"Kenapa Gadis itu masih belum menerima lamaranku?" tanya seorang CEO tampan yang bernama Abdul.
"Entahlah Tuan, kelihatannya Gadis itu tidak tertarik sama sekali dengan semua yang Anda berikan." jawab sekretaris Johan.
"Di zaman ini tidak mungkin ada gadis yang tidak menginginkan status, harta, kekayaan dan kedudukan!" seru Abdul yang terlihat marah karena lamarannya ditolak oleh seorang wanita.
"Kelihatannya Nona Melisa tidak tertarik dengan semua yang Anda berikan, Tuan." jawab Johan.
"Aku bisa gila kalau seperti ini." ucap Abdul yang menjambak rambutnya sendiri.
"Kalau Anda benar-benar menyukai Gadis itu, lebih baik anda mendekatinya dengan kesederhanaan. bukan dengan kekayaan Tuan." ucap Johan. nampak Abdul mulai berfikir karena selama ini semua yang dia berikan kepada Melisa serasa ditolak oleh gadis itu.
"Menurutmu kalau aku melakukan hal itu, apakah Gadis itu akan menerima cintaku?" tanya Abdul kepada Johan.
"Kelihatannya itu lebih baik Tuan, daripada Anda selalu menggunakan kekayaan untuk merayu Gadis itu. malah dia akan semakin benci dengan anda." jawab Johan.
Nampak Abdul menghela nafasnya secara kasar, karena selama ini banyak wanita yang mendekatinya karena semua kekayaan yang dia punya. namun gadis ini berbeda, Abdul yang terus mendekatinya, malah Gadis itu terus menolak dirinya.
Beberapa hari kemudian
Akhirnya Abdul lebih memilih cara yang dikatakan oleh Johan, pria itu mulai mendekati Melisa dengan cara yang sederhana. bahkan Abdul harus rela menggunakan sepeda motor sederhana untuk meluluhkan hati Melisa, Abdul pergi ke tempat Melisa bekerja.. di sebuah kedai makan yang dimiliki oleh gadis itu.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang gadis muda yang berusia 22 tahun.
Nampak hati Abdul berdebar saat mendengar Melisa menyapanya.
"Aku ingin memesan nasi goreng sama teh hangat." jawab Abdul.
"Baik, tunggu sebentar." jawab Melisa dengan suara lembutnya.
Tak berselang lama, pesenan yang diminta oleh Abdul datang dan diantar sendiri oleh Melisa. nampak tetapan Melissa tertuju pada pria tampan yang sedang duduk dikedai makannya.
"Tumben Anda datang sendiri, di mana teman Anda?" tanya Melisa kepada Abdul. nampak Abdul langsung mendongakkan kepalanya dan menatap gadis muda yang ada di depannya. jantung Abdul terus berdebar kencang saat melihat wajah Melisa yang berparas Ayu, tanpa sentuhan make up yang tebal.
"Apakah aku tidak boleh datang sendiri kemari?" ucap Abdul sambil tersenyum kepada Melisa.
"Tentu saja boleh, Memangnya kenapa?" jawab Melisa.
"Apakah kau ada waktu?" tanya Abdul kepada Melisa.
"Masih banyak pelanggan, Memangnya ada apa Tuan?" ucap Melisa kepada Abdul.
"Bolehkah aku menunggumu sampai kau selesai?" tanya Abdul yang mengikuti suara Melisa.
"Tentu boleh." jawab Melisa yang kemudian meninggalkan Abdul. Abdul terus duduk di kursi meja yang dia pesan, pria itu menatap setiap Melisa mengantarkan makanan kepada para pelanggan.
"Begitu lembut sikapnya, begitu menawan wajahnya." ucap Abdul dalam hati saat melihat tingkah laku Melisa.
Seorang pria yang sudah berusia mapan 35 tahun terus menatap seorang gadis muda yang berusia 22 tahun.
Setelah selesai dengan semua pelanggannya, nampak Melisa akan menutup kedai makannya. gadis itu menghampiri Abdul sambil menyodorkan segelas jus kepada Abdul.
"Minumlah, kelihatannya kau sudah lelah karena dari tadi menunggu ku." ucap Melisa kepada Abdul. nampak Abdul tersenyum kepada gadis muda yang ada di depannya, perbincangan dilakukan Abdul dengan Melisa tanpa mengungkit masalah harta ataupun yang dia punya.
Nampak Melisa sangat nyaman dengan hal itu, berbeda ketika Abdul mendekatinya dengan semua kekayaan yang ditunjukkan kepada Melisa. hari terus berganti, Abdul terus mendekati Melisa dengan kesederhanaan yang dikatakan oleh Johan.
Hal itu adalah senjata yang paling ampuh, Melisa semakin hari bertambah dekat dengan Abdul. bahkan tidak segan-segan Abdul mengantarkan Melisa pulang ke rumahnya, menggandeng tangannya dan sering sekali Abdul mengajak ke tempat hiburan sederhana. memang bisa dikatakan Melissa adalah gadis sederhana yang tidak terlalu memandang semua kekayaan.
Tiga bulan berlalu.. nampak Abdul memberanikan diri untuk melamar Melisa, pria itu hanya membawa setangkai bunga mawar dan cincin sederhana kepada Melisa. dia tidak ingin kesalahan yang telah dia lakukan akan terulang lagi.
"Apa ini?" tanya Melisa kepada Abdul.
"Bukalah." jawab Abdul. saat Melisa membuka kotak kecil Ternyata isinya cincin.
"Apa maksudnya ini?" tanya Melisa kepada Abdul.
"Maukah kau menikah denganku?" tanya Abdul kepada Melisa. nampak Gadis itu menatap wajah Abdul dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
"Mengapa harus aku?" tanya Melisa.
"Karena aku mencintaimu semenjak lama." jawab Abdul.
"Masih banyak gadis cantik yang menunggumu." ucap Melisa.
"Aku tidak perduli mereka menungguku, karena aku terus menunggumu membuka hati untukku." jawab Abdul. nampak Melisa tersenyum dengan semua kata-kata sederhana yang diucapkan oleh Abdul.
"Aku tidak suka dengan kemewahan, namun yang aku suka hanya kesederhanaan." ucap Melisa.
"Apapun akan kulakukan untukmu, bahkan secara sederhana pun akan kulakukan untukmu." jawab Abdul. saat mendengar kata-kata itu nampak Melisa menganggukkan kepalanya, itu pertanda kalau gadis muda itu menerima pinangan Abdul.
"Yes, Terima kasih!!" seru Abdul yang sangat bahagia saat lamarannya diterima oleh gadis itu. berbeda dengan 1 tahun yang lalu, semua gelimang harta yang ditunjukkan Abdul membuat Gadis itu menolaknya secara mentah-mentah. namun sekarang dengan cara kesederhanaan malah Melissa menerimanya dengan segenap jiwanya.
Satu bulan kemudian Abdul mengadakan acara sederhana untuk pernikahannya dan Melisa. gadis itu sangat menyukai hal itu, karena Gadis itu adalah seorang gadis sederhana yang mempunyai prinsip yang luar biasa
"Sah!!" seru pak penghulu.
semua orang bersorak gembira saat pernikahan yang yang dilangsungkan hari itu berjalan dengan sempurna. 1 tahun perjalanan Abdul untuk mendapatkan cinta Melisa telah tercapai sudah, akhirnya Melissa secara sah menjadi istri dari Abdul Arsyad.
"Sekarang kau sudah menjadi istriku Melisa Arsyad!" seru Abdul yang kemudian mencium kening sang istri.
Rona bahagia terpampang di wajah kedua mempelai.
"Aku mencintaimu!!" seru Abdul.
"Aku juga mencintaimu." jawab Melisa.
** selesai **