Awal mula bertemu dengannya saat aku masuk ke tempat kerja ku yang baru. Berawal dari sering bercerita, ngumpul bareng, dan bahkan lembur bareng. Dari sana aku tidak menemukan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Karena keseringan bertemu, benih-benih cinta itu muncul dari dalam hatiku. Dia selalu menjadi pusat perhatian orang dalam hal apapun, tetapi ternyata itu menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Rasa cemburu yang berlebihan membuatku merasa tidak nyaman saat bersama dengan nya.
" Kamu lembur,?" tanya dia sambil berdiri depan meja kerjaku. Aku mengangguk tanpa melihat ke arahnya. " Aku lagi ngomong loh, ga ada penghargaan nya sama sekali," ujarnya dengan sedikit menggertak meja kerjaku. Aku sedikit terperangah. Saat aku melihatnya tatapan mata nya sangat tajam. Dan aku mulai takut saat melihatnya.
" Kalau aku ngomong, lihat mata aku." ujar nya lagi sambil pergi meninggalkanku.
Awal yang sangat buruk, di awal perjalanan hubungan cinta kita berdua. Aku sering di bentaknya, walaupun aku tidak tahu apa yang salah denganku sebenarnya.
Malam ini aku pulang lembur sendirian, rasanya tenang sekali kalau tidak ada dia disampingku. Dia yang selalu bikin ruwet, dan bikin suasana hatiku kacau.
Tak lama suara handphone ku berbunyi, ku lihat ada sebuah pesan dari nya.
💌 " Walaupun kamu pulang sendiri, aku selalu ada menemani kamu, "
Jantungku terhentak kaget dan aku melihat ke arah sekelilingku. Tidak ku lihat dia di manapun. Jalanku semakin cepat, ada perasaan takut menghantui hati dan perasaanku. Dia mau bikin ulah apa lagi,? pikirku dalam hati.
Saat aku sedang berdiri sendiri menunggu angkutan umum ku datang, aku asik membaca komik online, seketika aku tertawa sendiri membacanya.
💌 " Kamu jangan macam-macam ya, tertawa sendiri sambil melihat handphone. Kamu sedang chatan sama siapa,? kalau sampai aku lihat sesuatu yang mencurigakan, awas saja, kamu bisa habis ditangan ku."
Aku langsung melepaskan earphone yang aku pakai, dan lagi-lagi aku melihat ke sekeliling. Tidak nampak mukanya di hadapanku. Tetapi kenapa seolah-olah aku Dimata-matai nya dari jauh. Dia mengancam ku seolah-olah aku melakukan kesalahan yang sangat patal.
Tak lama aku sampai di depan rumah, aku lihat sesosok yang tidak asing itu berdiri di depan rumahku.
" Lama sekali kamu sampai," ujarnya sambil tersenyum melihat ke arahku.
Mataku terbelalak kaget, detak jantungku berdenyut sangat kencang sekali. Aku merasakan ketakutan yang amat sangat.
" Se.. se.. sejak kapan kamu berada di depan rumahku,?" tanyaku dengan sedikit gugup. Dia mendekati ku dan mendekap ku.
" Karena aku sayang kamu, jadi kemanapun kamu pergi aku akan selalu ada," ujarnya lagi dengan sedikit senyuman sinis di wajahnya. Aku sedikit mengangguk.
Tiba-tiba dia mengeluarkan amplop kecil dari dalam saku tangannya dan memberikan nya kepadaku.
" Coba buka,? kamu pasti senang melihat nya,!" jelasnya sambil melihat ke arahku. Perlahan aku membuka amplop kecil itu, berapa terkejutnya aku saat aku melihat isi yang ada di dalamnya.
" Kamu senang,?" tanya dia sambil berdiri di hadapanku. Matanya tajam melihatku. " Itu bisa saja aku lakukan untuk melukai kamu, tetapi karena aku sayang, mending kamu simpan baik-baik ya," jelasnya sambil pergi meninggalkan ku.
Tuhan
Apa yang harus aku lakukan sekarang,? rasanya takut untuk melepaskannya karena begitu banyak ancaman yang aku terima. Belum juga aku mau meninggalkanya dia sudah memberikanku amplop kecil berisi pisau cutter. Nanti apa lagi yang akan aku dapatkan,?
Aku terdiam beberapa saat dikamar ku, pikiranku melayang, perasaan takut dan perasaan sayang menjadi satu dalam pikiranku.
" Kenapa,?" ibu tiba-tiba datang dan berdiri di belakang ku. Aku mengangguk pelan. " Tadi pacar kamu datang kesini,?" ujar ibu lagi.
" Pacar,? apa yang ibu maksud Roman yang datang,?" ibu mengangguk pelan.
" ada apa,? kata dia kamu tidak membalas pesannya. jadi dia khawatir dan langsung menyusul mu ke rumah. Manis banget." jelas ibu sambil mengelus-elus kepalaku.
" Dia tahu aku lembur Bu,!" jawabku pendek, ibu lalu mengerutkan kening.
" Benar juga ya,?" jawab ibu kebingungan, " kenapa dia tidak datang ke tempat kerjamu,? malah ke rumah,?"
" Dia juga satu tempat kerja Bu," jawabku lagi. Ibu langsung terdiam, mendengar apa yang aku katakan.
Mungkin terasa aneh di dalam pikiran ibu.
Hari sudah berganti, rasanya sulit sekali untukku membuka mata. Ada perasaan takut untuk ku melakukan aktivitas kerja hari ini. Aku bahkan tidak mau bertemu Ramon.
" Sudah siang, bukannya cepetan mandi." ujar ibu di depan pintu kamarku.
" Iya " jawab ku pende, tanpa sedikit pun menghiraukan ibu yang masih berdiri di depan pintu kamarku.
" Ya sudah, ayah dan ibu ibu berangkat kerja ya, kamu istirahat saja di rumah, jangan lupa kunci pintunya." ujar ibu lagi. Sedikit senang, karena orang tua ku mengerti apa yang aku rasakan.
Sekitar jam 12 siang, aku kedatangan seorang tamu. Rasanya takut untuk membukakan pintu. Apalagi saat aku tahu kalau yang datang adalah Ramon. Untuk apa dia datang ke rumah,? Perasaan ku sudah mulai tidak karuan aku takut terjadi sesuatu kepada diriku sendiri.
Ramon terus menelpon ku, beberapa kali dia menengok kaca jendela rumahku. Benar-benar aku merasakan ketakutan yang amat sangat saat ini.
💌 " Aku tahu kamu ada di dalam, sampai kapan pun aku akan menunggu kamu sampai kamu keluar dari rumah,"
💌 " Jika dalam hitungan 10, kamu tetap tidak membuka pintu aku akan melapor ke tetangga kalo kamu sekarat di dalam rumah,"
Astaga Tuhan, kenapa dengan Ramon,? pesan-pesan yang dia kirim kepadaku semakin membuat ku ketakutan. Aku langsung menelpon ibu ku, dan ku kirimkan semua pesan yang dikirimkan Ramon kepadaku.
📞 " Ibu,!! Cepetan pulang, aku takut sekali," ujarku sambil sedikit gemetaran
📞 " Tunggu sebentar sayang, ibu dan ayah pulang secepatnya, jangan kamu tutup telponnya kalau kamuerasa takut"
📞 " Cepat Bu," ujarku lagi.
Aku langsung mengunci pintu kamarku, dan duduk di ujung tempat tidurku, aku begitu sangat ketakutan melihat Ramon di depan rumah. Tak lama Ibu dan ayahku datang, ku dengar dari dalam kamar Roman berteriak sangat keras sekali.
Hampir satu jam orang tuaku menenangkan Roman, itupun di bantu sama tetangga dekat rumahku. Orangtuaku kaget, karena Roman membawa pisau lipat dalam kantung celananya.
Aku keluar kamar karena ibu dan ayahku memanggil ku, rasanya tenang sekali, Ramon sudah pergi.
" Ibu tidak tahu kalau dia sepeti itu sayang," ibu mendekap ku erat sekali.
" Aku takut Bu," ujarku sambil memeluk ibu.
" Kenal dari mana orang seperti itu,?" ayahku tiba-tiba datang dengan sedikit mata melotot, " Kalau sampai dia macam-macam lagi sama kamu, dia bisa kita jebloskan ke penjara. biar dia kapok." jelas ayah sambil mengusap kepalaku.