Erik sedang berdiri di rooftop apartemennya sambil menghisap sebuah rokok. Dirinya memandang seisi kota dari sana. Langit abu-abu telah menutup cahaya mentari yang seharusnya tengah bersinar tersebut.
Dirinya merenung teringat akan suatu kejadian.
"Masa kecil ya." ucapnya selagi mengingat memori lama.
Dua puluh tahun silam, Erik pergi meninggalkan rumah lantaran diusir oleh keluarganya karena masalah yang dibuatnya. Dirinya mengingat seluruh anggota keluarganya. Tetapi ia tidak mau kembali lagi kesana. Sebab sudah tidak dianggap lagi dari bagian keluarga itu.
"Mengingatnya akan menyia-nyiakan waktuku saja. Lagian mereka tidak akan peduli sama halnya denganku."
Usai dirasa lama berada di tempat ia berpijak, Erik memutuskan untuk pergi menuju ruang apartemennya. Membuka pintu dengan kuat.
Sebuah sinar yang menyilaukan muncul dan membuat Erik tidak bisa melihat.
"Apa ini?!" tanya Erik sekaligus terkejut.
Dalam sekejap, lelaki itu merasa di tarik oleh sesuatu dari dalam sana.
"Ini menarikku? Mau dibawa kemana aku, hah?!"
menahan gerakan sekuat mungkin.
Tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama, Erik pun akhirnya masuk dalam cahaya misterius itu.
---
Membuka mata secara perlahan, Erik memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Apakah aku berada di dalam rumah?"
Erik bangun dan menyadari bahwa dirinya tengah berada di sebuah tempat tidur suatu kamar. Tetapi dirinya tidak mengetahui ruangan kamar siapa yang sekarang ditempatinya kini.
Lalu ia coba berjalan untuk menyusuri rumah yang dia tinggali ini.
Membuka pintu dengan perlahan, Erik memperhatikan sekitarnya luar ruang kamar.
"Tidak ada seorang pun disini." katanya yang sedang menoleh ke kanan dan kekiri.
Melangkah sembari melihat-lihat setiap sudut ruangan yang ada, Erik mulai coba berpikir tentang suatu hal yang mungkin membuat dirinya ingat atau malah sebaliknya.
"Mungkin aku bisa mengenali tempat ini. Atau bisa jadi tidak ada kaitannya denganku."
Berjalan terus menelusuri setiap ruangan, dan setibanya di suatu ruangan...
"Ini tidak mungkin?!"
Erik memperhatikan sebuah foto terpajang di dinding ruangan yang dikunjunginya itu.
Terlihat foto yang tidak asing baginya.
"Ini benar-benar ada kaitannya denganku." ujarnya dengan rasa tak menduga.
Di pegangnya foto itu, lalu memperhatikannya.
"Sekarang aku tahu mengenai rumah ini."
"Rumah ini milik keluargaku sendiri."
Tangan lelaki itu mulai gemetar. Menundukkan kepala serta air mata yang jatuh membasahi lantai. Tatapan tajam pun terlihat di wajahnya.
"Aku ingin membalaskan dendamku atas kejadian itu!"
Erik bergegas pergi menuju suatu ruangan.
Menaiki anak tangga, lalu membuka pintunya dengan kuat.
Dirinya terperangah, bahwa ada seseorang tengah duduk di dalam ruangan tersebut.
Erik coba mendekat dan berdiri di hadapannya.
"Hey kau. Aku ingin tanya sesuatu."
Seseorang yang tengah duduk dan menundukkan kepalanya itu tidak bergerak sama sekali setelah Erik angkat bicara.
"Kau dengar tidak?!" tegas Erik yang sudah emosi.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" mengangkat pandangan.
"Bukankah kau?!" tunjuk Erik.
Erik langsung meraih kerah baju orang itu dan mengkatnya ke atas.
"Katakan padaku. Dimana dia sekarang?!" tanya Erik dengan nada tinggi.
"Dia..."
Erik menarik kerahnya lebih kuat lagi, sehingga membuat orang itu merasa sedikit sesak.
"Katakan atau aku buat dirimu menderita saat ini juga." ancamnya.
Akhirnya terungkaplah keberadaan orang yang dicari Erik tersebut.
"Apa kau serius mengenai itu? Jangan membohongiku!" Erik tak percaya.
Lelaki itu menjauhkan tangannya dari kerah orang yang ada di hadapannya itu. Berbalik badan dan mengepal tangan cukup kuat.
"Padahal aku ingin sekali membalaskan dendamku padanya." kesalnya atas apa yang ia dengar barusan.
"Ikuti aku." ajak orang itu pada Erik.
Erik mengikutinya dari belakang menuju sebuah tempat.
Halaman belakang, menjadi tempat mereka berdua berdiri saat ini.
"Kau bisa melihat siapa yang ada disini." katanya pada Erik.
"Siapa yang meletakkan dirinya disini?"
"Kau pasti tahu siapa pelakunya." lanjut orang itu.
Ternyata pelakunya adalah orang yang berada di dekat Erik itu sendiri. Terlihat kedua tangannya sudah bewarna merah hingga ujung jari.
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Erik penasaran.
"Aku juga mengalami hal serupa denganmu. Setelah kau mengalaminya, aku lah orang berikutnya." jawabnya.
Orang itu lalu menunjukkan bagian tubuhnya pada Erik.
"Aku bahkan mengalami hal semacam ini yang membuatku nyaris mati. Bisa lihat kan?"
"Orang setelahku. Apakah kau adalah..."
"Aku Mita. Adikmu perempuanmu." jawabnya.
Erik tercengang dan tak menyangka bahwa di depannya sekarang ini merupakan adik kandungnya.
"Benarkah begitu?!"
Mita langsung memeluk Erik yang masih terdiam di tempat.
"Iya. Aku adalah adikmu yang sudah lama merindukan kakaknya selama ini." ujar Mita.
Erik membalas pelukan sang adik.
"Maaf telah menghilang dari hadapanmu selama ini." Erik meminta maaf.
Mita diam tak berkata dalam pelukan sang kakak.
Kini sang adik sudah tumbuh besar dan masih mengingat kakaknya yang sudah lama menghilang itu.
"Kini masalah kita dengan orang tua asuh itu sudah selesai."
"Ikutlah bersamaku, kita akan menjalani hidup yang lebih baik untuk kedepannya kelak."
Erik menghelus kepala Mita.
Memandang seraya tersenyum. Mita mengiyakan ajakan sang kakak.
Setelah itu Erik membuka sebuah pintu kamar yang ditempatinya di awal. Sebuah cahaya mulai keluar dari pintu itu. Erik dan Mita pun berjalan masuk ke dalam cahaya yang menyilaukan tersebut.
---
Di rooftop apartemen, Erik dan Mita menikmati pemadangan kota diselingi canda tawa antar keduanya.
-----SELESAI-----