--WARNING ALERT--
Cerita tidak diperuntukkan untuk pembaca di bawah 17 tahun karena mengandung beberapa negative content
Menjadi relawan adalah salah satu kegiatan yang ku impikan ketika masuk dunia perkuliahan, hanya saja kejadian tak terduga menjadi mimpi buruk kami semua yang menjadi relawan di sebuah panti asuhan
***Selamat Membaca***
Lelahnya menjadi relawan di sebuah panti asuhan membuatku harus meluruskan kaki di bangku panjang kantin setelah anak-anak selesai makan. Aku meminta Rian dan Lee untuk dibuatkan nasi goreng oleh Sasa yang sedang memasak di dapur kantin. Rian adalah teman sekelasku di kampus yang berbadan tinggi dan besar. Kalau Lee teman masa kecilku di rumah. Sedangkan Sasa teman sekelas Lee di kampus yang bertugas di bagian dapur kantin. Kami tahu informasi bahwa panti ini butuh relawan juga dari Sasa. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang kurang dari pesananku: tidak pakai seledri. Baru saja aku berjalan menuju meja panjang pembatas dapur dan tempat makan, Lee memberi tahu kalau pesananku sudah disampaikannya, termasuk tidak pakai seledri.
Saat aku berbalik badan untuk kembali ke meja tadi, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang sangat besar hingga aku merasakan ada yang hangat dan lembek mengenai punggungku. Sontak Lee dengan cepat menarik tanganku untuk menjauh dari sumber ledakan. Aku ingin sekali melihat ke belakang mau tau apa yang terjadi tapi kepalaku ditahan Rian dan dituntun untuk langsung naik ke lantai atas. Saat sampai di lantai atas aku bertanya apa yang terjadi, mereka berdua tidak menjawab terus terang. Aku hanya diberi tahu kalau telah terjadi kebakaran di kantin dan diminta untuk ke atas memperingatkan anak-anak agar menyelamatkan diri. Sebab, ruangan di lantai 2 ini digunakan sebagai sekolah dan ruangan kegiatan lainnya. Lee sudah menutup pintu kantin dan menyuruhku untuk bergegas.
Aku, Lee, dan Rian langsung menuju ke kamar-kamar di lantai 3 dan 4 untuk membangunkan anak-anak yang sedang tidur siang dan menyuruh mereka membawa barang penting mereka dan segera keluar dari gedung ini. Tak lupa juga kami memberi tahu karyawan yang berada di gedung yang sama. Terlihat Rian yang gelisah mondar-mandir menelpon ketua panti untuk meminta bantuan kepada kami. Setelah kami sampai di lantai 1, koridor utama, kami terlambat. Api sudah membuat gardu yang terbuat dari kayu di pintu keluar tertutup. Kami terjebak di sini. Beberapa karyawan dan relawan lainnya berusaha memadamkan api menggunakan air dan tabung pemadam. Akan tetapi usaha itu sia-sia dilakukan. Kami langsung naik ke atas, kembali berusaha menghindar dari api yang menyulut. Lantai 1 kini menjadi lautan api yang panas. Teringat aku akan Sasa, tapi ku urungkan niat untuk bertanya mengenai Sasa yang tidak terlihat di mana pun.
Rian kembali menelpon ketua panti dan kali ini juga menelpon pemadam kebakaran beserta polisi. Anak-anak panti hanya bisa berteriak, menangis, bahkan menjerit ketakutan sambil memeluk relawan-relawan termasuk aku dan Lee. Salah satu karyawan ada yang nekat menerobos api demi membuka jalan bagi kami di pintu masuk, namun nahas, karyawan itu terbakar. Kami seperti melihat manusia api yang berjalan, hal tersebut tentu saja dilihat anak-anak dan makin histeris. Beberapa dari mereka ada yang mengambil air dari kamar mandi menggunakan apa pun yang bisa menampung air dan langsung menyiram api yang sudah berada di tangga. Namun tidak mempan sama sekali. Tiba-tiba semua listrik mati dan penerangan kami hanya api yang berada di bawah dan cahaya matahari yang masuk lewat jendela dan ventilasi.
Saat kami mengantre untuk ke atas, api sudah sampai di ujung tangga lantai 2. Kami mulai saling mendorong untuk cepat sampai ke lantai atas. Sungguh cepat api menyambar yang ada di sekitar tangga. Tanpa kusadari, saat menaiki tangga aku seperti bukan menginjak tangga, tetapi benda seperti kain. Ketika aku melihat kebawah, yang kuinjak ternyata adalah salah seorang anak yang pingsan dan telah terinjak-injak oleh yang lainnya. Ingin ku selamatkan anak itu, akan tetapi api makin cepat menyambar, membuatku tega untuk meninggalkannya di sana. Setelah sampai di lantai 3, aku melihat Rian yang pergi ke salah satu kamar dan membawa banyak seprai. Dia meminta kami untuk mengambil semua seprai kasur masing-masing. Kami semua menuruti perintah Rian dan langsung ke lantai paling atas. Kali ini aku ingin sekali menangis.
Tiba-tiba terdengar perkelahian antara anak panti dan temannya. Lee berusaha melerai mereka berdua tapi salah satu dari mereka terpeleset dan hampir jatuh ke lantai 2, di mana api sudah melahap semua yang ada di sana termasuk anak yang pingsan di tangga. Sesempat mungkin Lee bisa menangkap kaki si anak yang jatuh, tapi justru mereka berdua yang terjatuh karena pagar pembatas lantai yang patah menahan beban badan Lee. Salah seorang relawan berusaha menyuruh seluruh anak panti untuk menyingkir dari tempat itu agar tidak ada lagi yang menjadi korban selanjutnya. Aku melihat tubuh Lee dan salah satu anak panti yang tergeletak bersimbah darah karena jatuh dari lantai 3 ke lantai 1, sebab di bagian yang ditutup pembatas dari lantai 2 hingga lantai 4 itu tidak ada lantai. Kami semua langsung bergegas naik ke lantai 4.
Setelah aku sampai di lantai 4, aku merasa ada yang tidak beres dengan tangganya, tiba-tiba anak tangga yang menjadi pijakan terakhir ku ambruk, seketika semua orang yang berada di belakangku jatuh, beberapa ada yang menarik kakiku hingga aku juga hampir jatuh. Beruntung Rian dengan cepat menangkap tanganku dan bisa menyelamatkanku serta beberapa orang yang berpegangan pada kakiku. Tinggallah kami yang tersisa sekarang, berada di tingkat lantai paling atas.
Orang dewasa yang ada tinggal aku, Rian, dan 2 orang karyawan panti asuhan. Rian yang sampai di atas duluan sudah membuka semua jendela yang bisa di buka dan sudah melihat ke bawah, memastikan tidak ada api yang keluar gedung. Kemudian ia meminta semua yang sudah membawa seprai mengikat ujung seprai dengan ujung seprai lainnya hingga menjadi tali agar bisa turun melalui jendela. Dengan rasa panik, aku mengambil air dari kamar mandi dan mengguyur seprai yang sudah diikat agar tidak mudah tersulut api. Setelah selesai, terdengar berbagai macam suara sirine yang datang. Rian langsung melempar seprai yang sudah diikat tadi ke luar salah satu jendela yang dibuka. Salah seorang karyawan langsung turun menggunakan seprai yang belum diikat di sebuah pilar, beruntung seprai tali itu bisa ditangkap oleh Rian yang berbadan besar dan segera mengikat ke pilar terdekat. Akan tetapi karyawan yang turun itu jatuh terbujur kaku di bawah karena genggamanannya terlepas dari seprai. Anak-anak yang melihat kejadian tersebut langsung berteriak dan tidak mau turun.
Butuh waktu untuk membujuk anak yang tidak mau turun. Beberapa sudah berhasil selamat turun, tinggal aku, Rian dan 3 anak panti yang bersiap untuk turun. Tiba-tiba pilar yang menjadi penahan seprai tali patah dan tertarik ke arah jendela tempat tali itu keluar. Pilar itu juga merusak tembok dan mengakibatkan atap roboh. Beruntungnya aku dan Rian berhasil menghindar, tapi 2 anak yang sedang menunggu terlempar ke bawah bersamaan dengan pilar yang terjatuh, membuat mereka meninggal seketika di bawah. Aku yang menyaksikan hal itu lemas dan gemetar hingga terduduk. Rian menghampiriku dan mencoba menengangkan ku. Aku melihat api sudah berada di lantai 4 dan akan menghampiri kami.
"Sekarang musti gimana? Usaha kita sia-sia, Yan. Sasa... Sasa mana? Yang dipunggungku tadi itu apa?" ucapku sambil menangis.
"Yang tadi itu tangannya Sasa. Dia lebih dulu meninggal daripada karyawan yang di lantai 1 itu," jawab Rian pucat sambil menoleh ke kanan.
"Kenapa nggak kasih tau aku? Kenapa aku gak boleh liat Sasa meskipun itu hanya lengannya," jawabku menangis sek-sekan
"Mira, untuk sekarang kamu bisa selamat, kok. Percayalah itu. Di bawah pemadam sedang menyiapkan kasur agar kita bisa loncat," jawab Rian yang berusaha tenang dan meyakinkanku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di bibirku. Ya, kami berciuman. Aku yang tadinya gemetar menjadi terdiam kaget.
"Mira, kamu ingat kata-kataku, aku suka, sayang, cinta sama kamu melebihi apa pun. Jadi tolong hidup demi aku, teman-teman, dan orang-orang yang sudah lebih dulu pergi dari kita di sini," ucap Rian yang secara tiba-tiba menyatakan cinta kepadaku. Aku kembali menangis sambil memeluk Rian. Terdengar suara orang-orang di bawah menyuruh untuk loncat. Aku mengumpulkan niat keberanianku dan berusaha menerima apa yang akan terjadi padaku nanti.
"Ayo, Rian kamu juga turun, kita loncat bareng," sahutku membujuk sambil berjalan ke lubang besar di dinding karena pilar yang jatuh.
"Kamu duluan aja, aku nyusul," jawab Rian sambil memelukku erat dan langsung mendorongku ke bawah. Hal terakhir yang kulihat adalah api yang sudah di belakang Rian dan siap melahap dirinya saat aku terjun. Aku menutup mataku dan ketika kubuka, aku melihat langit-langit ruangan yang kukenal. Aku di rumah. Setelah sadar, suara sirine itu adalah suara alarm yang sengaja ku pasang dengan volume besar untuk membangunkanku agar tidak kesiangan pergi kuliah. Jadi yang kurasakan itu semua hanyalah mimpi. Semua itu benar-benar terjadi seperti nyata, juga ciuman dan pelukan yang kurasa. Dengan mata yang masih sepet, aku langsung mencari ponselku dan segera memberitahu Lee tentang mimpi kami sedang menjadi relawan di panti asuhan yang tempo hari kami ikuti wawancara penerimaannya dan menceritakan isi dari mimpi itu.
Setelah mandi dan bersiap-siap, aku makan sambil menonton tv, pada saat itu ayahku menyetel siaran berita. Di berita itu tersiar kabar sebuah panti asuhan yang terbakar karena arus listrik.
"Kamu bukannya jadi relawan di situ, Ndok?" tanya ibuku sambil menaruh gelas yang berisi teh ke atas meja makan.
"Telat daftarnya, Bu, jadi nggak bisa ikut," jawabku enteng, padahal memang tidak lolos wawancara. Begitu juga dengan Lee. Jadi yang diterima menjadi relawan di sana hanya Sasa dan Rian.
"Terus Lee bagaimana? Katanya ibunya dia juga daftar di sana," tanya ibuku lagi.
"Sama, Bu, dia juga gak nggak ikut. Dia tuh nggak diterima pas wawancara," jawabku memperjelas. "Yang keterima tuh temen sekelasku namanya Rian, sama temen di kelasnya Lee namanya Sasa," lanjutku agar Ibu tidak bertanya lagi untuk yang kesekian kalinya. Tiba-tiba terdengar suara getaran ponselku yang ketika kulihat Lee menelponku. Aku segera ke halaman belakang untuk mengangkat telepon. Letaknya tidak jauh dari ruang tempat aku makan tadi.
"Mira! Lu dah liat berita belom yang panti asuhan kebakaran?" tanya Lee panik.
"Iya udah katanya karyawan yang meninggal 2 orang dan banyak anak panti yang meninggal terbakar juga," jawabku
"Itu karyawan yang meninggal Sasa sama Rian! Mir, lu nggak ngeliat sampe selesai beritanya ya? ST itu inisialnya Sasa Triwahyuni. Kalo RSK mungkin itu nama lengkapnya Rian. Coba lu inget-inget! Dia kan temen sekelas lu," sahut Lee menjelaskan panjang lebar. Aku mencoba mengingat-ingat nama lengkap Rian dengan jelas.
"Riangkasa Satria Kusuma... R-S-K..." ucapanku melemah dan air mataku tiba-tiba keluar. Aku tak menyangka kalau korban yang dimaksud di berita itu teman-temanku. Aku segera menutup telepon dan kembali ke tempat tadi aku makan. Aku melihat berita di televisi yang bertuliskan inisial korban karyawan yang bekerja. Benar saja, tulisannya sesuai yang diucapkan Lee: ST dan RSK, Sasa dan Rian. Tiba-tiba teringat akan mimpi tadi. Aku langsung memegang kepalaku karena masih tak percaya kejadian yang ada di mimpi, benar-benar terjadi di kehidupan nyata.