PESAN CINTA
Corona Virus. Mendengarnya saja sungguh mengerikan. Makhluk tak kasat mata itu sangat menakutkan. Seperti hantu di gelap malam. Mungkin lebih menakutkan dari itu karena mengintai dimana pun kita berada. Ia seperti zombie, yang dapat menular ke setiap orang yang bertemu.
Sejak keberadaannya di akhir tahun 2019 lalu, dan setahun lebih ia sudah memakan lebih dari jutaan jiwa. Banyak yang terpapar, terbaring di rumah sakit, namun tak sedikit yang memilih mengisolasi diri di rumah.
Hal itu juga yang aku lakukan. Tak disangka ini terjadi padaku. Dua hari setelah pertemuan dengan seorang teman, aku mendapat kabar bahwa ia positif Covid. Secara otomatis aku pun sadar, aku pernah berinteraksi dengannya. Dan aku berstatus OTG, Orang Tanpa Gejala.
Suamiku menyarankan agar aku melakukan rafid tes. Aku sangat ketakutan. Wajahku pucat. Pikiranku menerawang pada kematian.
“Tidak! Aku tidak mau. Aku takut!” Kataku gemetar.
“Sayang… kamu harus dirafid, biar kita tau kondisi kamu. Kamu tidak usah takut. Aku akan menemanimu” ucap suamiku lembut. Ia meyakinkanku bahwa semua baik-baik saja.
Aku pun memberanikan diri untuk melakukan rafid di rumah sakit yang ada di daerahku. Sebelumnya aku diperiksa suhu tubuh dan tekanan darah. Tidak lama hasilnya pun keluar.
Aku reaktif.
Seketika duniaku runtuh membaca hasil lab. Pikiran jelek memenuhi benakku. Hal menakutkan seperti berita-berita di televisi ada di hadapanku dan aku mengalaminya.
Namun, aku sadar ketika lelaki di sampingku menguatkanku. Suamiku.
“Tenanglah… semua akan baik-baik saja. Hilangkan segala pikiran jelek dan jangan takut!” kata-kata itu menjadi penenang bagiku.
Aku pun memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Beruntung suamiku negatif.
Kondisiku sehat dan bugar. Aku hanya perlu menjaga daya tahan tubuhku dengan beristirahat dan memakan makanan yang bergizi juga vitamin agar kuat melawan virus yang ada di tubuhku.
Aku tidur di dalam kamar seorang diri. Sedang suamiku di ruang TV. Ya, kami memutuskan untuk menghadapi ini bersama. Ia tidak ingin aku sendiri, sehingga ia memilih untuk tetap di rumah bersamaku.
Di rumah hanya kami berdua, karena memang kami belum dikaruniai momongan. Usia pernikahan kami sudah 5 tahun, namun Tuhan belum mempercayakan malaikat kecil dalam rumah tangga kami. Kami akan selalu bersabar menantinya.
Aku sangat beruntung memiliki suami seperti dia, yang selalu mensupportku. Walau aku belum memberikan kebahagiaan lengkap untuknya.
Ia selalu percaya akan takdir Tuhan. Bila Tuhan sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Suatu hari nanti, kami pasti akan mendapatkan keturunan.
*****
Satu pekan berlalu. Suamiku mengurusku dengan baik. Ia mengambil alih semua pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci piring dan pakaian, bersih-bersih rumah, sampai memasak.
Bukannya dia tidak bekerja. Selama pandemi ini, ia melakukan pekerjaannya di rumah. Dia seorang guru dan pembelajaran dilakukan secara daring. Kadang rapat dewan guru pun dilakukan melalui zoom meeting.
Ya, semua memang ada hikmahnya bila kita selalu berhusnuzhon pada kebijakan Tuhan.
"Sayang, makan ya!” Suamiku membuka pintu kamar. Tangannya membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauk pauknya, hasil masakannya. Juga segelas air putih dan vitamin yang harus aku minum.
“Oh, ya, terima kasih, sayang.” Kututup laptop setelah menyelesaikan ceritaku dan menyambut nampan yang dibawanya.
Begitulah kegiatanku selama isoman. Agar aku tidak bosan, suamiku membiarkan aku melakukan hal yang membuat aku senang. Membaca novel online, membuat cerpen, menonton drama korea kesukaanku, bahkan bermain game di ponselku.
Inilah kata suamiku. Buatlah dirimu happy dan tetap berpikir positif untuk sehat. Itu dapat mempercepat penyembuhan dan meningkatkan sistem imun di dalam tubuh. Sehingga tubuh dapat melawan virus. Menurut penelitian, 70% kesembuhan berasal dari pikiran positif.
Selain obat, doa dan dukungan dari orang-orang terdekat mampu memberikan energi positif bagi orang yang sakit.
Hal itu yang dilakukan suamiku, orangtuaku, saudaraku, juga teman-temanku. Mereka menyemangatiku melalui pesan cinta yang dikirimkan lewat chat atau video call di aplikasi WhatsAppaps setiap harinya. Dengan begitu aku tidak merasakan kesepian.
14 hari setelah isolasi mandiri, pada hari ke 15 aku melakukan tes kembali. Untuk memastikan kondisiku. Hasil lab pun menyatakan aku negatif.
Aku pun berucap syukur pada Allah, bisa terbebas dari virus mematikan itu. Suamiku memelukku erat. Dapat aku rasakan kerinduannya. Aku pun sama merindukannya.
Sungguh… doa dan dukungan melalui pesan cintanya seperti sihir yang membangkitkan semangatku untuk hidup.
Terima kasih suamiku, juga orang-orang yang aku sayangi, atas pesan cinta kalian.
~ END ~
Latepost, terinspirasi kejadian tiga bulan lalu....
=====
Teruntuk kalian semua dimana pun berada… saudaraku…. Teman-temanku, pesan cinta ini pun aku kirimkan.
Tetap semangat untuk sembuh ya…. Yakinlah badai pasti berlalu, hari esok lebih cerah, dan semua akan baik-baik saja. Yang utama adalah berdoa pada Allah SWT. dan tetap positif thinking.