Aku masih terduduk di sudut parkiran kantor tempat Mas Yudi bekerja. Seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk mencari kebenarannya.
"Ini bukan chatingan biasa Bun..."
Anak sulungku memperlihatkan chat Mas Yudi padaku tadi malam.
Aku terpaku, tapi aku berusaha memperlihatkan wajah biasa saja.
"Ini teman kerja ayah nak, ibu kenal baik"
"Masak sama teman kerja bilang sayang, bilang kangen!"
Aku kembali memandang chatingan itu sekali lagi, aku berharap aku bisa menangkap makna lain dari yang tertulis disana.
Tapi,
Memang ada ketidakwajaran.
"Besok ibu ke kanator Ayah, ibu mau pastikan bagaimana sikap wanita itu jika bertemu ibu"
Aku mengambil handphone Mas Yuda dari tangan Lili anak sulungku.
Awalnya dia cuma mau minta hotspot dari Hp ayahnya, dan akhirnya chatingan itu terungkap.
Semalaman aku tak bisa tidur. Terbayang wajah wanita yang telah chatingan dengan Mas Yudi. Dia bukan orang asing bagiku, sudah beberapa kali aku berjumpa dengannya. Bahkan saat lebaran dia juga ikut acara Halal bi halal ke rumah. Supel, asyik diajak ngobrol dan dia juga punya suara yang bagus. Beberapa kali aku mendengarnya bernyanyi. Pernah juga waktu itu Mas Yuda cerita tentang rumahtangganya yang sedang banyak masalah.
Winda
Itulah namanya. Punya dua orang anak, usianya dua tahun lebih muda dariku.
Hampir satu jam aku menunggu di ruangan kantor Mas Yudi, tapi Winda tidak muncul-muncul. Padahal tadi aku jelas melihatnya di koridor kantor. Berbagai alasan telah ku buat untuk tetap sok sibuk di ruangan Mas Yudi. Awalnya Mas Yudi tidak curiga, tapi karena aku mengulur waktu untuk diajak Mas Yudi makan siang bersama, dia mulai curiga.
"Kenapa sih Winda gak datang-datang Mas? padahal aku mau nanyain harga baju yang di jual di berandanya"
Aku mencari alasan.
"Nanti aja, dia sedang keluar"Jawab Mas Yudi santai.
"Mungkin buk Winda ada urusan buk, nanti Sari sampaikan" Sari salah satu staf di ruangan Mas Yudi ikut nimbrung.
"Jangan-jangan Winda memang sengaja menghindari ibuk Sari?"
Sengaja aku memancing reaksi Mas Yudi.
Mas Yudi melihatku sekilas, kemudian sibuk dengan laptopnya.
"Baiklah, kalau memang Winda gak mau ketemu Ibuk, Ibuk permisi dulu ya Sari, Mas makan siangnya gak usah ya, aku masih kenyang"
Aku berdiri dan keluar dari ruangan Mas Yudi.
Sari tampak heran.
Mas Yudi agak melongo dan mematikan laptopnya.
Aku keluar, Mas Yudi menyusulku.
"Kamu kenapa Bun? kok bahasanya agak ketus gitu?"
"Gak ada!"
Jawabku sekenanya.
"Makan siangnya gimana?yok kita makan di tempat biasa"
Ajak Mas Yudi setengah merayu.
"Mas, kenapa Winda gak mau masuk keruangan?apa karena ada aku ya?"
"Winda tadi ada urusan ke kantor lain Bun? kenapa sih dari tadi nanya-nanya Winda terus?"
Mas Yudi mulai kesal.
"Aku cuma penasaran sama Winda yang katanya kangen dan sayang sama suami aku!apakah Winda yang ku kenal atau ada Winda lain di kantor ini!"
Akhirnya aku tidak bisa menahan diri lagi.
"maksud kamu apa Bun?"
Aku memandang Mas Yudi lekat.
"Aku dah baca chat kamu dengan Winda Mas! dan aku gak bodoh untuk mengartikan bahasa yang kalian pakai dalam chatingan itu!"
Mas Yudi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia hanya diam terpaku menatapku menghidupkan sepeda motor dan berlalu meninggalkannya.
Ini bukan pertama kalinya Mas Yudi bermain api. Entah memang suamiku ini tidak merasa puas denganku, atau memang dia memang seperti suami-suami yang sering aku jumpai di sekelilingku. Selalu ingin tebar pesona dan ingin menggoda setiap wanita yang bisa digodanya.
Aku mencoba bertahan dengan cobaan rumahtangga kita sebelumnya Mas...
Tapi...
Saat ini, anak kita juga tahu, aku harus bilang apa??mengobati luka hatinya. Ayah yang selama ini sangat dia sayangi dan banggakan.
Aaaaahhh!!
Aku menghempaskan napas kasar, beban ini tak berkurang.
Aku mencoba mengingat kembali sikap MasYudi akhir-akhir ini.
Tidak ada yang jangal, bahkan kami sangat baik-baik saja.
Sepandai itukah dirimu mas?
Bersambung