Di pinggir jalan raya saat lampu merah menyala.
Pak,pak mau beli kue saya ? tawarku.
Oh gak dek,makasih. Jawab pak itu.
Aku tawarkan juga pada ibu-ibu dan kakak-kakak tapi tidak ada satupun yang membeli kueku.
Aku lalu berjalan pulang ke rumah.
Hah...aku menghela nafas.Aku pikir berjualan itu mudah seperti paman pentol yang berjualan di depan gerbang sekolahku.Tapi kenyataannya sungguh berbeda.Aku sudah berjualan dari sekolah sampai sini tapi belum ada satupun yang membeli.
Aku ini sangat payah padahal adikku meminta kue dan es krim untuk hadiah ulangtahunnya yang ke-6.
Tapi bocah berumur 10 tahun sepertiku bisa mendapatkan uang darimana selain mengharapkan belas kasihan orang-orang.
Seandainya orangtuaku tidak meninggal saat kecelakaan pasti hidup kami berdua tidak akan susah seperti ini.Eh,aku menginjak apa ?Loh, inikan dompet. Wah uangnya banyak sekali. Aku langsung berlari ke rumahku.
Vivi...Vivi...Vivi...cepat kesini teriakku pada adikku.
Iya,ada apa kak ?Loh,itu dompet siapa kak ? Vivi terlihat bingung.
Kakak dapat dijalan tadi karena uang didalamnya banyak ya kakak ambil. Lagipula, besok hari ulangtahunmu.Kakak pikir uang ini pasti cukup untuk membeli kue besar dan es krim di kedai 77.
Tapi,kak mengambil barang yang bukan milik kita itu sama saja mencuri.Lebih baik kakak kembalikan dompet itu kepada pemiliknya. Vivi takut Tuhan menghukum kakak karena mencuri. Kita batalkan saja perayaan ulangtahunku daripada merayakannya dengan uang itu. Ucap adikku dengan takut lalu dia kembali ke kamarnya.
Aku heran melihat ekspresi takutnya dan dari siapa dia belajar semua ini?Padahal tidak ada yang pernah mengajarkannya tentang Tuhan atau dosa.
Dia juga berhenti bersekolah,aku hanya mengajarkannya di rumah karena aku benar-benar kesulitan mendapatkan uang. Aku tidak ingin selalu mengharapkan belas kasihan orang lain.
Entah darimana Vivi tau.Semakin dipikirkan semakin membuatku bingung.Tapi perkataannya ada benarnya juga.Aku sendiri sedih saat kehilangan kedua orangtuaku, pasti orang itu juga sedih kehilangan dompet ini.
Baiklah,karena sekarang sudah malam aku akan meletakan dompet ini di atas buku ini saja lalu besok aku akan mencari pemiliknya dan mengembalikannya.
Kukuruyuk.....kukuruyuk....
Hoam....dimana dompet itu.Oh,aku ingat aku menaruhnya di atas buku. Aku langsung mengambil dompet itu. Eh,sebentar.Aku membaca tulisan di sampul buku itu.
Buku catatan harian milik Vivi.Dari siapa anak ini belajar ? Aku baca sajalah, untung dia masih tidur.
Aku langsung membuka bagian akhir.
Besok hari ulang tahunku. Aku ingin makan kue dan es krim di kedai 77 seperti tahun lalu bersama ayah,ibu,dan kakak.Aku rindu ayah dan ibu.
Semoga orangtuaku tenang di surga. Aku bersyukur meskipun orangtuaku sudah tidak disisiku lagi setidaknya aku masih memiliki seorang kakak yang sangat menyanyangi dan memanjakanku.
Padahal dulu aku sangat cengeng tapi sejak kak Vera menjadi sahabatku dia selalu menghiburku. Dia yang menyarankanku untuk menulis catatan harian untuk melupakan kesedihanku. Aku harap kakak mengembalikan dompet itu seperti yang guruku ajarkan,kak Vera. Dia guru sekaligus sahabat terbaikku. Sedangkan kakakku sudah seperti orangtua bagiku.
Aku menangis membaca diarynya.Dia sudah bisa setegar itu bahkan ia bersyukur sedangkan aku selalu mengeluh,mengeluh,dan mengeluh.
Aku mencari pemilik dompet ini.Haduh aku harus cari kemana ? Tidak ada satu orang pun yang mengakui dompet ini.Dompet ini tidak punya KTP lagi. Eh tunggu, dompet ini aku temukan di dekat rumahku berarti kemungkinan pemiliknya adalah orang yang rumahnya dekat dengan rumahku. Astaga kenapa aku tidak berpikir untuk mencari pemiliknya disekitar rumahku dulu tadi.
Aku langsung mendatangi rumah tetanggaku satu per satu dan sampailah aku di rumah tetanggaku yang terakhir.
Tok...tok...tok... Apa ada orang ?
Iya sebentar.
Ada apa ya dik ? Ucap seorang kakak pemilik rumah yang umurnya kira-kira 15 tahun.
Apa kakak merasa kehilangan sebuah dompet ?tanyaku.
Iya.Dari kemarin kakak cari gak ketemu-ketemu.
Jawabnya.
Berapa isi uang di dompet ini ? tanyaku menyakinkan.
800 ribu ditambah 1 koin seribu . jawabnya.
Oke,berarti ini memang dompet kakak.Aku mengembalikan dompet itu padanya.
Terimakasih ya,dik. Kalau orang lain yang menemukannya pasti sudah diambil.
Eee...maaf kak sebenarnya tadi aku mau mengambil uang itu tapi karena nasehat Vivi,adikku aku mengembalikannya. Padahal awalnya uangnya mau aku gunakan untuk membeli kue dan es krim di kedai 77 untuk hadiah ulangtahunnya.
Oh, tidak apa-apa yang penting adik sudah mengembalikan.
Perkenalkan, namaku Vera. Dia mengulurkan tangannya.
Aku kirana artinya cahaya kata ibuku. Salam kenal juga kak Vera. Aku menjabat tangannya.
Kirana : Oh ya, bagaimana kakak bisa bertemu dengan adikku ?
Vera : Kakak bertemu dengan adikmu di halaman depan rumahmu waktu tengah hari saat itu dia sedang duduk sambil menangis. Kakak yang lewat rumahmu pun datang untuk menghiburnya.
Kirana : Bagaimana caranya kakak menghiburnya sampai dia bisa setegar sekarang ?
Vera : Kakak hanya menceritakannya tentang Tuhan dan memberikannya buku untuk dia menumpahkan kesedihannya disana.
Kirana : Terimakasih ya kak,Sudah mau menemani adikku. Kakak tidak hanya mengajari adikku tapi juga diriku.
Vera: sama-sama. Oh ya, hari ini adikmu ulang tahun kan ?
Kirana : Iya,kakak mau traktir ?
Vera : Iya, kakak mau traktir sebagai ucapan terimakasih sudah mengembalikan dompet kakak.
Kirana : Wah, terimakasih banyak kak. Aku jadi merasa tidak enak.
Vera : Tidak perlu merasa sungkan,Ini uang dari hasil usaha kakak sendiri kok. Ayo sana panggil adikmu kita berangkat sekarang juga.
Kirana : Baiklah kak. Sekali lagi terimakasih.
Aku langsung berlari ke rumah. Sesampainya di rumah aku langsung membuka pintu dan menuju kamar.
Kirana:Vivi, ayo siap-siap.
Vivi : Memang kita mau kemana kak ?
Kirana : ke kedai 77, Kak Vera yang traktir.
Vivi : Hah ? kok bisa ?
Kirana : Udah ceritanya nanti aja. Sekarang kamu siap-siap aja. Kak Vera udah nunggu di rumahnya.
Vivi : Baiklah.
Sore itu di kedai 77, kulihat adikku sangat bahagia.
Dia memakan dengan lahap kue tart dan es krimnya. Aku senang melihatnya sebahagia ini. Bagiku dia adalah adik kesayanganku,tujuan hidupku,dan sekaligus guru terbaikku. Dia mengajariku apa yang tidak diajarkan di sekolah. Aku bersyukur memiliki adik sepertinya. Aku harap dia selalu menjadi orang yang baik dan menjadi orang sukses.
Disana, kami bercerita banyak hal. Ternyata kak Vera adalah animator yang memiliki penghasilan besar.
Aku menulis diary di buku baru yang dibelikan oleh kak Vera. Padahal aku tidak memintanya tapi dia tetap membelikannya.
Kak Vera sangat baik, dia tidak hanya menjadi sahabat dan guru adikku. Kak Vera juga mentraktir adikku, memberikanku buku diary ini. Bahkan kak Vera memutuskan untuk mengurus kami dan menyekolahkan adikku. Entah bagaimana aku bisa membalas semua kebaikan kak Vera. Aku harap kak Vera hidup bahagia dan menjadi contoh bahwa tidak semua orang kaya itu pelit seperti yang aku pikirkan dulu.