Ini kisah cinta yang awalnya sama dengan kisah Saydina Ali dan Fatimah Az-Zahra. Kedua orang berbeda jenis kelamin yang mencintai dalam diam. Cerpen ini saya ambil cuplikan dari novel saya dengan judul I Hate Traitors, dalam novel ini kurang lebih ada 6 atau 5 kisah cinta, cerpen ini salah satu dari ke 5 kisah cinta itu, cerpen ini tentang kisah cintanya Ali dan Karina.
Ali dan Karina adalah dua orang berbeda jenis kelamin dan kedudukan, Ali seorang pria yang cerdas, tampan dan sangat sederhana.
Berbanding terbalik dengan Karina adalah seorang gadis yang cantik dan anak orang berada. Sungkan itu kesan pertama yang dirasakan oleh Ali untuk mendekati Karina, membuatnya tidak percaya diri saat bersama Karina, gadis cantik yang banyak disukai oleh kaum Adam, terlalu banyak saingan bagi Ali.
Karina yang memiliki tiga orang sahabat itu yang setia, meski dari kecil bersahabat dan sempat terpisah kini, saat mereka dewasa berkumpul kembali dengan dua orang sahabatnya itu, Febby dan Ruby, sedangkan Anggun dia memang selalu bersama.
Karina gadis cantik itu sedari kecil sempat dijodohkan dengan anak dari teman mamanya yaitu Darren. Karina setelah lulus SMA akan di kuliah kan di kampus yang sama dengan Darren akan tetapi Karina menolak keras karena dia sudah ada seseorang yang dia sukai, Ali. jadi Karina memilih kuliah di kampus yang sama dengan kekasihnya itu.
Kisah cinta yang sulit bagi keduanya, dari Ali yang tidak percaya diri dan setelah mereka mengakui perasaan mereka kini harus terhalang restu dari orang tua Karina. Ini membuat Ali yang harus berusaha keras, untuk meyakinkan kedua orang tua Karina.
selain terhalang restu kedua orang tua Karina, hubungan mereka sempat terjadi salah paham karena kehadiran orang ketiga yang tanpa permisi itu.
Setelah menerima surat undangan pertunangan dari wanita itu, yang menyatakan ia akan bertunangan dengan Ali, kekasihnya. Karina berlari membawa mobilnya dan berhenti di sebuah taman.
Ia berjalan dan berhenti terduduk di sebuah bangku disudut taman itu, disana ia bertemu dengan Egi teman sekaligus saudara dari Darren.
Egi melangkah, matanya menyapu seluruh Taman. Tatapan mata Egi dan Karina itu bertemu. Egi menghampiri Karina yang terduduk menunduk di salah satu bangku yang ada di sudut Taman.
“Hei.. boleh duduk?” tanyanya.
Karina mengangguk pelan. Egi menghela napas dan terduduk di sampingnya.
“Sedang menunggu seseorang?” tanyannya lagi.
Karin menggeleng lemah. Egi merasa heran dengan gadis ini ‘kenapa bertingkah aneh?’ Batinnya. Egi memperhatikan gadis ini rambutnya terurai menutup wajahnya yang tertunduk.
“Kau pemalu ya, dari tadi hanya menunduk. Jangan malu seperti itu. Aku tahu aku tampan. Semua wanita pasti akan jatuh hati saat menatapku.” Pancing Egi.
“Aku tidak malu, aku hanya malas menatap wajah genit mu itu.” Ucap Karina masih menunduk dengan suara kecil seraknya karena habis menangis.
Hah.. sayang sekali ditelinga Egi itu malah terdengar seksi. Senyum tipis terbit di bibir Egi untuk sesaat dia melupakan rasa kecewanya.
“Kalau tidak menunggu seseorang. Lalu sedang apa sendirian di taman.”
“...”
“Angkat wajah mu.” Perintahnya.
“...”
“Hei.. kau kesurupan, Eh?” tanyanya.
Gadis itu malah terisak kecil. Egi kelabakan melihat gadis yang di sampingnya itu terisak pilu.
“Kau kenapa? Kau tidak malu kalau orang-orang menatap kearah kita?” tanyanya panik.
Gadis itu semakin terisak pilu. Egi sendiri bingung harus berbuat apa.
“Hei cantik kau bisa bercerita pada ku jika kau percaya.” Ucapnya dengan lembut sambil menepuk pelan pundak sang gadis.
“Aku.. aku benci dia. Kenapa pria begitu tega pada perempuan yang memiliki perasaan sangat lemah? Aku.. aku sangat benci dia. Bahkan dia tak memikirkan perasaan ku perjuangan ku selama enam tahun ini. Aku menyesal tak mendengarkan ayah. Kenapa aku selalu membelanya, kenapa? Dia.. dia tidak peduli padaku lagi.. hiks.. hiks..” curhatnya pada Egi.
Egi terdiam lama mendengarkan racauan gadis berambut panjang itu.
“Memang dia kenapa? Apa dia berniat mengakhiri hubungan kalian? Sebaiknya kalau hanya salah paham karena hal kecil, kalian bicarakan baik-baik. Sudah dewasakan?” ucap Egi hati-hati.
Karin mengangkat wajahnya yang sudah sembab membengkak itu menatap Egi dengan wajah sedih.
“Aku dan dia tidak ada masalah apa pun. Dia baik dan memanjakan ku. Sedari dulu dia memang tahu ayah ku tak pernah merestui hubungan ku dengannya tapi kami berjanji akan selalu berjuang bersama untuk hubungan kami sampai mendapat restu ayah ku. Tapi saat ayahku mulai menerimanya merestui kami dia malah.. hiks. Aku tak sangka dia mengkhianati perjuangan ku kak..hiks. Dia melupakan segalanya tentang ku.. hiks. Kenapa kak? Dia menghianati ku kak hiks..hiks..” curhatnya. Sambil meremas kertas berwarna pink tinta gold di tangannya.
Egi menatap gadis itu lekat-lekat dan tangannya terulur memeluk gadis itu dengan erat. Entah apa yang membuatnya merasa ingin mengatakan ‘Kau tidak sendirian, masih banyak lelaki yang lebih pantas untukmu’.
“Karin.. kata Bibi Rani kemari nama mu Karin ‘kan?” tanyanya yang dijawab anggukan. “kamu harus ingat satu hal ini ‘Manusia memang hanya bisa berencana, tapi sebaik-baiknya rencana kita jauh lebih baik rencana yang Allah persiapkan untuk kita.’ Mulai sekarang kita harus berpikir lebih dewasa lagi ya. Mungkin dia bukan jodohmu tapi jodohmu sedang di perjalanan yang akan Allah pertemukan padamu setelah berakhirnya hubunganmu dengan pacarmu itu.” Ucap Egi memberi pengertian.
“Tapi aku menginginkan dia.” Lirihnya.
Perlahan isak tangis gadis yang ada di pelukannya itu mereda. Ada kenyamanan yang keduanya rasakan sentuhan tangan Egi di rambut hitam panjang Karina begitu lemut, sungguh Karina merindukan sosok kakaknya yang tinggal di London, Sahdewa Ranu Guhau.
Karin melepaskan rengkuhan Egi perlahan dan dia menatap lekat wajah Egi yang juga menatapnya. Karin tersenyum lembut dan Egi membalas senyum gadis itu.
“Terima kasih kak, tidak hanya tampan tapi juga baik sudah memberi ketenangan pada hatiku yang sedang kacau. Tadi sempat berpikir aku akan mengakhiri hidupku disini dengan menggenggam kuat kertas ini.” Ucapnya pilu dengan tatapan kosong.
“Ini kertas apa? Undangan pertunangan? Apa dia orangnya?” Karina mengangguk.“Hei.. dengar percayalah pada ku. Mengakhiri hidup itu tindakan bodoh. Apa kau tak memikirkan keluargamu? Yang sangat menyayangi mu. Menjagamu hingga sekarang. Dan itu adalah hal yang dibenci oleh Allah. Kau jangan pernah berpikir hal seperti itu ya.” Ujarnya. Gadis itu mengangguk lemah. “Kau mendapatkan undangan langsung darinya? Wah.. sesuatu banget ya pacarmu.” Ucapnya kemudian.
“Keluarga ku sangat menyayangi ku kak.. mereka selalu membanggakan ku.. rasanya aku belum pernah memberikan kebahagiaan untuk mereka. Bahkan aku marah ketika ayah tidak merestui hubunganku dengan si brengsek sialan itu.” Ucapnya geram dengan mata berkaca-kaca. “Aku mendapatkan ini bukan dari dia langsung tapi dari calon tunangan nya. Aku tahu dari dulu, sedari kecil dia sangat menyukai Ali Anshor. Tapi Ali hanya menganggapnya sebagai adik tidak lebih. Tapi aku tidak menyangka hal ini akan terjadi.” Lirihnya.
“Sebelumnya kau mengatakan tidak ada masalah dengan Pacarmu? Apa pacarmu tidak menghubungimu dan menjelaskan keputusannya itu. Ternyata pacarmu seorang pengecut.” Ketus Egi.
“Kami baru bertemu tadi pagi kak, aku menjemput Egi di rumahnya dan mama Egi masih hangat dan ramah padaku tidak menyinggung masalah ini, sama sekali. Ini hari pertama Egi diangkat menjadi Manajer di perusahaan ayah.” Ucap Karina menerawang. “Mungkin sebentar lagi dia akan pulang.” Lanjutnya.
“Ah.. mungkin ini hanya akal-akalan gadis itu saja. Dia halu tuh. Coba tanyakan dulu pada pacarmu itu. Lagian jika memang benar adanya, kau tak harus bunuh diri seharusnya kau tunjukan padanya kau baik-baik saja tanpa dia dan pastikan dia menyesal meninggalkanmu.” Celoteh Egi panjang lebar. Karina terkekeh mendengar celotehan Egi.
“Terima kasih kak. Kakak benar gak seharusnya aku berfikiran sempit.” Ucap Karina.
Tiba-tiba ponselnya menjerit meminta perhatian dari dalam tas milik Karina. Setelah dilihat ternyata panggilan dari Ali Anshor.
“Halo..” ternyata yang langsung menyahut halo dari seberang.
“Ali, kamu dimana sekarang?”
“Sayang, aku baru mau keluar kantor.” Jawab Ali.
Hening.
“Sayang nanti malam jadi keluarkan?” tanya Ali kemudian.
“Emh..” Karina tampak berfikir.
“Sayang, kamu gak bisa ya?” tanyanya dengan nada kecewa. “Kamu dimana sekarang?” tamahnya.
“Lagi ditaman m..” belum selesai ucapannya sudah dipotong oleh Ali.
“Aku kesana sekarang, tunggu!” ucapnya final dan terdengar sambungan terputus.
Tuutt..
Karina memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas. Egi masih memperhatikannya.
“Kak Egi kesini sama siapa?” tanyanya.
“Daren dan ketiga teman ku yang kemarin.”
Karina ber-oh-ria sambil tersenyum menerawang mendengar nama Darren.
“Kenapa senyum-senyum sekarang? Apa karena pacarnya akan kesini? Sudah tidak sedih lagi?” tanya Egi bertubi-tubi masih mengamati Karina. Karina terkekeh mendengar ucapan Egi.
“Dulu saat masih kecil mamaku dan mamanya Darren berniat untuk menjodohkan kami dan saat kuliah mereka berniat untuk dekatkan kami. Tapi aku bersikeras menolak untuk kuliah di universitas sama dengan Darren dan memilih untuk kuliah satu universitas dengan pacarku,Ali Anshor.” Ucapnya menerawang.
“Jadi tadinya kau ingin dijodohkan bibi dengan Darren?” tanya Egi.
Sepertinya dia mulai lupa dengan masalahnya tadi. Egi menghela nafas panjang.
“Hah.. sebenarnya Darren saat ini belum bisa move on dari mantan kekasihnya. Meski sudah putus kadang mantan itu menghubunginya, kemudian saat Darren mulai berharap lagi mantannya menghilang lagi. Darren itu orang yang tertutup dia tidak mudah untuk menceritakan masalahnya pada orang lain. Eh? Jangan-jangan kalian memang jodoh sebenarnya.” Ucap Egi menatap Karin.
“Aku milik Ali Anshor kak. Lagian jika Ali pergi dariku..” ucapnya terjeda. “Tidak mudah kak untuk membuka hati yang terluka.” Sahutnya dengan tatapan kosong.
“Karin tidak ada yang tak mungkin jika Allah telah berkehendak. Bukanya kalian sama-sama terluka mengalami hal yang sama ditinggal nikah sama orang yang kalian sayang. Pasti kalian akan memahami masing-masing bukan?”
Karin menggeleng pelan.
“Dia bukan tipeku. Aku tidak suka orang dingin dan kaku seperti dia.” Ucapnya menggeleng kuat.
Egi terkekeh mendengar pengakuan Karin akan Darren.
“Dia memang kaku dan dingin.” Ucapnya.
Mereka terkekeh. Tak terasa hari mulai gelap adzan magrib tiba. Dering ponsel Egi berdering telpon dari Darren yang sudah menunggu di parkir taman.
“Ehm.. kamu kesini naik apa?” tanya Egi.
“Naik si merah kak..” tunjuknya pada mobil yang terparkir sembarang dekat mereka duduk.
“Ohh.. Aku bolehkan berteman dengan mu? Kau boleh curhat lagi dengan ku. Oke?” ucap Egi mengangkat jari kelingkingnya dan Karin terkekeh menyambut jari Egi.
“Seperti anak kecil.” Ledeknya.
“Tak apa asal kau bahagia.” Ucapnya. “Bye the way, kalau gitu aku pulang dulu ya. Main lah ke Villa Mittiu kami juga butuh pemandu wisata untuk berlibur disini.” Imbuhnya.
“Iya kak Insya Allah nanti main kok. Kaka masih lama kan disini?” tanyanya.
“Iya satu minggu atau dua minggu sih.” Karina mengangguk.
Tak lama dari itu Ali Anshor datang dan menghampiri Karina disana. Ali membawa Karina pulang dan Karina juga meminta penjelasan pada Ali tentang surat undangan pertunangan itu. Ali juga terkejut melihat surat undangan di tangan kekasihnya itu.
setelah kesalah pahaman itu, akhirnya hubungan Karina dan Ali kembali membaik. pernikahan merekapun segera digelar mewah di hotel bintang lima di kotanya.
The end...