menikah tak lama setelahnya. Kini, kedua insan itu tengah menjadi pasangan yang sangat berbahagia saat ini.
"Terimakasih sudah menjadi istriku, Nikita!" bisik Nathan lembut saat mencium dahi istri sahnya.
"Terimakasih juga karena sudah memilihku untuk menjadi pendampingmu, Nathan," balas Nikita yang ikut berbisik.
END
Mampir ke novel author juga, ya. 😊