Rosa si buaya tinggal di tepi sungai yang mengalir melewati hutan. Di hutan itu tinggal berbagai macam binatang. Mereka hidup rukun dan damai saling menyayangi dan mengasihi. Mereka suka sekali pesta. Setiap akhir minggu mereka selalu berkumpul dan membuat pesta dengan api unggun dan kembang api. Tidak ketinggalan ada banyak kue tar dan kue cokelat yang lezat. Ya, para binatang senang sekali makan kue yang enak. Setiap minggu mereka berlomba-lomba membuat kue yang enak untuk dibawa ke pesta api unggun. Tidak ada hadiah khusus memang, kecuali kebanggaan dan kepuasan telah membuat kue yang enak dan dipuji seluruh tamu pesta.
Rosa si buaya juga menggemari kue enak. Favoritnya adalah kue tar cokelat yang cokelatnya meleleh di lidah. Sedapnya!
Meski setiap binatang saling berteman baik tapi pengecualiannya hanya satu. Rosa si buaya tidak punya teman. Apa sebab?
Wah ternyata Rosa punya sifat yang kurang baik. Dia suka menindas teman-temannya yang lain sesama binatang di hutan. Rosa kuat dan berbadan besar. Selain itu dia rakus sekali. Setiap pesta Rosa selalu mengambil porsi makanan lebih banyak dari yang lain tidak peduli walau banyak yang belum kebagian hidangan. Karena kebiasaannya inilah Rosa tidak disukai. Tapi Rosa tidak peduli. Dia terus saja bersikap egois dan mau menang sendiri.
Suatu kali Boba si landak baru saja pulang dari rumah neneknya. Nenek Boba sangat senang dikunjungi cucunya. Setiap Boba berkunjung neneknya selalu membekali dengan penganan yang enak-enak, kue krim atau sekantong permen. Kali itu Boba pulang dengan membawa sekantong manisan buah ceri yang lezat. Dia pulang dengan hati gembira. Perjalanan pulang Boba melewati sungai dan rumah Rosa si buaya.
Rosa sedang bersantai di pinggir sungai menikmati matahari sore. Tak lama Boba pun muncul lah di situ dengan sekantong manisan. Rosa yang penuh rasa ingin tahu segera menegurnya.
Hai Boba apa itu yang kamu bawa di tanganmu?
Boba terkejut melihat Rosa. Terbata dia menjawab. Perilaku Rosa yang suka menindas sudah terkenal di hutan itu.
Bukan apa-apa. Jawab Boba ketakutan.
Ah masa. Coba bawalah kemari. Aku mau lihat.
Karena ketakutan Boba terpaksa menuruti permintaan Rosa. Dia berjalan perlahan mendekat dengan enggan. Dengan tak sabar Rosa mendekati Boba dengan cepat dan merebut kantong di tangannya. Dibukanya dengan kasar lalu dia lihat banyak manisan ceri di dalamnya.
Wah! Nyem nyem. Manisan ceri kesukaanku! Seru Rosa senang.
Boba yang sudah hafal tabiat Rosa menunduk pasrah. Harusnya ia habiskan saja manisan itu di jalan tadi sesalnya. Tapi Boba takut sakit gigi makan manisan banyak-banyak. Ibu selalu memperingatinya soal itu dengan keras.
Manisan ini untukku saja. Kata Rosa seenaknya.
Kamu kan bisa minta lagi manisan yang banyak dari nenekmu.
Badan Rosa yang besar dan kuat membuat Boba takut. Dia hanya bisa mengangguk pasrah melihat Rosa merebut manisannya. Boba pulang dengan hati yang sedih.
Kali lain lagi Rosa merebut roti kismis dari Kuki kura-kura. Perbuatan Rosa sungguh keterlaluan sebab Kuki sedang terluka. Salah satu kakinya keseleo akibat Kuki berlomba lari dengan Keni kelinci. Sudah lambat, terluka pula. Kuki benar-benar sial.
Ya. Begitulah Rosa. Perbuatannya sangat tidak terpuji. Rosa tahu badannya yang besar dan kuat membuat dia ditakuti oleh semuanya. Tidak satupun binatang yang berani menegurnya. Maka ia terus menindas dan bersikap seenaknya.
Setiap bulan di malam purnama selalu diadakan pesta. Malam purnama selalu ditunggu-tunggu oleh setiap binatang yang ada. Di malam itu bulan akan bulat sempurna. Cahayanya yang lembut akan menerangi setiap binatang yang menari dan berpesta. Bahkan kawanan kunang-kunang yang jarang keluar akan ikut serta dalam kemeriahan malam itu. Akan ada api unggun dan kembang api. Juga banyak makanan lezat. Setiap binatang akan menyumbang minimal satu hidangan untuk dinikmati bersama.
Di bulan itu Bobo si beruang akan berulang tahun. Dia berencana untuk merayakannya pada malam purnama supaya semua bisa ikut berpesta. Bobo berniat menyumbangkan banyak makanan. Berbagi membuatnya bahagia. Semua binatang tak sabar menunggu datangnya malam purnama. Hari itu akan sangat istimewa. Persiapan dilakukan seminggu sebelumnya. Para binatang bergotong royong mengerjakannya.
Berang-berang mengumpulkan kayu dan dahan kering untuk dijadikan api unggun. Para ibu sibuk memasak resep-resep andalan mereka. Bapak-bapak menyiapkan meja untuk tempat hidangan. Sisanya menyiapkan pertunjukan kembang api untuk menutup acara. Ketika kita menunggu sesuatu yang menyenangkan terjadi, rasanya waktu begitu lambat berlalu. Begitulah yang dirasakan oleh semua penghuni hutan.
Setelah bekerja selama seminggu penuh, akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Hari ini malam purnama!
Langit berubah warna dari biru cerah lama kelamaan menggelap menjadi keabuan dengan semburat merah oranye kemudian ungu. Indah sekali. Bintang-bintang mulai bermunculan ketika langit menjadi gelap. Kemudian purnama yang ditunggu-tunggu datanglah. Besar dan terang sinarnya. Pesta malam purnama dimulailah!
Suasana sungguh meriah. Semua bersuka ria. Ada yang menari sebagian menyanyi. Api unggun dibuat lebih besar dan megah, lebih dari biasanya. Makanan melimpah ruah. Kue tar buah, cokelat dan kacang. Kue apel, kue jahe dan kue rempah. Beraneka ragam buah dan biji-bijian. Kunang-kunang menari berkelap-kelip di antara hamparan bunga bulan. Para tetua tersenyum simpul melihat kegembiraan hewan-hewan muda.
Kesempurnaan malam itu hanya dirusak oleh satu makhluk saja. Ya. Siapa lagi kalau bukan si Rosa buaya. Makanan yang berlimpah ruah membuat Rosa lupa diri lebih dari biasanya. Rosa makan lebih banyak berkali lipat dari semua. Dia mencicipi semua dengan rakusnya. Tanpa malu-malu dijejalkan berbagai kue di mulutnya yang menganga dengan lebarnya. Tapi acara malam itu berlangsung dengan indahnya sehingga tidak satupun ingin menegur Rosa. Lagipula hidangan saat itu sangat berlimpah, semua makan sampai kenyang. Tidak satupun merasa kurang. Kecuali Rosa tentunya. Sepertinya dia tidak akan pernah merasa puas.
Pesta berakhir saat tengah malam dengan pertunjukan kembang api di langit berbintang. Malam itu sempurna dan semua penghuni hutan satu demi satu pulang dengan bahagia.
Pagi menjelang diawali dengan erangan Rosa si buaya di rumahnya di tepi sungai. Badannya terasa tak enak entah kenapa. Perutnya melilit tak karuan seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum tajam. Selain itu kepalanya pusing bukan buatan. Tidur Rosa tak enak. Biasanya Rosa malas bangun pagi, ketika tengah hari datang dia baru menginjakkan kaki turun dari tempat tidurnya yang nyaman. Gara-gara sakitnya Rosa tak bisa tidur lagi. Rosa merintih dan mengaduh. Akhirnya dia menangis tersedu-sedu. Tangisannya membangunkan seluruh isi hutan.
Banyak yang terganggu karenanya. Semua hewan melongokkan kepala keluar dari sarangnya masing-masing, ingin tahu ada keributan apa gerangan?
Tak lama semua pun tahulah, Rosa si buaya yang mengganggu tidur mereka. Mengingat tabiat Rosa yang buruk, banyak binatang yang enggan untuk mencari tahu sebabnya. Lagipula badannya yang besar dan kuat membuat mereka takut.
Tak tahan dengan keributan itu, nenek Loli si burung hantu datang memeriksa Rosa. Nenek Loli burung hantu yang bijaksana. Seluruh penghuni hutan menghormatinya dan sering datang meminta nasehat. Tapi burung hantu adalah binatang malam. Maka pada pagi dan siang hari adalah waktu tidurnya. Karena itu tangisan Rosa sangat mengganggunya.
Setelah memeriksa Rosa dengan cermat nenek Loli menghardiknya dengan keras.
Sakitmu ini akibat perbuatanmu sendiri! Kau terlalu banyak makan tadi malam karena itu perutmu sakit dan badanmu tidak enak. Salahmu sendiri yang terlalu rakus!
Nenek Loli menasihatinya panjang lebar. Rosa hanya bisa diam dan tersedu sedikit-sedikit. Walaupun badannya besar, sama seperti yang lainnya, Rosa tidak berani membantah nenek Loli.
Aku akan membuatkanmu ramuan untuk menyembuhkan sakit mu. Tapi bahkan tidak pengetahuan dan kebijaksanaanku dapat menghilangkan kerakusan dan keegoisanmu.
Rosa hanya diam dan merenungi nasihat nenek Loli sambil menunggu ramuan obatnya selesai dibuat. Dalam hatinya dia sungguh menyesali sikapnya selama ini. Sekarang ini Rosa benar-benar kena batunya.
Setelah memberikan ramuan obat pada Rosa nenek Loli pulang ke sarangnya. Sebelumnya nenek Loli menyempatkan diri untuk memberi tahu hewan-hewan lainnya tentang apa yang terjadi.
Semoga Rosa kapok sekali ini dan menyesali perbuatannya. Tambah nenek Loli mengakhiri ceritanya.
Seluruh hewan merasa kasihan kepada Rosa. Meski banyak dari mereka masih merasa takut kepadanya, tapi pada dasarnya mereka berhati baik dan suka menolong. Satu demi satu mereka menyempatkan datang menjenguk Rosa. Banyak yang menawarkan bantuan, beberapa membersihkan rumahnya yang kotor, ada yang membuatkan teh panas yang enak dan membuatkan kompres air panas supaya perutnya lebih nyaman.
Melihat semua kebaikan yang dilakukan kepada Rosa bertambah-tambahlah penyesalan si hatinya.
Semuanya baik kepadaku padahal aku jahat kepada sebagian besar dari mereka, keluhnya dalam hati.
Setelah Rosa sembuh dia meminta maaf pada semuanya. Sedikit demi sedikit Rosa mulai berubah. Sekarang dia menjadi pemurah dan suka berbagi. Bukan hanya makanan saja yang ia bagikan, tapi Rosa sekarang ringan tangan dan suka menolong. Ya Rosa kapok menjadi buaya yang jahat. Sekarang dia adalah Rosa buaya yang murah hati dan banyak teman. Seluruh penghuni hutan bersuka cita dan lebih bahagia berpesta setiap malam purnama.