"Jangan menangis," ujarnya lembut pada gadis yang duduk di balik meja, berhadapan dengannya.
"Tapi aku sudah menangis, Vin."
Delvin Ghazi Natajaya, nama lelaki itu. Ia tertawa mendengar balasan di sela-sela isakan kawan kecilnya. Tindakannya membuat gadis tersebut melotot garang.
Bukannya berhenti, Delvin terus tertawa. Gadis yang sudah ia kenal sejak duduk di Taman kanak-kanak tersebut melemparkan sampah minuman mineral tepat ke wajahnya.
"Maylea Lilyana Azusena, sumpah! Kau itu galak tiada tara."
"Tara memang tidak sedang di sini! Sama Nilam paling!" ketus perempuan itu.
Delvin menarik poni Maylea dengan gemas, tak kalah dengan nada suaranya. "Bukan Tara tapi tara. Pikirmu huruf besar alias nama orang? Bukan!"
Gantian Maylea yang tertawa. Jam kerja dua orang ini sudah berakhir sejak satu jam yang lalu. Namun mereka memutuskan untuk melakukan sesi curhat dulu sebelum memulai perjalanan pulang.
"Tinggalin aja dia, May. Ngapain coba bertahan?"
"Ya gimana? Udah cinta."
"Kayak drugs gitu ya? Padahal gak baik tapi seneng aja. Sakau!"
"Di sini aku mau curhat, bukan supaya diceramahi."
Delvin beranjak, hendak meninggalkan kafe sederhana itu.
"Sudah pukul sepuluh, May. Ayo pulang!"
Ia melangkah perlahan yang diikuti Maylea di belakang. Memasang ekspresi kesal, jalannya saja sampai menghentakkan kaki.
"Kau bahkan lebih tau rasanya, Delvin. Apakah bisa kau menanggalkan perasaanmu terhadap perempuan itu ... bunga cintamu?"
Delvin menggeleng-geleng sembari tersenyum di balik dengkusannya.
"Bodoh!" bisiknya, nyaris tak terdengar oleh telinga sendiri.
"Andai sainganku itu bukan teman sebangkumu itu ... ah! Sudahlah ... dibandingkan aku, dia memang lebih unggul!"
Maylea mendekati Delvin yang hampir mencapai pintu.
"Mereka akan menikah bulan depan." Maylea berkata lirih.
"Hm, aku tau. Kau sudah bilang padaku."
Maylea terkejut. Seingatnya belum pernah ia membocorkan rahasia yang sudah diwanti-wanti oleh Adi Kavi agar jangan memberi tahu Delvin sebelum undangan disebar.
Raut wajah Maylea yang sudah Delvin hapal membuatnya kembali menarik poni si gadis.
"Maylea ... aku hapal setiap ekspresimu. Aku bahkan tahu apa yang ingin kau sampaikan sebelum kau melafalkannya. Hanya dengan melihat ekspresimu."
Maylea tersenyum. Menggoda Delvin dengan berkata bahwa ia cocok sekali menjadi seorang ibu atau menjadi ayah kedua baginya. Delvin menanggapi ketus dengan menyebut bahwa Maylea pantas mendaftarkan diri ke rumah sakit jiwa.
Mereka berjalan menuju pangkalan becak bermotor. Bukan karena tidak ingin memesan kendaraan lain dari sebuah aplikasi, hanya saja, mereka lebih suka naik becak.
.
.
Hari ini, Delvin libur. Ia berencana akan mengunjungi Putra setelah dari toko untuk membeli sebuah buku yang diinginkan Maylea tetapi belum kesampaian dibelinya karena sibuk. Ketika ia keluar dari toko buku, ia memutuskan singgah di sebuah coffee shop, menikmati secangkir kopi sejenak.
Ia mengirim sebuah pesan kepada Putra untuk menjumpainya saat istirahat makan siang kantornya. Delvin hanya ingin menanyakan kejelasan atas hubungan pria itu dengan sahabatnya. Ia merasa kasihan dan sakit hati atas pengaduan Maylea yang kerap diabaikan Putra atau kadang memergoki laki-laki itu bersama perempuan lain sedang bersenda gurau dan terlihat mesra. Maylea yang karena cintanya, tak sanggup menanyakan masalah itu langsung pada kekasihnya. Delvin tak habis pikir, bahwa cinta seorang perempuan dapat membunuh karakter. Misalnya Maylea yang tak kenal takut dan berani berorasi bahkan mendebat tak peduli apa yang ia sampaikan itu bisa membuat lubang di jantung, menjadi sangat takut jika ia salah berbicara di depan kekasih.
"Apakah semua perempuan akan semanis itu?" Delvin bermonolog, tersenyum pada buku yang dipegang. Di sana tertulis nama Maylea Azusena beserta stiker gambar tersenyum.
"Semanis siapa?"
Ah! Ada pula yang mendengar. Suaranya familier, mirip milik Putra Harbiansyah. Padahal ia baru saja mengirim pesan, tapi cepat sekali si kawan sampai.
"Mamakku." Delvin menjawab asal dan datar. Walau sebenarnya ia sedang menahan detak jantung yang berpacu cepat. Masih terkesima dengan takdir. Begitu diajak bertemu, langsung kesampaian.
Namun, sayangnya Delvin salah sangka. Dipikirnya Putra bertanya pada dirinya. Ternyata pada orang di sebelahnya. Tampaknya pemuda yang menjadi kekasih Maylea tersebut tidak menyadari keberadaan spy figuran Delvin Ghazi Natajaya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Maylea, Risa."
Tanpa diduga, Putra mengatakan itu pada selingkuhannya. Setidaknya begitu dugaan Maylea dan Delvin untuk dan sampai saat ini.
Delvin tak menduga sama sekali, kalau Lauhul Mahfudz menggariskan kejutan semacam ini. Jiwa kedetektifannya seketika muncul. Ingin tahu lebih banyak tentang hubungan rumit cinta segitiga ini.
"Kenapa?" tanya Risa, suara tidak sukanya kentara sekali.
"Cinta."
Hampir saja bibir Delvin mengeluarkan umpatan pamungkasnya.
"Tapi kau juga cinta aku. Kau harus pilih salah satu."
"Kau tak mengerti Risa."
"Kau jangan serakah! Aku atau dia?!"
"Kalau bisa dua kenapa enggak? Bukannya jatah laki-laki itu empat?"
Sebenarnya untuk kalimat barusan, Delvin setuju. Ia membenarkan bahwa jatah laki-laki memang empat. Hanya saja ia tidak terima. Itu artinya semi poligami. Belum menikah tapi sudah punya dua. Pantaskah?
"Kau orang paling berengsek, Put." Risa berkata sinis.
Lagi-lagi Delvin juga setuju. Kali ini karena kalimat Risa. Ia menarik ujung kanan bibirnya.
"Dari dulu kau adalah partnerku, Maylea. Selamanya akan begitu." Delvin berbisik seraya memandang buku yang akan ia beri pada Maylea.
.
.
.
Maylea merasa aneh dengan senyuman setan yang dipamerkan oleh Delvin kepadanya. Jangan-jangan kawannya ini jadi gila karena pernikahan Adi Kavi dan Maithilia yang tinggal menghitung hari.
"Kau kenapa?" tanya Maylea yang mulai risih dengan pandangan Delvin dan tentu saja senyuman anehnya.
Bertambah mengerikan karena baru mereka yang sampai di kafe. Lima orang lagi masih dalam perjalanan. Maylea tidak pintar me-ruqyah orang yang kesurupan makhluk gaib. Makanya ia cemas kalau-kalau ternyata keanehan Delvin disebabkan gangguan mahkluk yang kisahnya tercantum di surat Al-Kahfi.
"Aku punya penawaran. Kau mau?"
Maylea menghela napas. Dalam hati mencibir juga. Sok memasang tampang horor hanya untuk melakukan penawaran.
"Apa?!" seru Maylea.
"Jadilah mitraku untuk selamanya."
Maylea mengernyit. Memproses apa yang ingin disampaikan sahabatnya. Setelah ia paham maksudnya, berkatalah ia dengan penuh penekanan, "Aku tidak punya rasa semacam itu padamu dan aku tahu kau pun begitu!"
Delvin membenarkan, tapi tak habis akal, ia menjawab lagi, "Jika kau mau, kita bisa menjadi mitra di mana saja dan kapan saja. Bukankah hubungan ini menguntungkan juga?"
Maylea diam-diam setuju juga. Kacang yang ada di tangannya, mulai ia makan perlahan. Memikirkan tawaran sahabatnya yang mungkin saja sudah tak ada jalan lain lagi untuk mengobati patah hati. Demikian pula dengannya yang akan sembuh dari sakit hati, dan ditambah akan mendapat perlindungan ekstra dari Delvin.
"Menarik juga." Maylea mengangguk.
Delvin merespons dengan senyuman lebar. Lagi pula ia masih percaya dengan kalimat bijak Jawa: Witing Tresno Jalanan Soko Kulino.
Suatu saat rasa itu pasti tumbuh. Sahabat jadi cinta memang sudah banyak kisah. Sahabat jadi cinta kemudian menikah juga ada. Namun, sahabat menikahi bukan atas dasar cinta, mungkin jarang. Maylea dan Delvin adalah salah satu dari yang jarang itu.
"Jadi?"
"Apa maharmu untukku?" cecar Maylea.
"Apa pun yang kau mau. Tentu saja juga harus sesuai dengan isi dompetku."
Maylea tertawa.
"Anyway, May ... ini hari merah. Seharusnya kita enggak kerja sih."
Hah?
"Aku ke sini, karena statusmu di we-a. Sekalian aja kugunakan momen memalukanmu ini."
"Delvin!! Ya Allah!!! Kuatkan hamba dengan makhluk semacam Delvin ini!!" seru Maylea frustrasi.
Delvin tertawa sambil berlari dari kejaran Maylea serta lemparan kacang-kacang yang secara brutal gadis itu sasarkan padanya. Memalukan! Sudah setua itu masih main kejar-kejaran