Lara Abirah adalah seorang gadis yang tengah duduk di bangku kelas 12 di salah satu sekolah menengah atas di Banyumas, Jawa Tengah. Ia tumbuh di keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya yang hanya sebatas seorang buruh lepas, selalu kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sekolah Lara. Jangankan untuk kebutuhan sekolah, kebutuhan pokok rumah tangga seperti beras saja terkadang masih dipenuhi melalui berhutang. Pilu memang, belum lagi fakta mengenai ibunya. Ibu Asih awalnya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Namun setelah ia menyadari bahwa ia punya seorang anak yang perlu dibahagiakan, dan seorang suami yang perlu didampingi dalam setiap letih gundahnya. Bu Asih berinisiatif untuk menjadi tukang cuci dan setrika pakaian di rumah-rumah warga. Lingkungan yang masih seperti desa membuat sebagian besar orang tidak membutuhkan pembantu rumah tangga. Oleh sebab itu, Ibu Asih hanya bisa menjadi tukang cuci dan setrika pakaian yang gajinya hanya sekitar Rp.60.000,- per minggu. Pekerjaan seperti ini sudah dilalui Bu Asih selama 5 tahun. Hal ini adalah lebih baik daripada tidak sama sekali memiliki pendapatan, begitu menurut pemikiran Bu Asih.
Meskipun keterbatasan ekonomi menjadi latar belakang keluarga Lara, Lara masih bisa menjadi anak yang tergolong cerdas. Ia selalu bisa mempertahankan peringkat dua di genggamannya. Lara selalu berusaha keras dalam belajar. Ia percaya, suatu saat nanti pasti akan datang suatu waktu dimana ia bisa benar-benar bahagia bersama kedua orang tuanya, dan terlepas dari semua kekurangan yang selama ini menjadi beban berat kehidupan keluarganya.
Malam ini adalah malam Senin dimana esok Lara akan mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) tahun pertama, atau ujian semester ganjil kelas 12. Lara membuka-buka buku pelajaran yang akan diujikan besok. Di saat yang bersamaan, terdengar suara langkah kaki menuju kamar Lara.
Tap…tap...tap…
”Lara sedang apa nak?. Bisa pijatkan pundak Ibu sebentar?”, ucap Bu Asih sembari menyibak gorden kamar Lara.
Lara menoleh ke arah suara berasal.
“Ah ibu, Lara kan sedang belajar untuk besok ujian semester”, keluh Lara.
“Oh ya sudah, dilanjut saja belajarnya”, balas Bu Asih meninggalkan kamar Lara.
Lara kembali memandang bukunya, namun ia kehilangan konsentrasi. Ia masih memikirkan permintaan ibunya. Suatu hal bergejolak di dalam pikirannya.
“Ibu lelah pasti karena pekerjaannya, dan pekerjaannya itu tak lain adalah untuk kebutuhanku sehari-hari juga, bagaimana bisa aku mengabaikan permintaannya begini”, ujar batin Lara.
Lara memejamkan matanya dan menghela nafas pelan, “Fuuuhhh”.
Lara menutup buku di tangannya, lalu berdiri dan keluar dari kamar.
“Ibu, ayo sini Lara pijat pundaknya”.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Tak terasa, Lara telah selesai mengikuti semua rangkaian ujian semester, dan tibalah pada suatu malam sebelum pembagian raport.
“Ibu, Bapak, besok kami akan pembagian raport semester ganjil. Doakan ya, supaya Lara tetap dapat peringkat dua besok, atau kalau bisa peringkat satu hehe.” Ujar Lara yang tengah duduk bersama ayah dan ibunya.
“Besok sudah pembagian raport?, wah cepat sekali ya”, balas Pak Tejo.
“Tanpa kamu minta pun, pasti selalu Ibu doakan untuk kesuksesanmu nak”, Bu Asih tersenyum.
Lara hanya tersipu malu mendengar jawaban Ibunya.
Keesokan harinya,
Lara berjalan pulang dengan penuh semangat. Ada suatu hal yang ingin cepat-cepat ia ceritakan kepada orang tuanya.
Sesampainya dirumah, Lara melepas sepatu dan meletakkan tasnya di kamar, lalu mencari ibunya.
“Ibuuuuu,,,,,” ucap Lara sedikit kencang.
Rumah terlihat sepi, tidak ada sahutan dari Bu Asih.
Lara berkeliling ruangan mencari ibunya, namun hasilnya nihil, Bu Asih tidak ada di rumah.
“Ibu kemana ya?, kok tumben tak ada di rumah”, ujar Lara dengan tangannya menggaruk-garuk kepala bagian belakang memperlihatkan kebingungan.
Kruukkk…kruukkkkk…. Perut Lara berkeroncongan.
“Ah makan dulu saja deh sebelum ibu pulang”, usul Lara.
Tangan Lara meraih piring yang ada di rak. Saat hendak menyendok nasi, tiba-tiba…
“Laraa,,,Laraa…” panggil seseorang dari luar rumah.
Lara bergegas keluar dan mendapati ada seorang ibu paruh baya di sana.
“Oh Bu Sulis, masuk dulu Bu”, ajak Lara.
“Ini ibu mau kasih tau kalau ibumu lagi pergi ke tempat kerja bapakmu, kabarnya gedung yang dikerjakan rombongan bapakmu ada yang runtuh”, jawab Bu Sulis sembari duduk di kursi plastik di rumah Lara.
Mendengar itu, Lara sontak kaget,
“Astaghfirullah terus bapak bagaimana Bu?”, suara Lara bergemetar.
“Belum ada kabar, semoga saja bapakmu sehat-sehat disana. Kamu sudah makan belum?”
“Belum Bu, ini tadi baru mau makan”
“Ya sudah makan dulu nak, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya”. Bu Sulis coba menenangkan Lara.
Lara berjalan pelan menuju dapur meninggalkan Bu Sulis di ruang depan. Pikiran dan perasaan Lara terasa mulai kacau. Kebingungan, rasa penasaran, dan harapan bercampur menjadi satu.
Lara menyendok makan siangnya suap demi suap. Mulutnya terasa berat untuk mengunyah, perutnya yang lapar pun tak lagi terasa tersebab berita buruk yang baru saja ia dapati.
Triiinggg…triiiingggg…
Tiba-tiba handphone milik Bu Sulis berdering.
Lara yang berada di dapur pun dapat mendengar suaranya.
“Haloo!,” ucap Bu Sulis.
Lara menjadi penasaran dengan apa dan siapa yang dibicarakan Bu Sulis di telepon. Lara berjalan menuju ruang depan, tetapi kemudian kedua kakinya terhenti didekat sebuah dinding tembok. Lara lebih memilih untuk mendengar pembicaraan Bu Sulis dari belakang tembok itu.
“Ya ini keluarga Pak Tejo. Bagaimana kondisinya?”, ucap Bu Sulis tak sabar.
Lara memasang telinga baik-baik, bahkan ia menahan nafasnya sesaat untuk mendengar percakapan selanjutnya. Ia berharap penuh agar ayahnya baik-baik saja.
“Benarkah?, apa kabar ini sudah benar?”
Lara mengedipkan matanya dengan cepat, ia berusaha membuang jauh-jauh firasat buruk yang menggentayanginya. Jantungnya mulai berdegup kencang.
Suara telepon kemudian terputus. Bu Sulis terduduk lesu di kursi.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”, ucapnya.
Lara yang mendengar dari balik tembok terdiam membisu, punggungnya sontak tersandar rapat ke dinding.
Tesss…..
Air mata Lara mulai menetes perlahan. Jantungnya terus berdegup dengan kencang. Kaki yang tak lagi kuat menahan, membuat badannya perlahan terperosot ke bawah. Lara terduduk pasrah bersama air mata yang telah deras berjatuhan. Bu Sulis yang mendengar isak tangis Lara segera menghampiri dan memeluk Lara.
“Sudahlah nak, semuanya sudah digariskan”, ucap Bu Sulis sembari mengusap-usap pundak Lara.
Beberapa saat kemudian…
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Seketika, kediaman Lara sudah dipenuhi dengan warga.
Lara terduduk diam di ruang tamu bersama ibu-ibu tetangga. Satu-persatu dari mereka menghibur Lara. Lara tidak lagi menangis, bahkan ia sudah bisa sesekali tersenyum meski terpaksa. Namun hidungnya yang memerah dan matanya yang begitu sembap masih terlihat jelas di wajahnya.
“Aku harus terlihat tegar di depan ibu nanti. Aku tidak tahu sudah seberapa banyak air mata ibu yang tumpah. Untuk itu, aku tidak mau kembali membuatnya terbebani dan sedih ketika melihatku”, batin Lara.
Suara sirine ambulance mulai terdengar menghampiri kediaman Lara. Lara beranjak dari duduknya bersama dengan Bu Sulis yang setia menemani. Beberapa warga khususnya kaum bapak-bapak segera membantu mengeluarkan jenazah dari mobil.
Namun, ada yang aneh. Ada 2 ambulance yang datang.
“Kenapa ada 2 ambulance ya Bu?”, tanya lara pelan kepada Bu Sulis.
“Tidak tahu juga, mungkin ada keluarga lain yang ikut nak.”
Saat jenazah mobil pertama sudah dikeluarkan dan dibawa ke dalam rumah, Lara buru-buru mencari ibunya. Lara sedih, tapi ibunya juga pasti lebih sedih pikirnya.
Lara kesulitan mencari ibunya, “Loh, ibu dimana ya?”
Sementara itu, Bu Sulis bertanya kepada petugas ambulance yang sedang membuka mobil ambulance yang kedua.
“Ini jenazah siapa Pak?, kok mau dikeluarkan juga”
Petugas merasa sedikit bingung, “Loh ini jenazah istri dari korban Bu, yang tadi sempat menyusul ke lokasi”.
Setelah mendengar ucapan petugas yang cukup lantang, semua warga menjadi kaget, tak terkecuali Lara. Tubuh Lara bergemetar, ia berjalan menuju jenazah yang dibicarakan petugas.
Saat sampai dihadapannya, kain penutup jenazah yang berwarna putih perlahan diraih oleh Lara. Lara ingin melihat wajah jenazah itu. Semua warga terdiam. Air mata Lara berjatuhan satu per satu. Didapatinyalah ada wajah Ibu Asih yang sudah pucat pasi dibalik kain putih.
“Ibuuuuuuuuu,,,,”, teriak Lara.
Kedua tangan Lara memegang wajah ibunya.
“Ibu bangun Bu, bangun Buuuu, Lara mo..hon ba..ngunnn!, Ibu kenapaa?… Bagaimana bisa ini semua terjadi… Ayolah Bu, jangan tinggalkan Lara sendirian.. Oh Yang Maha Kuasa, kenapa harus seperti iniii,, tolonglahhh,, tolonggg!!,,…”, tangisan Lara pecah menjadi-jadi.
Bu Sulis yang turut terpukul pun segera memeluk Lara. Bersamaan dengan itu, Lara terjatuh pingsan.
Petugas mengatakan kepada warga bahwa Bu Asih meninggal karena terkena serangan jantung setelah mengetahui bahwa suaminya menjadi salah satu dari 3 orang yang meninggal di lokasi reruntuhan. Rasa kelelahan pun turut menjadi faktor Bu Asih meninggal.
4 bulan kemudian…
Hari dimana waktu akan kelulusan Lara datang. Semua siswa dan siswi beserta orang tua masing-masing telah berkumpul di aula sekolah. Bu Sulis menjadi wali Lara saat itu.
Acara kelulusan pun dimulai, ada berbagai penyampaian kata sambutan dan tarian sebelum acara inti dimulai.
Lara duduk manis di antara siswi-siswi yang lain. Alih-alih tertawa dan berselfie ria seperti teman-temannya yang lain, Lara memilih untuk lebih fokus mendengar dan melihat apa yang sedang ditampilkan di depan.
Lara memang lebih suka menyendiri saat ini, bahkan ia sudah mulai kehilangan senyuman dari wajahnya sejak peristiwa beberapa bulan terakhir. Lara masih merasakan pilu yang amat berat. Terutama karena sejak dulu, yang menjadi angan-angannya adalah bisa bahagia dan sukses bersama kedua orang tuanya, menghilangkan beban orang tuanya serta bisa memenuhi segala keinginan mereka. Namun, semesta tidak menyepakati, kenyataan telah memupuskan harapannya begitu saja.
Jangankan memenuhi angan-angan itu, bahkan ketika Lara berhasil mendapatkan peringkat 1 setelah meminta doa pada kedua orang tuanya pun, tetap saja tidak sempat tersampaikan kepada Ibu Bapaknya.
Sementara itu, tibalah saatnya memasuki acara inti yang berkaitan dengan penilaian belajar siswa dan siswi selama 3 tahun belajar. Akan ada penyampaian 10 besar nilai kelulusan terbaik seangkatan. Siapa yang terbaik nomor 1, akan mendapatkan beasiswa untuk lanjut ke perguruan tinggi negeri.
Suasana seketika menjadi tegang, semua orang tua berharap agar anaknya masing-masing yang akan mendapatkan nilai terbaik. Berbeda halnya dengan Lara, ia bahkan menghentikan impiannya untuk melanjut ke perguruan tinggi.
Lara tidak berani untuk bermimpi terlalu jauh. Ia menjadi pekerja sambilan selama 4 bulan terakhir agar bisa bertahan hidup. Dari mulai bekerja di rumah makan, menjadi penjaga toko, mengajar less anak-anak, ia coba semua.
Dulu, Lara juga sangat bertekad untuk berkuliah seperti teman-temannya. Namun, saat itu alasannya hanya untuk kedua orang tuanya. Maka dari itu, saat ini, tekadnya turut menghilang bersama dengan alasan itu.
Pengumuman nilai dimulai dari urutan ke-10. Satu-persatu siswa dan siswi yang berprestasi dipanggil kemudian maju ke depan. Hingga tiba di urutan yang pertama,
“Lara Abirah!....”
Seketika semuanya bersorak. Lara yang masih sedikit tak menyangka, segera maju ke depan. Mereka yang di depan mendapatkan ijazah yang diberikan oleh wali kelasnya masing-masing. Setelah selesai semuanya kembali ke tempat duduk.
“Untuk Lara, diminta tetap berada di depan”, ucap pembawa acara.
Kepala Sekolah secara langsung memberikan sebuah sertifikat dan buket bunga kepada Lara si peraih beasiswa. Momen itu pun di abadikan oleh cameraman.
1…2…3… Cekrekkk…
“Ayo tersenyum!” ucap cameraman.
Lara menghembus nafas pelan,
“Oke, mari kucoba sekali lagi”, ucap Lara dalam Hati.
Cekkreekkk…..
Seketika, senyuman manis Lara terlihat begitu jelas. Mungkin ini adalah senyum yang benar-benar lepas untuk pertama kalinya sejak 4 bulan terakhir.
Setelah berfoto, Lara hendak kembali ke kursi duduknya. Tiba-tiba, wali kelasnya, Bu Aisyah, meraih lengan Lara dan memeluknya.
Bu Aisyah berbisik pada Lara,
“Selamat Sayang, kamu hebat, kamu benar-benar hebat. Untuk melewati fase-fase yang sulit memang berat. Semuanya memang sudah digariskan, tapi kamu juga perlu menyadari bahwa setiap yang digariskan itu tidaklah melulu perihal duka dan luka, ada keadilan yang juga bakal mendatangi di masa yang tepat. Untuk sampai di waktu itu, kamu hanya perlu bersabar dan berjuang. Lelah memang, tapi akhir dari itu semua adalah pasti, semua akan disambut dengan yang lebih istimewa atau bahkan yang paling istimewa”.
—TAMAT—