Sebelum magrib tiba, aku masih berada di luar rumah. Banyak yang harus aku beli untuk keperluan kerjaku di tempat baru. Rasanya anak zaman sekarang tidak akan terlalu sama yang dinamakan pamali.
" Kenapa baru pulang jam segini,?" tanya Ayah sambil berdiri di depan pintu kamarku.
" Kan belum terlalu malam yah,!" jawabku sambil tersenyum.
" Iya lain kali ga boleh lewat dari magrib pamali," ujar ayah sambil berlalu meninggalkanku.
Hmm..... Sudah besar juga aku itu. Massa iya ga boleh pulang lebih dari magrib. Tak lama ibu datang ke kamarku dan menghampiriku. Ibu datang dengan sedikit cengengesan.
" Kenapa,?" tanyaku sambil cemberut. " Ayah itu kenapa sich Bu,? aku ga boleh pulang lebih dari magrib,!" gerutu ku sambil memonyongkan mulutku.
" Iya ga boleh pamali, kata ayah," jelas ibu lagi sambil mengelus rambutku. " Turutin saja apa kata ayahmu itu," sambung ibu lagi.
" Aku sudah besar loh Bu," ujarku, lagi-lagi aku merengek kepada ibu.
" Iya ibu tahu," jawab ibu " Mandi dulu gih, udah ibu siapin air hangat untuk kamu mandi," ujar ibu sambil pergi berlalu.
Walaupun rasanya agak gimana gitu, aku harus percaya apa yang dikatakan ibu kepadaku. Tetapi ada sesuatu yang aku rasakan setelah ibu pergi dari kamarku, ujung mataku tertuju sama sesosok yang aku lihat di pojok meja kerjaku. Tetapi setalah aku balikkan badanku untuk melihatnya, sosok itu tiba-tiba pergi begitu saja. Tapi ya sudahlah mungkin itu hanya halusinasiku saja.
Setelah selesai mandi aku langsung masuk ke kamarku, dan istirahat. Banyak ya g harus aku siapkan malam ini buat besok. Semoga tempat kerja baruku bisa membuat aku betah disana.
Lagi-lagi aku merasakan sesuatu di pojokan kamarku. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang sedang memperhatikanku. Entah lah, bulu kudukku seketika berdiri, dan aku mencium aroma yang tidak enak di sana.
" Ibu! Ibu,!" Aku berteriak memanggil ibu ke dalam kamar ku.
" Apa,? kamu mengagetkan ibu saja," ibu datang sambil ngos-ngosan ke dalam kamarku.
" Aku rasa aku merasakan sesuatu yang aneh Bu," ujarku sambil menunjuk ke arah pojokan kamarku.
" Tidak ada apa-apa," jelas ibu meyakinkanku.
" Ibu tidak mencium aroma yang tidak enak di kamarku,," aku menyuruh ibu untuk mencium aroma seisi kamarku. Ibu tetap menggelengkan kepalanya. " Ayah,!!!!" aku berteriak sekencang-kencangnya karena aku melihat sesosok bayangan putih muncul di hadapanku.
Tak lama ayah datang ke kamarku, orang tua ku ikut bingung dengan apa yang aku rasakan malam ini.
" Aku takut,!" ujarku sambil memeluk Ibu dan ayah yang ada di depanku. Tapi anehnya apa yang aku lihat dan apa yang aku rasakan, tetapi mereka berdua tidak merasakan hal yang sama denganku.
" Apa kata ayah juga, jangan pulang magrib magrib, anak zaman sekarang pada ngeyel ngeyel kalau dikasih tahu."
" Sudah yah, jangan marah," lerai ibu sambil mengusap-usap kepalaku. Ayah pun pergi meninggalkan aku dan ibu di kamar ku. " Ibu temani ya, sampai kamu tidur," jelas ibu. Aku menggelengkan kepalaku, karena aku tidak mau di tinggalkan oleh ibu ku untuk saat ini.
Ibu memapah ku ke tempat tidurku, rasanya semakin jelas sekali apa yang aku lihat di pojok kamarku saat ini. Aku semakin ketakutan. Sesosok makhluk yang kepala nya terikat tali di kepalanya, seperti orang yang bunuh diri yang meminta pertolongan.
Mataku terpejam tetapi bayangan itu masih teringat dalam ingatanku. Dia minta tolong kepada ku untuk melepaskannya. Tetapi bagaimana caranya,? Aku dan dia sudah berada di alam yang berbeda.
Akhirnya aku tertidur di temani ibu di sampingku.
Dalam mimpiku.
" Kenapa kamu hanya melihat ku,?" tanya sosok itu kepadaku " Aku mengikuti mu dari luar sana karena aku tahu kamu bisa membantuku, tetapi apa yang kau lakukan kepadaku,? kamu hanya diam dan melihatku." ujarnya lagi.
Aku tidak bergeming, rasanya aneh aku bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Aku pun tidak menjawab apa yang dia katakan kepadaku. Karena aku tidak tahu apa yang akan aku katakan kepadanya. Aku tidak tahu siapa dia,? kenapa dia sampai ada dipojokan kamarku,? banyak pertanyaan yang terbesit dalam otakku tapi tidak bisa aku utarakan kepadanya.
" Bangun sayang, bangun,!!" ibu mengoyak badanku, dan membangun kan tidurku. " Kamu mimpi buruk,?" tanya ibu lagi. Aku masih sedikit kebingungan sama apa yang aku rasakan.
" Aku harus menolong seseorang Bu," jelasku. Ibu mengerutkan kening,
" Siapa,? Tadi kamu mengigau, berteriak berkali-kali. makanya sama ibu di bangunkan,"
Tatapanku masih ke pojokkan kamarku. Dia masih berdiri disana. Sementara aku tidak tahu aku harus menolongnya seperti apa,? membebaskan nya dengan cara apa,? aku tidak tahu.
Akhirnya aku menceritakan semuanya kepada ayahku, dan dengan di bantu ayah dan beberapa ustadz yang datang ke rumah ku, akhirnya aku tidak melihat lagi dia di kamarku. Kata ayah sudah di bebaskan.
" Nah lain kali jangan pulang selepas magrib ya, pamali," ujar ayah sambil mengusap rambutku.