Orang-orang mengira bahwa Lita suka mengucek mata. Lantaran matanya yang bewarna merah tersebut. Dan juga terkadang ada yang memberi sebuah obat mata agar mata gadis itu lekas membaik menurut anggapan mereka.
Padahal mata merah yang ada pada Lita itu benar-benar murni. Bukan karena suatu hal seperti kucekan atau pun sakit mata.
Lita memang anak yang memiliki keunikan, terutama pada bola matanya. Ia selalu saja di isengin para teman sekolahnya lantaran matanya itu. Tetapi Lita memakluminya. Sebab di kota itu hanya dia saja yang memiliki mata bewarna merah tersebut.
"Apakah sakit matamu belum sembuh sampai saat ini?" tanya seorang teman sekelasnya.
"Sudah kubilang ini mata asli." balas Lita.
"Haha menyenangkan sekali kalau mengisengin dirimu Lita."
"Terserahmu." balasnya ketus.
Jam istirahat, Lita pergi ke bagian atas bangunan sekolahnya dan menyendiri disana.
Sambil memakan bekal miliknya, dirinya menikmati makanan serta suasana yang ada.
Awalnya begitu tenang, sebelum akhirnya beberapa orang berdatangan untuk bersantai di tempat Lita berada itu.
Lita tetap lanjut memakan bekalnya hingga selesai. Lalu setelah itu dia hanya duduk-duduk saja sembari menunggu bel masuk berbunyi.
Tak lama setelah itu salah seorang teman sekelas Lita datang menghampiri. Seorang anak laki-laki bernama Regi tiba di hadapannya dengan senyuman tipisnya.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Regi pada Lita.
"Makan bekal sambil menunggu bel masuk."
jawab Lita.
Regi adalah orang yang tidak pernah meledeknya di kelas. Menurut Lita dia anak yang baik. Tapi mereka berdua tidak begitu dekat soal hubungan teman. Lantaran, Lita selalu menyendiri. Sedangkan Regi dikelilingi banyak teman yang membuat mereka tidak bisa berkomunikasi.
Perasaan canggung dirasakan oleh Lita, sebab jarang sekali mereka bertatap muka dan berbicara antar sesama.
Namun, Regi tidak merasa demikian. Kepribadiannya sangat berbalik dengan Lita. Seseorang yang mampu membuat suatu hubungan dan terlihat aktif tentu dirasa sangat jauh akan perbedaan dengan orang yang pasif layaknya Lita.
Lelaki itu izin untuk duduk disebelah Lita. Dan dia pun mengizinkannya. Keduanya memandang kedepan tanpa kata. Pada akhirnya Regi mulai angkat bicara.
"Kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Lita.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Dan juga aku memang orangnya begini. Lebih banyak diam disaat seperti ini." jawab Lita.
"Kalau kamu banyak diam, bisa-bisa kamu malah kerasukan makhluk halus nanti." kata Regi dengan tawanya.
"Kamu jangan berkata seperti itu."
"Maaf. Hanya bercanda."
Tiba-tiba Lita ingin bertanya mengenai sesuatu.
"Regi. Aku ingin tanya. Kenapa kamu disini? Bukankah biasanya kamu selalu bersama para teman-temanmu itu?" tanya Lita penasaran karena baru kali ini ia melihat Regi sendirian.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiran saja." balasnya.
"Menenangkan pikiran dari apa? Kamu mengalami sesuatu?" lanjut Lita bertanya.
"Iya. Jadi tidak apa kan kalau aku berada disini?" tanya balik seorang Regi.
"Tidak apa. Santai saja. Aku kan sudah mengizinkanmu berada disebelahku tadi." ujar Lita padanya.
Regi melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Masih tersisa 5 menit lagi."
"Iya. Apakah kamu mau pergi sekarang?" tanya Lita.
"Tidak. Nanti saja." jawabnya dengan menggelengkan kepala.
Lalu Regi mulai berbicara mengenai diri seorang Lita.
"Kamu suka sekali sendirian ya. Aku perhatikan dari jauh, bahwa kamu itu selalu berusaha untuk menjauh dari banyak orang. Ada apa? Apa karena keisengan dari mereka kah yang membuatmu begitu?" tanya Regi penasaran.
"Bisa dibilang begitu. Aku tahu itu hanya candaan. Namun, bila itu terjadi setiap waktu, pasti akan membuatku resah. Jadi aku ingin menjauh saja dari mereka sebisa mungkin. Sekiranya begitu." ungkap Lita dengan menunduk.
Regi beranjak dan berdiri di depan gadis bermata merah itu.
"Kalau kamu membutuhkan seorang teman, katakan saja padaku. Aku akan menemanimu nanti. Namun, kamu pahamkan? Tidak bisa setiap masanya aku selalu ada di hadapanmu. Akan tetapi aku akan meluangkan waktu untuk menjadi temanmu di beberapa saat tertentu."
Lita mendengarkan ucapan dari lelaki yang ada di hadapannya itu. Ia pun tersenyum dan merespon dengan anggukan.
"Jangan memaksakan dirimu untuk menemani orang sepertiku. Aku tidak terlalu mengharapkannya."
"Kamu tidak mengharapkanku, tetapi kamu memang butuh yang namanya seorang teman juga kan sebenarnya? Jangan berdalih. Katakan saja dengan jujur. Manusia itu dikenal sebagai makhluk sosial, Lita."
Pandangannya terangkat keatas dan menatap mata dari Regi.
"Ini nomorku. Kamu bisa menyimpannya. Bila kamu butuh teman, aku akan menyempatkan waktu untuk bisa mendatangimu. Katakan saja. Senang bisa menjadi temanmu, wahai gadis bermata unik." kata Regi seraya tersenyum.
Regi berbalik badan dan melambaikan tangan usai memberikan sebuah kertas berisikan nomor telponnya pada Lita. Tidak berapa lama setelah laki-laki itu pergi, bel sekokah pun berbunyi. Membuat para murid yang ada tempat itu segera bergegas menuju kelas masing-masing.
Lita mulai menyusul dengan langkah kaki diselingi perasaan bahagia.
-----SELESAI-----