⚠️Note!!
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak bermaksud menyinggung pihak manapun, jika akan kesamaan tokoh, dan cerita, ini tidak di sengaja.
Menjadi orang yang berbeda dari orang yang lainnya membuatku sangat tersiksa. Terkadang aku berfikir, mengapa harus aku yang mengalaminya?
Aku sering di bilang gila, tidak waras, dan yang lebih parah adalah, orang-orang membenci aku hanya karena aku berbeda dari mereka.
Sedari kecil, aku sudah bisa melihat hal-hal yang tidak pernah bisa di lihat orang lain. Aku bisa tahu isi hati mereka, aku bisa tahu sebab kematian mereka, dan yang membuatku risih adalah, setelah mereka mati, mereka malah meminta pertolonganku untuk menyelesaikan masalah mereka. Benar-benar tidak masuk akal!
Aku tidak tahu harus bilang apa, apakah ini sebuah anugrah? atau malah sebuah bencana? Entahlah, ibuku selalu berkata jika aku harus bersyukur karena diberikan berkat seperti itu oleh tuhan.
Setidaknya, ibuku masih mempercayai aku meskipun terkadang orang-orang menganggap aku tidak waras.
Tetapi, sekarang aku sepertinya sudah bisa menerima kelebihan yang diberikan oleh tuhan ini, terlebih lagi, ada seseorang- ah tidak! sesosok makhluk yang membuatku bahagia.
Aku tidak sengaja bertemu dengan dia, seorang pria tampan yang berusia 15 tahun lebih tua dari pada aku. Kalian tahu usiaku saat itu? Tidak? Baiklah aku akan mengatakannya.
Aku adalah seorang murid SMK, aku bersekolah di salah satu SMK Swasta dan duduk di kelas 11 saat itu.
Jujur saja, aku tidak suka sekolah itu, semua orang munafik! Mereka pura-pura tersenyum satu sama lain, padahal isi hati mereka saling membenci. Aku benar-benar benci akan hal itu!
Terlebih lagi, ada seorang guru yang benar-benar tidak aku sukai, tahu kenapa? Dia adalah orang yang paling munafik! Jangan salahkan aku jika aku mengetahui hal itu, sudah aku katakan aku bisa membaca pikiran!
Bahkan, aku bisa membaca pikiran kalian yang sedang membaca tulisan ini! Ah, tidak! Aku hanya bercanda, bagaimana mungkin aku bisa membaca pikiran dari jarak jauh?
Kembali ke kisahku!
Aku bertemu dengan pria itu saat pulang dari les, aku melihatnya berdiri di atas jembatan dengan baju yang sangat lusuh. Aku dengan berani menghampiri ia saat itu.
"Anda kenapa?" tanya ku saat itu, tetapi ia hanya diam membisu dan menatapku dengan sendu. Aku benar-benar kasihan kepadanya.
"Kau bisa melihatku?" Begitulah dia menjawabku. Aku cukup kaget saat itu, karena aku mengira ia adalah manusia.
Aku lebih memilih untuk mengacuhkannya dan segera berlari menjauh dari jembatan itu. Aku sudah lelah dikejar-kejar arwah penasaran yang meminta untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Dik, kau bisa melihatku 'kan? tolong bantu aku." Aku tersentak, ketika orang tersebut sudah berada di samping kasurku. Aish! Aku lupa jika dia adalah arwah yang bisa kemanapun sesukanya.
Aku mengabaikan pria itu dan pura-pura tidak melihat kehadirannya. Tetapi ia tidak pernah menyerah dan selalu memengikuti kemanapun aku pergi.
Sekitar 3 hari ia selalu mengikuti aku, kemanapun aku pergi dia selalu berada di sampingku, dan terus memohon aku untuk membantunya. Hingga akhirnya aku sudah tidak tahan lagi! Aku putuskan untuk membantu arwah ini, untuk yang terakhir kalinya.
"Maukah kau menjadi pacarku?" katanya. Ucapannya itu benar-benar tidak masuk akal! Aku kembali tidak menghiraukan ia saat itu. Aku kembali mengabaikan ia beberapa hari.
"Tolonglah, aku tidak pernah punya pacar sebelumnya, aku meninggal karena bunuh diri, aku lelah karena orang-orang menuduhku gay, bahkan orang tuaku mengusirku karena aku tidak mempunyai pacar," ucapnya. Aku terheran-heran saat itu, benar-benar tidak masuk akal!
Apakah ada orang yang mati hanya karena jomblo? Benar-benar menyiakan nyawanya dan mati konyol! Wajahnya sangat tampan, andai saja ia masih hidup, aku pasti bersedia menjadi istrinya, haha aku hanya bercanda! Ah tidak- Dia memang benar-benar luamayan juga!
"Aku mohon, waktuku hanya tersisa 40 hari lagi, aku hanya ingin merasakan punya pacar setidaknya sekali seumur hidupku, walaupun aku sudah mati saat ini," ucapnya, ia kembali memohon padaku.
Aku yang tidak tega melihatnya, memilih untuk menyetujui permintaan terakhir pria itu. 40 hari, tidak terlalu lama juga, setidaknya ia bisa pergi dengan tenang, begitulah pikirku saat itu.
Kami mulai pacaran saat itu, dia sering mengajak aku jalan-jalan dan kencan di tempat favoritnya semasa hidup, benar-benar sangat menyenangkan.
Setelah satu bulan berlalu, aku mulai jatuh hati kepadanya. Hari-hari yang kami lalui bersama benar-benar membuatku terlena dan melupakan bahwa dunia kami sudah berbeda, kami tidak mungkin bersama, di dunia nyata.
Waktu kami bersama hanya tersisa kurang dari 10 hari, aku benar-benar merasa ketakutan jika ia menghilang selamanya dan aku tidak akan penah bisa bertemu dengan dirinya lagi.
"Linda, terima kasih sudah mau memenuhi keinginan terakhirku," ucapnya saat kami sedang berbaring di bawah langit memandangi jutaan bintang.
"Waktuku sudah tidak banyak lagi, besok aku akan pergi. Aku harap bisa melihatmu suatu saat nanti," sambungnya.
Aku lupa jika arwah hanya punya 40 hari untuk tetap berada di dunia manusia, waktu kami bertemu saja sekitar 3 hari setelah kematiannya. ditambah lagi aku sempat mengabaikan ia selama satu minggu. Kami pacaran sudah satu bulan, jika perhitunganku tidak salah, harusnya hari ini atau esok ia sudah akan pergi meninggalkan aku selamanya.
"Kau menangis? Mengapa?" tanyanya, saat melihat aku menitihkan air mata. Ia bangun kemudian duduk di sampingku.
"Aku mencintaimmu, jika ada kehidupan selanjutnya. Tolong jadilah kekasihku lagi, aku janji tidak akan pernah melupakanmu," ucapnya. Air mataku kembali mengalir.
Ia menyekanya, aku walaupun aku tidak bisa merasakan sentuhannya sama sekali. Hatiku benar-benar sangat rapuh saat itu.
Ia mendekapku yang tengah berbaring, aku mulai kehilangan kesadaranku dan kemudian tertidur dalam dekapannya. Terasa hangat walaupun tidak nyata.
Keesokan harinya, ia menghilang, aku tidak bisa melihatnya di manapun lagi, hatiku benar-benar hancur.
"Berita selanjutnya datang dari pebisnis terkenal dari kota ini, Arga Stevano, beliau secara resmi mengumumkan bahwa putranya yang koma karena kecelakaan bulan lalu sudah kembali siuman. Beliau juga mengucapkan syukur kepada tuhan dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah mendoakan yang terbaik bagi putranya."
Aku mematung di depan televisi ketika melihat berita tersebut.
***
Agustian Stevano, nama yang tertulis di atas batu nisan yang kini tengah aku pandangi dengan cinta. Aku bahagia bisa mengenalnya walaupun hanya sebentar, aku bahagia bisa bersamanya walaupun hanya sesaat, dan aku sangat bersyukur bisa menemukan sosok pria seperti dirinya.
"Ibu, ayo pulang," seorang pria gagah menghampiri aku dan langsung menggandeng tanganku untuk memasuki mobil.
"Sudah 20 tahun semenjak kepergian ayah, apakah ibu masih mencintainya? Ibu selalu saja menangis setiap kali kita ke makamnya," tanya pria gagah itu.
Aku hanya tersenyum memandangi putra semata wayangku itu, putra kesayanganku, buah cinta yang ditinggalkan pria itu untukku.
Aku masih mencintai laki-laki yang telah menikahi aku 60 tahun silam, sosok arwah yang tiba-tiba saja menjadi orang nyata di kehidupanku. Takdir benar-benar tidak terduga.
.........................................................TAMAT.....................................................
Hai, jangan lupa tinggalkan jejak jika suka karangan ini😘
Jika berkenan mampir ke novel-novel karangan saya😉