"Ibu, Dio, Gia minta maaf" lirih seorang gadis, darah Gia terus-menerus keluar dan membuat genangan yang besar.
Perlahan Gia menutup matanya, bertepatan dengan bunyi sirine ambulans yang mendekat.
Gia menatap sekelilingnya yang berwarna putih seakan tanpa noda sedikitpun, "Apa aku masuk surga? Ku pikir aku akan masuk neraka mengingat semua kesalahanku selama ini"
"Kau memang dari dulu berada di surga sayang" sahut seseorang dengan suara beratnya. Gadis itu menoleh dan mendapati sesosok pria dengan paras yang rupawan dengan surai keemasan menatapnya penuh kerinduan.
"Bukannya aku sudah mati?" gumam Gia pelan, pria itu menatap anaknya dengan tatapan sendu.
"Kau di hidupkan kembali berkat kekuatan ibu mu sayang" jawab pria itu, membuat Gia terkejut.
Huh? Apa aku bertransmigrasi ke jiwa seseorang? -batin Gia
"Ibu?" Cicit Gia pelan. Pria itu mengangguk, "Dia Dewi bulan, Dewi Selene"
Gia menampilkan wajah terkejutnya dengan jelas membuat pria di depannya itu terkekeh pelan "sepertinya sebelum ke sini ada sesuatu benda yang membuatmu lupa tentang dirimu, baiklah ayahmu yang rupawan ini akan menjelaskannya"
Gia terkekeh geli melihat tingkah pria di depannya ini yang sangat percaya diri walaupun itu benar adanya, "perkenalkan aku Dewa Helios, dewa matahari sekaligus ayahmu, dan dewi bulan, Dewi Selene adalah ibumu"
"Eum Ayah, kenapa ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan ku, apa yang terjadi?" Tanya Gia penasaran.
Dewa Helios tersenyum sendu, "Waktu itu Ayah dan para Dewa lainnya tengah berperang melawan para iblis di garis depan, sementara waktu itu bertepatan dengan hari kelahiran mu. Ibumu, Dewi Selene mengorbankan nyawanya demi melindungi dirimu saat itu dan menghidupkan mu kembali dengan bertukar nyawa dengannya"
Gia memasang wajah sedihnya. Dewa Helios mendekati Gia, tangan besarnya terulur mengusap surai keemasan yang di miliki tubuh Gia saat ini. Gia sedikit memiringkan kepalanya, mata beiris keemasan miliknya terpejam takut. Mengingat di kehidupan dulu Ayahnya suka melakukan kekerasan kepadanya.
Sapuan hangat di kepalanya membuat Gia merasa nyaman, Gia sadar bahwa Dewa Helios itu sangat berbeda dengan ayahnya, "Tidak usah sedih, Selene pasti senang melihat putrinya tumbuh menjadi gadis cantik"
Selama di dunia atas, tempat para dewa tinggal. Gia atau Amora -nama Gia sekarang- sering berlatih mengendalikan kekuatannya bersama para dewa dan dewi.
Amora Ingat bahwa dia bisa ke dunia tengah tempat para manusia berada, dengan syarat Amora harus kuat untuk bisa memasuki penghalang dunia tengah dan bisa mengubah dirinya menjadi sesosok manusia walaupun itu cukup sulit.
Dan hari ini Amora berhasil mengubah sosok dirinya semaunya dan sudah kuat karena pelatihan dari beberapa dewa. Amora menghadap ke hadapan Dewa Helios "Ayah, izinkan aku untuk pergi ke dunia tengah"
Dewa Helios menatap Amora tajam "kau yakin dengan tubuh mungil mu itu kau akan bisa menjaga dirimu?"
Amora menatap balik Dewa Helios dengan tajam "Ayah, apakah kau meragukan para dewa dan dewi yang selama ini melatih putrimu ini, aku sudah cukup kuat ayah"
Dewa Helios menghela nafasnya, "Manusia itu makhluk yang licik jadi jangan terlalu percaya, pulanglah sebelum fajar tiba" Dewa Helios memberikan sebuah liontin saphire kepada Amora sebagai pelindung dan pengingat waktu.
Amora tersenyum lalu mengecup pipi Dewa Helios pelan, "terima kasih Ayah"
[Dunia tengah, tempat manusia]
"Waah, di sini sangat ramai" ujar seorang gadis bertudung, dia adalah Amora yang sedang menyamar. Rambut yang semulanya berwarna keemasan kini menjadi hitam legam sementara iris matanya menjadi berwarna biru langit.
Sebuah pedang melesat cepat kearah leher Amora dan berhenti se-senti sebelum menyentuh leher Amora "Siapa?"
Amora membalikkan tubuhnya dengan tenang, dengan santai gadis itu melepas tudung jubahnya, "hey tenanglah"
Terlihat seorang pemuda seumuran Amora menatapnya dengan tajam dan penuh selidik, "Aku seorang pendatang, baru kali ini pergi ke pusat kerajaan, aku berasal dari desa di wilayah barat"
Bohong, Amora berbohong. Amora tidak mungkin memberitahu kan tentang dirinya yang sebenarnya dan itu juga merupakan hal yang di larang oleh ayahnya, Dewa Helios.
"Nama" ucap pemuda itu dengan singkat, Amora menatap pria itu dengan senyuman yang cerah "Perkenalkan nama ku Amora, salam kenal"
Tanpa marga? Dan apa gadis itu mengajakku berjabat tangan? -batin pemuda itu.
Pemuda itu menatap Amora bingung pasalnya baru kali ini ada seseorang yang mengajaknya berjabat tangan. Seakan terhipnotis oleh senyuman cerah gadis di depannya tanpa sadar membuat pemuda itu menerima uluran tangan itu.
"Aldeo Lex" jawab pemuda itu singkat dan terkesan dingin lalu melepaskan jabatan tangan mereka. Amora memiringkan kepalanya.
"Kau penduduk asli sini iyakan?" Tanya Amora yang di balas Aldeo dengan deheman kecil.
Mata Amora seketika berbinar dan langsung menyeret Aldeo pergi "mari kita berkeliling bersama!" Sorak Amora secara sepihak sementara Aldeo hanya pasrah mengikuti gadis itu daripada dia sendirian.
Mereka berdua -Amora dan Aldeo- mulai mengelilingi pasar malam yang berada di pusat kerajaan matahari. Mereka mulai menghampiri beberapa pedagang makanan, aksesoris dan berbagai tempat. Amora lebih sering mengoceh dengan semangatnya sementara Aldeo hanya sesekali mengatakan sesuatu.
Setelah melihat pertunjukan kekuatan antara penyihir, Amora dan Aldeo mengistirahatkan tubuh mereka di salah satu bangku yang ada di pinggir taman dekat pasar.
"Luar biasa, seandainya aku juga bisa memilikinya" keluh Amora saat mendengar Aldeo kalau setiap penyihir muda berusia 12 tahun seperti mereka di kerajaan Matahari sudah bisa mempunyai hewan kontrak.
"Apa kau juga memilikinya Aldeo?" Aldeo mengangguk lalu mengeluarkan sebuah naga berwarna Aquamarine berukuran kecil.
Amora berteriak cukup heboh membuat Aldeo harus menegurnya agar tidak menimbulkan kekacauan, Amora mendengus lalu dengan perlahan dia mengusap pelan kepala naga itu "Lucunya, siapa namanya?"
"Cyo" Setelah itu Amora mulai bermain bersama Cyo sesekali Aldeo memarahi Amora karena mengusiknya. Tidak lama kalung pemberian Dewa Helios, ayahnya bersinar menandakan sebentar lagi akan fajar.
Aldeo menatap kalung berbandul saphire itu, "Ah sepertinya aku harus pergi" ujar Amora tiba-tiba, membuat sang pemuda itu tersentak.
"Kemana?" Tanya Aldeo, Amora mengembalikan Cyo kepada Aldeo, "Aku sudah berjanji kepada ayahku untuk tidak berlama-lama di sini"
"Kapan kau akan ke sini lagi?" Amora menimbang-nimbang pertanyaan yang Aldeo lontarkan, "mungkin tahun depan".
Amora mulai beranjak pergi "berjanjilah dan aku akan membantu mu mencari hewan kontrak" ujar Aldeo yang di sambut dengan senyuman manis Amora.
"Aku berjanji"
Setelah itu Amora pergi meninggalkan Aldeo seorang diri di bangku taman, beberapa prajurit mulai mendatangi Aldeo.
"Tuan, Yang Mulia memanggil anda" ujar salah satu prajurit itu. Aldeo berjalan malas diikuti oleh para prajurit tadi.
[1 tahun kemudian]
"Aldeo!!" Teriak seorang gadis dengan rambut hitam legamnya yang di ikat menjadi dua bagian yang terkesan sangat imut di mata Aldeo.
Aldeo berjengit dalam hati karena pemikirannya yang sedikit aneh tentang gadis di depannya itu. "Hey, apa masih ada orang?" Ujar Amora sembari melambaikan tangannya di depan wajah Aldeo.
"Ck, berisik"
Aldeo dan Amora mulai menelusuri hutan untuk mendapatkan hewan kontrak, Amora tidak berharap banyak cukup hewan yang lucu saja dia sudah cukup senang.
Sampai di suatu jurang yang cukup dalam, Amora mendengar suara rintihan tanpa pikir panjang Amora langsung melompat ke dasar jurang, membuat Aldeo seketika panik.
Dengan cemas Aldeo berharap gadis mungil itu tidak terluka sedikitpun dan saat berada di dasar jurang Aldeo melihat Amora yang tengah berusaha untuk membantu seekor burung dengan bulu berwarna merah.
"Hey! Yang tadi itu sangat berbahaya!" Amora menatap Aldeo malas, tidak bisakah seorang pria itu tidak terlalu cerewet, Amora sudah cukup pusing mendengar celotehan Ayahnya dan beberapa dewa lainnya.
"Lebih baik kau bantu aku menyelamatkan burung ini" Setelah kejadian itu akhirnya Amora melakukan kontrak dengan hewan itu yang nyata adalah hewan spiritual legendaris, Phoenix.
Amora berjalan dengan senyum yang mengembang membuat Aldeo merasakan sesuatu yang aneh padanya.
[Setahun berikutnya]
"Al, ayo kita berlomba siapa yang lebih banyak mendapatkan hewan buruan dia yang akan menang, dan yang kalah harus memasak untuk yang menang, bagaimana?" Ajak Amora dengan wajah menantang. Aldeo menatap Amora tajam.
"Ayo, siapa takut" balasnya dengan yakin.
Mereka berdua mulai berburu secara besar-besaran, untung saja perlombaan itu berbatas jika tidak mungkin hewan di hutan sudah habis mereka bunuh.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan di tangan Amora walau hasil buruan mereka selisih sangat sedikit, Amora mulai meledek Aldeo dan memaksanya untuk memasak sesuai dengan peraturan yang mereka sepakati.
Amora merasa kesal saat melihat Aldeo yang sangat-sangat tidak bisa berhubungan dengan dunia masak, lihat saja memotong kepala serigala saja dia sangat kaku.
"Kalau kau memotongnya seperti itu lalu memasaknya aku akan mati muda karena tersedak makanan buatanmu" mendengar itu Aldeo mendengus sementara Amora mulai membantu Aldeo untuk memasak.
Mereka berdua terlihat kompak sesekali Amora memarahi Aldeo karena terlalu memperhitungkan segalanya, "coba pakai insting saja" begitu katanya.
[1 tahun kemudian]
"Kenapa kau menatap ku? Aku tau aku itu manis, hahaha" Amora tergelak sementara Aldeo menatap gadis itu jengah.
"Ck, terlalu percaya diri. Aku hanya menatap wajah mu karena kau aneh" ujar Aldeo jujur, Karena menurutnya Aura yang dipancarkan Amora itu berbeda.
"Bilang saja aku manis" Aldeo menyentil pelan kening Amora membuat sang empu meringis.
"Itu sakit asal kau tau" Aldeo hanya diam tanpa mau berdebat dengan gadis cerewet di sampingnya.
"Kau tampan asal kau tau" kata Amora spontan saat melihat Aldeo yang tersenyum sekilas. Aldeo berdiri lalu mensejajarkan dirinya dengan Amora yang masih terduduk di bangku taman.
'puk'
Aldeo memukul kepala Amora "sepertinya gadis mungil ini sudah pandai menggoda seseorang" ejek Aldeo lalu berlari menjauh dari Amora yang pastinya akan mengamuk.
"KEMBALI KAU KURANG AJAR!" Teriak Amora nyaring sementara Aldeo terus berlari sembari terkekeh dengan semburat merah di telinganya.
[Setahun kemudian]
"Dewi Libra, kita harus bersiap-siap. menurut ramalan, gerbang iblis akan terbuka sebentar lagi dan itu berada di kerajaan matahari" ujar seorang wanita dengan baju khas makhluk atas.
"semoga aku bisa datang tepat waktu, Al" gumamnya.
•Kerajaan matahari•
"Ku harap kau baik-baik saja" gumam Aldeo dengan pakaian khas kerajaan, kabar desas-desus tentang iblis yang mulai bermunculan membuat seluruh kerajaan cemas.
"SEGEL IBLIS TELAH TERBUKA!" Teriak seorang pendeta suci kerajaan membuat seluruh orang panik. Para prajurit mulai di arahkan untuk menyerang iblis-iblis yang akan datang.
"Sial" umpat Aldeo yang sama sekali tidak bisa berpikir jernih, dengan kesal Aldeo menarik pedangnya dan mulai membunuh iblis-iblis yang mulai berdatangan.
Waktu terasa amat lama, pertumpahan darah tak terelakkan lagi, suara jeritan kesakitan terdengar jelas. Tidak lama sesosok gadis berambut keemasan dengan sayap muncul di hadapan Aldeo dan yang lainnya.
"Keluarlah, aku tau kau penyebab segel iblis terbuka!" Teriak gadis itu dengan lantang, seorang wanita dengan wajah cantiknya tersenyum miring.
"Ah aku ketahuan" ucapnya dengan senyum yang menyeramkan, wanita itu mulai merapalkan mantra dan sebuah lubang hitam muncul dengan diiringi dengan iblis-iblis yang keluar dari sana.
Pertarungan terjadi, pada kenyataannya wanita yang berjabatan sebagai ratu baru di kerajaan matahari adalah seorang wanita jahat yang sudah mencuci otak sang raja.
"Mati!" Teriak wanita itu dengan sekuat tenaga menyerang Amora yang datang sebagai Dewi Libra -Dewi keseimbangan-, Amora lengah karena beberapa iblis tingkat menengah milik Sera menyerangnya. Aldeo yang melihat itu lantas mencegahnya dan berakhir dengan dia yang tertusuk.
Amora membalikkan tubuhnya dan mendapati Aldeo yang tengah meregang nyawa, "KAU! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!" teriak Amora saat melihat Aldeo membiru, dengan cepat sebuah kilat memutuskan kaki Sera.
"Aku uhuk-bermain pada anak nakal itu-dia akan mati jika t-tidak meminum darah orang yang d-dia sukai" ucap Sera sembari tertawa nyaring, Amora yang melihat itu segera menghujamkan Sera dengan petir cahayanya.
"Al, bertahanlah" ucap Amora, Aldeo terbatuk lalu tersenyum hangat.
"Hey jan-uhuk jangan menangis-" Aldeo mengusap pelan air mata yang mengalir di pipi Amora. "-terima kasih karena m-mu aku bisa merasakan artinya ja-jatuh cinta".
Amora yakin dengan dirinya dan debaran saat bersama Aldeo, saat ingin mengiris jarinya, Dewa Helios datang "Tidak, kau tidak bisa melakukan itu" ujarnya lirih.
"Kenapa...ayah?"
"Sekali seorang penghuni dunia atas memberikan darahnya kepada manusia itu berarti dia bersedia mati dan memberikan keabadiannya kepada manusia itu...aku tidak ingin kehilanganmu...putriku"
"Tidak Ayah...setelah ini putrimu yang sebenarnya akan kembali sementara aku akan kembali ketempat seharusnya aku berada" Ujar Amora jujur.
(Beberapa hari sebelum segel terbuka)
"Apa yang tuan lakukan?" Tanya Phoe si hewan kontrak Amora.
Amora tersenyum, "bukannya aku tidak percaya hanya saja kita tidak tau kapan aku lengah dan musuhkan menyerang, jadi aku buat saja sihir reinkarnasi jadi pemilik tubuh asli ini akan kembali dan aku akan pulang ke rumah ku"
Phoe menatap Amora sendu, entah mengapa perkataan tuannya seperti terdengar salam perpisahan.
Dengan cepat Amora melukai jarinya dan meneteskan darahnya kepada Aldeo, dengan sedikit di bantu dengan kekuatannya Amora membuat Aldeo menelan darah yang dia berikan.
"Jika kamu dan aku hidup di dunia yang sama, aku harap kita ditakdirkan bersama, jangan lupa untuk mencari ku...selamat tinggal...Aldeo" ujar Amora sembari mengecup kening Aldeo setelah beberapa saat Amora menjauh dari Aldeo dia ambruk ke pelukan Dewa Helios.
Perlahan seorang gadis membuka matanya, bau obat-obatan mulai mengusik penciuman gadis itu, "Ibu kakak sadar!" Teriak seorang anak kecil.
Dengan cepat wanita paruh baya itu memanggil dokter, 5 bulan lamanya anak perempuannya akhirnya sadar dari koma.
Gia menatap lurus kearah taman rumah sakit, Gua merasa dia seperti memimpikan sesuatu yang nyata tapi sayang nya dia tidak bisa mengingatnya.
"Kak awas" teriak seorang anak kecil, Gia mengalihkan pandangannya, sebuah bola karet mengarah kepadanya. Gia memejamkan matanya cukup lama dan aneh karena bola itu tidak mendarat di tubuhnya.
"Kau tidak apa?" Gia hampir saja terjungkal saat melihat wajah pria tampan tepat di depannya. "Tidak apa" balas Gia sembari menormalkan detak jantungnya yang seakan mengenal pria di depannya ini.
"Kalau begitu aku minta maaf dan aku permisi" pria itu segera menyeret anak kecil yang menendang bola ke pada Gia tadi.
"aku menemukan mu" ujar pria tadi sembari menahan semburat merah di wajahnya.
[End] Arigathanks:>