Apa yang muncul di benakmu ketika mendengar kata, Putra Mahkota?
Apakah itu seseorang yang memiliki wajah yang rupawan?...
Atau, apakah itu seseorang yang dingin dan berwibawa?...
Yeah, kedua ciri tadi memang sangat melekat pada diri seorang calon pewaris Raja.
Lebih tepatnya, memiliki wajah yang rupawan serta juga berwibawa, sudah menjadi sebuah keharusan yang harus dipenuhi oleh seorang Putra Mahkota.
Namun bagaimana jadinya, jika sosok Putra Mahkota yang kau lihat di bawah sorot lampu, menjadi begitu berbeda dari balik tirai.
Namaku Aerance Johnson.
Saat ini aku sedang berada di dalam kereta yang akan membawaku ke istana.
Malam ini merupakan malam ulang tahun Putra Mahkota Kerajaan Dalions, yang ke-18 tahun.
Sebagai seorang Putri Count, aku harus ikut menghadirinya, meskipun aku tidak menyukai berada di antara para bangsawan.
"Akhirnya kau datang juga, Aerance." Ucap Millen, seraya menawarkan gelas wine ke depanku.
"Kau terlalu berlebihan Millen, aku hanya terlambat 15 menit saja," tutur ku, sembari menerima gelas wine tersebut.
Millen Aloys Elfrad, gadis berambut blonde dengan bola mata berwarna biru cerah.
"Tidakkah kau bersikap terlalu santai Aerance. Bahkan Putra Mahkota sudah menghilang beberapa menit yang lalu," timpal Millen.
"Hm, bukankah itu sudah menjadi hal yang biasa."
Putra Mahkota Litium Wilbert Dalion, terkadang suka menghilang di tengah pesta.
Para bangsawan yang tidak suka kepadanya, membuat rumor, kalau Putra Mahkota diam-diam menemui kekasih rahasianya.
Tidak heran kalau mereka sampai berpikiran seperti itu, mengingat Putra Mahkota yang sampai saat ini masih sendirian.
"Kau mau kemana?" tanya Millen.
"Ke ruangan istirahat."
Saat di lorong, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara.
Seperti suara seseorang yang sedang berbicara.
Asal suara itu dari ruangan paling sudut. Aku berjalan dengan sangat hati-hati mendekati pintu ruangan tersebut.
Ternyata pintu ruangan tersebut tak tertutup rapat.
Aku mengintip lewat celah, sinar bulan membantuku melihat dengan jelas di dalam sana. Mataku tertuju pada bayangan seorang pria di balik tirai.
Aku begitu penasaran apa yang sedang dilakukan pria itu sendirian di ruangan gelap. Jadi aku berjalan perlahan melewati pintu.
"Jika saja aku membiarkan jendelanya tetap terbuka, pasti kau tidak akan merasa kesakitan seperti ini."
"Kumohon tetaplah bertahan sampai pestanya berakhir."
"Kumohon, kumohon, kumohon, kumoh-"
/PRANG/
Tanpa sengaja aku menjatuhkan gelas wine ku.
"Siapa kau?" tanya pria itu, suaranya terdengar menakutkan.
"Sa-saya Aerance Johnson, Putri kedua di keluarga Johnson. Maafkan saya karena telah bersikap lancang."
"Tch, bagaimana kau akan minta maaf, apa kau akan memberikan ku permata warisan dari nenek moyang mu, atau salah satu wilayah subur milik keluarga mu?"
"Bisakah kita obati saja dulu burung itu, dia butuh penanganan segera, nanti kakinya tak dapat lagi berjalan."
Putra Mahkota akhirnya setuju menyerahkan burung tersebut untuk ku obati.
"Nah sudah selesai, kemari kan tangan Yang Mulia," Kata ku, sambil memindahkan burung tersebut ke tangannya.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Putra Mahkota, dengan tatapan sendu.
"Yang Mulia jangan khawatir. Sekarang dia akan baik-baik saja."
Aku tidak menyangka, sosok Putra Mahkota yang dingin, bisa juga berekspresi lugu seperti itu.
"Terima Kasih, sudah menyelamatkan nyawa nya."
"Uhuk uhuk! Bu-kan masalah, Yang Mulia."
Hampir saja aku tertawa.
Bagaimana bisa burung mati hanya gara-gara terluka di kaki.
"Mengenai permintaan maaf itu..."
"Lupakan saja, aku tidak serius," celetuk Putra Mahkota.
"Baiklah, Yang Mulia."
"Bagaimana pun juga kau sudah menyelamatkan nyawa makhluk malang ini. Aku mengizinkan mu memanggilku Litium."
"Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat, saya menolak."
"Panggil saya Litium, ini perintah."
Dari balik tirai, dan di bawah sinar rembulan...
Kami menjadi dekat dalam seketika.
"Baiklah, Yang Mulia."
"Litium!"
Jika ini mimpi...
"Baiklah Litium. Sebaliknya, panggil saya Aerance."
Aku berharap agar aku tidak pernah bangun.
---END--