Manusia pasti tahu apa itu mimpi. Dan setiap dari mereka telah merasakannya. Baik dalam keadaan tidak sadar (tidur), maupun sadar. Begitu juga dengan halnya Erika. Gadis yang suka bermimpi di sepanjang waktunya. Dalam ruang kamar yang terlukis sebuah gambar hasil dari gerakan jari jemarinya itu, telah membuat perubahan yang sangat berdampak.
"Tempat ini akan lebih indah, dan juga mimpiku akan turut menyertai keindahannya."
Ruangan kamar itu kini sudah dihiasi oleh sebuah lukisan yang terdapat pada bagian dinding. Lukisan berlatar alam pegunungan kala langit malam menjadi penentu waktu. Erika melukis sejak beberapa hari lalu dan terus diangsur hingga ke titik sekarang ini. Dimana dirinya sudah memasuki tahap penyelesaian.
"Ini seperti salah satu mimpiku." gumam Erika.
Tangannya terus bergerak seiring kuas memberi jejak akan berbagai macan warna pada dinding itu. Beberapa jam setelahnya, akhirnya anak perempuan bernama Erika itu berhasil menyelesaikan hasil dari karya tangannya tersebut.
Melangkah ke belakang sembari melihat ke arah lukisan dinding. Dirinya tampak senang sekaligus tersenyum lebar usai melihat hasil karyanya secara menyeluruh.
"Sudah seperti apa yang aku bayangkan selama ini."
Mengambil sebuah bangku, lalu duduk dengan menatap ke depan.
"Mimpi. Ini sudah seperti mimpi bagiku. Kala itu hanya sebatas bayang-bayang semata, aku tetap ingin bermimpi lebih jauh lagi dan berharap akan wujudnya mimpi itu disini."
Erika memandang hasil karyanya begitu lama sampai terdengar dentangan jam yang berada di salah satu sisi dinding kamarnya.
Erika menoleh ke arah jam tersebut.
"Jam 12 tepat tengah malam ya sekarang?"
Tiba-tiba seisi kamar dari Erika berubah dalam beberapa saat. Erika melihat kejadian itu yang sekaligus membuatnya tercengang. Kamarnya berubah dan posisi Erika sudah berganti dalam sekejap.
"Aku sudah berpindah tempat? Di tempat yang sama seperti apa yang aku lukiskan?!"
ucapnya tak menyangka.
Erika tegak dan memandang sekelilingnya. Ini sudah seperti mimpi baginya.
"Inikah mimpi yang menjadi kenyataan itu?"
Dirinya masih tak menyangka akan apa yang dilihatnya. Sesuai dengan apa yang dilukisnya, dirinya sulit untuk lanjut berkata-kata lagi.
Kemudian, Erika ingat akan suatu hal untuk menguji kebenaran dari kejadian ini.
Mengangkat sebelah tangannya dan memandang ke arah jari.
"Katanya bila seseorang merasakan sakit akan cubitan, berarti itu bukanlah sebuah mimpi belaka."
Erika mulai mencubit pipinya di saat dirinya tengah memandang ke lain arah.
"Huh?"
Erika bangun dari tidurnya. Menghela nafas dengan kuat, dirinya merasa sedikit kesal akan apa yang telah dilaminya barusan.
"Ini hanya sekedar mimpi ya. Sepertinya aku sudah terlalu banyak berharap saat ini."
Erika beranjak dari ranjangnya, kemudian melihat ke arah dinding yang diyakini sebelumnya adalah sebagai media lukisnya.
"Aku benar-benar terlalu berharap ya." menunduk didepan dinding kamar.
Usai meratapi apa yang telah terjadi padanya, perempuan itu lalu pergi keluar kamar sebentar untuk sarapan pagi.
Sepeninggalannya, dinding kamar milik Erika itu langsung mulai bercahaya dan menampakkan lukisan yang serupa dengan apa yang di mimpikan olehnya tadi.
-----SELESAI-----