Aku tak pernah menyangka ini akan terjadi. Terjadi dengan cara yang tak terduga. Seakan-akan apa yang ku alami ini hanya terjadi oleh satu dari satu miliar orang atau bahkan tidak pernah terjadi. Aku berharap tak pernah terbangun dan terus menjalani hidupku yang sedang terjadi ini
***Selamat Membaca***
"Uni! Jangan lupa join colab gue di smule ya!" seru Bintang, teman sekelas Araya di bangku SMP saat berpisah di gerbang sekolah. Araya hanya memberi isyarat bahwa dirinya setuju dengan ajakan tersebut, padahal Araya sendiri tidak tau apa akun Bintang.
"Uni", itulah panggilan Araya dari teman-temannya karena Araya pindahan dari Sumatera Barat. Saat Araya kelas 4 SD rumahnya hancur karena gempa bumi yang berpotensi tsunami. Panggilan "Uni" masih melekat meskipun dirinya sudah duduk di bangku SMP.
Saat Araya sedang asik melihat-lihat lagu yang akan menjadi project barunya, pesan masuk muncul di kotak pesan aplikasi tersebut. Karena menduga pesan itu dari Bintang, pesan tersebut diabaikan dan Araya masih tetap melihat-lihat daftar lagu-lagu. Pesan tersebut pun terus-terusan bertambah hingga Araya kesal dan segera mematikan ponselnya untuk kemudian diisi daya dan ditinggal tidur.
Keesokan harinya, di sekolah, Araya telah membaca pesan dan masih mendapatkan pesan baru dari akun yang tak dikenalnya itu. Karena kesal Araya mendatangi Bintang dan memintanya untuk berhenti mengiriminya pesan di aplikasi padahal ada aplikasi chat Line. Bintang yang merasa tidak pernah mengirimi pesan lewat aplikasi lain selain Line, membantah tuduhan Araya dan mengatakan kalau itu bukan pesan darinya. Rasa kesal masih terpendam di hati Araya karena pengirim tidak menunjukkan nama dan langsung menanyakan pelajaran di sekolah.
"Ini siapa sih? Rusuh banget. Masih pagi, juga" omel Araya di benaknya sambil duduk di bangku yang terdiri dari dua meja dan dua kursi.
Bel sekolah berbunyi. Araya buru-buru mengaktifkan mode getar di ponsel, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tidak lama kemudian Guru pelajaran pertama masuk yang diikuti oleh seorang perempuan cantik di belakangnya. Anak tersebut bernama Azzahra Fatima, siswi pindahan yang sebelumnya bersekolah di rumah atau home schooling. Zahra kemudian diperintahkan untuk duduk di sebelah Araya karena saat itu Araya duduk sendiri, meskipun jatah meja dan bangku untuk dua orang.
Saat pelajaran berlangsung mereka berdua mengobrol lewat surat-suratan di sebuah buku kosong yang tidak terpakai. Dimulai dari alasan kenapa pindah, tinggal dimana dan hal lainnya ditanyakan oleh Araya hingga Zahra bertanya balik kenapa pesannya tidak dibalas. Araya yang heran dengan pertanyaan tersebut, bertanya balik karena mereka berdua sama-sama baru pertama kali bertemu.
"Chat yang mana ya? Gue baru kenal lo dan kita belum ada tukeran kontak" tulis Araya yang bingung dengan pertanyaan tersebut.
"Itu loh yang di aplikasi nyanyi itu apa sih namanya? Ya pokoknya di situ. Akun kamu namanya MAyayuyu_chuu kan?" balas Zahra dengan cepat. Ingin rasanya saat itu Araya membuka ponselnya untuk mengecek, akan tetapi sanksi sekolah tentang ponsel membuat Araya mengurungkan niat tersebut. Araya menghentikan surat-suratan dan berusaha fokus sama pelajaran, hanya saja yang di tulis Zahra tadi masih terngiang dibenaknya.
Jam istirahat sangatlah dinanti oleh seluruh siswa tak terkecuali Araya yang penasaran dengan pesan yang belum dia buka saking jengkelnya. Rasa bersalah mulai muncul karena telah berburuk sangka sebelum mengetahui maksud dari isi pesan tersebut.
Araya yang didapati sedang membaca pesan dari si pengirimnya yang tak lain adalah Zahra merasa malu dan langsung minta maaf. Pada akhirnya mereka bertukar kontak karena Araya tidak selalu membuka aplikasi tersebut.
Setelah kejadian itu Araya berteman baik dengan Zahra. Araya juga sering mengajak Zahra main ke rumahnya, entah itu menari atau bernyanyi bersama. Hanya saja Zahra tidak pernah mau mengajak Araya bermain ke rumahnya meskipun itu dengan bujuk rayu dan iming-iming makanan. Araya juga mendapat panggilan baru dari Zahra, yaitu Aya.
Setahun lebih mereka berteman, akhirnya usaha Araya untuk main ke rumah Zahra membuahkan hasil. Hanya saja ada syarat tertentu yang harus di penuhi Araya, yaitu mengenakan gaun yang diberikan oleh Zahra dan tak lupa Zahra memberikan sebuah kartu yang berisi alamat. Kebiasaan Araya yang suka berpikir seenaknya muncul.
"Siapa juga yang bakal tinggal di daerah perkantoran begitu?" gumam Araya sambil menatap kartu yang berisikan alamat, jam dan hari yang ditentukan.
Hari yang dinantikan tiba. Dengan izin dan bantuan sang ayah, Araya diantar bersama orang tuanya ke tempat yang di maksud, FX Sudirman. Meskipun Zahra terbilang dekat dengan orang tua Araya, mereka tetap merasa ada yang tidak beres dan merasa heran kenapa anaknya di berikan alamat ini.
"Zahra mau ulang tahun kali ya? Mewah banget dirayainnya di sini," gumam ibunya Araya yang sama seperti anaknya, berpikir yang tidak-tidak.
Setelah memasuki ruangan yang terlihat seperti ruangan konser, Araya dan orang tua nya mencari tempat duduk yang terbilang jauh dari panggung karena berniat akan mengantarkan anaknya saja. Tidak lama sebelum banyak penonton datang, Araya mendapat telpon.
"Ra! Lu di mana? Gue udah di depan panggung, nih. Eh sorry ya ortu gue ikut" sahut Araya yang tak sabaran ingin bertemu dengan temannya di tempat yang menurutnya aneh untuk jadi tempat pertemuan.
"Lu ke backstage aja, gua tunggu di depan ruangan. Ng, tapi lu udah pake baju yang gua kasih kan?" tanya Zahra balik.
"Iya gue pake. Buat apa sih cuma ketemu mau main aja musti pake baju begini segala" jawab Araya yang masih terheran-heran
"Udah lu ke backstage aja. Tanya satpam kalo nggak tau atau staff yang ada di sana. Buruan, ya! Gak pake lama!" jawab Zahra sambil menurut telponnya. Araya langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya untuk menemui Zahra di belakang panggung. Orang tua Araya kaget karena Araya pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu setelah menerima telepon.
Araya yang sudah bertemu Zahra langsung memasuki ruangan yang banyak sekali anak perempuan mengenakan gaun yang sama seperti yang dipakai Zahra maupun Araya. Araya yang bingung dengan keadaan di ruangan, makin tambah bingung saat diberikan arahan oleh seseorang untuk duduk di bangku yang sudah diberi nama, kemudian di dandani oleh make-up artist yang sudah menunggu Araya.
Selagi menunggu acara dimulai, Araya bertanya kepada Zahra tentang apa yang terjadi di sini dan kenapa dirinya di suruh untuk mengikuti arahan orang tersebut.
"Kan lu pernah cerita sama gua kalo mimpi lu pengen jadi idol karena bisa menari dan nyanyi, dan ditambah lu punya basic nari meskipun bukan modern dance. Terus lu juga bisa nyanyi dan suara lu bagus, jadi gua wujudin mimpi lo ini," jelas Zahra meyakinkan Araya.
"Maksud lo gimana? Ya, iya gue pernah cerita ke elo kalo pengen jadi idol kaya di tv-tv tapi masa iya—" perkataan Araya terputus setelah pengumuman kru acara untuk segera naik ke panggung dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Saat pembawa acara menyebutkan nama-nama yang akan menyanyikan lagu di album baru yang akan di rilis, perasaan Araya tak karuan. Senang, panik, dan bingung karena Araya mencari namanya dari sekian banyak bangku yang berjejer di panggung bagian belakang. Setelah mendapatkan bangkunya, Araya terkagum-kagum dan berkali-kali mencubit tangannya, pertanda bahwa yang dialaminya itu bukanlah mimpi.
"Dan inilah member terakhir yang akan ikut membawakan lagu di album baru ini, member baru yang sudah diumumkan di web dan kita tunggu-tunggu kehadirannya, seorang anak perempuan yang berumur 14 tahun, terpilih dan dipilih langsung oleh manajer karena bakat menari dan menyanyinya. Kita sambut, Araya Putri Fajrina!" seru pembawa acara lengkap menyebutkan nama Araya. Sontak Araya kaget dan bingung harus bagaimana karena lampu sorot, kamera, dan semua mata tertuju pada Araya yang akhirnya membuat Araya langsung berdiri sejajar dengan member lain yang sudah lebih dulu di panggil berdiri di depan tirai yang terbuka lebar. Dengan rasa bangga dan takjub, tak terasa air mata Araya jatuh dari pipinya. Bagaimana bisa seorang anak perempuan yang biasa saja, tiba-tiba bergabung menjadi salah satu member idol group terkenal. Bagi Araya kejadian ini merupakan hari paling membanggakannya setelah hari kelahiran adik laki-laki yang sangat disayanginya.
Setelah acara selesai seseorang yang akan menjadi manajer pribadinya datang dan memberikan amplop yang berisi surat untuk dibaca, diisi, dan ditandatangani oleh orang tua Araya. Karena rasa senang yang meluap-luap, Araya baru ingat bahwa orang tuanya masih di bangku penonton. Dengan yang ditemani Zahra untuk bertemu dengan orang tua Araya, mereka pergi ke panggung untuk melihat di bangku penonton dengan jelas, akan tetapi usaha tersebut sia-sia. Mengetahui orang tua nya tidak ada di tempat mereka terakhir bertemu, rasa sesak di tenggorokan ingin menangis muncul karena panik orang tuanya tidak ada dan takut diomeli karena tadi langsung pergi tanpa pamit. Tiba-tiba terdengar suara satpam yang memanggil dan mengatakan kalau orang tuanya menunggu di pintu keluar. Setelah tahu keberadaan orang tuanya, Araya langsung bergegas sambil membawa amplop tadi dengan mengangat rok gaun bagian depan. Saat Araya bertemu dengan orang tuanya, Araya hanya bisa menangis bahagia sambil memberikan amplop dari manajer. Memang awalnya Araya di marahi oleh orang tuanya karena tidak menghiraukan mereka dan lebih memilih untuk bertemu dengan Zahra akan tetapi, ayahnya Araya langsung memeluk dan memberi selamat kepada anaknya tercinta, begitu pula dengan ibunya.
Setelah membaca dan mengisi formulir tersebut, ayah Araya menandatangani di atas materai yang sudah ada kemudian Araya bertemu kembali dengan manajernya untuk memberikan formulir yang sudah diisi dan ditandatangani. Manager tersebut memberitahu kalau Araya diberi waktu 3 hari untuk mempersiapkan barang bawaan yang akan dibawa ke asrama agensi dan akan dijemput ke rumahnya setelah 3 hari tersebut. Dalam perjalanan pulang Araya yang masih chatting dengan Zahra masih penasaran dengan kejelasan dari Zahra yang sebenarnya. Zahra pun mengakatakan kalau dirinya diberi tugas khusus sebagai orang terdekat untuk memastikan kalau orang yang dilihat di video live dan suara di aplikasi menyanyi adalah orang yang sama, yaitu Araya. Araya benar-benar tidak terpikirkan ada cara yang seperti itu untuk merekrut seorang member.
Hari-hari Araya menjadi idol pun dimulai saat Araya dijemput oleh orang agensi untuk membawa barang-barang dan mempertemukan manager dengan orang tua Araya. Setelah setahun Araya menjadi member idol group, suara rekaman Araya diaplikasi menyanyi banyak di dengar oleh banyak orang tak terkecuali staf dari sebuah studio rekaman yang tertarik dengan suara Araya dan meminta sebagai salah satu pembawa acara disebuah radio ternama di Indonesia. Tidak lama setelah Araya menjadi pembawa acara di radio, Araya mendapat tawaran sebagai pengisi suara di berbagai macam studio sampai akhirnya Araya terpilih menjadi salah satu pengisi suara perwakilan Indonesia untuk menjadi pengisi suara di Jepang di salah satu acara yang mengharuskan orang Indonesia langsung yang mengisi. Araya dan Zahra sama-sama lulus dari akademi agensi tersebut karena mereka sudah kelas 12 SMA dan ingin fokus bersekolah. Setelah lepas dari agensi tempat Araya di rekrut, Ia tetap melanjutkan karirnya sebagai pengisi suara. Lalu bagaimana dengan Zahra?Dia melanjutkan karirnya sebagai artis film layar lebar. Mereka tetap masih berhubungan sampai sekarang.