--WARNING ALERT--
Cerita tidak diperuntukkan untuk pembaca di bawah 17 tahun karena mengandung beberapa negative content
Nala Nurinaah Putri dan Dony Darmawan, kedua sahabat yang sudah berteman sejak kecil tiba-tiba dipisahkan dengan sebuah kejadian dan orang yang tak terduga...
Seperti apa kejadian dan siapa orang tersebut?
***Selamat membaca***
"Nala! Tungguin gue dong jangan cepet-cepet... Hah hah... Gue gak kuat!!" Teriak Dony sambil berlari mengejar Nala saat berangkat sekolah di jalan komplek rumah. Nala yang mendengar Teriakan Dony hanya bisa berbalik badan sambil berjalan mundur dangan cengirannya yang khas di mata Dony..
"Lo lama sih, Don... Ayo cepet! mau gue tinggal lebih jauh lagi nih?" Ledek Nala masih cengengesan dan berjalan mundur menghadap Dony yang sedang berlari mengejar Nala.
"Iya... Hosh... Hosh... Ta-tapi... Lo jangan jalan terus dong... Capek gue ngejar lo tau!" Teriak dony lagi sambil berlari dan terengah-engah kemudian jongkok karena kecapekan. Nala yang tidak tega melihat Dony seperti itu, berjalan menghampirinya.
"Dony... Ini gue udah nyamperin lo kok udah dong jangan ngambek, ya" Bujuk Nala saat tahu Dony sudah tidak kuat mengejarnya.
Dony Darmawan dan Nala Nurinaah Putri itulah nama lengkap mereka berdua, mereka adalah teman baik bahkan sahabat sejak kecil karena rumah mereka bersebrangan, jadi tak heran kalau mereka lengket di sekolah maupun di rumah bagaikan perangko dan amplop. Nala memang suka sekali berjalan kaki jadi memang sudah biasa bagi Nala berjalan dan sampai sekarang Nala berjalan bagaikan berlari padahal baginya hanya berjalan santai sedangkan Dony seperti pengikut setianya Nala meskipun Dony lebih sering ditinggal jauh oleh Nala ketika mereka sedang jalan kaki berdua
Di sekolah
Bel pelajaran pertama dimulai. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk dengan diikuti seorang murid pindahan yang bernama Bimo Kurniawan Septiadi kemudian Bimo dipersilahkan memperkenalkan diri dan duduk di samping Dony yang kebetulan kursi di samping Dony kosong. Bimo sedari masuk kelas tadi hanya diperhatikan oleh Nala, melihat Bimo yang duduk di samping Dony, Nala menjadi malu-malu karena sahabatnya duduk di samping orang yang dia kagumi.
Saat istirahat
Nala yang asyik becanda dengan Dony sambil makan mie ayam, terlihat oleh Bimo kemudian Bimo menghampiri mereka sambil membawa bekal makanan dan minuman yang dibawa dari rumahnya. Dony dan Nala mempersilahkan Bimo makan bersama mereka kemudian Bimo duduk di depan Dony dan Nala.
"Lo kenapa bawa bekal? Kan ada kantin di sini, " tanya Dony heran.
"Iya, lagi pula disini makannya terjamin bersih kok, " timpa Nala.
Bimo yang mendengar pertanyaan mereka berdua hanya dapat tersenyum dan menjelaskan kalau dia terbiasa dari kecil untuk meanbung uang jajannya dengan tidak membelanjakan uangnya, maka dia membawa bekal dari rumah. Dony dan Nala hanya bisa manggut-manggut tanda paham yang di maksud Bimo tadi.
"Hemm kalian berdua sahabatan atau pacaran atau bagaimana? Kok kelihatannya berduaan terus, " tanya Bimo yang heran melihat mereka berdua terus meskipun sedang istirahat. Mendengar pertanyaan tersebut, Nala dan Dony kaget. Ekspresi wajah Dony malu-malu dan Nala terlihat panik
"Ka-kami sahabatan dari kecil!" Jawab mereka berdua dengan keadaan mulut Dony sedang mengunyah lalu mereka saling tatap antara Dony dan Nala.
"Iya benar kami sahabat!" Teriak Nala ngotot ke Bimo sambil berdiri dan membuat orang sekitar kaget kemudian Dony juga ikut-ikutan berdiri mengiyakan perkataan Nala sambil teriak dan menunjuk-nunjuk Bimo tanda harus percaya dan yakin. Kemudian Bimo menyuruh mereka duduk kembali karena mereka berdua telah menjadi pusat perhatian saat ini. Setelah kejadian itu suasana menjadi hening karena bingung dan takut akan terjadi seperti tadi.
"Ah, baiklah daripada diem-dieman begini lebih baik aku buat topik pembicaraan, " sela Bimo memecah keheningan yang dari sedari tadi.
"Ehem begini... Aku boleh tidak ikut bersahabat dengan kalian? Sepertinya asik..." Nala dan Dony terlihat kaget dengan pertanyaan Bimo yang satu ini dengan ekspresi bahagia , mereka berdua mengangguk tanda setuju.
Hari-hari berlalu begitu cepat hingga mereka bertiga kelas 12 SMA tetapi mereka tidak seperti saat masih kelas 11 dulu. Salah satu di antara mereka ada yang harus rela beda kelas, yaitu Dony. Bimo dan Nala berjanji akan tetap menemui Dony dan tetap bersahabat meskipun mereka beda kelas.
Awal semester Dony sering bermain dan makan bersama saat istirahat bersama Nala dan Bimo, akan tetapi saat sudah masuk pertengahan semester satu Dony mulai merasa aneh dengan kedua sahabatnya. Entah mengapa mereka berdua jadi jarang bertemu dan jarang pula menemui Dony.
Saat sampai rumah sepulang Dony sekolah, keadaan rumah sudah berantakan karena kedua orang tuanya sedang bertengkar hebat hingga barang-barang di rumah berantakan dan tidak pada tempatnya. Dony yang pusing mendengarnya langsung masuk kamar dengan membanting pintu kamar dan menguncinya.
Keadaan Dony tidak semakin memburuk ketika mendapat sms dari Nala yang mengajaknya bermain ke taman joging lusa. Dony menunggu hari itu penuh semangat dan ceria karena dugaannya salah kalau sahabat kecilnya sudah mengacuhkannya.
***************************
Hari yang ditunggu tiba. Dony ingin sekali memeluk kedua sahabatnya itu terutama Nala. Ternyata temannya sudah menunggu di depan rumah Dony dan mereka berjalan beriringan menuju taman joging yang tidak jauh dari komplek perumahan Dony dan Nala.
Selama di taman joging mereka hanya berkeliling. Dony berjalan riang di depan Nala dan Bimo, tetapi Nala dan Bimo terlihat bingung dan ingin menyampaikan sesuatu ke Dony tetapi mereka tidak tega untuk memberitahukan sesuatu itu ke Dony.
"Huaaahh... Aku haus nih cari minum yuk," keluh Nala sambil memegang tenggorokannya.
"Bentar ya aku belikan minum" Balas Bimo khawatir.
Tiba-tiba Dony merentangkan tangannya di depan Bimo sambil mengatakan, "udah gak usah, biar aku aja yang beli, kalian tunggu aja!" Tanpa respon dari teman-temannya, Dony segera berlari pergi mencari minuman sedangkan Bimo dan Nala mencari bangku untuk mereka duduk.
"Duh gimana ya cara bicara ke Dony? Aku takut tiba-tiba dia kaget kalo aku mengatakan yang sejujurnya," ucap Nala memelas.
"Udah lah nanti aku aja deh yang kasih tau ke Dony," kata Bimo sambil mengelus kepala Nala sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nala dan tiba-tiba mereka berdua berciuman. Akan tetapi mereka tidak sadar kalau ternyata Dony melihat Bimo dan Nala. Karena kaget dan terpaku melihat kedua sahabatnya sedang berciuman, tanpa terasa minuman kaleng yang dipegangnya jatuh dan bunyinya mengagetkan Bimo dan Nala.
Tersadar dari kagetnya, Dony langsung melempar minumanya yang masih terpegang erat ke Nala dan Bimo sambil berteriak, "kalian bukan sahabatku ataupun temanku lagi!" Nala yang kaget karena sikap Dony, menangis dan ingin mengejar Dony tetapi tangan Bimo menahan Nala untuk mengejar Dony sambil berkata, "jangan di kejar dia butuh waktu untuk memahami kejadian ini dan memahami bahwa kita sudah resmi pacaran" kemudian memeluk Nala yang menangis itu di bangku taman meskipun mereka berdua basah terkena minuman yang dilempar Dony kepada mereka.
Dony berlari sekuat tenaga sambil menangis menahan depresinya karena keluarganya yang berantakan dan sahabatnya yang sudah mengkhianatinya.
Entah kemana kakinya melangkah hingga bertemu teman sekolahnya yang tiba-tiba menawarkan sesuatu yang berbungkus kertas kecil dan jarum suntik. Dony yang mengerti itu apa langsung menolaknya dan ingin pergi dari hadapan temannya itu, tetapi ditahan oleh temannya yang menawarkan itu dan sambil berkata, "tenang gk usah khawatir kok ini bukan yg lo pikir ini penghilang stres lo aja btw lo lagi banyak pikiran kan? Nih gue kasih gratis kok gak usah bayar" Dony tetap menolak dan ingin melepas genggaman temannya itu kemudian berlari ke rumah.
Suasana di rumah makin kacau dan ketika Dony sampai di rumah dan hendak masuk ke dalam, Dony berpapasan dengan wanita muda dan seksi yang setengah telanjang keluar dari rumah yang di tuntun oleh ayahnya yang membawa koper dan segera masuk ke mobil kemudian pergi. Dony yang bingung hanya bisa melongo sambil berlari ke ibunya dan bertanya apa yang sedang terjadi.
Mengetahui bahwa kelakuan ayahnya yang bejat dari ibunya yang kemudian bilang kalau ibu dan ayahnya sudah bercerai dan akan melaporkan perceraiannya ke KUA besok, Dony menjadi tambah depresi dan berlari keluar rumah karena tidak kuat dengan kejadian yang dihadapinya.
Dony berlari dan kakinya membawa tubuh Dony ke tempat temannya tadi bertemu kemudian meminta apa yang ditawarkan tadi oleh temannya dan menggunakan narkoba itu. Seketika Dony merasa depresinya hilang dan merasa nge-fly karena beban yang ditanggungnya sudah lepas bebas.
Dony pulang ke rumah dengan badan terhuyung-huyung dan sambil memegang kantong plastik berisi jarum suntik dan beberapa narkoba bubuk yang bisa dihirup. Nala yang masih khawatir dengan kejadian tadi menunggu Dony pulang di depan rumahnya. Ketika bertemu dengan Dony, Nala meminta maaf sambil memeluk Dony, dan dengan mudahnya Dony melepas pelukan Nala secara paksa hingga Nala terjatuh.
"Siapa lo? Meluk-meluk orang aja. Gak khawatir noh sama cowok lo yang brengsek, yang bisanya cuma nikam gue dari belakang. Sakit yee sakiiiiit banget digituin sama sahabat... Ehh bukan sahabat deh tapi cewek brengsek kayak lo!" Teriak Dony yang sedang sakau tanpa mempedulikan Nala, Dony langsung masuk kerumah dengan membawa kantong plastik tadi.
Nala yang kaget dan bingung dengan sikap Dony tadi hanya bisa menangis sejadi-jadinya sambil duduk di jalan depan rumahnya dan masih tetap ingin minta maaf.
Beberapa hari berlalu. Dony jadi jarang masuk sekolah. Jikalau masuk sekolah, Dony sering izin ke kamar mandi hanya untuk menggunakan narkoba suntik. Guru-guru menjadi curiga dengan sikap Dony yang tiba-tiba berubah 180 derajat.
Ketika salah satu guru memeriksa kamar mandi murid laki-laki, dan mendapati Dony sedang sakau beserta jarum suntik menancap di salah satu tangannya, guru tersebut melapor ke kesiswaan dan memberikan Dony skors selama 1 bulan dan menyita semua peralatan narkoba yang Dony bawa. Nala dan Bimo tidak mengetahui bahwa Dony di skors selama itu dan semenjak di sekolah ketika Nala pergi ke kelas Dony, Dony selalu menghindari Nala, begitu pula sikap Dony terhadap Bimo.
Nala yang semakin bingung dengan sikap sahabat kecilnya yang berubah jauh dari yang seperti biasa. Perhatian Nala tidak lagi fokus untuk Bimo tapi berubah menjadi ke Dony.
Saat semua orang sedang terlelap ria, tiba-tiba suasana sunyi senyap di kejutkan dengan sirine ambulance yang berteriak membangunkan kepada semua orang termasuk Nala bahwa sedang terjadi sesuatu pada seseorang. Warga yang terbangun hanya bisa menatap melalui jendela dan mengikuti arah kemana sumber suara bergerak.
Nala yang melihat ambulance menghampiri rumahnya menjadi takut terjadi apa-apa tetapi setelah Nala tahu bahwa ambulance itu berhenti di depan rumahnya dan rumah Dony, Nala menjadi semakin takut dan pergi menghampiri ambulance tersebut. Saat perawat yang keluar dari rumah Dony membawa tandu, Nala menghentikannya dan ingin melihat siapa yang berada di tandu tersebut.
Nala terkejut bukan main setelah membuka bungkus tandu yang berisi Dony dengan busa di mulutnya yang terus keluar sambil bergelenjing pucat. Ibunya Dony hanya bisa menangis di bahu Nala ketika nala menghampirinya. Meratapi anaknya yang tidak jelas apa penyebabnya. Tanpa ada basa basi, Nala dan Ibunya Dony naik mobil ambulance tersebut.
Di Rumah Sakit
Dony langsung dibawa ke ruang UGD untuk di periksa dan setelah Ibunya Dony mendapat kamar untuk anaknya, Dony di antar ke kamarnya yang berada di kamar 612 yang diikuti Nala di belakangnya.
Nala yang masih tak percaya apa yang dialami sahabatnya ini menelpon Bimo dan menceritakan apa yang terjadi dengan Dony.
Keesokan hari di sekolah
Nala yang terlihat buru-buru saat meninggalkan kelas membuat Bimo bingung.
"Ada apa gerangan dengan Nala?" Gumamnya sambil menyusul dan menjajarkan langkahnya dengan Nala.
"Kamu kenapa sih sayang?" Tanya Bimo lembut tetapi Nala tetap jalan dengan mantabnya memandang lurus kedepan tanpa menjawab pertanyaan Bimo.
Sesampainya di rumah sakit Nala hanya bisa menatap Dony yang terbaring koma sambil mengajak ngobrol Dony yang masih terbaring. Nala di rumah sakit bertugas menggantikan ibunya Dony untuk menjaga Dony.
Keesokan harinya, di sekolah Nala tetap seperti kemarin dan malah jadi menjauh dari Bimo hingga membuat Bimo bingung dengan sikap Nala yang sekarang.
"Jangan pulang dulu kita perlu bicara," tahan Bimo sambil memegang tas Nala yang sudah ingin di sandang.
"Tolong biarkan aku pergi" Jawab Nala tegas.
"Pergi? Pergi kemana? Ke rumah sakit? Aku ikut ya?" Tanya Bimo yang memaksa Nala untuk mengizinkannya ikut.
"Nggak, nggak usah, gapapa"
"Aku anter deh"
"Nggak usah!" jawab Nala sambil berjalan menjauhi Bimo
"Ayo lah kan aku sahabat Dony juga jadi boleh lah aku ikut jenguk dia," sanggah Bimo sambil menarik tangan Nala. Nala yang sudah jengkel dengan sikap Bimo saat ini mulai berbicara dengan nada marah
"Sahabat? Kamu bilang apa tadi? Kamu baru sekarang bilang dia sahabat? kemaren-kemaren kemana aja? Baru sekarang juga kamu jenguk dia kan? Itu yang di sebut sahabat? Cih sahabat macam apa itu!" Ungkap Nala kesal.
"Kamu ini kenapa sih? Kenapa jadi marah gini? Gak usah sok perhatian lebih deh ke dia. Kan dia cuma temen masa kecil kamu, sedangkan kita pacaran kan? Harusnya kamu perhatian lebih ke aku gak usah ke cowok macem Dony" Jawab Bimo sambil merangkul Nala. Dengan cepat Nala menepis rangkulan Bimo
"Kamu itu siapa? Orang baru kok sok-sok ngatur. Kamu nggak tau Dony berarti gak tau aku juga. Aku dan Dony sudah sepakat dari dulu kecil kalo kita bakalan terus bersama. Ehh kamu dateng dan tiba-tiba minta jadi sahabat. kupikir kamu bakalan bener-bener jadi sahabat, ternyata omong kosong semua!" Jawab Nala dengan nada marah dan membentak sambil jalan pergi meninggalkan Bimo sendiri.
Bimo tidak bisa berkata apa-apa setelah dimarahi Nala dan ditinggal sendirian. Dia mengingat-ingat apa yang telah terjadi dan apa yang sudah diperbuat. Nasi sudah menjadi bubur semuanya sudah terjadi dan berakhir penyesalan. Sudah membuat Nala kecewa memang dan lebih tepatnya lagi sudah memanfaatkan kedekatan dengan Dony hanya untuk menjadikan Nala seorang pacar.
Sudah beberapa bulan sejak kejadian Dony yang masuk kerumah sakit, Ia tidak kunjung bangun dari komanya dan saat itu juga Nala terus menemani Dony saat ibunya Dony pergi bekerja. Entah mengapa rasa sukanya kepada Bimo beralih menjadi ke Dony, teman masa kecilnya.
Saat Nala sedang pergi ke luar rumah sakit membeli persediaan makanan untuknya, Bimo masuk ke kamar Dony dengan membawa bunga dan sekeranjang buah. Bimo yang tidak tahu kenapa Dony bisa di rumah sakit, tidak kaget karena melihat Dony yang sudah duduk di pinggir kasur dan melihat Bimo dengan senyum pucatnya.
"Hei bro kenapa mau ke WC? Perlu gue bantu?" Tawar Bimo sambil menaruh barang bawaan di meja samping tempat tidur Dony.
"Nggak kok gue cuma mau duduk aja bosen tiduran terus. Hmm lo ada kertas kosong gak sama pulpen atau pensil gitu?" Tanya Dony dengan gaya bicaranya yang seperti biasa tidak terlihat seperti orang sakit.
"Kalo kertas kosong kayaknya gk ada deh cuma kalo pulpen ada sih apa perlu gue minta kertas kosong ke suster? Deket kok gak jauh," tawar Bimo lagi dan kali ini Dony mengiyakan tawaran Bimo. Bimo langsung berlari keluar untuk meminta selembar kertas kosong ke suster dan kembali.
Ketika sampai di kamar pasien Bimo langsung menaruh kertas beserta pulpen di meja tempat makan yang sudah di geser Dony ke dekat tempat tidurnya.
"Lo nulis apaan sih? Kayaknya serius banget," lirik Bimo penasaran.
"Hah? Gapapa kok bukan apa-apa. Lo duduk aja dulu. Oh iya itu bunga buat siapa? Banyak banget" Tanya Dony yang heran melihat Bimo tadi membawa bunga
"Itu buat lo lah buat siapa lagi? Masa iya buat nyokap lo" Jawab Bimo dengan nada meledek dan keduanya pun tertawa.
"Udah lama gak denger lo ketawa begini nih," sanggah Bimo menghentikan tawanya Dony. Dony hanya bisa mengangguk sambil terus menulis. Suasana pun jadi hening karena Dony menulis dengan serius
"Nih surat tolong lo kasih ke Nala sama tuh bunga lo masih pacaran kan ma dia?" Tanya Dony sambil memberikan surat. Bimo hanya bisa terdiam dengan pertanyaan Dony tadi.
"Oh iya gw balik dulu yaa maaf nih kalo cepet pulangnya lo juga harus istirahat biar kita bisa main bareng lagi," balas Bimo tanpa menjawab pertanyaan Dony.
Sebelum pulang Bimo menerima surat dari Dony dan memeluk temannya itu dengan erat kemudian keluar kamar sambil membawa bunga yang dia bawa sebelumnya. Sementara itu Dony kembali menarik selimut dan tidur.
Saat berjalan di lorong rumah sakit Bimo berpapasan dengan Nala yang sedang membawa kantong plastik berisi makanan dan keperluannya selama di rumah sakit. Bimo langsung menghampiri Nala dan tiba-tiba Nala menjauh dari Bimo.
"Kenapa kamu menjauhiku?" Sambil menggenggam tangan Nala agar Nala berhenti.
"Maaf kita sudah tidak ada hubungan lagi" Jawab Nala ketus.
"Maksud kamu apa kita tidak ada hubungan lagi? Apa kita-"
"Ya aku minta putus dari kamu dan sekarang kita tidak terikat hubungan apa-apa lagi oke? Dan tolong lepaskan tanganku aku mau menemani Dony teman yang kamu manfaatkan kedekatannya denganku," sambung Nala yang tiba-tiba memotong omongan Bimo.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu dan lagipula aku habis bertemu dengan dia dan mengobrol dengannya," jawab Bimo dengan nada meyakinkan yang membuat Nala kaget dan menjatuhkan barang-barang bawaannya.
"Nggak mungkin kamu pasti boong kan? Dony tuh masih koma!" Ucap Nala tak percaya sambil mengguncangkan tangan Bimo.
"Aku beneran kok buat apa aku boong sama kamu. Nih ya tadi aku masuk dia lagi duduk dan mencari sesuatu lagipula dia juga terlihat sehat-sehat saja kok" Jawab Bimo dengan penuh keyakinan. Nala terdiam dengan pernyataan Bimo.
"Nih bunga juga sebenernya buat dia tapi katanya disuruh bawa lagi buat dikasih ke kamu beserta surat ini. Dia baru nulis tadi loh sebelum aku pamit pulang" Lanjut Bimo sambil menyerahkan bunga juga sepucuk surat ke Nala. Nala membuka surat tersebut dan membacanya.
Dear Nala,
Maaf waktu itu aku mendorongmu hingga jatuh.
Maaf waktu itu aku tidak pernah main ke kelasmu.
Maaf waktu itu tidak bisa memberikan air padahal kamu sama Bimo lagi kehausan.
Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik seperti Bimo.
Maaf aku tidak bisa menjaga perasaanku ini dengan baik.
Maaf aku tidak bisa menjaga utuh persahabatan kita bertiga.
Maaf juga sudah membuatmu repot mungkin selama kamu menjagamu di rumah sakit, di sekolah, dan juga di rumah.
Maaf aku sampai sekarang belum bisa mengejar keterlambatanku untuk bisa jalan sejajar bersamamu.
Aku memang banyak sekali kekurangan. Aku berusaha menjaga persahabatan kita dari kecil.
Dan ini mungkin permintaan maaf yang terakhir kali.
Maaf aku jatuh cinta kepadamu dari dulu kita pertama bertemu dan menjadi sahabat.
Aku bahagia berada di sisimu di kehidupanmu di canda dan tawamu itu semua akan selalu terbayang dalam benakku. Selama ini aku memendam rasa suka, cinta, dan sayang kepadamu. Bukan rasa sayang dan suka sebagai kakak adik atau sahabat, tetapi sebagai lawan jenis.
Sesungguhnya pada hari dimana aku melihatmu dengan Bimo mesra rasanya hatiku sakit, hancur berantakan, dan ingin memisahkan kalian. Tapi aku ingat kita sudah SMA. Kita sudah bisa terikat dengan suatu ikatan seperti pacaran. Yaa mungkin aku memang sangat terlambat untuk mengungkapkannya kepadamu. Dan aku sudah merelakan jika kamu bersama dengan Bimo. Awalnya aku tidak terima sih tapi setelah aku pikirkan kamu dengan Bimo memang sudah serasi jadi tidak perlu diragukan lagi. Aku harap Bimo bisa membaca ini juga. Aku meminta kepadanya untuk menjagamu, merawatmu, mendengar keluh kesah, dan lainnya seperti kamu curhat kepadaku dulu bagaimanapun perasaanmu saat itu.
Ya sampai sekarang aku masih mencintaimu meskipun keadaanku sekarang begini. Jaga dirimu baik-baik ya Nala, sahabat kecilku yang sangat aku sayangi.
NB: sampaikan maaf ku juga kepada ibuku. Kumohon jaga ibuku juga baik-baik juga kepadanya karena sebelum aku sakit seperti ini dan melihatmu dengan Bimo waktu di taman ayahku selingkuh dan meninggalkan aku dan ibuku berdua di rumah. Jadi kumohon sampaikan maafku kepada beliau dan jagalah dia.
Selamat tinggal, sahabatku.
ttd
Dony Darmawan
Nala yang membaca surat itu menangis dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bimo membereskan belanjaan Nala selagi Nala membaca surat dari Dony tiba-tiba kaget karena tiba-tiba dokter dan suster-suster berlarian sambil membawa alat pemacu jantung. Nala ikut berlari mengikuti dokter dan suster yang ternyata menuju kamar Dony.
Sesampai di sana dokter langsung mengambil tindakan sementara Nala menelpon ibunya Dony yang masih memegang surat dari Dony sambil menangis dan panik di luar kamar karena kamar sudah di kunci dari dalam. Bimo menemani Nala sambil mengusap - usah punggungnya Nala.
Tak lama setelah itu dokter keluar dan memberi tahu bahwa usaha dokter tidak membuahkan hasil dan memperilahkan Nala dan Bimo masuk ke kamar. Sesampai di kamar Nala menangis histeris hingga tubuhnya lemas melihat tubuh dony sudah di tutup kain putih hingga ke wajahnya.
Hp dan kertas yang dipegang Nala jatuh kemudian di pungut dan dibaca oleh Bimo. Bimo yang juga kaget membaca surat tersebut segera memeluk Nala yang berada di samping tempat tidur Dony sambil nangis. Tak lama kemudian ibunya Dony juga melakukan hal yang sama dan sempat mengguncangkan tubuh Dony karena masih tak percaya kalau anak semata wayangnya sudah pergi untuk selama-lamanya.
*******************
"Terima kasih untuk kebaikan kalian semua sudah menjagaku," ucap Dony dengan senyum dan pergi setelah melihat jasadnya di kumpuli orang-orang yang dia sayangi.