Situasi kota tampak sepi nan sunyi kala hari memasuki waktu sore. Tidak tampak seorang pun berjalan lantaran kota itu telah ditinggalkan sejak beberapa tahun lalu. Bekas kehidupan disana masih tersisa seperti bangunan, perabotan, hingga fasilitas umum lainnya yang menyebar di berbagai sisi kota.
Verin melihat suasana sekitar saat baru datang ke kota tersebut. Dengan langkah perlahan, ia perhatikan dengan tatapan tajam.
"Kota ini masih berdiri walau sudah ditinggalkan beberapa tahun silam." ujarnya saat tengah menyusuri area kota.
Seorang diri di dalam kota itu, membuat Verin merasa seperti sangat leluasa ketika berkeliling disana. Dengan sebuah kamera yang di bawanya, Verin coba untuk mengambil gambar beberapa saat. Beberapa foto berhasil didapatkannya kala itu. Berbagai tempat, sudut, dan area lainnya telah ditelusuri dan diambil gambarnya melalui sebuah kamera.
"Suasana yang masih sama seperti waktu itu. Membuat orang-orang pasti akan merasa rindu. Seperti aku."
Verin datang ke kota itu dikarenakan alasan dasarnya yaitu rindu. Rindu yang ia miliki sebab dulunya perempuan tersebut adalah salah satu penduduk disana ketika kota itu masih dihuni banyak orang.
Berjalan dan terus berjalan. Verin berniat untuk berkunjung ke tempat-tempat yang mengingatkannya akan masa lampau. Pertama adalah bangunan sekolah. Bangunan besar itu membuat seorang Verin ingat akan masanya menuntut ilmu disana.
"Sekolah ini memberiku kenangan akan belajar disana dan juga mengingatkanku akan teman-teman sekelas yang bersikap baik padaku. Aku malah jadi merindukan mereka bila mengingat masa-masa berada di sekolah ini."
Setelah itu, Verin lanjut berjalan menuju sebuah rumah. Rumah yang tidak jauh dari pusat kota itu berada di tanah menanjak. Ia melihat dari depan rumah tersebut. Bangunan yang sudah dimakan usia dengan tumbuhan liar yang menempel di bagian dinding. Verin teringat akan masa ketika dirinya tinggal disana.
"Rumah ini mengingatkanku akan banyaknya momen kebersamaan dengan keluargaku. Dan ada banyak hal telah terjadi disini. Aku merindukan mereka semua. Ayah, ibu, dan bahkan para saudaraku." ungkapnya.
Usai dari rumah, Verin pun mengakhiri perjalanannya di sebuah tempat yang menjadi kenangan kala ia masih sangat muda.
Sebuah taman kota yang luas dan juga teramat sepi itu di datanginya. Jalan setapak yang sudah di tumbuhi rerumputan itu di laluinya. Kolam air mancur yang kini airnya sudah bewarna gelap itu menjadi ikon utama di tempat tersebut pada masanya.
Sebuah bangku taman, tampak berada di tepi jalan setapak. Verin mencoba duduk, lalu memandang suasana sekitar.
"Taman yang dahulunya sangat indah dan dikunjungi banyak orang. Aku masih ingat aktivitas banyak orang di masa itu. Ditambah suasana yang asri dan terawat semasa aku menginjakkan kaki disini. Apalagi...".
Verin seketika diam. Dirinya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia memandang benda yang diambilnya tersebut.
"Apalagi tempat ini menjadi saksi bisu saat dia melamarku." ucapnya sembari menatap sebuah bingkai foto seorang lelaki dalam konsep hitam putih.
Air matanya keluar dalam sekejap setelah mengingat momen-momen yang pernah dilaluinya. Kini perempuan bernama Verin itu tidaklah muda lagi. Dan ia merasa bahwa waktu bergerak sangat cepat. Tetapi Verin tetap senang karena ada banyak hal yang pernah ia jalani dan membayangkan segala memori itu cukup membuatnya bahagia. Lika-liku kehidupan selama ini sudah dilaluinya hingga sekarang.
"Aku merindukan kalian semua yang pernah dekat denganku di masa lalu. Ya... Aku bersyukur bisa mengenal kalian semua." ucapnya.
Beranjak dari taman, Verin mulai bergegas meninggalkan kota itu. Menyalakan mesin mobilnya, ia memandang beberapa saat sebelum ia mulai berjalan. Dan kemudian dirinya pun pergi meninggalkan kota tersebut.
---
Mula kota itu ditinggalkan lantaran satu kejadian mendadak di sebuah area pembakit listrik bertenaga nuklir. Dirasa mengancam nyawa, para penduduk pun mulai meninggalkan kota tersebut.
Dan sekarang, kota ini hanyalah sebuah kota hantu layaknya judul yang disematkan di berbagai artikel misteri.
-----SELESAI-----