Brakk..
Kecelakaan tidak dapat di hindari. Padahal hari ini adalah hari pernikahannya dengan sang pujaan hati. Dalam perjalanan menuju gereja mobil yang mengantarnya bertabrakan dengan Truk.
Mentari masih berusaha untuk tetap tersadar. Tanpa ia sadari setetes air mata turun dari sudut matanya. Ia merutuki dirinya yang kini hanya bisa tergulai lemas dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya.
Baju pengantin yang sebelumnya putih kini terkena bercak merah. Cukup mendominasi di gaun itu. Tubuhnya gemetar berfikir mungkin saja ini hari terakhir nya. Dalam kondisi nya yang setengah tersadar Lintang sang calon suami merupakan satu-satunya orang yang ia pikirkan sekarang.
Perlahan pandangannya mulai kabur. Ia bisa melihat banyak orang berlari ke arahnya meski sedikit kabur.
°°°
Pria itu berlari di koridor rumah sakit dengan jas hitam yang masih rapih. Namun keadaan wajah tampannya sudah kacau, air mata terus mengalir dari sudut matanya. Di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya.
"MENTARI!!!" Teriak Lintang saat sampai di depan ruangan tempat calon istrinya masih di tangani.
Ia menangis. Ayahnya yang berada di sana berusaha menenangkan anak semata wayangnya. Lintang benar-benar hancur. Gadis yang sangat ia cintai kini berada di ambang kematian.
Seperti film dokumenter. tiba-tiba kenangannya bersama sang pujaan hati berputar begitu saja dalam pikirannya. Janji mereka untuk menjalani hidup bersama dan awal pertemuan mereka. Hari demi hari yang mereka jalani bersama.
Tangisnya begitu lirih membuat orang-orang yang berada di sana merasa tak tega. Tak terkecuali, sang calon mertua orang tua Mentari. Mereka juga sangat menyesal membiarkan Mentari menumpangi mobil yang berbeda.
Lintang terduduk di atas lantai rumah sakit, pandangannya kosong menatap keramik putih itu. Sudah terlalu banyak air mata yang ia keluarkan untuk menangisi sang terkasih sampai rasanya air matanya sudah kering.
Orang yang ada di sana hanya bisa menangis, ada yang diam-diam menangis tanpa bersuara ada juga yang terang-terangan menangisi nasib buruk pasangan kekasih itu. Sampai akhirnya seorang wanita paruh baya ikut duduk di sisi Lintang. Di tangkup wajah tampan itu lalu di arahkan untuk menatap wanita itu.
Ibu Mentari tersenyum menatap sang calon menantu. Pandangan nya sayu berusaha untuk tetap tegar.
"Mentari itu kuat, dia pasti selamat!" ujar wanita itu berusaha menenangkan Lintang. Seolah mendapat kan kekuatan, senyum tipis terukir di wajah tampan itu. Lintang kemudian memeluk tubuh wanita paruh baya itu.
Keduanya menangis dalam diam.
°°°
Sudah satu minggu Mentari sadar. Namun,gadis itu masih terdiam enggan untuk di ajak berbicara. Padahal kata dokter Mentari baik baik saja. Ia bisa berbicara, hanya saja ia lumpuh tidak bisa berjalan seperti dulu. Untuk saat ini mungkin saja gadis itu masih mengalami trauma.
Lintang pria tampan itu tentu saja masih setia di sisi Mentari. Ia hanya akan pergi sesekali jika ada pekerjaan yang penting di kantor nya. Pria itu sangat berat untuk meninggalkan sang terkasih. Sehingga untuk dinas keluar kota akan di gantikan oleh orang kepercayaan nya.
Tangan pria itu merangkak menggenggam tangan putih Mentari. Membuat sang empunya menoleh menatap pria tampan yang duduk di samping bangsalnya. Lintang hanya tersenyum menatap Mentari yang kini menatapnya dengan tatapan sayu.
"Aku tau." Kata Lintang dengan suara yang sangat lembut.
Mentari hanya menatapnya datar. Ekspresi wajahnya begitu sulit di tebak.
"Kamu diem aja karena mau buat aku pergi dari kamu kan?" lanjutnya. "Kamu nggak mau, aku membuang waktu ku untuk terus berada di samping kamu yang sekarang kondisinya seperti ini." Lintang masih setia mengelus punggung tangan Mentari sambil sesekali tersenyum tipis.
Perlahan ekspresi wajah Mentari berubah. Mata indah nya perlahan memerah. Meneteskan air mata kesedihan, penyesalan, semuanya bercampur aduk. Terdiam ingin mendengarkan keluh kesah pria di depannya.
"Tapi percuma, kamu udah terlanjur menjadi prioritas utama dalam hidup ku."ujarnya masih menunduk mengelus punggung tangan wanita itu. "Kamu nggak sepatutnya begini Tar," Lintang menghela saat tetesan air mata Mentari jatuh di tangannya.
Menyeka air matanya Mentari mulai bersuara. "Tapi aku ini lumpuh. Nggak pantes buat bersanding di sisi kamu yang sempurna." suaranya bergetar. "Aku cuma akan merepotkan kamu,"
Lintang menggeleng, menangkup pipi Mentari sambil tersenyum manis. "Kamu itu sumber kekuatan ku. Sama sekali nggak ngerepotin aku."
Gadis itu terdiam. Jujur ia merasa senang memiliki pria seperti Lintang di sisinya. Tapi di sisi lain juga dia merasa bersalah membuat pria tampan ini terjebak dengan gadis lumpuh sepertinya.
Pria tampan itu mengeluarkan sesuatu di saku celananya. Menatap gadis di depannya intens.
"Kita mulai lagi ya," Lintang memasang cincin di jari manis Mentari.
Mentari hanya mengangguk lemas, meski sedikit berat untuk menerima lamaran Lintang. Rasa bersalahnya begitu besar, membiarkan Lintang terjebak dengan nya.
°°°
Pernikahan mereka terlaksana begitu sederhana berbanding terbalik dengan pernikahan sebelumnya yang sudah di persiapkan dengan matang dan mewah.
Tapi, Lintang senang setidaknya kali ini ia benar-benar bisa mempersunting gadis pujaannya.
Pengantin baru itu kini masih terdiam di kamar pengantin nya dengan Mentari yang masih duduk di kursi rodanya dengan baju pengantin sederhana berwarna putih dan Lintang yang duduk di atas tempat tidur menatap Mentari sembari tersenyum.
Keduanya gugup jujur saja karena ini malam pertama mereka.
Lintang tersenyum menangkup kedua sisi pipi Mentari. Membuat si gadis mengerjap 2 kali, merasa gugup. Mentari menelan Saliva nya berusaha menetralkan kegugupannya.
Perlahan namun pasti wajah Lintang maju meninggalkan jarak hanya beberapa inci di antara keduanya. Deru nafas keduanya beradu menjadi satu.
Cup,,
Lintang mencium bibir itu sekilas. Membuat Mentari melotot kaget. yang kemudian di balas senyuman manis oleh Lintang.
"Aku bakal pelan-pelan kok." ujarnya lalu mengangkat Mentari dari kursi rodanya. Sambil menautkan bibir keduanya.
Mentari perlahan mengalungkan tangannya ke leher Lintang dengan bibir yang masih tertaut. Lintang menindih Mentari di atas ranjang. tangannya mulai melepaskan gaun Mentari yang masih di kenakan. Lalu menanggalkannya ke sembarang arah.
Masih berada di atas Mentari, Lintang setengah berdiri melepas kemejanya. Lalu kembali mencium gadis di bawahnya. Malam itu merupakan malam yang panjang bagi keduanya.
°°°
Sudah setahun usia pernikahan mereka kini Mentari sedang mengandung anak kembar. usia kandungannya sudah 8. Menurut hasil USG anak mereka kembar laki-laki dan perempuan.
Kabar yang sangat membahagiakan kini mereka hanya tinggal menghitung hari. Namun, tubuh Mentari semakin terlihat memprihatinkan meski dokter mengatakan dia baik baik saja.
Di tambah Mentari hamil dalam keadaan lumpuh. Syukur Lintang menjaganya dengan sangat baik. Pria itu selalu berada di sekitar Mentari kapanpun dia membutuhkannya. Seperti sekarang keduanya sedang duduk di tengah rumah sambil mempersiapkan pakaian si kembar.
"Mas," ucap Mentari masih melipat pakaian anaknya sambil tersenyum.
"Hmm"
Mentari menatap pria di depannya. "Aku bisa percaya sama kamu kan? buat jaga anak2 kita"
"Kamu ngomong apa sih, ngaco deh." Lintang mengibaskan tangannya. "Bisalah kan jaganya sama kamu." lanjutnya.
Wanita itu hanya menatap suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu tersenyum tipis sambil mengelus perut buncitnya.
°°°
5 Tahun kemudian,,
"Papah!" teriak dua orang anak refleks membuat Lintang memutar balik tubuhnya. Ia tersenyum manis melihat dua malaikat kecilnya.
Duduk memeluk si kecil dengan tangan yang terbuka lebar.
"Kalian ini bukannya langsung ganti baju, malah nemuin papah dulu," Suara seorang wanita berjalan di belakang kedua anaknya. "Udah sana ganti baju dulu." Mentari menyuruh anaknya pergi.
Meski sedikit kesal kedua anak itu akhirnya menurut.
Lintang tersenyum melihat istrinya yang kini bisa berjalan seperti biasa. Berkat terapi yang teratur. Ya setelah melahirkan semangat Mentari untuk bisa kembali berjalan begitu besar.
Gadis yang dulu pernah menyerah untuk hidup. Kini bisa menjalani keseharian dengan normal.
Mentari gadis kuat yang sangat Lintang cintai dengan segenap jiwanya. Lintang sempat cemas ketika Mentari di ambang kematian setelah melahirkan si kembar Syukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk ikut membesar kan anaknya.
Mentari membalas senyuman Lintang dengan senyuman yang begitu cerah secarah sinar Matahari yang menyapa di pagi hari.
Lintang melangkah mengikis jarak di antara keduanya kemudian langsung memeluk tubuh kecil itu.
Hi terimakasih udah mampir. Bantu like dan Vote ya :').
Maaf kalo ceritanya nggak jelas dan masih banyak kekurangan karena ini cerpen pertamaku :( . Saran dan kritik saya terima untuk mengembangkan karya tulis saya. 🙏