Di daerah pegunungan tinggi nan dingin. Terdapat tenda tempat tinggal bagi kaum nomaden. Yanca adalah salah seorang dari kaum tersebut. Perempuan berusia 21 tahun itu sudah hidup seperti itu sedari kecil, mengikuti jejak orang tuanya yang suka berpindah-pindah. Setiap minggu, sudah ada beberapa tempat yang mereka pijaki. Kehidupan yang berpindah-pindah tersebut, membuat Yanca tahu akan wilayah-wilayah yang telah di datanginya tersebut. Sehingga Yanca merasa hapal dengan berbagai kondisi yang ada dan mampu bertahan hidup dimana pun.
"Besok kita akan pergi. Jadi tidurlah lebih awal." ucap sang ibu pada anaknya yaitu Yanca.
Perempuan itu menganggukkan kepala sebagai respon atas ucapan dari ibunya tadi.
Yanca pun menuruti apa yang disuruh ibunya. Dan dia pun tidur di tenda yang berada di kawasan dingin tersebut.
Esok harinya, Yanca bangun dan melipat selimut tebalnya. Memakai jubah berbulu tebal, ia bergegas keluar tenda.
"Selamat pagi."
Salam dari Yanca tidak ditanggapi oleh satu orang pun. Perempuan itu sadar bahwa tidak ada seorang pun di sekitarnya.
"Kemana mereka semua?" tanya Yanca yang kebingungan.
Berjalan sembari melihat keadaan di sekitarnya. Tidak ada seorang pun. Baik di tenda maupun di area luar. Yanca bingung dan mulai gelisah.
"Apa mereka meninggalkanku? Tapi itu tidaklah mungkin kan? Jadi kemana mereka semua?!"
Yanca bertanya-tanya dan dirinya terduduk diam meratapi nasibnya.
"Tidak mungkin! Kemana mereka semua?!"
Saat pandangannya tertuju ke bawah, seketika dirinya sadar bahwa ada jejak kaki di dekatnya. Hal itu menjadi petunjuk bagi Yanca untuk menelusuri jejak yang ada.
"Oh ya! Dengan jejak ini aku bisa menyusuli mereka." tutur Yanca.
Perempuan itu akhirnya pergi dengan mengikuti jejak kaki yang ada. Tak lupa dirinya membawa perlengkapan agar bisa menjaga diri ketika berada di perjalanan.
Perjalanan memakan waktu cukup lama, sehingga membuat Yanca mulai merasa lelah.
"Tempat seperti apa yang mereka datangi?" tanya Yanca dalam hati.
Melangkah dan terus melangkah. Pergerakannya terhenti dikala dirinya melihat sesuatu di depannya.
"Sebuah bangunan?"
Yanca coba berjalan mendekat.
Akan tetapi, langkahnya terhentu kembali. Sebab ia melihat beberapa orang asing keluar dari tempat itu. Melihat pergerakan dari orang asing tersebut. Yanca masih bersembunyi dibalik pepohonan yang ada.
"Apa yang mereka lakukan?" bisik Yanca.
Dalam sekejap, Yanca ditarik oleh seseorang dari belakang sambil menutupi mulutnya. Ia berusaha untuk berteriak, namun tetap tidak bisa.
Di area yang cukup berjarak dari lokasi tempat dimana Yanca mengintip sebelumnya, dirinya dilepaskan oleh orang yang menyekapnya itu.
"Siapa kau?! tanya Yanca dengan nafas tak teratur.
"Aku adalah Teji, seorang pengamat lingkungan. Maaf sebelumnya karena telah membawamu kesini." ucap orang itu.
Yanca menjauhi lelaki itu dan mengacungkan sebuah sabit ke arahnya.
Teji yang melihat itu, langsung mengangkat kedua tangannya dan berusaha untuk menjelaskan maksud tujuannya pada Yanca. Lelaki itu mulai menceritakan mengenai pribadinya dan juga apa yang dilakukannya di daerah tersebut. Yanca mendengarkan sambil berjaga-jaga dengan senjatanya.
Usai bercerita panjang lebar, akhirnya Yanca mengetahui maksud tujuan dari seorang Teji.
"Mereka sedang melakukan penebangan liar disini. Jadi intinya aku harus memperhatikan kegiatan ilegal disini sebagai bukti, lalu melaporkannya kepada pihak berwajib."
Yanca tidak mengetahui soal hukum yang dianut oleh Teji, tetapi dirinya tahu bahwa lelaki itu tengah melakukan perbuatan baik demi menjaga alam di kawasan itu. Perempuan itu berdiri dan menyimpan sabitnya. Ia mendekati lelaki itu dalam beberapa langkah, dan mengajaknya untuk membantu dirinya juga.
"Kamu bisa membantuku? Aku sedang mencari para kerabatku yang mengarah kesana."
"Ke tempat itu?"
"Menurut jejak kaki yang aku lihat, mereka memang ke arah sana." kata Yanca pada Teji.
"Baiklah. Mari kita bekerja sama dalam hal ini." balas Teji.
Yanca mengangguk seolah setuju. Kemudian mereka berdua pun pergi ke lokasi tujuan.
Yanca dan Teji menghabiskan waktu dengan memperhatikan kegiatan yang ada disana. Lalu mereka menyusun rencana mengenai tindakan yang akan mereka lakukan nanti.
Yanca masih penuh harap agar para kerabatnya bisa ditemukan secepat mungkin. Dan Teji membantunya sekaligus menjalani tugasnya.
"Kita tidak melihat para kerabatmu ada disana. Tapi apa kamu yakin mengenai jejak kaki itu?" tanya Teji pada Yanca.
"Aku yakin sekali. Sebab mereka tidak mungkin meninggalkanku secara tiba-tiba dan pergi ke suatu tempat asing seperti itu." jawab Yanca.
Teji mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang telah terjadi pada kerabat Yanca. Jadi ini adalah dua tugas untuk Teji, dan hal itu merupakan tugas yang tidak mudah. Tetapi Teji tetap optimis dan berusaha sebaik mungkin demi menyelesaikan tugasnya, sekaligus membantu perempuan bernama Yanca ini.
Keduanya sudah saling kenal setelah Teji menjelaskan mengenai dirinya dan tugasnya. Dan hubungan antar keduanya mulai terbentuk seiring waktu berjalan.
Pada malam hari di sebuah tenda, Yanca terbangun dari tidurnya. Ia melihat Teji tengah tidur dengan pulas. Dirinya coba keluar dengan meminimalisir suara agar orang disebelahnya tidak terbangun. Setelah itu, ia kembali mengamati aktivitas yang ada di bangunan asing tersebut. Ditengah udara dingin, ia tetap melakukan pengawasan dari tempatnya berada.
Tak berala lama berselang, terlihat beberapa orang keluar dari bangunan itu. Dan ada satu hal yang membuat Yanca terkejut.
"Itu...Mereka?!" matanya terbelalak melihat apa yang ada di hadapannya kini.
Para kerabatnya di bawa oleh para orang asing itu ke suatu tempat, dan terlihat pula rantai pada tangan mereka semua.
"Aku tidak akan biarkan mereka melakukan hal itu pada kerabatku!"
Yanca mengambil sabit, lalu mulai bergerak ke depan.
Baru beberapa langkah, Teji datang dan menghalau pergerakan perempuan itu.
"Apa yang kamu lakukan, Yanca?!" tanya Teji sambil menahannya.
"Mereka membawa keluargaku!" Yanca berusaha lepas dari halauan Teji.
"Jika kamu kesana, mereka akan membunuhmu! Tenangkan dirimu dahulu." kata Teji sekaligus membawa Yanca menjauh.
"Kenapa kamu menghalauku?! Aku tidak ingin hal buruk terjadi pada mereka!" ucap Yanca dengan emosi.
Teji langsung memeluknya dan berkata.
"Aku juga tidak ingin hal itu terjadi. Tapi jika kamu berbuat tanpa pemikiran matang, itu akan melukai dirimu sendiri."
Perempuan itu menangis dan melepaskan senjatanya. Teji coba menenangkannya sejenak, lalu menyusun rencana setelahnya.
"Waktu kita tidak banyak kalau sudah begini. Aku punya rencana. Jadi kamu ikuti saja apa yang aku katakan ya."
Teji menjelaskan rencananya untuk menyelamatkan para kerabat dari Yanca tersebut. Kemudian, mereka pun mulai bergerak.
Yanca dengan perasaan khawatir, coba untuk menenangkan diri selagi menjalani tugasnya sesuai dengan rencana dari Teji tadi.
Pergerakan mereka masih berjalan mulus tanpa diketahui oleh orang-orang yang berada disana. Teji berhasil mendapatkan apa yang dia butuhkan. Dan hanya tinggal satu tugas lagi, yaitu penyelamatan para kerabat Yanca.
Mereka terus memantau tempat dimana para kerabat Yanca berada. Teji berinisiatif untuk mengalihkan para orang yang ada disana, lalu Yanca akan bergerak sesudahnya untuk membebaskan kerabatnya itu.
Pengalihan berhasil dilakukan oleh Teji. Kini giliran Yanca untuk bergerak.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Yanca dengan perasaan sedih.
"Tahu dari kamu bahwa kami ada disini?" tanya ibunya.
"Nanti aku akan jelaskan. Sekarang kalian ikuti aku." kata Yanca sembari melepaskan rantai yang melekat di tangan para kerabatnya.
Usai membebaskan mereka, Yanca bergegas keluar dari tempat itu disusul oleh para kerabat. Sekarang Yanca sudah berhasil menjalani tugasnya. Teji yang mengetahui itu ikut senang, lalu menyusul Yanca dari belakang.
Sayangnya, pergerakan Teji di ketahui oleh orang-orang yang berjaga disana. Lelaki itu dikejar oleh beberapa orang dengan senjata api.
Yanca yang melihat itu dari kejauhan, langsung bergerak ke arah Teji untuk menyelematkannya.
"Apa yang kau lakukan nak?!" tanya sang ibu.
"Aku harus menyelamatkannya." jawabnya.
Bergerak dengan cepat, Yanca memegang kuat senjata yang dimilikinya. Sabetannya mengenai beberapa orang dari belakang dan menghentikan pengejaran itu. Teji melihat aksi dari Yanca tersebut. Tak berapa lama kemudian, muncul beberapa orang lagi dari berbagai arah. Karena dirasa banyaknya lawan yang akan dihadapi, Teji menarik tangan perempuan itu dan membawanya masuk ke dalam hutan belantara.
Dalam gelapnya malam, mereka berdua lari seiring dikejar oleh para penebang liar tersebut.
Pegangan tangan yang erat dari Teji membuat Yanca sadar betapa tulusnya lelaki itu dalam menolongnya.
"Dia benar-benar melakukannya dengan hati yang tulus?" gumamnya dalam hati.
Suara tembakan terdengar, membuat Teji dan Yanca panik. Hingga satu peluru mengenai kaki dari Teji. Lelaki itu seketika jatuh tersungkur.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini!" seru Teji pada Yanca.
Perempuan itu menolak dan bersikeras untuk menolong seorang Teji. Akan tetapi lelaki itu tetap menyuruhnya pergi dan memberikan beberapa barang bukti pada Yanca.
"Berikan ini pada seorang temanku yang tinggal di kota arah utara dari sini. Ini alamat lengkapnya."
Teji memberi secarik kertas pada Yanca.
Kemudian perempuan itu pergi dengan rasa sesal.
"Maafkan aku, Teji."
---
Beberapa hari berselang...
"Terimakasih atas laporan darimu. Jadi kami bisa mengatasi masalah ini dan membawa mereka ke pengadilan."
Yanca merespon dengan anggukan.
"Dan terimakasih juga telah membantu temanku." lanjutnya dengan senyuman tipis seraya menahan tangis.
Setelah itu Yanca beserta kaumnya mulai pergi ke tempat lain untuk melanjutkan kehidupannya yang nomaden itu.
"Teji, aku akan selalu mengenang jasamu hingga akhir khayatku ini. Sampai jumpa di kehidupan lain, wahai pahlawan."
-----SELESAI-----