Hujan deras mengguyur Washington D.C. Suara petirpun menggelegar bersautan mengisi keheningan malam. Jauh dari keramaian kota, terlihat sebuah rumah bergaya Itali itu tampak begitu gelap tanpa ada penerangan sedikitpun. Sepi, dan sunyi begitu terasa, hanya terdengar suara samar dari detakan jam kuno yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Tik..
Tik..
Tik..
Hingga jam kuno itu berhenti berdetak. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 02.00 a.m. Tak lama kemudian terdengar suara deritan pintu,
Kreek..
Tampak siluet seorang gadis berjubah putih luntur dengan sebuah lilin ditangannya. Gadis itu melangkah keluar secara perlahan. Ia hendak menuju ruang tengah. Suara langkah kakinya terdengar pelan mengisi setiap sudut ruangan yang gelap dan sunyi. Hanya suara petir yang mendominasi malam itu. Dengan pelan dan pasti, gadis itu membuka laci sebuah nakas yang terletak di samping sofa. Ia mencoba mencari sesuatu di tengah gelapnya malam dengan di bantu cahaya kecil dari lilin miliknya.
Klontang..
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang yang lain. Dengan spontan gadis itu mengarahkan lilinnya ke bagian lorong yang gelap, untuk melihat dari mana suara itu berasal. Dengan keberanian yang ada, ia berteriak.
"mom? Are you there?"
Hening..
Lorong itu tampak tenang, seolah suara itu bukan berasal dari sana. Ia terdiam menunggu, sesekali cahaya kilat terlihat di jendela besar rumahnya.
Karena tidak mendapat jawaban apapun, ia mencoba berfikir bahwa suara itu mungkin disebabkan oleh seekor kucing ataupun tikus yang ada di rumahnya. Gadis itu menghendikkan bahu, mencoba untuk tidak peduli dan kembali fokus dengan sesuatu yang di carinya.
"ini dia." ujarnya saat tangannya menyentuh sebuah buku berukuran sedang dan membaca judulnya, 'The Red Eyes'.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, gadis itupun segera beranjak meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan badannya di ranjang Queen size miliknya secara tengkurap. lilin itu diletakkan dihadapannya, ia akan menggunakannya untuk menerangi setiap halaman buku yang akan ia baca.
Lembar demi lembar telah ia lewati dengan seksama, matanya bergerak seiring dengan kalimat yang ia baca.
Saat ia membuka lembaran selanjutnya, ternyata ia telah hampir sampai di puncak cerita. Tetapi seketika ia mengernyitkan keningnya saat matanya menangkap sebuah gambar ruangan gelap, dengan sebuah ranjang berukuran Queen size yang berada di tengah, dua buah nakas di kedua sisi ranjang beserta lampu tidur, meja rias di pojok kanan ruangan dengan lemari baju yang berada disisinya, dan meja belajar yang terletak di pojok kiri ruangan.
Setelah beberapa detik memgamati, ia baru menyadari bahwa gambar itu sangat mirip dengan...
Kamarnya.
Tidak! Bukan mirip lagi, tetapi itu memang kamarnya. Kamar yang ia tempati saat ini, bahkan ia juga melihat lilinnya berada dalam gambar tersebut, persis di atas ranjang, dengan posisi yang sama.
"ini gila." gumamnya lirih. Tak tau kenapa, tiba-tiba ia mulai merasa menggigil, suhu di kamarnya menurun drastis. Apa karena tengah hujan? Fikirnya.
Dengan perasaan yang tidak karuan, ia memberanikan diri untuk kembali melihat gambar yang ada di buku itu. Ia kembali mengamatinya lebih lanjut. Matanya membelalak saat tak sengaja menangkap tulisan yang terletak di bawah gambar.
Warning: don't make noice, please! The Red Eyes will come here!!
Tubuhnya terasa kaku, bahkan ia lupa bagaimana caranya bernafas. Merasa tidak percaya, ia mencoba mengedarkan pandangannya, menelisik setiap sudut ruang kamarnya yang tamaram.
Knock.. Knock..
Pandangannya langsung mengarah ke pintu saat ketukan itu terdengar pelan menusuk telinga. Jantungnya berdebar kencang melebihi ritme sebelumnya. Keringat dingin mulai membasahi sebagian tubuh. Matanyapun terus terpaku pada pintu kamar, seolah sesuatu yang menyeramkan akan datang menghampirinya.
Knock.. Knock..
Ketukan itu terdengar lagi, tapi kali ini terdengar lebih keras. Ia menggigit bibirnya menahan isakan. Ia takut, sungguh.
"Jess? Apa kau di dalam?" tanya seseorang yang ada di balik pintu.
Lagi-lagi ia membulatkan matanya terkejut.
"Mom?!" pekiknya tertahan. Jessy tersenyum lega mengetahui bahwa yang mengetuk pintu adalah ibunya.
"yes dear, kenapa belum tidur? Ini sudah malam."
"sorry mom, aku baru saja membaca novel, setelah ini aku akan segera tidur." balas Jessy sambil mematikan lilin dan meletakkanya di atas nakas.
"kau tidak ingin menyambut mommy? Mommy baru saja pulang dari LA."
"oiya, mommy juga membawakan oleh-oleh untukmu, jadi bisakah kamu membuka pintunya?"
Jessy menepuk keningnya pelan, ia lupa jika mommynya baru saja tiba di rumah. Harusnya ia memberikan kecupan selamat datang seperti biasanya.
"maafkan aku mom! Aku akan segera membuka pintunya." balas Jessy seraya berjalan menuju pintu.
Deringan ponsel terdengar nyaring bersamaan dengan kunci pintu yang terbuka. Jessy segera membalikkan badannya dan belari kecil memgambil ponsel.
"siapasih yang menelfon?" gerutunya kesal. Saat itu juga tubuhnya mematung melihat nama yang tertera di ponselnya.
"mo..mommy?." gumamnya tak percaya.
Jika yang menelfon adalah ibunya, lalu... Ia membulatkan matanya saat tersadar apa yang tengah terjadi.
Ia menatap kaku pada deringan ponselnya yang kedua. Tenggorokannya serasa tercekik mengetahui sebuah fakta. Bahwa.. Yang mengetuk pintu bukanlah ibunya.
"iam coming for you... Dear." bisik sesuatu yang ada di belakangnya. Bibirnya menyeringai lebar dengan giginya yang runcing.
Sesuatu itu menusuk punggungnya dengan kukunya yang panjang. Jessy membelalak kesakitan, saat benda itu menusuknya lebih dalam, hingga berhasil merobek perutnya.
Darah segar keluar dari punggung dan perutnya. Mulutnyapun ikut memuncratkan darah yang langsung mengaliri jubah putihnya. Membuatnya kotor, dengan warna merah yang hampir menutupi warna yang sebenarnya.
Sesuatu dengan mata merah menyala itu melepas tusukannya, membuat Jessy langsung terkapar dengan darah yang membanjiri lantai kamar. Ia menarik rambut Jessy, menyeretnya keluar kamar, melewati lorong, dan berakhir di sebuah single door yang terletak di ujung lorong yang gelap.
Selang beberapa detik, radio kuno yang tergeletak kaku di ujung ruangan, mengeluarkan suara serak yang dalam.
"Go tell aunt rody"
"Go tell aunt rody"
"Go tell aunt rody"
"Thats every body...
Dead..."
#End#
By: Avardha