Belahan bumi timur tepatnya di sebuah negara kepulauan tengah mengalami musim sakura. April sebagai penanda mekarnya suatu bunga yang menjadi ciri khas negara matahari terbit itu.
Tak terkecuali Tokyo, yang tentu saja mengalami momen itu. Mekarnya bunga sakura menjadi awal baru bagi seisi kota. Dari datangnya murid baru, kelulusan, hingga kenaikan posisi pekerja kantoran. Migiwa, seorang wanita kantoran berusia 25 tahun itu mengalami hal baru dikala sakura sedang bermekaran. Ia mendapat kenaikan posisi di kantornya saat itu. Tentu hal ini membuatnya cukup senang. Terlebih dia sudah berusaha sebaik mungkin agar bisa menjaga performa kerjanya di sana.
"Selamat ya Migiwa atas posisi barumu!" saut seorang temannya bernama Rin.
Rin bertepuk tangan dan memuji perempuan yang ada di sebelahnya itu. Migiwa hanya merespon dengan senyuman seiring dirinya juga merasa tersanjung.
Sepulang kerja, Migiwa pergi bersama Rin ke sebuah tempat makan yang tidak jauh dari kantor.
Banyaknya pelanggan disana, membuat mereka berdua harus berusaha tetap nyaman ditengah riuhnya suara orang-orang yang ada.
"Disini terlalu ramai." kata Migiwa.
"Mau bagaimana lagi kan? Kita harus bisa membuat diri ini senyaman mungkin." balas Rin.
"Ya. kau benar Rin." Migiwa mulai menambil satu suapan melalui sumpitnya.
Setelah makan, keduanya lanjut mengobrol di sebuah taman kota. Berjalan pelan sembari mengobrol, tampak obrolan yang penuh canda tawa itu mengisi waktu mereka berdua.
Dan setelah itu, Migiwa dan Rin duduk di sebuah bangku taman. Mereka berdua melanjutkan obrolan itu hingga satu pertanyaan di lontarkan oleh Rin pada Migiwa.
"Apakah kamu sekarang masih dekat dengan senior Hiroshi?"
Pertanyaan itu seketika membuat Migiwa terdiam. Temannya itu kini tengah menanyakan kabar antara dirinya dan sang senior di kantornya yaitu Hiroshi.
Melihat Migiwa diam dan mengalihkan pandangan, membuat Rin menanyakan kembali pertanyaan yang sama.
"Bagaimana? Apakah baik-baik saja?"
Sulit baginya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Rin. Akan tetapi karena rasa keingintahuan temannya itu, membuat Migiwa akhirnya menjawab pertanyaan yang dilontarkan sebelumnya.
"Kamu ingin tahu sekali ya hehe. Baiklah aku akan menjawabnya."
"Aku sudah tidak dekat lagi dengan lelaki itu, Rin."
lanjut Migiwa sambil memandang ke depannya.
"Bagaimana bisa? Bukankah dahulu kamu bilang bakal mendapatkannya dan...."
"Dan itu tidak akan terjadi." Migiwa memutuskan omongan Rin.
"Dia sudah tidak bisa kudapatkan lagi." Menghela nafas.
Rin mulai penasaran akan penyebab hubungan temannya itu dengan sang senior. Akan tetapi dirinya merasa tidak berani menanyakannya. Lantaran melihat ekspresi yang tidak mengenakkan dari dia.
"Aku tahu bahwa kamu sedang penasaran. Tetapi maaf, aku belum siap untuk mengatakannya saat ini. Beri aku waktu dahulu ya." ucap Migiwa pada temannya itu.
"Baik. Aku memahaminya. Aku tidak akan memaksa untuk bertanya perihal itu." balas Rin.
"Kamu ini. Nanti aku akan ceritakan. Tenang saja. Hanya butuh waktu saja." Migiwa memegang pundak Rin.
"Ya. Di kota ini masih ada 30 juta orang lebih. Negara ini masih memiliki 120 juta penduduk. Bahkan dunia berjumlah 7 milyar lebih. Jadi masih ada waktu juga kan untuk menemukan pasangan barumu kelak hehe."
Rin tegak dan mengajak Migiwa untuk kembali berjalan.
"Itu benar! Aku masih ada waktu untuk hal semacam itu." katanya seraya menyusul Rin.
Kejadian waktu itu memang menyakiti hari Migiwa. Sebab sang senior telah beralih ke lain hati disaat dirinya sedang diterpa angin asmara.
Kini hati dari Migiwa perlahan sudah mulai membaik, dan ia berusaha agar bisa terus melangkah tanpa mengenang selalu bayang-bayangnya di masa lalu.
-----SELESAI-----