Matahari sore menyesapkan kehangatannya. Sehangat sisa kopi dalam cangkir yang baru saja kuteguk.
Seorang wanita cantik bergamis syari menghampiriku. Dia lah istri tercintaku yang baru saja pulang pengajian.
"Abi," sahut istriku di suatu hari sepulang pengajian.
"Iya Mah," jawabku sambil membolak-balikan koran yang tengah kubaca.
"Menurut abi gimana klo umi pakai niqab atau cadar?” tanyanya.
"Aduh mah jangan lah.... jangan se ekstrim itu, mama udah berpakaian syari seperti ini aja udah bagus, mama rajin sholat wajib, sholat malam, puasa sunnah, itu udah cukup mah untuk mengantarkan mama ke surga." Aku terkejut mendengar pertanyaan istriku.
"Hmmm,,, menurut abi, umi cantik ga?"
"Cantik dong, papa itu nikahin mama karena mama itu cantik banget seperti bidadari impian papa." Aku menggodanya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku.
"Abi nih mulai kumat deh main gombal gombalan," jawab istriku tersipu.
" Justru karena umi cantik maka umi pakai niqab biar cantiknya umi itu hanya dinikmati oleh abi seorang... memangnya abi ga cemburu ya kalo wajah cantik ini dinikmati oleh pria pria lain di luar sana."
"Kenapa harus cemburu karena mama juga kan jarang keluar rumah, pekerjaan mama kan di rumah mengurus rumah tangga. Jangan ya mah, papa mohon papa belum siap." Ku tatap wajah istriku dengan tatapan memohon.
"Hmmm,,," istriku menghela napas sambil menganggukan kepalanya patuh pada keputusanku.
Ada ada saja permintaan istriku setelah berhijrah, kalau dia memintaku memelihara jenggot, aku sudah menyanggupinya,.
"Abi lebih ganteng deh kalo abi memelihara jenggot," ucap istriku kala itu.
"Papa kan emang udah ganteng dari lahir mah," jawabku.
"Iya dan akan lebih ganteng kalo berjenggot dan itu sunnah loh Bi," katanya.
Walaupun sejujurnya aku malu pada Allah, aku memelihara jenggot yang katanya sunnah rosul tapi aku malah belum pernah melakukan ibadah sunah lainnya seperti sholat sunnah atau puasa sunnah . Aku memang tidak paham tentang agama, aku hanya sekedar melaksanakan ibadah yang wajib saja.
Perbedaan kerap muncul dalam kehidupan rumah tangga kami setelah istriku "hijrah". Mungkin akan terdengar aneh menurut orang lain.
Seperti misalnya aku memanggil dengan sebutan "mama papa" sedangkan istriku memanggil dengan sebutan "abi umi".
Anak pertama kami kembar aku beri nama "Nakula dan Sadewa" setelah dia "hijrah" dia memanggil si kembar dengan sebutan " Umar dan Ali". Anak ketiga kami perempuan usianya belum genap dua tahun, tadi nya putri kecilku akan aku beri nama Rachel, tapi istriku memohon agar dia yang memberi nama, akhir nya putri cantikku di beri nama Fatimah.
Awalnya aku khawatir dengan perubahan penampilan syari istriku, jikalau dia sedang aku bonceng dengan motor, takut bagian bawah pakaiannya nyangkut di jari-jari motor sehingga menyebabkan kecelakaan. Seperti cerita yang beberapa kali kudengar.
"Lah terus kalo kita mau berpakaian syari begini harus nunggu punya mobil dulu?” jawaban istriku atas kecemasan yang aku rasakan kala itu. Karena kemantapan istriku, akhirnya aku pun mendukung keputusannya.
Hari ini istriku meminta izin untuk pergi pengajian.
"Abi nanti jemput umi ya," ujar istriku sebelum berangkat pengajian.
"Jam berapa papa jemputnya mah?" jawabku.
"Jam 11 aja ya, abi nanti tunggu di depan islamic Center aja pas di halte nya"
"yang deket mesjid agung itu mah? "
"iya,, awas ya abi jam 11 pokok nya, umi ga punya kuota jadi nanti abi langsung jemput aja ga usah tunggu telpon atau wa dari umi ya."
"Ok. Hati- hati ya mah," ucapku ketika dia berpamitan sambil mencium tanganku. Dan istriku pun pergi bersama Fatimah putri kecilku.
Karena tadi sehabis salat Subuh, aku bersepeda bersama si kembar Nakula Sadewa, tubuhku terasa lelah sehingga aku merasa sangat ngantuk dan aku pun tertidur.
Ketika aku membuka mata kulihat jam di dinding menunjukan pukul 13.30.
"Astagfirullah, udah siang," gumamku dalam hati.
Ternyata istriku belum pulang, kulihat Ponselku tidak ada pesan WA atau panggilan telepon dari istriku. Aku bergegas menjemput istriku setelah aku sempatkan salat Zuhur. Si kembar aku tinggal di rumah.
Sampai di depan islamic, mataku mulai mencari istriku tapi aku tidak melihatnya. Aku berusaha untuk meneleponnya tapi ponselnya tidak bisa di hubungi.
Di depan halte aku tertegun melihat darah yang masih lumayan segar membasahi aspal hitam jalan raya. “sepertinya barusan ada kecelakaan" gumamku dalam hati.
"Tadi habis ada kecelakaan, Mas" kata bapak yang berdiri di sebelahku
“Oh, astagfirullah.”
"Kasihan Mas tadi yang kecelakaan ibu muda gitu sambil gendong anaknya masih kecil tertabrak mobil pas mau nyebrang kesini setelah beli pulsa di counter di seberang sana. Tapi masya Allah sungguh luar biasa si ibu muda itu kepalanya udah berdarah darah tapi dia berpesan untuk tidak membuka jilbabnya ketika orang orang menolongnya."
Deg.
Aku mulai cemas mendengar cerita si bapak tadi, ibu muda dan anak kecil semoga itu bukan istri dan anakku. Batinku.
Kemudian aku mengeluarkan ponsel dari kantong celanaku.
"Pak, maaf barangkali bapak lihat istri dan anak saya?" tanyaku sambil menyodorkan foto istri dan anakku di ponselku.
"Ya Allah pak seperti nya itu yang tadi barusan kecelakaan."
"Yang bener Pak?" Aku terkaget mendengar jawaban si bapak itu
"Begini aja Pak, coba Bapak cari di RSU aja karena tadi korban dibawa ke sana, semoga saja saya salah, yang tadi kecelakaan bukan istri Bapak."
"Ya sudah, terima kasih banyak yah, Pak."
Aku buru buru pergi menuju RSU. Setelah sampai di RSU aku mencari informasi pada petugas rumah sakit. Seketika tubuhku lemas bergetar setelah mendengar kabar bahwa korban kecelakaan itu benar istri dan putriku. Aku tidak bisa menahan tangisku, kupeluk tubuh putri kecilku yang sudah terbujur kaku. Allah telah mengambil kembali putri kecilku.
Aku masuk di ruangan dimana istriku terbaring di sana, dokter mengatakan ada pendarahan di kepalanya. Ku genggam tangannya, hatiku terus melantunkan doa pada Nya berharap akan ada keajaiban untuk keselamatan isttiku.
Kemudian kurasakan jemari nya bergerak dan istriku membuka matanya.
"A-a-a-bi ma--af kan u--mi ya" suara istriku terbata.
"Abi yang minta maaf , maafkan abi karena terlambat jemput" kata ku, di situasi ini spontan aku memanggilnya abi umi.
"ja-ga a- nak a- nak"
"laa,.. ilaha... illaallah... Mu-ha-mad ro-su-lluloh." Dengan suara terbata istriku berusaha mengucapkan kalimat agung ini sebelum kemudian matanya terpejam.
Ku goncang goncang tubuh istriku tapi tidak ada reaksi lagi. Dokter kemudian datang memeriksa dan akhirnya menyatakan istriku telah tiada. Inna lilahi wa Inna ilaihi rojiun.
Aku tak kuasa menahan tangis, dunia serasa kiamat, tubuhku lunglai terasa lemas. Bidadari ku telah kembali ke pangkuan Nya.
Bidadari surga ku.