Beberapa tahun sejak Voldemort musnah, Hermione Granger dan Draco Malfoy kembali dipertemukan dalam rapat perdana Hogwarts.
Draco diangkat sebagai guru pertahanan terhadap ilmu hitam, dan Hermione diangkat sebagai guru transfigurasi.
"Kau lebih pantas mengajar telaah muggle," ujar Malfoy bersandar di koridor ruang rapat.
Hermione memutar bola matanya. Tidak ada gunanya menanggapi ocehan Malfoy. Dia berlalu meninggalkan Malfoy yang tampak kesal.
Hermione sedang menyusun silabus transfigurasi, saat Hedwig mendarat di di meja kerjanya yang mengarah ke jendela.
"Hey Hedwig," ujar Hermonie sambil mengelus burung hantu milik Harry tersebut, dan mengambil surat yang diikat pada kakinya.
Dear Hermione,
Selamat untuk tugas barumu. Dumbledore pasti bangga padamu. Ku dengar Malfoy mengajar pertahan terhadap ilmu hitam. Jangan cari masalah dengannya.
Ps : Sejak Dumledore meninggal, Prof. McGonagall hanya mengantikannya sebentar. Berjuanglah!
Harry Potter.
Hermione membalas pesan sahabat karibnya tersebut.
Dear Harry,
Bagaimana pekerjaan di kementrian sihir?
Prof. McGonagall menghubungi orang tuaku dan aku bersedia. Malfoy masih sama menyebalkan seperti dulu. Aku akan berjuang!
Ps : Jangan lewatkan makan malammu!
Hermione Granger.
Hermione mengikatkan surat tersebut di kaki Hedwig dan menerbangkan Hedwig.
Dari balik jendela kamarnya Malfoy menatap Hedwig.
Hari pertama pelajaran transfigurasi Hermione memperkenalkan dirinya. Saat ini jumlah muggle lebih banyak dua kali lipat di banding zaman sekolahnya. Sebuah kemajuan yang baik pikir Hermione.
Hermione mulai mempraktekan transfigurasi sederhana kepada murid-muridnya dan meminta mereka untuk mempraktekan hal yang sama. Kelas hari itu berjalan lancar.
"Kalau aku jadi kau, pelajarannya akan ku ganti dengan mengubah kepala lawan menjadi labu," Malfoy terkekeh.
Seperti biasa Hermione mengabaikan Malfoy. Apa salahnya mempraktekan sihir mengubah tikus menjadi piala?
Usia mereka sekarang 26 tahun, namun sikap Malfoy tak ubahnya saat mereka berusia 12 tahun.
Sejak pertama melihat Malfoy di ruang rapat, Hermione dapat menduga hari-harinya di Hogwarts akan sulit.
Prof. McGonagall lebih baik menawarinya posisi Hagrid dan tinggal di hutan terlarang, dibandingkan berada satu bangsal dengan Malfoy.
Hermione berada di perpustakaan saat Malfoy menggeser kursi di sampingnya.
Hermione memutar bola matanya bosan. Dia meletakan buku yang sedang dibacanya ke tempat semula dan memilih meninggalkan perpustakaan.
Malfoy mengekori Hermione menuju kamarnya dan menghilang di balik lukisan.
"Hay tampan, pria dilarang masuk," ujar lukisan tempat Hermonie menghilang.
Malfoy meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke ruangannya.
Baru satu hari di Hogwarts, Hermione sudah dibuat kesal dengan tingkah Malfoy. Oh ayolah! mereka melewati masa sulit melawan voldemort dan pelahap maut. Hermonie bahkan dua kali membantu Malfoy lolos dari maut.
Tidakkah Malfoy ingat bagaimana wajahnya yang berurai air mata, saat Voldemort memerintahkannya membunuh seseorang dengan mantra terlarang?
Hermione tidak habis pikir apa yang membuat Prof. Mc.Gonagall mempertimbangkan Malfoy untuk menjadi guru pertahanan terhadap ilmu hitam, sedangkan Malfoy adalah mantan pelahap maut.
Malam itu Hermione memutuskan untuk menemui Hagrid di hutan terlarang. Sejak kedatangannya ke Hogwarts dia belum menyapa Hagrid.
Hagrid sedang memberi makan Fang, anjing peliharaannya saat Hermonie tiba di gubuknya.
"Oh, Hermione. Senang bertemu kembali denganmu,"
Hermione memeluk Hagrid, hal yang selalu dia, Harry, dan Ron lakukan ketika mengunjungi Hagrid.
Hagrid menungkan teh dan menyuguhkan biskuit untuk Hermione. Hagrid bercerita bahwa Mosag istri Aragog si laba-laba raksasa telah menetaskan telurnya. Hermione mendengarkan sambil menikmati tehnya.
Hermione bercerita bahwa Prof. McGonagall mendatangi orang tuanya untuk meminta izin agar dia bisa mengajar di Hogwarts.
"Kau mendapat outstanding di hampir semua mata pelajaran, dibanding bertukar posisi dengan Malfoy lebih baik kelas transfigurasi di pegang olehmu,"
"Mengapa Malfoy mengajar pelajaran pertahanan terhadap ilmu hitam?,"
"Lebih baik diajarkan oleh pelahap maut dibanding muggle. Jangan tersinggung," Hagrid berusaha menenangkan Hermione.
"Perspektif mantan pelahap maut cocok dengan mata pelajaran itu. Tidak ada salahnya memberi Malfoy kesempatan untuk berkontribusi."
Hermonie pamit setelah mendengar alasan mengapa Malfoy kembali ke Hogwarts.
"Potong 10 poin untuk Gryffindor, karena menyelinap di malam hari," Malfoy menghadang langkah Hermione.
Hermione memilih menghindar dari masalah. Memangnya dia siapa berani mengatakan hal itu?
"Harusnya kau bertanya padaku kenapa Prof. McGonagall memintaku mengajar di Hogwarts," Malfoy kembali menghadang langkah Hermione.
"Miss Granger apa munggle tidak diajarkan sopan santun," Malfoy tersenyum jenaka.
"Berhenti mengangguku!,"
Malfoy senang. Granger akhirnya terpancing dengan ejekannya.
"Kau penasaran kenapa aku ada di sini?"
"Karena kau pelahap maut, dan ayahmu tidak ingin Hogwarts dipenuhi muggle dan darah campuran,"
Hermione mendorong Mafoly yang menghalangi langkahnya dan kembali ke kamar.
Malfoy mengenggam erat tongkat sihirnya dan menatap Hermione yang hilang dari pandangannya.
Sejak malam itu, Malfoy tidak lagi menganggu Hermione. Bahkan saat berpapasan, Malfoy memilih menghindar.
Hermione senang, setidaknya dirinya dapat menunda memberikan surat pengunduran diri. Perjanjian awal dirinya dengan Prof. McGonagall, jika selama tiga bulan tidak ada perkembangan Hermione boleh mengundurkan diri.
Malam minggu Hermione sedang menulis evaluasi murid-muridnya. Besok hari libur, waktunya membaca lebih banyak buku.
Seekor burung hantu mirip Hedwig bertengger di jendela saat Hermione akan menutup jendelanya dan tidur.
Hermione menggambil surat yang diikat pada kaki burung hantu tersebut.
Dear Hermione,
Ini aku Harry Potter. Aku sengaja mengirim burung lain ke Hogwarts untuk menghindari kecurigaan kementrian. Temui aku di Hogsmeade besok, ada yang ingin aku katakan.
Harry Potter.
Hermione menyimpan surat tersebut dan segera tidur.
Keesokan harinya Hermione pergi ke Hogsmeade dan menuju Shrieking Shack. Dulu tempat itu ditinggali Remus Lupin, sekarang telah kosong. Tempat yang sempurna untuk membicarakan sesuatu yang penting.
Hermione masuk ke dalamnya dan menemukan Malfoy di sana.
"Selamat datang di Shrieking Shack," Malfoy membungkuk pada Hermione.
Malfoy mengayunkan tongkat sihirnya untuk menata kursi meja dan peralatan lainnya menjadi jamuan minum teh.
"Duduklah," Malfoy mempersilahkan Hermonie duduk.
Hermonie menyadari ruangan itu telah di sihir dan dia tidak bisa keluar, sampai orang yang membuat sihir itu mengizinkannya keluar.
Kemapuan Malfoy berkembang dengan baik.
Hermione duduk sambil memperhatikan Malfoy yang sibuk menata mejanya.
"Aku yang mengirim surat tadi malam."
"Sudah ku duga. Harry tidak pernah menuliskan nama lengkapnya selama kami berkirim surat. Aku datang ingin melihat seperti apa tampilan orang bodoh yang mengatakan alasan konyol tentang kementrian."
"Wow, murid terpintar di Hogwarts. Aku ragu kau akan datang ke Hogsmeade, tapi munggle selalu penasaran. Bukankah itu termasuk sesuatu yang konyol?"
"Minum tehnya aku menyiapkan ini seharian."
Hermione menolak menyentuh segala sesuatu yang dihidangkan Malfoy.
"Jadi alasan konyolmu mengundangku?.."
"Aku ingin berterima kasih kau menyelamatkanku dua kali."
Hermone baru akan melemparkan sarkasnya, namun Malfoy mengisaratkan gestur "dengarkan aku dulu"
"Aku tidak tau cara yang tepat mengajakmu berbicara. Kita tidak akrab saat masa sekolah dulu. Aku kesulitan mengalihkan perhatianmu dari kerja dan buku."
"Kau membuang waktu berhargaku," ejek Hermione sambil bersiap berdiri dari tempat duduknya.
"Maaf," ujar Malfoy canggung sambil mengelus lehernya berulang-ulang.
"Aku selalu menganggumu dengan sebutan munggle."
Hermione melunak. Dia cukup pintar menganalisa sikap Malfoy barusan. Malfoy pasti kesulitan menahan perasaanya selama hampir satu minggu. Dia baru saja bilang butuh satu hari menyiapkan ruangan ini, seharusnya tidak perlu memakan waktu selama itu, dia hanya perlu mengayunkan tongkat sihirnya.
Malfoy mengirim Hermione surat, setelah melihat Hedwig terbang dari jendela kamarnya. Cukup pintar meskipun tulisan tangannya sedikit berantakan.
Permintaan maafnya..
Pasti sulit untuk orang seperti Malfoy yang punya sentimen tinggi terhadap muggle, meminta maaf dan mengatakan dengan jujur bahwa topik munggle selalu mengalihkan perhatian Hermione.
"Baiklah. Aku terima permintaan maafmu."
"Bisakah kita berteman? di sekolah ini hanya aku, kamu, dan Longbottom yang seangkatan."
"Tidak masalah selama kamu tidak menganggu aktivitasku."
"Benarkah?" Malfoy seperti anak kecil yang menatap Hermione dengan ekspresi penuh harap.
Hermione tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Malfoy tersenyum lebar dengan reaksi Hermione barusan. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.
"Ini untukmu."
"Apa ini?"
"Buku yang kutulis tentang perjalan seorang mantan pelahap maut. Ini salinan dari naskah aslinya, akan di cetak bulan depan."
Hermione membuka mulutnya sambil memandang buku tersebut takjub.
"Beritahu aku jika ada yang salah dengan penulisannya atau apapun itu. Aku akan dengarkan saranmu."
"Kau tahu kenapa aku kembali ke Hogwarts?"
"Tidak. Kenapa?"
"Karena Profesor Mc.Gonagall menyebut namamu. Dia bilang Miss Granger setuju untuk mengajar di Hogwarts."
Hermione kembali terperangah mendengar perkataan Malfoy.
"Ayahku tidak keberatan. Ayah bilang gen Miss Granger sempurna."
"Apa maksudmu?"
"Anak yang pintar lahir dari ibu yang pintar."
Hermione binggung dengan pernyataan Malfoy barusan.
"Tidak usah dipikirkan, mulai saat ini aku akan merayumu dengan benar."
Hermonie tersipu mendengar kata-kata terakhir Malfoy. Dia memilih menghabiskan akhir pekannya bersama Malfoy di Shrieking Shack. Sepertinya surat pengunduran dirinya sudah tidak berlaku lagi.
----------------------------------------