Jadi aku santriwati baru di sebuah pondok. Aku baru pindah dan masuk ke kelas 11 MA. Pondok ku ini bukan pondok yang murid nya banyak. Dan bangunan nya seperti bangunan kost dua lantai berbentuk letter L yang di kelilingi pagar tembok, memudahkan kita para santriwati untuk beraktivitas di luar ruangan tanpa memakai jilbab.
Ada dua tangga, satu di dalam seperti tangga pada umumnya yang terbuat dari semen dan satu di luar terbuat dari besi tegak berbentuk melingkar. Nah kamarku ini persis berhadapan dengan tangga besi melingkar itu, dan kasur ku berhimpitan dengan jendela.
Awalnya semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang janggal menurut ku di pondok ini. Tak masalah. Namun ternyata ada beberapa kebiasaan kecil Teman-teman ku yang aku agak kurang ngeh kalau itu aneh.
Teman-teman ku itu yang berarti sudah santriwati lama mereka tidak suka begadang di luar kamar sampai tengah malam, lebih dari jam 9 pasti sudah di kamar. Sangat jarang yang nongkrong di luar atau di mushola lantai dua sekalipun untuk belajar.
Mereka lebih suka berdiskusi di kamar, belajar di kamar dan menutup pintu serta jendela. Adek kelasku kelas 10 yang berarti masih anak baru mereka suka sekali mengerjakan tugas bergerombol di salah satu kamar di lantai dua yang di jadikan musola dan tidur dengan jendela terbuka karena alasan panas, hanya gorden nya saja yang di tutup. Beda kan? FYI kamar anak kls 10 dan mushola di lantai dua, kamar kelas 11,12, dan ruang tata busana ada di lantai 1.
Nah kebiasaan yang lainnya yaitu, Teman-teman dan kaka kelasku yang beda kamar terkadang ingin tidur di kamar ku. Ada yang bawa kasur sendiri ada juga yang numpang sama kasur temennya. Tiap kaka kelasku itu mau tidur di kasur ku dia selalu bilang kalo mau nya tidur yang gak dekat tembok. Kalo ku tanya kenapa kok gak mau, kan enak deket jendela dan tembok nya dingin, mereka selalu jawab :
"aku gak mau kalo liat tangga besi itu, "
"Emang kenapa?,"
"Gakpapa tangga nya jelek, "
Begituuu terus, semuanya deh! Gak cuma satu orang. yang tidur sama aku mesti gak mau tidur deket jendela.
Di kelas 11 itu aku ikut ekskul menjahit atau tata busana, waktu itu aku suka sekali menjahit sampai lupa waktu. Jam 10 pun aku masih menjahit sendirian di ruang tata busana malam-malam karena kadang ada beberapa temen yang minta tolong buat permakin baju atau celana mereka. Nah di suatu malam ada kaka kelasku yang sedang keluar bangun tidur karena mau ambil air minum.
Karena melihatku sedang menjahit sendirian dia mampir dulu, sambil mengucek mata dan meletakkan botol kosong di meja jahit dia tanya :
"Lagi apa sil?,"
"Lagi mermak jilbab nih, "
Setelah mengobrol beberapa saat dia pergi sambil bilang, "kok kamu berani sih di ruang tabus sendirian malam-malam?,"
"Lha emang kenapa ik?, "
"Ya gakpapa, udah sana kamu tidur aja sih."
Mendengar itu ya sudah aku langsung beres -beres dan pergi ke kamar untuk tidur.
***
Aku memiliki sepatu yang berwarna putih. aku sangat menyukai sepatu itu. membuat ku harus menyikatnya dengan pasta gigi tiap tiga hari sekali agar aku percaya diri memakainya.
aku jarang punya waktu untuk mencuci tiap sore atau siang. aku sering mencuci malam-malam di saat semua orang terlelap.
aku sering sekali mendengar suara mesin jahit, ku pikir ustadzah aisyah selalu rajin menjahit. dia guru tata busanaku sekaligus ustadzah yang menginap di pondok untuk mengawasi kami. karena sebab itulah aku tak pernah takut beraktifitas malam karena mendengar ustadzah beraktivitas aku merasa sedang di temani.
di suatu malam aku sedang menyikat sepatu ku dengan pasta gigi. kemudian terdengar lah suara mesin jahit itu dengan keras dan nyaring. kalau suara mesin jahit itu sedang di gunakan maka seluruh penghuni pondok bisa mendengar.
Ratna teman sekamarku mengintip keluar dari kaca jendela kamar. melihat ku yang sedang asyik menyikat sepatu, dia memanggil sedikit berbisik.
"Silvia!!! , " panggil nya.
"iya apa?, " jawabku masih memegang sikat gigi.
"cepetan masuk kamar!!! nyikat sepatunya besok aja!! tidur!!! " ucapnya sambil melotot.
mendengar itu aku tinggalkan saja sepatuku yang masih berbusa di luar kemudian masuk ke kamar untuk istirahat. aku tak mau mencari masalah dengan Ratna. dia temanku yang baik.
***
aku anak yang rajin belajar dan membaca. aku suka menghabiskan waktu Hingga jam 12 malam hanya untuk membaca buku pelajaran hanya sekedar untuk mengulang-ulang saja supaya tetap lengket di kepala.
karena teman-teman ku sering tidur dan beraktivitas di kamar awal waktu maka seringkali lampu sudah di matikan ketika jam 9 malam, paling lambat jam setengah 10 malam. Itu membuat ku harus keluar dari kamar dan membaca di luar untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup.
aku suka duduk di tangga. setiap malam aku selalu dengar suara langkah kaki berlarian dari ujung bangunan pondok ke ujung yang lainnya, kemudian suara derap kaki di tangga besi dan tangga tempat aku duduk. ku pikir itu suara dari anak-anak kelas 10 yang suka begadang sambil bergerombol di lantai dua untuk mengerjakan tugas. tiap kali aku mendengar suara kaki hendak turun melewati tangga, aku melipat kaki ku supaya tak menghalangi jalan. kalau tak ada yang turun aku kembali meluruskan kakiku dengan mata yang masih membaca buku cuek tanpa memperhatikan sekitar.
bertahun-tahun berlalu, sekarang aku sudah kelas 12. berbagai pelanggaran di pondok sudah aku dan teman-temanku lakukan. kami suka membawa laptop, flashdisk dan juga smartphone. kami mulai berani melanggar karena di kelas 12 ini kami di beri banyak kelonggaran. seperti sudah tidak mendapatkan hukuman lagi dari anak-anak OSIS yang notabene nya dari anak kelas 10 dan 11 yaitu adik-adik kelas kami.
namun tetap saja ustadzah tetap memiliki wewenang menghukum kami jika punya bukti. hal inilah yang membuat kita selalu kucing-kucingan tiap malam kalau sedang menonton film di laptop atau memakai smartphone di kamar. kami takut kalau ada orang yang masuk ke kamar kami secara tiba-tiba, menangkap basah kami sedang membawa dan memainkan benda terlarang.
saat aku dan teman-temanku merasa ada yang mendekati pintu kamar kami maka kami akan segera menutupi laptop dengan selimut dan pura-pura tidur atau mengobrol seakan tak terjadi apa-apa.
suatu malam kami sedang menonton film sekitar jam setengah 10 malam. lalu muncul suara langkah kaki, suaranya seperti ada banyak orang yang akan mendekati kamar kami. saat itu aku yang menjaga pintu untuk mengawasi akan ada orang yang lewat atau tidak. maka aku pun memeberi tahu teman-temanku deng suara yang di buat agak panik.
"ada orang!! ada orang!! tutupin cepet!!, " begitu kataku. mereka cepat-cepat menutupi laptop. setelah itu aku mengecek luar dengan mengintip lewat jendela. namun nihil tak ada apapun.
lalu hal yang sama terulang terus menerus dua sampai tiga kali kemudian lima kali. hingga teman-temanku sudah tak mendengarkan ucapan ku lagu soal itu.
sesaat setelah itu terdengar kembali suara mesin jahit menandakan ustadzah aisyah sedang tak dikamarnya, melainkan sedang menjahit baju. mereka bahkan tetap santai menonton film padahal ada ustadzah yang sedang menjahit.
"kalian tuh loh ada us ais di luar, kalo ketahuan gimana? udah nonton nya besok aja lagi. "
ucapku dengan nada menggerutu.
"udah gakpapa santai aja, sini turun ke bawah ikutan nonton. filmnya bagus, ada song joong ki."
ucap salah satu temanku.
aku kesal karena takut kamarku di cek kemudian akan ada barang yang di sita, namun karena melihat wajah teman-temanku yang begitu tenang aku jadi tidak terlalu gelisah.
keesokan paginya ketika istirahat makan siang di sekolah aku berbicara serius dengan teman-temanku.
"gini aja, mulai besok nonton filmnya pas ustadzah gak ada aja. jam 9 kita mainan hape sendiri-sendiri di kasur masing-masing, " ucapku.
susi menjawab, "emangnya kenapa to? yang kamu takutkan tuh apa? ustadzah tuh gak bakalan ngecek kamar kita. kalo habis sholat isya langsung tidur dia tuh."
"loh semalem aja dia jahit kok! ustadzah tuh jahit mulu tiap malem!, " ucapku ngotot tak mau kalah. padahal mereka dengar sendiri semalam.
"gimana kalau pas dia jahit terus denger kamar kita berisik terus tiba-tiba masuk ke kamar mau negur tapi ternyata malah liat hape sama laptop kita? bisa mampus tau gak!, " sambung ku.
susi dan Ratih menghelas nafas sambil menatap ku.
"belum lagi adik-adik kelas yang suka lewat-lewat di depan kamar kita tanpa kepentingan dan gak masuk-masuk ke kamar kita. aku yakin nih mereka lagi mata-matain kita buat di adukan ke ustadzah, "
sambungku lagi.
salsa terkejut, "emangnya iya ada adek kelas yang mondar mandir di depan kamar kita?? kamu lihat sendiri sil?, " tanyanya. yang lain juga memandang dengan tatapan ingin tahu.
"ya gak lihat sih, cuman kan suara kaki nya kedengeran. mana ramai banget lagi. pasti mereka gerombolan gitu lewat nya. dan langsung lari pas aku buka jendela. " ucapku. kali ini terdengar lesu karena tak yakin dengan ucapanku sendiri.
"oalaaaaaahhhh..... "kata teman-temanku bersama-sama. aku agak kaget.
" kasih tau dia Nur!! " ucap susi ke Nur. Nur pun mendekati ku.
"jadi gini sil. sebenarnya pondok kita itu ada penghuni nya," ucapnya kepadaku. teman-temanku ikut mendengarkan.
"maksudnya?, " tanyaku masih tak percaya.
"jadi yang selama ini kamu dengar. mesin jahit nyala. suara langkah kaki orang-orang yang berlarian dari ujung ke ujung bangunan terus ke atas dan ke bawah lewat tangga itu bukan manusia. " ucapnya lagi.
aku shock banget. aku tak percaya hal seperti itu betulan ada dan aku mengalami nya sendiri selama dua tahun. jadi selama dua tahun itu aku tak sadar kalau selama aku beraktivitas di luar kamar malam-malam ada makhluk Dunia lain juga yang sedang beraktivitas bersama ku.
"pantesan tiap malam gak ada yang keluar kamar, " ucapku.
"jadi kamu gak tau kalau itu bukan manusia?", tanya susi.
" gak tau, kupikir anak-anak lantai dua suka begadang gitu jadi suka kedengeran langkah kaki. dan ku pikir ustadzah suka menjahit baju malam-malam, " ucapku lagi.
"kamu gak pernah lihat kan? selama ini kamu cuma denger suara nya aja kan? pintu ruangan tata busana juga selalu di tutup dan pasti di buka kalau ada yang mau pakai mesin jahit, " tanya susi lagi.
akupun berfikir, iya juga. aku tak pernah melihat Ustadzah menjahit, pintu selalu tertutup ketika mesin jahit menyala. dan selalu terdengar suara langkah kaki banyak orang namun ku tak pernah melihat satu pun orang yang lewat atau turun tangga.
"kamu takut sil? gak usah takut. dulu awal-awal kami mondok di sini juga takut. sampai suka tidur di kasur ramai-ramai. tapi nanti lama-lama terbiasa kok, " ucap Ratih menenangkan.
"tapi setan apa yang tiap malam menjahit dan lari- lari gak jelas tiap malam," tanya temanku yang lain.
Nur menjawab, "dulu pernah ada yang nyoba memberanikan diri ngintip ruang tata busana pas mesin jahit nya nyala karena penasaran. setelah di lihat ternyata ada seorang wanita yang rambutnya panjang sampai ke lantai dengan kepala yang mirip dan mata melotot sedang duduk di meja jahit, setelah itu tak ada lagi yang berani mengintip karena takut. "
"ada juga wali murid yang cerita kalo pas dia nginep di pondok ini selalu kedengeran suara kaki. karena penasaran dia pun ngintip. ternyata ada anak-anak berjumlah lima sampai delapan orang yang sedang berlarian ke sana kemari. usianya sekitar 5-7 tahunan, esok nya dia bertanya ke santriwati. semalem anak-anak nya siapa yang suka main lari-larian malam-malam? emangnya kalian gak terganggu?, begitu katanya. kita yang dengar itu kaget. karena tak ada anak kecil di sini dan selama ini yang kita dengar cuman suara kaki nya saja. " ujar sarah panjang lebar.
aku masih mendengarkan sambil menelan ludah. rupanya sejak lama pondok ini sudah ada penghuni nya. bahkan sebelum ada santriwati yang tidur di sana. astaga kenapa aku tidak peka sama sekali.
****
tiga tahun kemudian adikku yang masuk SMA akan sekolah di pesantren itu juga untuk menimba ilmu. setelah sebulan tinggal di sana, pihak pondok membolehkan santriwati nya untuk menelepon keluarga nya. ku dengar ia bercerita dengan ibuku.
"umi, di sini tuh ya mi. tiap malem ada suara anak kecil banyak lagi lari-larian dari ujung ke ujung naik turun tangga juga. terus mesin jahit suka menyala sendiri. hiii serem... tapi aku udah gak takut karena terbiasa, " begitu kata adikku.
aku membatin. ternyata mereka masih tak pergi dari sana dan mungkin akan selalu begitu selama bertahun-tahun.
****
Terimakasih sudah membaca karya kedua author, jangan lupa klik favorit kalau suka dan like serta komentar yaa.... boleh kritik sehabis habis nya.
sekali lagi terimakasih sudah membaca...