'Aku mencintaimu.. tapi maaf, ini sudah menjadi tugasku.'
citttt... bruakkkk....
Darah segar mengalir, orang-orang disekitar mulai panik. Beberapa berteriak histeris, dan ada pula yang berinisiatif untuk menelpon ambulance.
~ Satu bulan sebelum kecelakaan~
Tap...tap..tap...
kringg...kringg...
"Hey gadis dungu, minggir."
'Huh, lagi-lagi mereka.'
aku berjalan menepi, dan menghela nafas panjang.
Brukkkk.....
"Aaaa....."
"Hey gadis aneh, kalau jalan pake mata dong."
aku bisa mendengar suara orang-orang menertawakan ku, beginilah pagiku. setiap hari, setiap aku pergi ke sekolah. orang-orang selalu mengolok-olok dan mempermalukan ku, bukannya aku tidak ingin melawan. akan tetapi, aku terlalu letih untuk meladeni mereka semua.
"Naomi..... Kenapa wajahmu begitu suram, mereka mengganggumu lagi ya."
Aku mengangkat wajah dan hanya memberi senyum kecil, pada satu-satu nya orang yang peduli padaku. Nanako.
"Ayo.., sebentar lagi bel sekolah berbunyi. kita harus bergegas." Nanako menarik tanganku dan memaksaku untuk berlari. saat itulah aku merasakan ada yang aneh ditubuh Nanako.
'Ini... jangan-jangan!'
mataku terbelalak melihat pemandangan di depanku, aura hitam pertanda kematian melingkupi diri Nanako. Yah, sejak kecil aku bisa melihat dan merasakan kematian seseorang hanya dengan melihat atau menyentuh mereka.
bahkan kematian orang tuaku, aku mengetahuinya dengan baik dua Minggu sebelum maut menjemput mereka. aku selalu berusaha, agar kematian tidak menimpa orang-orang di sekitarku. akan tetapi, kematian tidak bisa ditunda.
untuk itu, sebagai gantinya. aku akan membuat mereka bahagia sampai saat itu tiba.
~Seminggu kemudian, (dua Minggu sebelum kecelakaan)~
hujan deras mengguyur, menghiasi tiap detik di hari pemakaman Nanako. seolah langit mengerti bahwa saat ini kesedihan sedang meliputi tempat ini, termasuk hatiku.
"Nanako.... Tidak, anakku."
jerit tangis orang tua Nanako, membuatku tak kuasa ikut meneteskan air mata. aku menatap foto Nanako yang tersenyum cantik dihiasi karangan bunga, kini aku kehilangan satu-satunya orang yang peduli padaku.
aku meninggalkan rumah duka, dan berjalan pulang diiringi rintik hujan yang mulai mereda. aku melihat kearah toko tempat aku menghabiskan waktu untuk terakhir kalinya bersama Nanako, air mataku terus menetes. saat aku memandang ke arah kaca toko aku melihat seorang pria berpakaian serba hitam berdiri belakangku. Dan membuatku langsung menyadari sesuatu, Kini giliran ku!!
~ Tiga hari kemudian ( sebelas hari sebelum kecelakaan)~
aku berjalan dengan wajah lesu, aku sengaja menundukkan pandangan. karena sudah tiga hari pria itu terus mengikuti ku, aku tak punya semangat dan tak punya pilihan selain menjalani sisa-sisa hidupku sebelum hari yang dinantikan tiba.
sejujurnya, aku tak ingin lagi pergi ke sekolah. karena disini hanya akan menambah penderitaan ku, namun nenek dan kakakku bersikeras agar aku tetap menjalani hidup dengan baik dan bersekolah dengan rajin agar bisa menjadi orang sukses. meski pada akhirnya aku sadar, bahwa semua itu mustahil mengingat umurku yang tinggal sebentar lagi.
kringgg.....
bel berbunyi, waktu istirahat telah tiba. semua siswa berlarian menuju kantin untuk makan siang, aku sejak dulu tidak pernah makan siang di kantin. aku selalu membawa sandwich kesukaanku dan duduk dihalaman belakang sekolah, sambil menikmati pemandangan.
"Tidak baik jika kau terus menyendiri, bermainlah bersama yang lain."
"Kau, mengapa kau tidak mengambil nyawaku sekarang saja!"
"Sekarang belum waktunya, bukankah kau mengetahui hal itu dengan baik."
aku menunduk dan kembali makan dengan wajah penuh kesedihan.
"Naomi.., aku kemari untuk menghiburmu. aku akan menemanimu"
"Kenapa!!!!"
aku berdiri dan menjatuhkan makananku.
"Kenapa kau masih menunjukkan wajahmu, bukankah kau sudah berjanji..."
pria itu tanpa nama, tapi aku biasa memanggilnya Nicolas, sejak aku kecil hingga sekarang ia tidak pernah menua wajahnya masih muda dan segar karena ia adalah malaikat maut yang ditugaskan untuk mencabut nyawa setiap orang. aku menyukainya, begitupun sebaliknya. hingga tragedi mengenaskan saat aku masuk ke sekolah menengah, saat itu tiba waktunya bagi orang tuaku untuk pergi selamanya. aku menangis histeris dan membuat Nick berjanji agar tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi ke hadapanku.
"Maaf, tapi.. aku ingin kau menikmati sisa hidupmu dengan baik. kau selalu memberikan kenangan baik untuk setiap orang terdekatmu yang akan aku ambil nyawanya, tapi kau sendiri tidak pernah menikmati kebahagiaan itu."
Nicolas memelukku, aku bisa merasakan kehangatan meski orang lain tidak ada yang bisa melihatnya.
aku merasakan semangat ku mulai tumbuh, banyak hal yang ingin aku lakukan sejak dulu. tapi tak pernah aku lakukan.
~keesokan harinya.~
aku memotong rambutku menjadi sebahu dan menggerainya, aku juga membiarkan poniku dan hanya menghiasi rambutku dengan penjepit rambut kenangan-kenangan dari Nanako.
"Kau terlihat lebih baik hari ini." Nicholas tersenyum, dan menemaniku berjalan kaki menuju sekolah.
Sepanjang jalan, aku merasa bahwa banyak orang yang melirikku terutama laki-laki.
kringgg... kringgg...
bukkkkk ...
"Awwww.."
"Ah nona, maafkan aku."
aku berdiri dan merapikan pakaian ku.
"Kau!!!"
"Hah!!!!, tenyata gadis dungu. wah.., wah..., kali ini kau terlihat sangat manis."
Aku mengabaikan segerombolan orang bodoh itu dan memilih untuk pergi.
"Hei!!!!"
untuk pertama kalinya, aku mengabaikan orang-orang yang mengejekku. jujur, rasanya menyenangkan.
aku berjalan setengah berlari menuju sekolah dengan senyum merekah, aku menikmati sekolah dengan penuh percaya diri.
"hufpp... hosh...."
untuk pertama kalinya aku makan di kantin sekolah, aku berjalan menuju salah satu kursi kosong.
"Tidak buruk." Suara seorang pria membuatku mendongak.
"Kau, terlihat lebih bersemangat dan lebih baik."
"Terima kasih, Nick."
"Wah, akhirnya kau memanggilku dengan sebutan itu lagi. rasanya seperti kembali ke tahun-tahun yang lalu, kau sudah kembali menjadi dirimu. Sayangku Naomi."
aku tersenyum simpul sambil menyantap makan siangku, nasi dan chicken katsu juga ada Tamagoyaki favorit ku.
"Wah, lihat dia manis ya."
"Apa dia anak pindahan? aku tak pernah melihat gadis itu sebelumnya."
Aku mendengar orang-orang di kantin mulai berbisik.
"Hei, boleh aku duduk di sampingmu?"
aku mengangguk tanpa menatap orang tersebut.
"Ah, kau Naomi kan anak dari kelas sebelas."
aku mengangkat kepalaku dan menoleh, aku melihat seorang lelaki tampan sudah duduk di sampingku.
"Yah, aku Naomi. kau siapa?"
"Aku Rey, teman satu kelas mu sewaktu SMP. apa kau tidak ingat?"
"Tidak, aku permisi dulu."
aku membawa nampan kotor ketempat cuci piring dan berjalan santai menuju perpustakaan, masih ada dua puluh menit sebelum bel masuk. aku melakukan hal yang sangat ingin kulakukan sejak dulu, ada seseorang yang aku sukai disini. dia bekerja sebagai pengurus perpustakaan, seorang pria baik.
"Ah, permisi kak Sasori."
"Ya, Naomi. rambutmu, kau memotongnya?"
"Ya, apa ini buruk?"
"Tidak kau terlihat sangat manis."
"Terima kasih."
"nah Naomi, ada apa? buku apa yang ingin kau pinjam hari ini."
"Anu, Minggu depan adalah libur pertama musim semi. apa kakak mau pergi hanami bersamaku?"
"Ah, ini agak mengejutkan."
wajahku terasa panas, aku juga melihat wajah kak Sasori terlihat merah padam. dia terlihat ragu sambil menggaruk tengkuknya.
"Tentu, aku juga sebenarnya ingin mengajakmu pergi Minggu depan."
"Kalau begitu, aku akan menunggu kakak di taman dekat sekolah. sampai jumpa Minggu depan"
aku mengatakan hal tersebut sambil berlari dengan wajah riang gembira, aku juga bisa melihat kak Sasori tersenyum malu.
sepulangnya dirumah..
"Aku pulang."
"Wajahmu terlihat penuh semangat, apa ada hal baik hari ini."
"nenek..." aku memeluk nenek dengan rasa bahagia bercampur haru.
"Kau ini, jangan membuatku takut. kau memelukku sangat erat seolah tidak akan pernah memeluk nenekmu ini lagi."
"Ah, maafkan aku nek. aku hanya terlalu bahagia, Minggu depan aku akan ada kencan dengan seseorang."
"kencan? dengan siapa?"
"Ah, kakak! kapan kau datang?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, katakan siapa pemuda itu."
"itu rahasia."
aku berlari menuju kabar dan mulai menandai kalender.
~Minggu pertama liburan musim semi. (enam hari sebelum kecelakaan.)
aku mengenakan pakaian terbaik, sebuah dress dengan motif bunga sakura yang sedang mekar. tak lupa aku membawa banyak sekali bekal hasil masakanku.
"Kau mau kemana?"
"Nick, sudah lama kau tidak muncul. aku akan pergi untuk hanami bersama kakak penjaga perpustakaan."
"Ah, pemuda yang kau datangi waktu itu. Semoga beruntung."
"Terima kasih Nick."
aku berjalan kaki sambil senyum-senyum sendiri, melihat bunga sakura yang mulai bermekaran. dan membayangkan saat-saat indah bersama orang yang aku sukai, meski aku juga merasa sedih sebab waktuku hanya tersisa enam hari lagi.
aku duduk di taman, sambil menanti kedatangan kak Sasori. sudah hampir dua jam aku duduk dan menunggu, namun kak Sasori tak kunjung datang. aku melihat langit terlihat mendung, aku memperhatikan sepasang kekasih yang tengah mengobrol santai di kursi tepat di seberang ku sambil melamun.
"Aneh, padahal hari ini Minggu pertama musim semi. kenapa cuacanya mendung ya."
"iya, aneh sekali. apa akan turun hujan?"
"Ah, mustahil rasanya hujan di awal musim semi. sulit ku percaya."
"Naomi..."
Sentuhan tangan menepuk lembut pundakku.
"Kak Sasori, kau datang."
"Maaf aku terlambat, ada sedikit masalah tadi."
"tidak masalah."
"eh, kau bawa bekal?"
"Ya, ayo kita duduk sambil makan bersama."
kami pun mencari tempat, aku sengaja membawa tikar agar kami bisa duduk tepat dibawah pohon sakura. Setelah berkeliling sebentar, kami pun menemukan tempat yang tepat.
"Ini, makanlah."
"Wah, kelihatannya enak. apa kau yang membuatnya?" kak Sasori mengambil nasi kepal yang aku buat, dia tersenyum manis setelah menggigitnya.
"Enak sekali, kau sangat pandai masak ya."
Kak Sasori mengusap kepalaku, membuat wajahku memerah karena malu. tak kusangka, akan mendapat perlakuan semanis ini dari kak Sasori.
"Naomi kenapa diam saja? ayo, kau juga harus makan."
"Ah, iya."
kami bercanda dan tertawa bersama, rasanya sangat berbeda dengan kak Sasori yang ada disekolah. disekolah ia sangat pemalu dan gampang gugup, tak ku sangka diluar ternyata ia semanis ini.
"Naomi sangat berbeda ya, disekolah kau sangat pemalu ternyata tak seperti dugaan ku. kau begitu manis dan lucu."
Wajahku memerah malu karena pujian dari kak Sasori.
"Ah, kakak juga. sangat berbeda dengan yang aku kenal."
"eh, benarkah?"
suasana hening seketika.
"emhh, ngomong-ngomong. bukankah cuaca hari ini cukup buruk, baru awal musim semi tapi cuacanya mendung. benar-benar tidak sesuai dengan prediksi."
"Tapi, bukankah karena hari ini mendung taman ini menjadi sepi pengunjung. jadi kita bisa berduaan, lagi pula berkatmu hari ini jadi jauh lebih indah dari hari-hari sebelumnya."
aku tersenyum malu..,
sejak hari itu...
hari-hari menuju kematian..
membuat aku sadar...
banyak sekali kebahagiaan yang aku lewatkan..
aku terlalu banyak menutup diri...
menyesali kematian kedua orang tuaku...
padahal aku....
dengan kemampuan yang aku miliki...
aku bisa memberikan detik-detik kebahagiaan di setiap hari akhir cerita mereka...
~Dua hari menjelang kecelakaan~
"Kita mau kemana?"
"Kakak ikut saja denganku, aku akan mengajakmu bertemu dengan kak Sasori."
Ini adalah kedai ramen favorit ku, sejak kecil aku dan kakak selalu makan disini bersama kedua orang tua kami. tapi sejak kepergian orang tua kami, aku tidak pernah mau menginjakkan kaki ke tempat ini lagi. tempat yang tidak terlalu ramai seperti yang lainnya, tapi disini rasa kuahnya jauh lebih enak dari pada toko-toko lain diluar sana.
"Tolong ramen spesialnya dua mangkok, oh ya. yang satu mangkok masukan lebih banyak Naruto ya.."
beberapa menit kemudian ramen pesanan kami datang, pemilik kedainya sudah cukup tua. dan terkejut melihat kedatangan kami.
"Ah, ternyata kalian. sudah lama sekali sejak..."
sang pemilik sempat terhenti dan menatap sedih.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengatakan ini."
"Ah, tidak masalah kami bisa memakluminya."
"Huaaa... nenek rasa ramen mu benar-benar tidak berubah. sangat enakkk....."
"hahaha.., benarkah. sejak kecil kau sangat pandai memuji."
kakak menatapku heran, aku melihat raut wajah yang bingung bercampur khawatir.
"Naomi, apa kau baik-baik saja?"
"Tentu, aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya."
'Kak, maaf aku tidak bisa memberi tahu bahwa besok adalah hari terakhir ku.' batinku.
Ramen yang kami makan sudah habis tak bersisa, namun kak Sasori tak kunjung datang.
"Hey, mana pemuda itu. sudah hampir satu jam lamanya kita menunggu disini, apa dia selalu terlambat?"
"Tidak juga, selama ini dia selalu tepat waktu. kecuali... waktu pertama kali kami ingin pergi hanami, saat itu aku menunggu nya berjam-jam. apa mungkin karena ia gugup?"
Ting tong..
sebuah pesan masuk ke ponsel kakakku.
"Ah, maafkan aku. adikku sayang, Kakak sudah ada janji dengan pacar kakak. bilang padanya untuk menemui ku lain waktu. sampai jumpa, jangan lupa bayar makanannya ya..."
kakakku pergi keluar kedai, sambil berteriak.
aku hanya bisa diam dan menunduk lesu, tak lama berselang orang yang telah ku nanti sejak tadi datang menyusul ku.
"Kak, sebelah sini."
"Maaf aku terlambat, mana kakakmu?"
"Oh, pacarnya tadi menghubunginya. katanya mereka ada janji sebentar lagi."
"Ah, maaf. gara-gara aku kalian jadi menunggu lama."
"Tidak.. tidak masalah, memang sedikit sulit mencari kedai ini. oh ya aku akan memesankan semangkok ramen untukmu."
"Tidak perlu."
"Tidak masalah, hari ini aku yang traktir."
"Nenek.., tolong satu mangkok lagi."
tak lama berselang ramen pesanan ku datang.
"Terlihat sangat menakjubkan bukan? oh ya nek kenalkan dia sahabatku. kak Sasori."
Aku melihat wajah nenek pemilik kedai terlihat bingung dan sedih, ia meninggalkan kami tanpa sepatah katapun.
"Apa yang terjadi? nenek itu kenapa?"
"Ah lupakan saja, ayo Naomi kita makan bersama."
"Baik."
"Selamat makan."
setelah makan, aku mengajak kak Sasori untuk jalan-jalan sambil bermain di taman bermain. aku memainkan semua permainan yang selama ini telah lama aku lewatkan.
hari ini....
tak terasa...
hanya ada kebahagiaan....
bersama orang terkasih...
esok hari...
adalah hari terakhir....
aku akan membuat esok menjadi perpisahan termanis bagi keluarga maupun teman..
kak Sasori terimakasih atas waktu yang begitu berharga.
~hari kematian~
hari ini..
aku melakukan semuanya dengan baik, aku membantu kakak dan nenek, memasakkan makan siang yang enak untuk mereka. memberikan hadiah yang telah lama mereka inginkan, sekarang semuanya sudah selesai. hanya satu hal yang belum aku lakukan, aku belum berpamitan dengan kak Sasori. aku sudah membelikan syal rajut untuknya, meski harganya tidak seberapa tapi aku berharap ia menyukainya.
"Naomi..., kita akan pergi kemana hari ini? bukankah ini sudah terlalu sore untuk pergi bermain?"
"Tidak, kita tidak akan pergi kemanapun. aku sendiri yang akan pergi, ini ambillah."
aku memberikan goodie bag berisi syal, kak Sasori tak menyentuhnya dan hanya menatapnya dengan sedih.
"Sudah saatnya kau pergi, kemari. duduklah, sebelum kau pergi ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada mu."
kak Sasori menatap tajam ke arahku.
"Naomi, aku bukanlah Sasori. tutup matamu dan buka kembali, kau akan melihat kebenarannya."
aku melakukannya dan ketika aku membuka mata, betapa terkejutnya aku melihat Nicholas yang tengah duduk di sebelahku.
"Nick, kau!!."
"Maaf, aku telah berbohong. aku hanya tidak ingin kau terus murung, Sasori telah meninggal satu hari sebelum kencan pertama kalian."
"Tapi, bukankah seharusnya aku melihat tandanya?"
"Aku sengaja menutupinya kali ini, karena aku tidak ingin kau menjadi Naomi yang pendiam. sejujurnya aku merindukanmu, aku merindukan Naomi yang periang dan ceria. yang selalu memberikan akhir bahagia bagi orang lain. aku hanya ingin, memberikan akhir bahagia untukmu Naomi."
"Jadi, semua itu. kebahagiaan itu, semuanya hanyalah ilusi. aku tidak pernah pergi berkencan, aku... hanya sendirian."
"Naomi...."
aku berlari sekuat tenaga, semua kebahagiaan itu. semuanya hanyalah ilusi, aku tidak pernah menghabiskan waktu bersama kak Sasori.
aku selalu melakukan semuanya sendirian,
berbicara sendiri...
bermain sendiri ...
dan ..
tertawa sendirian...
semuanya.., tapi kenangan itu terasa sangat nyata, terasa sangat menyenangkan..
aku.....
bahagia...
Tetttt........
"Hey, menepilah...."
Brukkkkkk........
aku....
hampa...
aku sendirian...
tapi...
beberapa waktu..
beberapa hari yang sangat berharga..
setidaknya dibalik kebohongan ini....
aku....
bahagia.....
"Naomi......"
aku bisa melihat sosok Nicholas tersenyum dan mengatakan beberapa patah kata padaku...
"Naomi.. maafkan aku..."
"Aku mencintaimu.. tapi ini sudah menjadi tugasku.. Naomi... semoga kau pergi dengan bahagia.. aku akan merindukan mu."