"Mba, maaf ya... Saya gak suka mba mengirimkan tulisan-tulisan mba ke suami saya. Saya mohon, ini yang terakhir ya. Jangan mengirimkan puisi-puisi romantis ke suami saya lagi."
Aku membaca pesan itu. Lalu tersenyum.
Puisi yang mana, dan sudah berapa lama?
Rasanya aku sudah lama sekali tidak berkirim pesan pada lelaki yang kau sebut "suami saya". Mungkin sudah dua atau tiga tahun.
Justru beberapa hari lalu suamimu yang "mencuri" puisiku lalu dikirim ke grup alumni kelas kami. Puisi tak berjudul itu (ciri khas ku tidak memberi judul) menjadi berjudul. Suamimu yang menyempurnakan tulisan itu, meski hanya menambahkan judul.
Dia, yang termasuk jarang komentar dan posting di chat grup, tiba-tiba posting puisi.. tentu saja seisi grup menjadi heboh. Hari itu grup menjadi ramai sekali. Semua mempertanyakan untuk siapa puisi itu ditulis.
Kau ingin tahu jawaban suamimu? Jawabannya adalah penggalan kalimat yang pernah kutulis di sebuah blog. Ternyata dia masih hafal. "Dia adalah air yang menyublim dirinya menjadi uap. Ada tapi tak terlihat, terasa sejuk namun tak berwujud."
Aku sendiri membaca chat grup saat sore, dan terkejut luar biasa mendapati salah satu tulisanku di posting suamimu. Sebab aku dan dia tidak pernah bercakap-cakap meski di grup. Kami saling menahan diri. Tak ingin memercikkan api.
Teman-teman membahas puisi itu, banyak yang bilang suamimu romantis. Ada juga yang merasa puisi itu ditulis untuknya.
Beberapa jam kemudian ia keluar grup. Lalu seorang teman meneruskan pesannya ke grup, berisi alasan mengapa ia keluar grup, istrinya marah dan sangat membenciku.
Apakah kau tahu yang kurasakan?
Saat teman-teman mempertanyakan mengapa istrinya sampai membenciku? ada apa diantara kami? Haruskah kujawab karena aku dan suamimu saling mencintai?
Tanpa kujawab, mereka akhirnya tahu alasannya. Keheranan mereka tentang kami yang tak pernah saling sapa di grup pun terjawab. Kenyataan terkuak. Ada cerita yang coba kami sembunyikan dari siapa pun. Kecuali Tuhan.
Dan mereka paham, bahwa kami mampu menjaga prestise dan integritas diri. Tidak terjebak dalam sebuah hubungan haram, meski kami berkubang dalam kenangan dan perasaan.
Tentu saja aku tak bisa marah pada suamimu.
Bagaimana aku bisa marah, jika memang puisiku tersebar dimana-mana, di media online. Siapa pun bisa copas dan share. Apalagi aku tak punya platform untuk menghindari orang lain memplagiatnya.
Namun aku ingin memberitahumu. Sebagian puisiku terinspirasi dari kata-kata suamimu yang dikirim untukku. Dia kirim dua atau tiga kalimat, aku bisa mengembangkannya dalam dua atau tiga paragraf, bahkan dua atau tiga halaman.
Sejak bertemu di media sosial duabelas tahun lalu, komunikasi kami pasang surut.
Pasang, karena sebagaimana manusia biasa kami sering dilemahkan oleh rasa. Meski cinta kami bisa dikatakan adalah cinta anak belasan, tapi entah kenapa terpatri kuat dalam hati. Seperti energi, ia tak dapat kami musnahkan. Hingga akhirnya kami bersepakat untuk merubah bentuknya saja.
Itu juga sebabnya kami mengalami hubungan yang surut, karena sebagai manusia bermoral kami memiliki nilai dan norma yang dijaga. Bahkan kami juga bersepakat untuk menjaga hatimu.
Kau tahu rasanya mencintai orang yang tak boleh dicintai..? Seperti kau sangat menginginkan sesuatu yang mustahil untuk dimiliki. Meminjam istilah suamimu, seperti menggapai awan dalam kabut, mengkhayal dalam mimpi.
Apakah kau tahu rasanya mengubur cinta dalam-dalam, dan menelan rindu diam-diam?
Berat, guys...
Suamimu bilang, gelap yang diciptakan bahkan tak mampu menghapus bayang-bayang.
Dia menganalogikan sebagai gerhana, yang gelap di satu sisi namun terang dan bersinar di sisi lain.
Apakah kau tahu rasanya saat kami harus membakar lembar-lembar cerita yang dulu kami tulis bersama?
Betapa kami juga merasa ingin ikut musnah bersama cerita-cerita itu.
Sakit, guys...
Apakah kau tahu rasanya berpura-pura semua baik-baik saja, kehidupan kami bahagia. Padahal jauh di dalam jiwa kami ada ruang hampa yang tak bisa terisi oleh apa pun juga, kecuali sebentuk cinta yang telah kami tikam bersama?
Pedih, guys...
Suamimu bilang, itu seperti air laut yang terlihat jernih, namun sangat sakit jika mengenai luka. Kutambahkan disini, terlihat jernih namun tak mampu menghilangkan dahaga.
Pada setiap pesan kami (yang kau sebut puisi romantis) selalu ada pedang bermata dua. Satu sisi melukaiku, sisi lain melukainya.
Pada setiap klik "kirim" ada "perang besar" yang harus dilalui dalam jiwa kami. Kesadaran dan keinginan, yang berhimpit, berseteru, untuk saling mengalahkan.
Dan itu melelahkan, guys...
Penderitaan kami seperti juga cinta kami, menjadi tidak sederhana. Tidak semudah men-delete file dalam folder dan memory HP.
Orang lain mengatakan kami bodoh. Tetapi cinta memang membuat orang menjadi bodoh dan kehilangan logika. Di hadapan cinta, kami seperti kepala tanpa logika, jiwa tanpa mahkota, buku tanpa kata.
Periksa lagi chat messenger suamimu, jika hanya kau temukan kirimanku, maka berhati-hatilah. Artinya ia sengaja menyimpannya untuk dibaca ulang bahkan mungkin dihafal. Tetapi jika kau juga menemukan kirimannya untukku, maka ketahuilah, kau bisa memenjarakan raganya tapi tidak hatinya.
Ingin kukatakan padamu, bisa menikahi orang yang kita cintai adalah keajaiban, mencintai orang yang kita nikahi adalah kewajiban. Kami memilih untuk menjalani kewajiban dan membuang jauh-jauh harapan tentang keajaiban.
=000=
Sembilan belas bulan sudah pesan itu kuabaikan. Hingga kemudian sebuah notifikasi telegram kembali mengetuk-ngetuk keyboard ingatanku tentang lelaki itu.
Setelah semua upaya pemblokiran media sosial dilakukan, kini hadir media lain yang memungkinkan untuk tetap berkomunikasi.
Aku tahu, aku kembali menghadapi ujian. Kesadaran dan keinginan kembali berseteru untuk dimenangkan.
Beberapa minggu ini, kesadaran masih menang. Meski keinginan menghubungi itu terus mendesak agar kugerakkan jemari untuk berkirim pesan, tapi itu tidak kulakukan.
...
Kata orang, the first love is never end. Cinta pertama tak pernah berakhir. Demikian mungkin yang terjadi antara aku dan Ahsya. Selalu dan selalu ada alasan untuk bertemu kembali, lalu jatuh cinta lagi. Aku selalu jatuh cinta pada orang yang sama.
Meski setiap kali pula akhirnya aku menjauh atau Ahsya menghindar. Setiap lima tahun, selalu ada kejadian tidak enak dengan pasangan kami. Kadang dari istrinya, kadang dari suamiku. Mungkin sebenarnya mereka pun bosan, sebab sumber kecemburuan dan keributan selalu sama. Orangnya itu-itu saja, sehingga ujung keributan pun itu-itu juga.
"Maaf ya.. jangan chat pribadi ke saya. Saya takut suami kamu atau istri saya baca, lalu ada yang salah paham.." kata Ahsya suatu kali.
"Jangan hubungi saya, ya.. suami saya marah.." aku juga meminta suatu kali.
Tapi beberapa bulan kemudian selalu ada pesan atau chat masuk.
"apa kabar..?"
Walau hanya dua kata, delapan aksara, tapi mampu mengguncang hatiku bagai terkena gempa 6 skala Richter.
Lalu tertulis lah puluhan kata lain, dalam kalimat-kalimat indah. Inilah yang disebut istri Ahsya "puisi romantis", meski bagiku sama sekali tidak. Bukan kalimatnya yang romantis, namun perasaan kami lah yang membuat setiap kata memberi efek romantis.
"Aneh..." kata temanku.
"Kok ada hubungan seperti itu.." kata teman lain.
"Kalian saling memiliki, meski hanya dalam hati.." kata yang lainnya.
"Kalian hanya bisa bertemu dalam doa.." teman lain mencoba bijak.
"Buang-buang waktu.." gerutu sahabatku.
Mereka mungkin benar..
Tapi tahukah mereka, hanya Ahsya yang bisa berpatroli tanpa henti di pikiranku. Meski aku mati-matian mengusirnya pergi. Bahkan aku takut Tuhan marah, lalu menutup semua lorong otakku.
"Karena kau tak ikhlas.." kata Rosa.
"Kau belum bisa terima bahwa dia suami orang lain." lanjutnya.
What's?
Aku tak ikhlas? tak terima?
Apa hak-ku?
Itu adalah ketentuan Tuhan, mana berani aku menentangnya.
Aku terima Ahsya tidak bisa kumiliki, Aku ikhlas ia menikah dan bahagia bersama orang lain. Aku hanya tak bisa mengeluarkannya dari pikiran-pikiranku. Semakin keras aku berusaha lupa, semakin keras juga bayangan tentangnya mengejarku.
"Lupakanlah.. mengingatnya hanya menyakitimu.." Wiwin, sahabatku menyarankan.
Ah, ia sok tahu.. Ingatan tentang Ahsya tak pernah menyakitiku. Bahkan kenangan tentangnya seringkali meningkatkan hormon bahagia di otakku. Upaya melupakannya lah yang membuatku sakit setengah mati.
Kini keinginan telah menang dari perseteruannya, maka aku akan kembali berkirim pesan.
"Hei.. perempuan kok tak punya malu.." mungkin Astri, istri Ahsya akan mengatakan itu.
Tapi bukankah aku telah mengikuti keinginannya, untuk tidak mengirim puisi?
Aku hanya mengirimkan link cerita kepada suaminya.
Kini tak ada lagi puisi untuk suamimu. Sebab semua puisinya akan kukemas dalam cerita yang kutulis dari waktu ke waktu.
Aku adalah air
Aku adalah cahaya
Aku tak akan kering
Aku tak akan padam
Sekerontang apa pun kemarau
Aku akan tetap ada,
mengalir di sela-sela bebatuan di dalam bumi
Sepekat apa pun malam
Aku akan tetap berpendar,
serupa bintang menemani bulan.
....