Senja Tak Lagi Memudar
Oleh : Indah Yuliani
Hidup itu ibarat dua sisi mata uang, saling berbeda satu sama lain. Kedua sisinya memiliki pahatan gambar yang tak sama. Sama halnya dengan hidup, terkadang di satu sisi penuh dengan cerita indah nan bahagia tapi tidak dengan sisi yang lainnya. Hidup mandiri, mapan dengan karir yang gemilang tak lantas membuat hidup Senja sempurna, ada kehampaan yang dia rasakan di satu sisi hatinya.
Kicauan burung dan kehebohan sang kucing kesayangan selalu mengawali pagi Senja. Setiap pagi Senja selalu menyempatkan diri bermain dengan kesayangannya tersebut sebelum berangkat kerja. Sambil menikmati sarapan paginya, Senja menyiapkan berkas untuk presentasi hari ini. Tak lupa Senja menelpon taksi langganannya. Sambil menunggu taksi, Senja membuka pesan masuk. Ada pesan dari nomor yang tak dikenal
“Selamat pagi Senja, sukses ya presentasinya hari ini, semangat. By pengagum rahasia”, isi pesan dari nomor tak dikenal
Senja memasuki taksi sambil membaca berulang-ulang pesan dari pengagum rahasianya. Mencoba menerka-nerka siapa kira-kira sosok pengagum rahasia itu. Begitu tiba di kantor, Senja berusaha fokus untuk presentasinya hari ini. Lupakan dulu sejenak sosok yang sok misterius itu. Dengan penuh semangat dan percaya diri, Senja memulai presentasinya. Senja memaparkan dengan lugas nyaris tanpa cela menimbulkan decak kagum dari seisi ruangan. Setelah presentasi selesai, Senja kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaannya yang lain. Tiba-tiba kembali si pengagum rahasia mengirimkan ucapan selamat. Namun pesan tersebut diabaikan Senja. Tak mau terjebak dengan rasa penasarannya karena Senja merasa pesan itu hanyalah keisengan dari teman kantornya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengabaikan semua pesan dari pengagum sok rahasia itu. Jam makan siang pun tiba, Senja menerima ajakan sahabatnya untuk makan siang di cafe dekat kantor. Liana, sahabat karibnya dari jaman kuliah. Kemana-mana selalu berdua bahkan sampai tempat kerja pun sama. Tiba-tiba pesan dari sang pengagum kembali masuk, dan lagi-lagi diabaikan oleh Senja.
“ Pesan dari siapa? Knp dicuekin sih?”,tanya Liana
“ Bukan dari siapa-siapa, hanya seorang yang sok misterius”, jawabnya
“ Siapa? Cerita dong!”, desak Liana penasaran
“ Sudahlah, tidak penting juga. Paling ini kerjaan teman kantor, atau jangan-jangan ini kerjaan kamu yaa?”, kata Senja mencurigai sahabatnya
“ Memangnya isi pesannya apa? Kenapa saya yang dituduh, kurang kerjaan loe”, jawab Liana sambil meledek sahabatnya itu
Akhirnya senja menceritakan isi pesan dari pengagum rahasia itu kepada sahabatnya
“ Dibalas aja kali pesannya, kasian kan. Siapa tau dia jodoh kamu, daripada jomblo terus, hahhha”, ledek Liana
“ Uhhhh, malas. Kamu aja yang balas, kamu kan jomblo juga,hehe”, balas Senja meledek
“ Dasar cewek mati rasa”, ledek Liana
“ Biarin. Balik kantor yuk”, ajak Senja menghindari ledekan sahabatnya.
Tiba di ruangan, Senja dibuat kaget dengan seikat bunga mawar merah di atas mejanya. Yang lebih mengagetkan lagi tulisan di bunga itu
“ Selamat ya, presentasinya keren. By pengagum rahasia”
“ Cie, ada yang berbunga-bunga nih”, ledek Liana
Tidak hanya bunga, puluhan pesan yang berisi ucapan selamat dan ajakan makan siang memenuhi inbox di hp Senja.
“ Udah, janjian aja ketemuan. Saya ke ruangan dulu yaa, nanti saya ikut ke rumah kamu yaa, mau dengar kelanjutan si pengagum rahasia itu, hehe”, ledek Liana sambil berjalan ke ruangannya
Senja mencoba mengalihkan rasa penasarannya dengan melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk.
Setiap hari Senja selalu mendapatkan pesan dari sang pengagum rahasia. Awalnya Senja mencoba untuk tidak peduli, namun semakin hari Senja merasa semakin terganggu. Hingga suatu hari sang pengagum mengajak Senja ketemuan untuk mengungkapkan siapa dia sebenarnya. Senja pun menerima ajakan itu dengan syarat Senja boleh mengajak sahabatnya, Liana.
Tibalah hari itu. Senja dan Liana sudah sampai di tempat janjian mereka, namun sosok yang mereka cari belum menampakkan diri. Melihat sahabatnya yang begitu tegang, Liana mencoba menggoda sahabatnya
“ Yang mau ketemu jodoh, cie cie”, ledek Liana
Tiba-tiba hp Senja berdering, telpon dari sang pengagum. Di saat yang bersamaan muncul Rian, teman kuliah mereka dulu. Senja kaget melihat benda yang dipegang Rian, bunga mawar merah dengan tulisan “dari pengagum rahasia” Senja kaget ternyata sosok rahasia itu adalah Rian, teman kuliah jaman dulu.
“ Jadi kamu..., apa maksud semua ini?, tanya Senja sambil melihat kedua sahabatnya dengan tatapan tajam
Belum sempat Rian menjawab, Senja kembali mencecar keduanya dengan mata berkaca-kaca. Deru nafasnya tersengal, seakan meperlihatkan ada luka yang kembali menganga. Setelah bertahun-tahun berjuang menyembuhkan luka hatinya, apa daya hari ini semua usahanya sirna seketika.
“ Rian, kamu yang merencakan semua ini? Jangan-jangan kalian berdua bekerjasama yaa? Iya kan Li?, tanya Senja dengan mata berkaca-kaca
“ Duduk dulu Rian. Senja, kamu tenang dulu. Saya tau ini mengagetkan, tapi ini untuk kebaikan kamu juga”, jawab Liana mencoba menjelaskan ke sahabatnya
“ Tapi kan kamu tau kalau saya benci sama dia”, jawab Senja sambil menatap tajam ke Rian
“ Senja sebelumnya saya mau minta maaf ke kamu, saya tau kamu benci sama saya. Tapi saya mohon dengarkan dulu penjelasanku, Senja”, pinta Rian
“ Tidak, saya tidak mau dengar apapun lagi. Kamu tidak tau kan bagaimana rasanya di tinggalkan tanpa kabar apapun. Ditinggalkan setelah kamu berjanji untuk hidup berdua selamanya. Kamu tidak tau rasanya terperangkap dalam rasa cinta yang sia-sia. Kamu tidak pernah tau bagaimana khawatirnya saya menghubungi nomor hp yang tidak aktif selama 5 tahun” emosi Senja mulai naik
Senja tidak bisa lagi membendung semuanya, semua amarahnya dia luapkan saat itu. Rasa campur aduk yang selalu menyelimutinya selama 5 tahun ini. Selama 5 tahun Senja berusaha untuk melupakan Rian, namun hatinya sudah terlanjur terpaut pada laki-laki itu.
“ Senja, saya mohon beri saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya, please”, pinta Rian memohon kepada Senja
“ Kemana saja kamu selama ini, kenapa tidak sedari dulu kamu menjelaskan semuanya,ha?”, tanya Senja penuh luka
“ Saya tidak mau dengar apa-apa lagi”, jawab Senja penuh isak
Senja begitu terguncang, bayang-bayang masa lalu kembali bermunculan. Sosok yang memenuhi ruang di hatinya kini muncul tepat dihadapannya. Sosok yang begitu dia rindu sekaligus sosok yang begitu dia benci. Liana memeluk sahabatnya dan memberi kode ke Rian untuk menjauh dulu sampai Senja tenang. Selepas Rian pergi, Liana mencoba menenangkan sahabatnya, memberikan segelas ice chocolate, favorite Senja. Senja meminum minuman dari sahabatnya, sambil mengatur nafas. Setelah merasa tenang, Senja meminta penjelasan dari sahabatya itu
“ Jadi beberapa hari yang lalu, tiba-tiba rian menghubungi saya, menanyakan tentang kamu. Awalnya saya juga marah sama Rian, kemana dia selama ini tanpa kabar apapun. Akhirnya Rian menjelaskan beberapa hari setelah kalian jadian, Rian tugas ke daerah terpencil. Sinyalnya susah, rian juga sempat mengalami kecopetan, hpnya di copet. Semua sosial medianya di hack. Setelah dia kembali ke kota, dia mencoba mengaktifkan kembali nomor hpnya, tapi sayangnya nomornya sudah tidak bisa diaktifkan lagi karena sudah terlalu lama tidak aktif. Berhubung nomor telpon yang dia hapal hanya nomor orangtuanya, akhirnya dia meminta nomor kakak saya sama orang tuanya. Dari kakak saya, Rian mendapatkan nomor hp saya. Akhirnya dia menghubungi saya dan menceritkana semuanya dan meminta bantuan untuk dipertemukan sama kamu untuk menjelaskan semuanya”, jawab Liana
“ Tapi darimana dia tau kalau saya ada presentasi hari itu?”, tanya Senja
“ Saya lah yang memberitahu semuanya”, jawab Liana
“ Terus saya harus bagaimana, Li?”, tanya Senja
“ Ikuti kata hatimu, dear. Saya tau jauh di lubuk hatimu kamu masih sangat mencintainya kan? Makanya sampai saat ini kamu mati rasa, itu karena dia kan?”, tanya Liana
“ Tapi saya butuh waktu untuk mencerna semuanya, Li”, lirih Senja
“ Iya, dan saya yakin Rian akan setia menunggu waktu itu tiba. Ya sudah kita shopping yuk, biar hati kamu tenang hehe”, kata Liana mencoba menghibur sahabatnya yang dijawab anggukan oleh sabahatnya
Beberapa hari setelah kejadian dengan Rian, akhirnya Senja memutuskan untuk bertemu dengan Rian. Memberi Rian waktu untuk menjelaskan semuanya, kali ini hanya mereka berdua. Mereka bertemu di tempat dulu mereka sering ketemuan.
“ Senja, kamu apa kabar?”, tanya Rian memulai permbicaraan
“ Baik. Langsung saja saya sudah mendengar sedikit dari Lia”, kata Senja
“ Senja, saya mau minta maaf untuk semuanya. Apa yang kamu rasakan selama ini, itu juga yang saya rasakan. Bagaimana tersiksanya jauh dari orang yang kita sayangi tanpa bisa berkomunikasi sama sekali. Setiap hari saya hanya bisa mengutuk diri saya, kenapa saya bisa begitu ceroboh sampai bisa kecopetan. Rasanya ingin langsung terbang kesini, tapi apa daya kantor tidak bisa memberi cuti, ditambah lagi disana daerah konflik, semua orang luar dilarang meninggalkan tempat tinggalnya. Sekali lagi saya minta maaf”, jelas Rian dengan suara sedikit bergetar
“ Jujur waktu pertama kali melihat kamu muncul kembali waktu itu, perasaan saya campur aduk. Sebelah hati bahagia, namun sebelahnya lagi terasa perih. Kamu tau gak, kalau setiap malam saya selalu berharap bertemu kamu walau dalam mimpi. Setiap doa selalu kupinta dipertemukan kembali walau hanya sekedar mencari jawaban kenapa kamu menghilang. Sakit rasanya”, Senja kembali terisak
“ Senja kumohon kamu jangan menangis lagi, saya sudah kembali dan tak akan pergi lagi, promise”, ujar Rian sambil mencoba menenangkan Senja
Rian mencoba menceritakan hal-hal seru selama dia dirantau, sedikit membuat Senja terhibur dan kembali tersenyum untuk Rian, sang pengagum rahasia
“ Terus kenapa kamu pura-pura jadi pengagum rahasia segala?”, tanya Senja masih penasaran perihal pengagum rahasia
“ Itu idenya si Lia, dia bilang kalau kamu akan ada presentasi penting, dan saya malah disuruh jadi pengagum rahasia kamu. Katanya untuk menguji kamu, sejauh mana tingkat mati rasa kamu. Yah padahal tanpa disuruh pun saya sudah mengagumi kamu,hehe”, jelas Rian
“ Dasar Liana”, jawab Senja sambil tersenyum
Rain memperbaiki posisi duduknya, dan memegang tangan Senja sambil berkata
“ Senja Ayu Wulandari mau kah kamu menjadi teman hidupku selamanya?”, tanya Rian sambil memegang cincin untuk Senja
“ Muhammad Dedi Supriyanto, saya bersedia asalkan kamu janji jangan pernah menghilang lagi”, jawan Senja
“ Iya saya janji tidak akan meninggalkan kamu lagi, Senjaku”, jawab Rian sambil memasangkan cincin di jari manis sang pujaann hati
Terkadang kita benci akan sesuatu namun hati tak cukup mampu untuk melupakan, sesungguhnya itulah hakikat cinta sejati
Tak ada yang tidak mungkin jika takdir sudah berpihak
----------SELESAI------