Aku tidak tahu
kapan tepatnya rasa itu hadir dalam hatiku.
kapan suara itu mulai menghangatkan ku
Waktu bersamamu yang aku rasa mulai nyaman.
bahkan, tawa dan kekonyolanmu yang terdengar menyenangkan
Yang aku tahu
aku mulai menyukai, menyayangi bahkan mencintaimu
Tak ada yang lebih menyenangkan
selain melewati hari-hari bersamamu
Meskipun semua itu hanya sebuah chat biasa
tapi jujur, aku bahagia
Kini, waktu berlalu begitu cepat
tidak ada yang tau pasti
bagaimana hati bisa berubah
Dulu kita saling bertukar kabar
saling mengingatkan
mengucapkan selamat malam dan pagi
ketika aku membuka mata
Dan matahari mulai bersinar
Senyuman terpancar juga diwajahku
Karna aku tahu hari ini aku akan bahagia
Karena hari akan berlalu bersamamu
Bahkan aku sempat percaya
Kalau dirimu adalah tujuanku
Tapi sekarang kita tidak lebih dua orang asing
yang berhenti saling mencari
kita adalah cerita yang telah usai
bahkan sebelum dimulai.
Dan yang tersisa hanyalah sebuah rindu
yang aku tidak tahu bagaimana denganmu
tapi yang aku tahu
Aku rindu
Jujur saat ini aku rindu
Aku tahu ini adalah akhir dari cerita kita
berakhir tanpa sebuah harapan didalamnya
Ketika aku mulai menyukai mu
sebenarnya aku sudah siap terluka
mengharapkan dirimu yang entah hatinya untuk siapa?
Mungkin
akan lebih mudah melupakan seseorang
yang tidak berarti dalam hidup kita
tapi lain cerita
Ketika orang tersebut adalah alasan
Bagaimana senyum kita tercipta
Kepada pria yang berhati dingin
Namun sempat menghangatkan ku
jaga dirimu dimana pun dan bagaimanapun
kapanpun dan bersama siapapun kamu disana
dariku yang pernah hadir
Mila adalah wanita berusia 20 tahun yang mencintai seseorang yang tidak pernah mencintainya. atau bahkan tidak pernah mengetahui bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
Pria ini bernama Reno, seorang yang mengisi hari-hari Mila selama 6 bulan terakhir.
Mereka adalah teman satu kampus tapi dengan jurusan yang berbeda. Awal pertemuan mereka dimulai ketika mereka disatukan dalam satu event kampus yang melibatkan mereka sebagai Tim. Dari situ Mila dan Reno saling bertukar kontak dan akhirnya saling bertemu dan sering mengabiskan waktu bersama.
Suatu ketika Mila menyadari kalau dia mempunyai sebuah sara kepada Reno. hatinya mulai bergetar kalau dia dekat dengan Reno. entah apa yang dipikirkan Mila sehingga dia terus menyimpan rasa itu dan merahasiakan nya dari Reno.
" Sayang kamu baik-baik saja kan?" ibu Mila kepada Mila sebelum memasuki ruangan
Hari ini Mila ada jadwal periksa dengan dokter ahli jantung yang dijadwal setiap 1 bulan sekali, ya Mila menderita kelainan jantung sejak lahir. jantungnya tidak dapat memompa darah dengan baik.
" ibu jangan khawatir, Mila baik-baik saja." kata Mila sambil tersenyum dan menggenggam tangan ibu nya untuk menenangkan sang ibu
Mila tersenyum sambil melambai dan meyakinkan ibu nya semua akan baik-baik saja ketika para suster mendorong masuk Mila keruang terapi. Dokter Nanda sudah menunggu Mila dengan berbagai peralatan disampingnya.
" Hai Mila, bagaimana kabarmu hari ini? tanya dokter Nanda
" Baik dok..." Mila tersenyum dan bersiap
Berbagai alat telah dipasang ditubuh Mila yang mungil dan tampak wajah cemas dari dokter Nanda karena melihat tubuh Mila yang semakin kurus.
" Apa sedang ada masalah?"
" Tidak dok, kenapa?"
" Ada yang terjadi dijantungmu." Kata Dokter Nanda sambil melihat layar monitor
Wajah Mila terlihat cemas, kemudia dia menghela nafas panjang berusaha menenangkan dirinya.
" Jadi aku bertahan sampai kapan dok?" tanya Mila
Dokter Nanda, berhenti melihat monitor dan beralih melihat wajah Mila yang mulai berkaca-kaca. Dia tahu suatu saat ini akan terjadi. Saat dimana jantungnya tidak akan bertahan lagi.
" Mila, hidup dan mati seseorang hanya Allah yang tahu, kita manusia hanya bisa berusaha yang terbaik." kata dokter Nanda sambil kembali melihat monitor.
" Tapi... suatu saat akan terjadi, dimana jantungku tidak sanggup lagi berdetak." celoteh Mila.
" Kamu akan hidup lama Mila."
Tapi tiba-tiba dokter Nanda menghentikan kalimatnya dan fokus kepada monitor yang memperlihatkan keadaan jantung Mila. Dia terlihat begitu serius dengan tatapannya dan wajahnya mulai terlihat cemas.
" Dokter jangan membuatku takut, katakan apa yang terjadi? apa aku tidak akan lama lagi bertahan?"
" Mila... aku tanya apa yang kamu rasa akhir-akhir ini?
" Kenapa memangnya?"
" Mila jantungmu berdetak lebih kencang dan itu menyebabkan robekan pada pembulu darah sekitar jantung."
" Iya sih... beberapa hari ini aku rasa jantungku sakit."
" Apa penyebabnya? apa kamu jatuh cinta?"
Mila melihat kearah dokter Nanda yang sudah merawatnya selama 5 tahun terakhir dan sudah dianggapnya sebagai seorang keluarga.
" Ceritakan semua kepadaku Mila."
Perlahan Mila menceritakan kepada Dokter Nanda kalau akhir-akhir ini dia sedang menyukai seseorang dan ketika dekat dengannya dia merasa jantungnya berdetak dengan cepat dan kadang itu membuatnya sakit dan sesak.
Dokter Nanda melihat Mila dengan tatapan sendu. Dia tahu rasa yang begitu indah yang biasa dirasakan oleh remaja seusia Mila itu perlahan akan membuat jantung Mila akan menjadi lemah dan mungkin membuatnya tidak akan bertahan.
" Kenapa dokter melihatku seperti itu?"
" Mila... aku tahu rasa itu begitu indah dan biasa dirasakan remaja seusiamu, tapi ingat pesanku jangan berlebih merasakan rasa itu."
" Dengan kata lain, rasa yang aku miliki perlahan akan membunuhku?"
Dokter Mila mengangguk, dia menggenggam tangan Mila dan tersenyum kepada Mila.
" Dokter, aku minta tolong rahasiakan ini kepada ibu ya."
" Dengan satu syarat... kamu harus bisa mengontrol rasa sukamu itu."
Mila mengangguk dan itu mengakhiri pemeriksaan kali ini. Ibu Mila yang sudah menunggu dengan cemas akhirnya dipersilahkan masuk. Dokter Nanda menjelaskan apa yang terjadi, tapi dia menyembunyikan sedikit kepada ibu Mila sesuai yang diminta Mila.
Dengan senyuman Mila mengandeng tangan ibunya dan berjalan menyusuri lorong dengan obrolan ringan mereka.
Sampai dirumah Mila kembali mengingat perkataan dokter Nanda. Dia harus mengontrol perasaannya. Iya bahkan dia tidak berniat mengutarakan perasaannya kepada Reno karena dia tahu dia hanyalah gadis berpenyakit yang tidak layak untuk Reno.
Suatu hari Mila sedang duduk ditaman dengan buku ditangannya. Dia sedang asik membaca novel yang mengisahkan perpisahan sepasang kekasih oleh kematian namun cinta mereka tetap abadi karena saling mencintai. Mila tertegun untuk sesaat dan tidak terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
Reno datang dari belakang dan meletakkan minuman dingin di pipi Mila yang membuat Mila terkaget.
" Bagaimana kuliahmu hari ini, dan apa yang sedang kamu lakukan disini?. apa yang kamu baca?"
Mila memperlihatkan sampul novel yang dia baca sambil tersenyum tapi terlihat kesedihan dimata Mila.
" Aku tidak suka membaca novel, apalagi kalau ceritanya sedih."
Mila tersenyum dia tahu Reno akan menjawab demikian, Reno tidak suka membaca dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan main game dan bersantai bersama teman-temannya.
Setelah hari itu Mila seperti mendapat inpirasi. Dia menulis isi hatinya disebuah buku. Hari-hari yang dia lalui bersama Reno dan bagaimana rasa yang dia miliki untuk Reno.
Tapi semakin dia merasaka rasa yang dia miliki kepada Reno, jantungnya mulai bereaksi. Debaran-debaran yang dia bayangkan dan rasakan mulai mempengaruhi jantungnya.
Beberapa kali Mila jatuh pingsan dan keluar masuk rumah sakit, karena rasa yang dia miliki kepada Reno semakin dalam. Bahkan ketika dia tidak bertemu dengan Reno dan menahan rindunya jantungnya terasa sakit dan akhirnya harus dirawat dirumah sakit.
Beberapa hari Reno tidak melihat keberadaan Mila, karna Mila sendiri sedang berada dirumah sakit karena robekan yang terjadi pada pembuluh darah sekitar jantung Mila semakin parah. Mila tersenyum dia tidak menyangka rasa yang begitu indah dia rasakan akhirnya perlahan akan membunuhnya. Tapi Mila tidak pernah menyesali rasa yang dia miliki itu. Karna dia senang disisa akhir hidupnya dia pernah merasakan rasa yang umum dimiliki remaja seusianya yaitu jatuh cinta.
Dokter Nanda masuk kedalam ruangan dan melihat Mila sedang melamun, tersenyum tapi air matanya terus berderai.
" Bukankah aku sudah memperingatkan mu kalau kamu harus mengontrol rasa itu." kata dokter Nanda yang membuat Mila kaget.
" Aku tidak bisa, rasa itu begitu indah dan aku tidak menyesal merasakannya."
" Aku tahu, tapi bagaimana dengan ibumu, ayahmu. kamu tidak kasian melihat mereka? mereka terus berjuang untuk hidupmu."
" Itu yang membuat Mila sedih." Mila menunduk dan air matanya kembali berderai.
Dokter Nanda memeluk Mila, dia juga merasakan kesedihan yang dirasakan Mila. karna dia sudah merawat Mila selama 5 tahun terakhir dan dia sudah menganggap Mila sebagai anaknya.
Mila tahu akhirnya dia harus berhenti berjuang dan menyerah kepada takdir. Manusia hanya bisa berencana Allah lah yang menentukan akhirnya bagaimana. Yang baik bagi kita belum tentu baik dimata Allah. Tapi sebelum takdir menjemput dia, dia ingin menyelesaikan tulisan nya. Sambil berbaring di tempat tidur rumah sakit dia mencari info tentang editor yang bisa menerbitkan tulisannya. Dia berharap suatu saat orang-orang bisa membaca tulisannya, apa lagi Reno. Mila berharap walaupun dia sudah tidak ada didunia ini lagi. Suatu hari nanti Reno akan membaca dan mengetahui rasa yang Mila simpan untuk dia.
Beberapa hari berlalu, Mila masih berada di ranjang rumah sakit dengan alat yang masih menempel pada tubuhnya. Mila membuka ponselnya ada banyak pesan chat yang masuk, dan salah satunya adalah pesan Reno yang menanyakan kabarnya dan mengatakan kalau di rindu hari-hari yang dia lewati bersama Mila.
Mila menangis membaca pesan Reno, Dia tidak memberitahu Reno kalau dia sedang berada dirumah sakit. Dia bilang sedang berlibur bersama keluarganya. Ketika ponselnya berdering sebuah panggilan masuk, dan itu dari Reno. tiba-tiba jantungnya terasa sakit, sakit semakin sakit sampai dia tidak dapat menerima panggilan itu, bahkan ponselnya terjatuh dan Mila jatuh pingsan tidak dapat menahan rasa sakitnya.
Bunyi bibbb terdengar beberapa suster dan dokter Nanda masuk kedalam ruangan dan mendapati Mila sudah tidak sadarkan diri. Ibu dan Ayah Mila berlari menuju ruangan, tapi suster melarangnya masuk karena dokter sedang melakukan tindakan. Ibu Mila menangis dalam dekapan yang suami. tidak lama Dokter Nanda keluar, dia memberikan kabar kalau Mila baik-baik saja sekarang. Wajah lega terlihat jelas diwajah kedua orang tua Mila. Mereka masuk kedalam ruangan, mendekati Mila yang terpejam dan mencium kening Mila.
Setelah hari itu, dokter Nanda melarang Mila bermain ponsel. dia takut kalau Mila akan melihat kabar atau apapun yang membuat kondisinya melemah dan membahayakan nyawanya. tiba-tiba dokter Nanda masuk kedalam ruangan dan memeriksa Mila.
" Apa yang kamu rasakan hari ini?"
" Tidak ada?"
" Kamu marah karna aku melarangmu bermain ponsel?"
" Tidak..."
" Mila dengarkan aku, aku melakukan semua ini karena aku sayang kepadamu, aku tidak mau kehilangan dirimu. Lihat orang tua mu, mereka tidak akan sanggup jika kehilangan dirimu."
Mila menghela nafas panjang, dia mengambil buku yang berada di laci dan menyerahkannya kepada dokter Nanda.
" Apa ini?"
" Aku sudah mengubungi editor tapi tidak ada yang mau mencetak ceritaku. aku minta dokter menyimpannya."
Mungkin alam tahu kalau Mila akan pergi hari ini. mendung terus mengantung dilangit. Angin dingin berhembus melewati lorong-lorong rumah sakit. Hari ini terasa sunyi hanya terdengar suara tangisan dari ibu Mila yang duduk disamping Mila yang beberapa hari ini tidak sadarkan diri.
Tidak ada yang bisa dokter Nanda lakukan, semua sudah dilakukan semmpunya tapi mungkin takdir berkata lain. Dia terlihat sedih duduk didalam ruangannya. Dia teringat buku yang Mila berikan, mengeluarkannya dari laci dan membacanya. Setelah membacanya air mata menetes dipipi dokter Nanda, sekarng dia tahu kenapa jantung Mila tidak sanggup bertahan kerana debaran-debaran yang Mila rasanya begitu hebatnya.
Dokter Nanda berjalan menuju ruangan Mila, dia menatap Mila dari balik kaca pintu. Mungkin saat ini Mila tidak sanggup bertahan lagi. Dan benar tidak lama setelah itu bunyi tiiit terdengar, dokter Nanda masuk kedalam ruangan dan disusul suster yang sudah berjaga dari tadi. Tindakan penyelamatan dilakukan tapi tidak membuahkan hasil. Mila telah pergi untuk selamanya.
Mila menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman yang terpancar diwajahnya. Tidak ada yang tidak menangis, bahkan langit pun menangis. Hujan rintik mengiringi kepergian Mila.
Setelah Mila pergi. Dokter Nanda mencari editor dan memperlihatkan tulisan Mila. Salah satu editor menyukai tulisan Mila dan dia bilang kalau akan menjadikannya menjadi sebuah buku.
" Berakhir tanpa berawal" Begitulah judul dari buku itu berisi tentang cerita Mila yang menganal cinta dan rasa yang dirasakan dan pendam untuk Reno.
Setelah buku itu terbit, dokter Nanda mengambil satu dan pergi ke kampus dimana Reno kuliah. Dia mencari Reno dan menyerahkan buku itu kepada Reno untuk dibacanya. Reno terlihat binggung.
" Ini adalah tulisan Mila sebelum dia pergi."
Pergi, Reno tidak tahu kalau Mila telah pergi meninggalkan dunia ini. yang dia tahu Mila pergi jalan-jalan dengan kedua orang tuanya.
" Mila telah pergi untuk selamanya." kata dokter Nanda sebelum berjalan meninggalkan Reno.
Reno hanya tertegun. Dia melihat buku ditangannya, melihat sisi belakang kalau Mila lah pemulis buku ini dan dia sudah meninggal dunia. Air mata Reno tidak tertahan mengetahui kalau Mila telah meninggal dunia. halaman demi halaman dia baca dan air matanya semakin berderai mengetahui kalau Mila menyimpan rasa untuk dirinya. Dan yang sebenarnya Reno juga merasakan hal yang sama. Tapi semuanya kini telah terlambat Mila telah pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya dengan cinta yang luar biasa.
*** Tamat ***