Sore ini rahman harus pulang lebih cepat tidak seperti biasanya dari tempat kerjanya yang biasanya selalu saja hampir menjelang malam karena tuntutan mengerjakan tugas kantornya yang selalu saja banyak dan harus mengikuti harapan pimpinan perusahan dimana dirinya bernaung.
Langkah kakinya yang panjang menelusuri jalan yang cukup ramai maklum saja dia memiliki postur tubuh yang tinggi dan cukup dibilang ideal dengan kulit putih bersih ditambah rambut yang terbilang gondrong yang diikat asal menambah kharisma cowok metropolis tapi sayang sikap dingin dan cuek lebih mendominasi dirinya terutama pada lawan jenis.
Saat ini dia sudah berada di stasiun kereta listrik yang sore ini terbilang sangat ramai maklum saja jam pulang kerja karyawan, sebenarnya dia malas harus berdesakan dengan penumpang yang lainnya, tapi waktu tidak memungkinkan dirinya untuk beralih dengan alat transportasi lainnya karena menurut dirinya mengunakan kereta akan lebih cepat dirinya sampai dirumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan mempersiapkan apa saja yang akan dia bawah untuk keperluannya di negeri sakura karena tugas yang harus dia jalankan dari perusahaan yang mempekerjakan dirinya, disana dirinya akan menjalankan tugas sesuai ilmu yang dia dapatkan di bangku kuliahnya yang berhubungan dengan seni dan gambar yang jelas tujuannya bukan untuk jalan-jalan tapi perjalanan tugas dinas dari perusahaan dan ini pertama kalinya dirinya berkunjung ke negeri sakura yang sebenarnya dulu hanya cuma sekedar angan semata tapi tuhan mengabulkan angannya dengan lewat perjalanan dinas yang semuanya sudah direkomendasikan baik dari segi biaya hidup maupun penginapan, sebenarnya ada rasa beban yang harus dia emban tapi menurutnya ini kesempatan tidak akan datang dua kali pada dirinya.
Dengan tidak memperhatikan sekitarnya dia lebih fokus pada kedatangan kereta yang akan mengantarkan dirinya untuk cepat tiba dirumah agar lebih cepat bersiap diri sebab besok harus mengambil jam penerbangan pagi sesuai tiket yang sudah di siapkan oleh pihak kantornya.
Terdengar bisik-bisik orang yang sepertinya membicarakan seseorang yang baru saja tiba sepertinya orang tersebut tidak menyadari penampilan dirinya yang saat ini jadi pusat perhatian banyak orang yang saat ini sangat ramai yang jelas mempunyai satu kepentingan ingin naik kereta menuju tujuannya masing-masing.
Sekeras-kerasnya hati seseorang pasti ada sedikit rasa empati pada sesama itu yang saat ini rahman tunjukkan dengan tanpa berpikir dia melepaskan jaket yang berbahan kaos yang dia kenakan menutupi bagian belakang cewek yang terdiri tidak jauh dari dirinya.
"Maaf..bukan saya tidak bermaksud tidak sopan pada mba.." ucap rahman dengan sedikit berbisik pada cewek yang jelas-jelas kaget dengan perlakuan yang rahman berikan padanya yang langsung mengikat jaket kaosnya melingkar menutupi bagian tubuh belakangnya.
"Memang ada apa ya..mas?" balas cewek itu dengan sedikit kaget dan berbisik bertanya pada rahman.
"Ada noda di baju mba.." balas rahman dengan suara pelan hanya keduanya yang dapat mendengarnya.
"Astagfirullah...makasih mas.." dengan muka malu cewek itu menundukkan wajah cantiknya yang memerah.
"Sama-sama..." dengan senyumnya rahman sepertinya menenangkan cewek yang berada didekatnya agar lebih tenang dengan harapan tidak lagi jadi pusat perhatian orang sekitarnya.
Senyum yang rahman berikan itu tidak seperti biasanya dia berikan kepada orang yang baru dikenalnya apa lagi ini lawan jenisnya yang jelas ini momen langkah bagi dirinya menurut dirinya, tapi ada rasa senang bisa membantu itu yang lebih dia rasakan.
Tidak lama kereta datang dan keduanya pun naik dan dalam satu gerbong yang sama tapi rahman sudah seperti biasanya dengan karakter aslinya yang cuek dan coolnya, tanpa banyak bicara begitu pun dengan cewek yang di tolonglah yang sepertinya dia malu dengan situasi yang tidak membuatnya nyaman saat ini.
Posisi rahman yang sama-sama berdiri dengan cewek itu tapi sepertinya rahman memberikan perlindungan pada cewek itu terbukti dengan dia lebih memberikan jarak pada cewek itu dari penumpang lain agar tidak bersentuhan dengan lawan jenis darinya agar tidak berdesakan dengan tubuhnya yang terbilang mungil dengan paras manis yang dia miliki dengan mengenakan gamis dan hijab yang menutupi kepalanya.
Kereta bergerak tanpa terasa melewati beberapa stasiun dan saat ini tiba dimana stasiun cewek itu harus turun dan dengan sopan berpamitan pada rahman dengan suara sopannya.
"Maaf mas saya turun duluan terimakasih atas bantuannya..maaf dengan mas siapa ya...?" dengan menunduk cewek itu bertanya.
Tapi sayang belum sempat rahman menjawab permintaan cewek itu penumpang dari luar sudah mendorongnya dan mau tidak mau dia harus turun dari kereta dan hanya senyum yang rahman berikan tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang merah lagi tipis.
Hanya tatapan rasa bersalah yang cewek itu tunjukkan itu yang rahman lihat dengan laju kereta yang sudah mulai bergerak lagi tanpa memperdulikan seseorang yang telah kecewa.
Setiba di rumah Rumaisha itu nama cewek yang ditolong rahman memeriksa pakaian yang dia kenakan dengan balutan jaket milik seorang cowok yang belum tahu namanya.
"Astagfirullah...pantas saja mas itu langsung menutupi gamis ku...karena ini.." oceh rumaisha yang terdengar oleh mama dan kedua kakaknya.
"Kenapa sha...!!" dengan khawatir mama mendekat ke arah rumaisha yang hanya tersenyum penuh arti.
"Ini jaket siapa sha..?" mika kakak kedua rumaisha bertanya penasaran.
"Cie...cie ade kita udah gede rupanya...udah ada yang naksir sepertinya ni.." dengan mencubit pipi rumaisha kinan kakak pertama rumaisha ikut menggodanya.
"Ga..gitu kak ceritanya.." rumaisha membela diri dan menjelaskan duduk persoalannya.
Ternyata rumaisha adalah seorang dokter yang baru saja pulang berdinas dan saat akan pulang di perjalanan dia membantu seseorang yang mengalami kecelakaan dan darah korban yang kebetulan menempel pada bagian belakang gamis miliknya yang jelas akan di nilai orang yang tidak mengetahui kejadiannya pasti mengira itu darah dirinya yang sedang datang bulan.
Mama dan kedua kakak rumaisha masih tetap menggodanya dengan candaan yang membuat rumaisha malu tapi kenapa dia senang keluarganya menggodanya yang menjodohkan dirinya dengan cowok yang tidak di kenalnya itu.
Di tempat lain, rahman yang sudah selesai merapikan keperluan keberangkatannya ke jepang duduk santai di ruang keluarga bersama bapak dan ibunya yang kebetulan sedang menonton tv.
"Mas...seingat ibu kau pergi pake jaket tapi ibu cari tidak ada di baju kotor ya...dimana mas taro?" tanya ibu yang terbilang sangat memperhatikan apapun yang di gunakan anaknya.
"Oh..itu mas tinggalkan di kantor bu.." rahman berbohong pada ibunya yang sebenarnya ini tidak biasa dia lakukan.
"Oh..gitu..ibu kira tertinggal dimana.." dengan tersenyum ramah seperti biasanya ibu tunjukkan.
"Benar...besok jadi berangkatnya...?" tanya bapak dengan suara khasnya yang jarang banget bicara.
"Jadi pak...oh..ya pak tolong sampaikan sama ade mas ga bisa pamit langsung lewat ponsel susah di hubungi.." rahman dengan tangannya menunjukkan seperti orang menelepon.
"Oh...ya sepertinya ade sedang praktek di rumah sakit biasanya dia akan balas pas dia tidak sibuk mas.." bapak menjelaskan dengan tetap fokus ke layar tv.
Hari sudah berganti hari tapi rumaisha tidak dapat bertemu lagi dengan cowok yang menolongnya, dia ingin mengembalikan jaket miliknya, entah sudah beberapa kali jaket itu turut serta tapi belum bisa kembali pada pemiliknya yang menurut rumaisha seperti menghilang dan kejadian beberapa waktu yang lalu itu menurutnya tuhan mengirimkan dewa penolong untuk dirinya tanpa harus bertemu lagi menurutnya.
Kini sudah hampir lebih dari enam bulan lamanya hingga rumaisha sudah enggan membawa jaket itu dan sudah tidak ada lagi harapan untuk dirinya bertemu lagi pikirnya, hanya berpikir cowok itu seseorang yang dikirim tuhan untuk menolongnya dari rasa malu dari pandangan orang saat itu tidak untuk mengenalnya ucap rumaisha dalam diam menunggu kereta yang akan mengantarkan dirinya pulang ke rumah yang dirindukan saat penat yang mulai dia rasakan.
"Alhamdulillah...ga telat.." ucap seseorang yang dari suaranya rumaisha seperti tidak asing pikirnya.
Belum sempat rumaisha mencari sosok yang di carinya, ke datangan kereta membuat semua orang berlarian masuk kedalam gerbong, berhubung tubuh rumaisha mungil dia tidak dapat kebagian tempat duduk sebab kalah cepat untuk masuk gerbong dan tanpa di duga orang yang di belang dirinya sepertinya memanfaatkan dirinya untuk bermaksud yang merugikan dirinya tapi lagi dan lagi keberuntungan berpihak pada diri dari orang yang sama yang memberikan bantuan untuk dirinya lagi.
"Mba..silakan duduk.." pinta rahman yang sepertinya lupa sama cewek yang di persilakan untuk duduk di kursi yang dia duduki pada awalnya.
"Mas...oh ya terimakasih.." ucap rumaisha yang kali ini sepertinya tidak mau melepaskan kesempatan yang berharga ini menurut dirinya.
"Mas..maaf boleh saya minta nomor ponsel mas...saya mau mengembalikan jaket milik mas.." pinta rumaisha menjelaskan dengan suara dan muka sopan.
"Oh...mba yang..." rahman tidak menjelaskan lagi sebab dia tahu ini tempat umum.
"Ya..bolehkan..?" pinta rumaisha dengan sedikit malu tapi harus bagaimana lagi.
"Ehm...gimana ya..boleh deh.." dengan candaan yang bisanya dia tidak pernah tampakan.
Akhirnya keduanya saling bertukar nomor ponsel dan dari sini keduanya intens saling bertukar kabar dan saling kenal pribadi masing-masing walaupun hanya bisa bertemu di kereta tapi kenapa keduanya merasa nyaman satu sama lain padahal keduanya dari dunia yang berbeda tapi ada saja yang membuat keduanya seperti dua jiwa yang tuhan ingin satukan lewat ikatan halal yang tidak di rencanakan oleh keduanya.
Rumaisha yang selalu jadi godaan kedua kakaknya yang sudah memiliki pasangan dan berharap rahman yang akan jadi teman hidupnya sebab dari cerita yang rumaisha sampai rahman sosok yang pelit bicara tapi lebih banyak melindunginya saat bersama dengan dirinya.
Kesibukan keduanya membuat keduanya hanya bisa bertukar kabar lewat ponsel itupun tidak intens tapi keduanya seperti yakin akan tuhan satukan.
Terutama rahman yang awalnya lebih memandang lawan jenis yang dia kenal itu hanya ibu dan orang yang ada hubungan kekerabatan dan rekan kerja itupun sebatas tugas tidak lebih.
"Bu...kalau mas harus bertemu seseorang yang cocok ibu setuju ga..?" rahman dengan ragu mengeluarkan isi hatinya yang sebenarnya malu yang dia rasakan.
"Mas...siapa pun itu ibu setuju yang penting seiman dan ada rasa saling sayang diantara kalian berdua..ibu bapak tidak akan ada masalah.." ucap ibu dengan mengusap kepala rahman yang kebetulan tiduran dibangkitkan ibunya.
" Terimakasih bu..untuk semua do'a dan dukungan untuk mas yang belum banyak memberikan ibu kebahagian.." rahman sedikit terisak.
"Ibu yakin...mas sudah mempertimbangkan baik buruknya dan siap menjalankan tugas seorang imam itu seperti apa" ucap ibu yang sepertinya yakin dengan pilihan anaknya.
Rahman semakin terisak mengingat bagaimana dirinya yang semaunya sendiri saja dan sedikit banyak pernah melukai hati kecil ibunya, dialah wanita pertama yang dia kenal yang sangat sabar dalam menjaga dirinya yang selalu terjaga saat dirinya belum pulang ke rumah tanpa ada mengeluh terucap dari bibirnya selain do'anya agar dirinya jadi anak sholeh yang takut dan taat pada tuhan.
"Kapan akan mas kenalkan sama ibu..?" tambah ibu lagi dengan tersenyum berharap cewek itu dapat mengantikan tugasnya mendampingi anak laki-lakinya, yang sangat istimewa menurutnya sebab terlalu cuek dalam segala hal.
Dan benar saja rumaisha yang di minta untuk bisa menemui ibunya di buat terkejut sebab tanpa basa basi rahman meminta rumaisha harus bertemu ibunya yang kebetulan juga sedang ada keperluan di salah satu mall.
Dan pertemuan dua wanita ini sangat membuat rahman senang sebab ibunya yang seorang yang mudah bergaul sangat mudah akrab dengan rumaisha yang baru pertama kali dia kenalkan.
Begitupun dengan rumaisha yang sangat senang sebab ibunya rahman sangat hangat dan mudah akrab dengan dirinya.
"Mau jadi mantu ibu sebab anak ibu itu sangat cuek ibu takut neng kecewa nantinya..." ibu menjelaskan dengan muka yang saat ini terlihat serius dan dengan penuh harapan dari rumaisha.
"Memang seperti itu ya..bu mas orangnya.." ucap rumaisha yang membuat rahman hanya bisa tersenyum malu.
"Ibu harap neng...banyak maklum sebab anak ibu tidak sempurna dan lebih terlihat datar seperti itu.." ibu menambahkan.
"Ibu..." ucap rahman yang makin malu.
"Ibu ga mau rumaisha menyesal di kemudian hari biar ibu kasih tahu terlebih dahulu siapa anak ibu..kalaupun suatu saat menerima mas harus siap menerima kekurangan mas juga.." ibu makin membuat rumaisha terkagum sebab dia tidak memberikan penilaian kalau anaknya sempurna tapi memiliki kekurangan yang harus pasangannya tahu mulai dari awal.
"Bu..sha juga bukan pribadi yang sempurna tapi akan berusaha menjadi pribadi yang saling melengkapi dalam segala hal..dan terimakasih ibu sudah menjelaskan siapa mas rahman.." ucap rumaisha yang membuat ibu dan anaknya hanya bisa terkagum-kagum dengan pribadi rumaisha yang tidak menilai dari sudut materi tapi pribadi yang berharap untuk saling melengkapi dan saling terbuka dari awal dengan harapan untuk jadi dua pribadi yang saling melengkapi dan saling menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan tuhan bukan pribadi yang egois yang menuntut sempurna pasangannya.
Ternyata garis takdir sudah tertulis oleh tuhan dengan sebaik mungkin hanya kita manusia yang terkadang berpikir bodoh menyalahkan tuhan yang menurut dirinya tidak adil atas perjalanan takdir atas dirinya dari tuhan.
Sebab manusia lebih berharap apa yang dia mau sesuai maunya menurut dirinya, padahal jalan tuhan-Nya lah yang sebaik-baiknya takdir yang terbaik sesungguhnya untuk dirinya.
Dan ingatlah sebab tidak ada yang kebetulan dalam hidup semua atas ijin tuhan apapun yang terjadi di muka bumi ini, jadi lebih banyak berbaik sangkahlah pada tuhan bukan mencela tiap hal yang terjadi pada dirimu, sebagai proses untuk terbaik menerima takdir dari tuhan.