Ketika kamu mengingat kapan kematianmu, kau selalu menggeretakkan gigi. Alih-alih mengindahkan peringatan dari Sang Pencabut nyawa, kau justru mengutarakan amarah dengan menuding kerabatmu.
"Ini semua karenamu! Ugh ... kalau saja aku tidak mengikuti saran meminta petunjuk pada Cenayang itu, pasti tak akan menjadi seperti ini!" teriakmu secara membabi buta.
Tanpa melihat sekitar, kau menutup diri dengan emosi. Namun, tak tahukah bahwa dia bahu membahu untuk membuat hari terakhirmu lebih terkesan? Tidak bisakah kau bersyukur, mengetahui kapan kamu akan pergi ke peristirahatan jenjam sehingga bisa memanfaatkan waktu dengan baik?
Ingatlah untuk mati.
Maka pahamilah setiap kisah yang kau temui. Pengalaman, adalah pelajaran berharga dalam kehidupan singkat kita yang fana.
Ingatlah akan kematian.
Agar kita selalu memberikan yang terbaik. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, lakukan semuanya seolah-olah itu adalah hari terakhir dalam hidup. Sehingga yang kamu lakukan memiliki arti bagi dirimu, maupun orang lain.
Mungkin, sekarang hatimu telah tertutup oleh payung mesin yang sangat besar. Rintik menghunjam pada tiap celah. Kerabatmu yang ada di bawahnya tidak memedulikan hal tersebut karena dia menganggapnya sebagai fakta.
Fakta bahwa ini bukan apa-apa, melainkan sebuah hukum.
Pada hari ketika payung itu menipu kita, langit menangis. Kota itu buta dan tidak berperasaan. Kamu meludah ke arah payung. Dan ludah itu tenggelam ke dalam hujan bersama dengan sirene memekakkan.
Tanpa mendengarkan suara siapa dan apa pun ... kerabatmu menangkap hujan dalam telapak nan pucat, lalu mengambil tanganmu dan pergi menuju payung itu.
Bersama dalam hujan deras, kamu dan dirinya berlari menuju menara payung.
Pintu ganda yang tertutup, terbuka terlalu cepat ketika didorong. Tidak ada yang mencoba memasukkinya sebelum ini. Apakah itu memiliki kunci atau tidak, semua hampir sama, tak ada yang peduli.
Di sisi lain pintu ... ke mana arah tangga spiral yang runtuh ini? Hujan jelaga menetes dan menggema, seolah ingin menghiburmu dengan lembut ketika kau akan menangis.
Dikejar oleh bayang-bayang putih terbentang di depan pelarian kalian. Tanpa waktu mencari alasan, atau peduli tentang itu ... kerabatmu memberi dukungan dengan tangan yang gemetar.
Roda gigi yang larut menjadi tawa gelap pada kalian. Di ujung lorong sana, angin mulai membelai pipi kalian dengan samar.
"Angin bertiup," katanya.
Kamu setuju dalam diam.
Kalian tidak menghentikan langkah. Sepertinya kalian berjalan cukup jauh, atau baru saja mulai berlari. Tidak ada yang menemukan dua orang kecil dalam keputusasaan.
Tidak ada yang menemukan kalian.
Bayangan putih tidak mengejar lagi dan tampaknya telah menghilang dengan sangat menyedihkan. Bau karat dan bahkan jelaga hitam sudah berubah warna sedikit sebelum ini.
Rasanya seperti mendengar .... Kalian memperhatikan, dan lupa tentang suara dari suatu tempat di ujung tangga spiral.
Sebuah pintu yang sangat kecil dan tertutup debu menunggu kalian sejak lama.
"Aku akan membukanya."
"Baik."
Tampaknya hampir ada semua ....
Bunga bermekaran dalam warna-warna liar dan langit biru yang dalam. Mentari bersinar lembut, membelai dengan kirananya pada kulit kalian yang dingin dan beku pun hangat pada akhirnya.
Tak lupa kicau burung di seberang sana, mereka terbang dan menari pada canvas antariksa bak ucapa selamat datang pada kalian, mengikuti arus bayu yang membawa harum dari kelopak bermekaran.
Beginilah kehidupan.
Mungkin pahit ketika kamu menjalaninya, tapi ingat ... semua akan berakhir manis jika kau bisa menikmati tiap detiknya.