"Lisa! Apa yang kamu lakukan?" tanya seorang pegawai restoran padanya.
"Aku sedang makan. Kenapa?" baliknya bertanya.
"Kamu itu pegawai disini. Kenapa malah makan di meja para pelanggan!"
"Oh tidak boleh ya? Padahal disini nyaman sekali untuk menikmati makanan." jawabnya.
Menepuk jidat usai mendengar perkataan dari perempuan itu.
Lisa adalah seorang perempuan yang kini berprofesi sebagai pegawai restoran makanan cepat saji di salah satu gerai. Lisa sudah sebulan bekerja disini. Akan tetapi dirinya selalu saja mendapat teguran. Baik dari rekan kerja sepegawaiannya, hingga atasannya pun ikut menegurnya. Pekerjaan yang dilakukan Lisa bukanlah sepenuh hati, melainkan seenak hatinya. Hal itu membuat dirinya sering kali di tegur selama melakukan sesuatu.
Saat ini sudah sebulan perempuan itu bekerja di restoran tersebut. Tetapi para pegawai lain berpendapat buruk mengenai profesionalitasnya.
"Dia selalu saja bertingkah sesuka hati tanpa mengenal tata cara pelayanan terbaik di restoran ini." ucap salah satu pegawai.
"Benar. Aku rasa dia tidak akan bertahan lama sebab ulahnya itu." lanjut pegawai satunya.
Lisa tengah berdiri di meja kasir sambil melayani para pelanggan yang hendak memesan. Lisa mencatat apa yang di pesan oleh pelanggan tersebut. Dan dia pun berulah kembali dengan tingkahnya.
"Lain kali anda pesan makanan jangan terlalu banyak ya. Bisa-bisa berat badan anda bertambah banyak karena porsi semacam ini."
kata Lisa yang sekaligus membuat pelanggannya terperangah.
"Dia berulah lagi. Bukankah itu akan menyakiti hati pelanggan?" seorang pegawai memperhatikannya.
"Benar. Aku mau saja menegurnya. Tetapi kamu tahu sendiri kan bahwa perempuan itu akan melakukannya lagi di kemudian hari." anggapan pegawai lain.
Setelah seharian bekerja, Lisa dipanggil oleh atasan untuk datang ke ruangannya. Sebuah amplop berisi lembaran uang di sodorkan padanya.
"Sudah gajian? Terimakasih pak." ucap Lisa seraya menerima amplop tersebut.
"Iya. Kamu sudah gajian. Dan kamu juga akan keluar dari sini."
Mendengar pernyataan dari atasannya itu, Lisa langsung terdiam.
"Karena penilaian kami terhadapmu begitu kurang memenuhi etos kerja disini, jadi kami memilih untuk mengeluarkanmu. Terimakasih sudah mau menjadi pegawai disini. Semoga kamu mendapat pekerjaan yang layak di lain waktu." kata atasannya pada seorang Lisa.
Lisa pergi keluar tanpa pamitan terlebih dahulu. Ia menuju ruang ganti dan segera pergi dari restoran itu.
Seorang pegawai tiba-tiba melihat amplop milik Lisa tersebut. Dia terkejut bahwa Lisa sudah gajian lebih awal. Tetapi Lisa tidak menanggapinya. Ia hanya diam dan langsung pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
Terdengar olehnya bisikan sekitar yang membicarakan dirinya. Kini Lisa tahu bahwa para pekerja disana tidak menyukai sosok dirinya.
"Akhirnya keluar lagi. Ini sudah biasa aku alami sih. Tapi ya mau bagaimana lagi kan." ucapnya menyeringai.
Saat dijalan, Lisa tak sengaja menyenggol bahu seorang pejalan kaki.
"Kalau jalan hati-hati dong!" tegas orang yang disenggolnya tersebut.
"Ya aku tidak sengaja. Sampai jumpa." Lisa lanjut berjalan.
"Hey tunggu!" orang itu menghampirinya.
"Ada apa? Aku tidak punya waktu untuk melayanimu." Lisa menoleh.
Kemudian orang asing itu merebut tas dari seorang Lisa. Berlari sejauh mungkin agar tidak dikejar. Melihat hal itu, perempuan tersebut malah lanjut berjalan menuju kediamannya.
"Kena pecat dan dirampok. Ada-ada saja hidup ini ya." katanya sambil menghela nafas.
Orang asing itu seketika berhenti. Ia merasa ada yang ganjal. Lalu melihat kebelakang.
Di perjalanan, Lisa menunggu di trotoar untuk menyeberang sembari lampu penyeberangan masih menyala merah.
"Karena uangku sudah tidak ada, maka malam ini hanya makan mie instan saja." ucapnya selagi menunggu lalu lalang kendaraan.
"Tidak perlu." seseorang datang menghampiri Lisa.
Ternyata yang datang adalah orang asing tadi.
"Ada apa? Aku tidak punya harta benda lagi. Mau apa kau? Pakaianku kah kali ini?" tanyanya.
Tas yang diambil sebelumnya, di kembalikan lagi oleh orang asing tersebut.
"Bukannya sudah kau curi tadi. Kenapa malah mengembalikannya?" tanya Lisa dengan datar.
"Aku berubah pikiran." balasnya.
"Tiba-tiba sudah tobat. Baguslah kalau begitu." Lisa mengambil tasnya dan mulai menyebrang.
Orang asing itu bertanya pada Lisa, mengapa dirinya tidak menunjukkan ekspresi panik kala tengah dirampok tadi. Dan juga dia tidak mengejar setelahnya.
"Sudah aku bilang tidak ada waktu untuk melayanimu. Jadi kamu mengerti kan kata-kata itu." jawabnya.
"Tapi kan..."
"Ingat. Aku ini bukan atlet lari. Dalam olahraga saja aku sangat payah. Jadi jangan berharap aku mau mengejarmu." lanjut Lisa.
Orang asing itu terdiam sembari berjalan. Sesampainya di kediamannya, Lisa memandang orang asing yang ada di belakangnya.
"Kenapa kau mengikutiku sampai ke tempat tinggalku?" tanya Lisa heran.
"Maaf aku tidak menyadari bahwa diriku sudah mengikutimu sampai kesini." orang asing itu baru tersadar.
Lisa membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Sementara orang asing itu berada diluar.
"Bahkan dia tidak peduli akan orang sekitarnya." ucapnya.
Ketukan pintu terdengar beberapa kali. Pintu dibuka oleh Lisa. Dan terlihat kembali sesosok orang asing yang memgikutinya tadi.
"Bolehkah aku menginap disini?" tanyanya.
"Nginap? Tempat ini begitu sempit. Tapi kalau kamu mau tidur di lantai sih bisa saja." jawabnya.
Setelah itu orang asing tersebut menginap dirumah Lisa. Ruangan yang tampak untuk satu orang penghuni. Hanya ada beberapa ruangan kecil seperti kamar mandi, ruang cuci baju dan dapur. Dalam keadaan yang sempit begini, Lisa hidup seorang diri.
Segelas minuman di suguhkan di hadapan sang tamu. Lisa memberikannya lalu kembali menuju dapur.
"Dia baik juga ternyata." pikirnya terhadap pemilik rumah.
Tak berapa lama berselang, sebuah makanan di hidangkan oleh Lisa. Kemudian mereka makan bersama.
"Hanya makanan rumahan sederhana. Mari makan."
Lisa menyuap terlebih dahulu.
Orang asing itu mengajaknya berkenalan, karena dia penasaran akan nama dari perempuan yang ada di sebelahnya itu.
"Perkenalkan namaku Toni. Lalu siapa namamu?"
Orang asing itu memperkenalkan diri dan akhirnya membuat Lisa tahu perihal namanya.
"Lisa. Salam kenal." balasnya.
Toni mulai membuka topik pembicaraan dan mereka pun asik berbicara hingga menuju larut malam.
"Hidupmu beragam juga. Penuh pengalaman terutama dalam hal bekerja. Sangat berbanding terbalik dengaku." kata Toni.
"Aku hanya melakukan semauku saja. Jika ingin mendapat uang, harus kerja. Tetapi tetap saja aku tidak bisa bertahan lama dan gonta-ganti pekerjaan setiap waktunya." jelas Lisa pada Toni.
Toni berpikir bahwa Lisa ini terlihat santai di luar, tapi dia tidak tahu bagaimana dalam dirinya.
"Aku beranggapan bahwa kamu itu kesannya santai di luar. Tapi aku tidak menyangka dengan apa yang kamu alami selama ini." ujar Toni.
Lisa hanya diam dan membawa piring bekas makan tadi ke ruang dapur untuk dicuci. Setelah mencuci piring, Lisa duduk di tepian tempat tidurnya.
"Aku memang orangnya santai. Bahkan sangat santai. Jadi tidak perlu memikirkan apa yang ada didalam diriku ini. Semuanya santai." balasnya.
Lisa bersiap-siap untuk tidur. Tak lupa dirinya memberi sebuah bantal pada Toni yang tidur di lantai.
"Jangan salahkan aku mengenai lantai. Sebab kau yang mau."
"Ya. Aku tidak akan protes mengenai itu." balas Toni.
Satu malam telah berlalu, Toni keluar dari kediaman Lisa.
Lelaki itu mengucapkan rasa terimakasihnya atas izin tinggal sementara waktu tersebut.
Namun, seketika Toni tersadarkan akan situasi di sekitarnya. Orang-orang tengah melihat dirinya berada di depan pintu rumah Lisa dengan sang penghuni yang terus memandangnya.
"Aku rasa, aku akan pergi sekarang. Terimakasih." Toni berjalan dengan cepat.
Orang-orang yang merupakan tetangganya itu memandang Lisa cukup lama. Perempuan itu hanya bersikap santai dan kembali masuk ke dalam sembari menutup pintu.
"Ternyata dia panik setelah dilihat oleh para tetanggaku." ucapnya dengan nada rendah.
Di tempat lain, Toni berjalan sambil memikirkan seorang Lisa.
"Perempuan itu sangat berbeda. Aku baru pertama kali menemukan tipe seperti dia. Simple girl, kata yang cocok untuk dirinya." gumam Toni dengan tawa kecilnya.
-----SELESAI-----