Hai namaku Sora, aku adalah seorang gadis remaja yang sedang di ambuk cinta. Hari-hariku selalu penuh semangat dan selalu indah. Seakan ada bunga mawar bermekaran di belakangku.
Aku memiliki seorang kekasih bernama Christian. Dia tipe orang yang cuek terhadap lingkungan sekitar, tetapi entah mengapa jika denganku dia penuh perhatian dan kasih sayang. Dengannya aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Entah bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadanya, aku sendiri pun tidak tahu. Kami saling kenal satu sama lain melalui media sosial. Kami bertukar kabar setiap harinya. Lama kelamaan aku pun mulai menaruh hati padanya, begitu pun dengan dia. Dan akhirnya kami memutuskan untuk jadian.
Bisa dibilang kami merupakan pasangan yang beda keyakinan. Agama kami berbeda dan tentu saja Tuhan kami pun berbeda. Aku sadar bawah ada dinding besar yang menghalangi kita. Tetapi aku tidak akan goyah dengan perbedaan besar itu. Aku akan terus mempertahankan hubungan ini selamanya.
*****
KRING!!......................KRING!!...............KRING.!!.......KRING!!
*Jam alarm di kamar sora berbunyi
"Ahh sudah jam berapa ini?" ,Dengan mata sayup-sayup aku mengambil jam alarm di mejaku dan melihat arah jarum jam.
"Gawat jika tidak bergegas aku akan terlambat!!" ,Aku segera beranjak dari tempat tidur dan segera pergi ke kamar mandi.
Hari ini adalah hari kencanku dengannya. Aku sangat merindukanya. Dan aku ingin segera bertemu untuk melepas semua rindu kepadanya.
*****
ALUN-ALUN KOTA
"Maaf menunggu, tadi aku bangun kesiangan"
"Tenang aja aku juga baru datang kok" ,Christian menjawab dengn nada lembut dan senyuman manisnya.
"Yaudah klo gitu yok kita segera pergi" ,Ajakku menarik tangannya.
"Baiklah, kita kemana dulu ya enaknya?" ,Tanya christian kebingungan.
"Gimana klo kita ke sini dulu, abistu kesini, lalu kesini, kemudian kesini, sini, sini, dan sini?" ,jawabku sembari menunjukkan daftar agenda yg telah ku buat khusus untuk hari ini.
"Tidak buruk juga. Yosh!! Mari kita habiskan hari ini untuk hal-hal yang menyenangkan."
Kami pun mulai menjelajahi satu persatu tempat yang ada di buku panduan. Mulai dari pergi ke pantai, makan bersama, menonton film di bioskop, membeli berbagai macam aksesoris, dan pergi ke taman hiburan.
****
Hari pun sudah semakin gelap dan kami memutuskan untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan kami terus mengobrol menceritakan kesenangan tadi pagi. Tetapi obrolan menyenangkan itu hilang seketika waktu Christian berbicara suatu hal kepadaku.
"Gak kerasa yaa besok kita merayakan hari besar kita bersama. Tetapi kita beda!! Aku ke gereja dan kamu ke masjid. Dan gak kerasa juga besok aku di baptis."
"Kata-katamu tajam seperti biasa" ,jawabku dengan senyum menghiasi wajahku.
Entah kenapa tiba-tiba air mata menetes di pipiku. Aku tau kok klo kita berbeda. Aku tau bahwa hubungan kita banyak yang menentangnya. Aku juga tau bahwa salib di lehermu tak kan mungkin bisa bersatu dengan tasbih di tanganku. Tetapi tidak seharusnya kamu berkata seperti itu. Kata-katamu seakan membuatku tertampar oleh kenyataan bahwa kita tidak mungkin bisa bersama. Dan aku pun mulai meragukan hubungan kita ini. Apakah kita bisa melewati segala rintangan lalu meneruskan hubungan ini? Ataukah suatu saat nanti hubungan ini akan berakhir dan meninggal luka yang teramat dalam.